Kisah percintaan yang sangat menyakitkan!
Dimana dia selalu dipermainkan oleh takdir, dihianati oleh kepercayaan dan dijatuhkan oleh pengharapan.
Dialah Dika Feryaldi, laki-laki yang hidup dengan mengandalkan parasnya. Dia bagai parasit, yang hidup tanpa tujuan.
Hidup baginya bagaikan neraka. Dan kebahagiaan baginya adalah hal yang mustahil. Dia selalu bersikap sinis, kasar, dan tidak ingin tersenyum atau tertawa.
Surga baru dia rasakan setelah bertemu dengan wanita cantik bernama Hana Angela. Perempuan dengan kelas sosial yang tinggi, yang mana dia merupakan putri dari keluarga terpandang.
Dika baru mengerti, kalau dia masih bisa bahagia.
Tapi ternyata, lika-liku perjalanan menyakitkan untuk mendapatkan wanita itu harus dia terjang. Saat itulah, seorang Dika berani berkorban untuk seseorang yang dia cintai.
Setelah lama berjuang untuk mengimbangi kelas wanita itu, Dika kembali diruntuhkan oleh penghianatan. Setelah dia mengabulkan semua keinginan orangtua Hana, dia dihianati sebegitu kejam. Ternyata Hana telah dinikahkan dengan laki-laki yang jauh lebih terhormat darinya. Tidak sampai disana saja, dia makin merasa sakit ketika mengetahui kalau semua orang yang dia percayai ikut menghiantinya.
Sampai akhirnya, Dika ingin menyudahi hidupnya. Dia tidak pernah mengerti akan rencana yang Kuasa untuknya.
"Adakah Bahagia Untukku?? Sekali saja, kumohon biarkan aku merasakan yang namanya bahagia."_Dika Feryaldi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendekati Hana
"Makanya, cari kerja dong bro! Biar bisa beli rumah." Ucap Andi. Karena Dika baru datang langsung minta tidur.
"Malas bro! Elo aja yang gak kerja bisa menikmati fasilitas mewah seperti ini," jawab Dika.
"Kita beda dong! Gua kan keturunan orang kaya. Jadi mau gak kerja sampai tujuh turunan sekalipun, tak akan kelaparan." Andi menyombongkan hartanya.
"Udah ah... malas gua bahas kek gituan. Gue mau tidur dulu. Elo mau gak, gua peluk?" ucap Dika dengan jahilnya.
"Ihk... emang gua para wanita apa? pengennya di peluk sama elo. Tapi lumayan juga sih, siapa tahu muka elo ketularan dikit sama gua," Andi memang sudah gila, dia langsung berhambur ketempat tidur dan memeluk Dika.
"Sialan lo, An! Gua hanya bercanda tadi. elo malah anggap beneran. Kalo sampai pembantumu liat kita, bisa dipikir elo gay!" Dika mendorong tubuh Andi menjauh dari tubuhnya.
"Kirain beneran, " Andi bangkit dan meninggalkan kamar Dika. Dia akan tidur dikamar sebelah, yang merupakan kamarnya sendiri.
...----------------...
Dika duduk di meja makan. Dihadapan nya ada Andi yang sedang menikmati sarapan dengan santainya.
Rumah ini memang hanya sekedar rumah peristirahatan bagi keluarga Andi. Makanya, Dika bisa leluasa datang kesini, berhubung Andi memutuskan tinggal dirumah peristirahatan. Lagipula orang tua Andi jarang banget mengunjungi rumahnya ini. Jadi pas benget kalo ada party, Andi pasti akan langsung mengusulkan agar diadakan dirumah itu.
Bayangkan aja, rumah peristirahatan besar banget, gimana dengan rumah utama? Wah... Orang kaya emang enak banget ya.
"Ini mas... " pembantu Andi dengan manjanya menyerahkan lauk ke hadapan Dika. Sepertinya nih anak punya niat menggoda. Lumayan juga sih, pembantu Andi ini masih muda, dan seksi. Mungkin beberapa tahun diatas usia Dika.
