Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita bahagia yang menyesakkan
Aira menatap langit-langit ruang periksa. Dunianya yang indah seakan berubah menjadi getir dan pedih dengan cepat. Hamil? Aku hamil? Ada sesak di rongga dadanya. Dengan semua kejadian itu bagaimana dia bisa bahagia dengan berita kehamilannya.
Aira menutup mata dan menindihnya dengan lengannya. Setelah dokter Gogot tadi memeriksa perutnya dan menyatakan bahwa dia hamil, rasa sakit langsung menggelegak di dadanya. Jika saja kejadian memuakkan ini tidak terjadi, kehamilan ini akan sangat membahagiakan.
Srek!
Terdengar suara tirai di buka di samping Aira. Dia yang sudah duduk dan sedang menangis masih menutup mata tanpa suara.
Srek!
Suara tirai ditutup lagi dengan cepat. Tidak ada suara apapun setelah tirai di buka dan ditutup lagi. Dia yakin Eros ada di sana. Di sampingnya. Pria itu pasti sedang menatapnya iba ataupun muak.
Melihat dirinya yang dengan mudah berselingkuh, menunjukkan kadar cinta yang di milikinya memang sedikit. Mungkin juga sekarang bahkan sudah lenyap tak berbekas. Pria ini pasti lebih memihak Nara daripada dirinya.
Suara tirai di buka terdengar lagi. Kali ini terdengar pelan.
"Maaf," ujar suara pria itu. Terdengar aneh tapi Aira sudah tidak berpikir banyak soal hal lain. Marahnya memuncak saat mendengar kata maaf saat dirinya di ketahui hamil. Maaf? Bukankah seharusnya seorang suami bahagia saat istrinya hamil?
Punggung tangan Aira segera menghapus airmatanya dengan kasar. Lalu menguatkan hati untuk mendongak dan menatap suaminya.
"Kau ... Apa yang k-kau ...." Aira tidak jadi meneruskan kata-katanya. Suara Aira tercekat karena terkejut. Kata-katanya lenyap. Bukan karena kemarahan yang menyeluruh pada hati dan tubuhnya. Melainkan murni karena terkejut dan kebingungan. Matanya mengkerjap berulang-ulang. "Kamu ... siapa?" tanya Aira lambat. Bekas airmata masih ada di ujung manik matanya.
Seseorang yang dia pikir adalah suaminya ternyata bukanlah Eros. Seorang pria dengan setelan kemejanya berdiri membelakangi tirai. Matanya yang berwarna hitam pekat tengah memandanginya. Memperhatikan dengan seksama.
Aira mengusap lagi airmata di ujung matanya dengan jari-jarinya. Mata hitam pria itu masih menatapnya. "Kamu siapa? Mengapa bisa ada disini?" tanya Aira semakin penasaran dan heran. Bukankah seharusnya Eroslah yang muncul disini? "Apa Eros menyuruhmu? Kau anak buah Eros?" cecar Aira ingin segera tahu. Seketika dia menjadi marah lagi.
"Maaf. Aku salah mengira. Maaf, sudah masuk ruang yang salah. Aku juga sepertinya tidak mengenal pria itu." Pria ini membungkuk meminta maaf.
"Apa?" Aira melebarkan mata tidak percaya. "Salah masuk?" Aira mendengkus merasa lucu dan setengah mencemooh. "Keluarlah sebelum aku berteriak," ancam Aira dingin.
"Tenangkan dulu dirimu. Hapus dengan benar airmata itu, jika memang tidak ingin ada yang melihat. Minumlah dulu sebelum berbicara dengan orang yang membuatmu sangat marah tadi. Itu akan membuatmu tetap tenang meski amarah menggelegak dalam tubuhmu," ujarnya menasehati. Mata Aira menatap pria ini dingin. Memindai sejenak dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Srek! tirai di buka lagi.
"Maaf, ibu dan bapak. Ibu harus segera beranjak dari ranjang, karena ada pasien yang mendesak untuk segera di periksa," kata petugas tadi terburu-buru. Di balik tirai sudah ada seorang perempuan dengan perut yang semakin mengencang. Perempuan tadi yang memberitahu Aira bahwa dirinya di panggil.
Melihat perempuan di atas kursi roda itu, pria ini terkejut.
"Aku keluarganya. Aku akan menemaninya," ujar pria ini tiba-tiba. Petugas bingung mendengar pria ini mengaku keluarga perempuan yang akan di periksa itu.
Aira yang langsung berdiri dengan cepat, paham. Mungkin pria itu salah mengira dirinya adalah istrinya tadi. Lalu kakinya melangkah pergi menjauhi ranjang itu. Sebelumnya Aira mendatangi meja dokter Gogot terlebih dahulu. Beliau menuliskan resep vitamin untuk di konsumsinya.
"Bagaimana istri saya, dok?" tanya Eros yang akhirnya tiba. Beliau mendongak. Aira juga melihat ke arah tubuh pria yang baru saja datang itu.
"Anda suaminya yang sebenarnya? Suami Aira Alundra ini?" tanya beliau lagi. Tidak ingin salah.
Pria yang sudah salah menduga tadi sempat menoleh ke arah meja dokter Gogot. Melihat siapa sebenarnya orang yang di maksud perempuan tadi.