Setelah kepergian pembantu itu,
"Elo punya pembantu main amat.. " ucap Dika memulai percakapan.
"Mana gua tahu. Gua datang ke sini, tiba-tiba aja dia udah kerja. Bukan gua yang mempekerjakan, mungkin bokap gua," jawab Andi.
Dika terdiam. Kemudian sesuatu muncul di otaknya.
"Elo jadi nikah? " tanya Dika penasaran.
"Jadi, " balas Andi singkat.
"Elo serius An? Bisa-bisa elo berlagak kayak gak ada apa-apa!" Dika tak percaya dengan reaksi temannya ini.
"Emang gua harus gimana? Apa harus nangis sambil guling-guling, dan berteriak, gue gak mau nikah... gue gak mau nikah." Andi membalas Dika dengan asal.
"Bukan begitu, maksud gua, kenapa elo gak bilang sama kami! " Dika memperjelas.
"Niatnya sih mau ngumpulin kalian dulu, trus gua kasih tahu deh, tapi malah elo nanya duluan, gak jadi deh aku ngumpulin kalian." Andi mengambil air minum. Dia meneguknya.
Dika geleng-geleng kepala melihat Andi. Ni anak pemikiranya tuh singkat banget. lurus aja, udah.
"Jadi kapan pernikahannya? " tanya Dika.
"Bulan depan! " jawab Andi.
"Elo serius kan?" Dika merasa di permainkan.
"Serius lah... emang aku tampak bercanda ya? " Andi menegaskan.
"Nih anak kok kayak gak peduli ya? apa dia pikir pernikahan itu sebuah mainan? " Batin Dika menilai sikap Andi.
"Diakan orang kaya, wajar aja jika dia berfikir seperti itu." Lagi lagi Dika berucap didalam hati.
Setelah selesai makan...
"Gua pergi dulu ya, makasih tumpangannya. " ucap Dika sambil melambaikan tangannya.
Andi mengangguk. "Malam ini lo masih kesini gak?" tanya Andi.
"Iya lah!" jawab Dika.
"Yaudah, sekalian ajakin teman yang lain ya, gue mau bicara sama elo elo pada."
"Ok Pak bos. " jawab Dika sambil melesat pergi.
Diperjalanan, Dika melihat seorang perempuan tengah berjalan. Dia tampak sederhana tapi terlihat dengan jelas kesan elegan nya.
"Hai, " sapa Dika pada wanita itu.
"Dika? " wanita itu mengenal Dika. "Kamu apa kabar? " tanya wanita itu lagi. Ia menghentikan langkahnya dan mengobrol dengan Dika.
"Gua baik," jawab Dika singkat.
"Kamu mah gak berubah, masih aja jawab singkat!" perempuan itu mengomel.
"Emang gua harus gimana?" tanya Dika.
"Emang gak bisa ya, nanya balik gitu?" wanita itu memberi saran agar Dika terlihat sedikit berwarna.
Dika memperbaiki posisi kepalanya. Dia menatap gadis dihadapannya lekat-lekat, tanpa turun dari motornya.
"Apa kabar Hana Angela?" Dika menuruti kemauan wanita yang ternyata bernama Hana.
"Aku baik, Dika! " jawabnya disertai senyuman.
"Ohw." Dika berwajah datar. "Btw elo mau kemana?"
"Mau kekantor, " jawab Hana.
"Kenapa jalan kaki? "
"Kantornya dekat kok dari sini. ngitung ngitung kurangi polusi sambil olahraga." Jawab Hana tersenyum simpul.
"Ohk."
Hana menatap Dika dengan pandangan penuh selidik.
"Kamu gak kerja?" tanya Hana.
"Gak." jawab Dika.
"Kenapa? "
"Malas! "
"Kok ngomongnya kek gitu? Kalau kau berkeluarga, mau makan apa keluarga mu nanti? " Hana mengomel.
"Bodoh amat! Siapa juga yang mau berkeluarga," jawab Dika lagi.
Hana mendenggus kesal mendengar jawaban Dika.
"Kalau gitu, kamu mau gak kerja di perusahaan Papaku? Kebetulan aku memegang salah satu perusahaan nya. Kamu mau gak? Ngitung ngitung balas budi. " Hana menawarkan.
"Nggak!" Tolak Dika mentah. Padahal Hana sudah berbaik hati menawarkan. Lagian dimasa sekarang ini sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Bodoh sekali Dika yang menolak mentah-mentah.
"Yaudah, aku juga nggak maksa kali! " balas Hana sambil melanjutkan jalannya pergi meninggalkan Dika.
Melihat mangsa pergi, Dika melajukan motornya mengikuti Hana Angela lambat.
"Elo mau gua antar gak?" Dika menawarkan.
"Gak usah. Aku bisa jalan kaki kok, " balas Hana tetap berjalan.
" Dasar cewek bodoh! Elo harus tahu, gua jarang-jarang loh menawarkan tumpangan."
"Jadi maksudnya aku harus merasa beruntung gitu? karena kau menawarkan padaku? " Hana tampak kesal. Baginya Dika terlalu kepedean ngomong begituan.
"Oh tentu saja. Makanya cepat naik!" perintah Dika.
Hana tak punya pilihan apapun. Dia akhirnya mau di antarin sama Dika. Bukan karena Hana ingin sih, tapi baginya akan menjadi masalah kalo memperpanjang dengan menolak diantarkan Dika. Soalnya pria itu terlihat jelas sangat keras kepala.
"Makasih ya, Dika. " Ucap Hana di depan sebuah gedung bertingkat.
"Sama-sama." jawab Dika lalu pergi meninggalkan Hana.
Dia dapat melihat dengan jelas dari kaca spion, Hana melambaikan tangan padanya.
Dika menarik satu ujung bibirnya, dia tersenyum dengan sinis.
"Target baru sudah mulai masuk kedalam perangkap. Sebentar lagi, misi balas dendam terwujud." gumamnya. "Akan ku tunjukkan, bagaimana cara menyakiti perempuan yang benar. Aku penasaran dengan wajah Satria, jika melihat adiknya menangis pilu setiap hari,"
Dika meninggalkan kantor itu. Dia melajukan motornya kearah jalan yang berlawanan dari yang dia tempuh tadi.
Beginilah cara Dika menghabiskan waktunya. Kadang dia menemani para wanita yang menggilainya untuk shoping dan ke salon.
Kadang dia akan pergi main judi bersama dengan anak anak berandalan yang sama seperti keadaannya.
Dalam hidup Dika, belum pernah dia jatuh cinta walau sekalipun. Sudah 24 tahun dia hidup di dunia ini, tapi sampai sekarang dia belum percaya dengan kata cinta.
"Bahkan orang tuaku tidak memiliki cinta untukku. Begitu juga dengan aku, aku juga tidak memberikan cinta untuk mereka. Lantas, pantaskah orang lain ku cintai?" jawaban yang selalu dia berikan jika ditanya teman-temannya.
Dika berhenti tepat di sebuah rumah bertingkat. Dia turun dari motornya dan mengendap endap ke arah belakang.
Sepertinya dia ingin melihat seseorang di dalam rumah itu.
Rutinitas ini memang selalu dia lakukan minimal sekali sebulan. Entah rumah siapa yang dia untit.
Mohon dukungannya teman-teman. Jangan lupa like, komen dan vote ya❤❤.
mampir juga yuk dinovelku
padahal masih ada surat dari hana yg dibawah bi sumi. belum sampai ketangan dika dari situ bisa dijadikan bahan thor .
maaf bukan maksud apa apa, hanya saja kok endingnya jadi gantung gitu gk enak aja jadinya 🙏