Jadi dia yang bernama Eros?
"Ibrar ...," panggil perempuan yang meringis kesakitan itu menyebut pria tadi. Kepala Ibrar menoleh. Membiarkan Aira dan Eros yang masih duduk di sana.
"Ya."
Perjalanan pulang menuju rumah masih tetap diliputi kesunyian. Dokter Gogot tadi sudah menjelaskan lagi soal kehamilannya di depan Eros. Namun tidak ada lagi pembicaraan soal kehamilannya. Eros tetap diam.
Aira membiarkan. Dia tidak berharap banyak soal itu. Sejak dia menemukan bukti perselingkuhan lelaki ini, dia tidak pernah berharap banyak lagi soal dirinya dan Eros. Dia tidak lagi mau bertanya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Eros akhirnya menghapus senyap yang membentang diantara mereka.
"Aku baik. Kenapa?" tanya Aira dingin dan ketus.
"Bagaimana dengan janin itu?"
"Janin? Ada apa dengannya?" tanya Aira masih ketus.
"Jawablah dengan tenang, Ai...," pinta Eros.
"Aku rasa, aku sudah cukup tenang menanggapi perselingkuhanmu." Kalimat Aira menamparnya dengan keras. Kepala Aira kini menoleh dan menatap Eros tajam. "Aku tidak memberitahu keluargamu tentang ini. Belum."
"Aku membahas bayi itu, Ai. Anak kita." Eros merendahkan nada bicaranya. Di telinga Aira kata 'Anak kita' seperti menohoknya. Seakan mencemooh ikatan suami istri yang memanas dan menuju ke tepi jurang.
"Ada apa dengan itu? Tidak ada yang salah dengan itu." Aira tidak mau berbicara panjang lebar.
"Kamu tidak akan ... Kamu tidak akan membuangnya bukan?" Aira terkejut dengan pertanyaan Eros. Kepalanya menoleh dan membeliakkan mata. Tidak menyangka akan ditanya hal itu.
"Kamu mengajukan pertanyaan yang sangat buruk. Seburuk sikapmu sebagai seorang suami yang tidak layak," cemooh Aira sambil menggeram marah.
"Jangan berkata hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan hal yang aku tanyakan, Ai." Eros seperti naik darah. Aira tidak peduli.
"Aku wanita waras, Er. Aku tahu janin ini muncul di saat kedua orang tuanya sedang dalam keadaan terburuk. Aku sadar aku sepenuhnya tidak bisa memaafkanmu. Aku mengerti janin ini adalah anak dari pria yang memuakkan sepertimu. Aku sadar semuanya. Namun aku tidak harus melimpahkan semua rasa marahku yang memuncak padanya. Bagaimanapun janin ini akan tetap tumbuh di dalam rahimku. Aku tetap menerimanya bagaimanapun aku membencimu." Mata Aira berkaca-kaca sambil menguarkan hawa marah. Dia tidak bisa lagi menahan airmatanya hingga menetes.
Melihat airmata ini, Eros menghentikan mobil di sebelah kiri jalan. Tangannya terulur ingin menghapus airmata itu. Aira menjauhkan tubuhnya dan membuang wajah ke arah jalanan di sebelah kirinya setelah menghapus air matanya
"Maaf, Ai," ucap Eros. Aira tidak mau dengar ucapan maaf itu. "Aku juga ingin melihat bayi itu sampai lahir."
Berita yang di sampaikan Eros di sambut bahagia oleh kedua mertuanya. Mama Eros terlihat sangat bahagia mendengarnya. Beliau tersenyum dan mengelus lengan menantunya berkali-kali. Ini adalah cucu pertama mereka, jadi tentu saja sangat ... sangat diharapkan.
"Semoga saja laki-laki. Anak pertama itu harus laki-laki biar jadi pelindung keluarga saat orangtuanya menjadi tua kelak," kata Mama Eros.
"Laki-laki atau perempuan itu sama saja, Ma. Yang penting sehat jasmani dan rohani," sambung papa yang ikut mendengar kabar dari menantunya.
"Iya, iya benar. Mama mengucap harapan enggak apa-apa kan, Pa...." Mama membela diri. Papa hanya mengangguk. "Selamat ya, Aira dan Eros," kata mama sambil tersenyum ke arah mereka. Papa tersenyum juga.
Aira hanya tersenyum ironi menerima kata selamat dari bibir mertuanya. Dia tidak bisa sebahagia itu mendengar kabar ini. Hatinya masih di liputi rasa sakit yang luar biasa atas pengkhianatan suaminya.
Bibir Eros tersenyum tipis melihat kebahagiaan orangtuanya. Aira mendengkus dalam hati. Menertawakan sikap tenang suaminya di kala prahara mendera rumah tangganya.
"Wahhh ... sebentar lagi aku jadi aunty dong." Kisi yang juga ikut berkumpul mengeluarkan komentarnya. Papa mengelus kepala anak gadisnya itu.
"Jaga kesehatanmu, Ai. Jangan kelelahan. Bayi dalam kandunganmu sangat membutuhkan kehati-hatianmu," nasehat mama sambil mengelus punggung tangan menantunya.
"Iya, Ma." Aira mengangguk.
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?