NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Foto yang Seharusnya Sudah Musnah

BAB 8 — Foto yang Seharusnya Sudah Musnah

Foto Aditya Sasmita muncul di layar ruang kerjaku pada pukul 00.53.

Aku mengenalinya bahkan sebelum sistem pencarian wajah selesai bekerja. Kemeja dengan lengan digulung, map cokelat di bawah lengan, dan dinding kaca berlogo Kalyana Group di belakangnya. Foto itu diambil di lantai dua puluh satu gedung lama—lantai audit internal yang dibongkar setelah kebakaran ruang arsip sebelas tahun lalu.

Seharusnya tidak ada salinan yang tersisa.

Aku memperbesar sudut kanan bawah. Tanggalnya sembilan hari sebelum Aditya meninggal. Nomor frame nyaris terpotong, tetapi masih cukup terbaca untuk mengenali sumbernya.

ARSIP A-17.

Folder Aditya di hadapanku hanya memuat salinan laporan, daftar saksi, dan foto kecelakaan. Tidak ada foto kunjungan terakhirnya ke kantor. Ayah pernah mengatakan seluruh dokumentasi lantai audit rusak dalam kebakaran. Aku tahu itu bohong, hanya saja selama bertahun-tahun aku tidak tahu seberapa banyak yang berhasil diselamatkan.

Sekarang seseorang mengirim satu potongnya kepada Nadira.

Aku membuka laporan tujuh halaman dari buku yang baru saja disalin. Tujuan pertama memang server Kalyana Group, tetapi bukan server hukum, keamanan, atau yayasan. Berkas itu masuk ke ruang penyimpanan lama milik dewan direksi, lalu jejaknya hilang dalam waktu kurang dari dua menit.

Hanya tiga orang yang memiliki akses setingkat itu.

Aku, Elsa, dan ayahku.

Aku menelepon Elsa.

Ia menjawab pada dering kedua. “Kalau kamu menelepon lewat tengah malam, berarti salah satu dari kita akan kehilangan pekerjaan.”

“Periksa ruang penyimpanan dewan.”

“Aku tidak bekerja untukmu malam ini.”

“Tujuh halaman buku itu masuk ke sana.”

Hening sebentar.

“Kamu yakin?” tanyanya.

“Sistem mengenali tanda mikro kertas.”

“Buku yang mana?”

Aku memejamkan mata. Elsa mengetahui terlalu banyak untuk pura-pura tidak paham, tetapi terlalu sedikit untuk dapat dipercaya sepenuhnya.

“Buku yang disimpan setelah Laksmi meninggal.”

“Kamu masih menyimpannya?”

“Sekarang tidak.”

“Siapa yang memegang?”

Aku memilih diam.

Elsa mengembuskan napas. “Nadira.”

“Periksa siapa yang membuka salinannya.”

“Kalau aku masuk sekarang, ayahmu akan tahu ada orang lain yang melihat log.”

“Dia sudah tahu bukunya keluar.”

“Kamu tidak punya bukti.”

Aku mengirim foto Aditya ke nomornya.

Sambungan menjadi sunyi.

“Dari mana kamu dapat ini?” tanyanya.

“Dikirim ke Nadira.”

“Foto itu tidak ada di arsip resmi.”

“Aku tahu.”

“Rendra, dengar. Jangan datang ke rumah utama. Jangan bicara dengan Surya sebelum aku memeriksa jalurnya.”

“Aku tidak meminta nasihat.”

“Bagus. Anggap itu perintah dari satu-satunya pengacara keluarga yang belum dibeli untuk mengiyakan semua ucapanmu.”

Ia memutus sambungan.

Perhatianku kembali ke foto Aditya. Nadira memiliki senyumnya. Bukan bentuk bibirnya, melainkan cara wajah mereka berubah ketika merasa menemukan jawaban. Aku hanya mengenal Aditya melalui dokumen, rekaman rapat, dan cerita Laksmi. Dalam semuanya, ia terlihat seperti orang yang terlalu lama percaya kebenaran akan melindungi dirinya sendiri.

Kebenaran tidak pernah melindungi siapa pun di keluarga Kalyana. Kebenaran cuma memberi tahu siapa yang harus dibungkam lebih dulu.

Ponselku berdering.

Ayah.

Aku membiarkannya berbunyi sampai berhenti. Panggilan kedua menyusul tak lama kemudian. Pada panggilan ketiga, aku mengangkat.

“Kamu meninggalkan rapat,” katanya tanpa salam.

“Nadira menerima foto Aditya.”

Tidak ada jeda terkejut. Hanya napas pelan, seperti seseorang sedang mengubah posisi duduk.

“Aditya siapa?”

“Jangan buat percakapan ini membuang waktu.”

“Ada banyak mantan pegawai.”

“Foto dari Arsip A-17 dikirim ke ponselnya.”

Ayah diam.

Itu cukup.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyaku.

“Seharusnya aku yang bertanya. Tujuh halaman dokumen internal baru saja masuk ke server dewan.”

“Buku itu bukan milik Kalyana.”

“Semua dokumen yang menyebut perusahaan ini menjadi urusan perusahaan.”

“Buku itu dibuat Laksmi.”

“Dengan uang yang sumbernya perlu kamu periksa lebih teliti.”

Aku berdiri dari kursi. “Kau mengirim foto itu untuk menakut-nakuti Nadira.”

“Aku bahkan tidak tahu dia berada di mana.”

Kalimat itu terdengar terlalu sengaja. Ayah jarang mengaku tidak mengetahui sesuatu. Kalau sampai mengatakannya, biasanya ia justru ingin orang lain merasa ia tetap bisa mengetahui kapan pun ia mau.

“Jangan dekati dia,” kataku.

“Kamu masih memberi larangan atas nama perempuan yang baru saja meninggalkanmu?”

“Ini bukan tentang pernikahan kami.”

“Semua yang kamu lakukan selalu tentang pernikahanmu. Kamu membiarkan satu perempuan mengubah sistem perlindungan menjadi permainan rasa bersalah.”

Aku hampir tertawa. “Kau tidak boleh bicara kepadaku tentang mengubah perlindungan menjadi kendali.”

“Setidaknya aku tidak menyebutnya cinta.”

Sambungan berakhir sebelum aku sempat menjawab.

Aku meletakkan ponsel di meja terlalu keras. Sudutnya membentur kayu, tetapi layar tidak retak. Beberapa tahun lalu, ucapan ayah akan membuatku marah karena ia menyamakan caraku dengan caranya. Malam ini aku marah karena perbandingan itu tidak sepenuhnya salah.

Notifikasi baru muncul dari Elsa.

Jangan buka apa pun selama lima menit.

Aku menunggu sambil memeriksa ulang jalur berkas. Pengunggahan bermula dari mesin pemindai Ruang Tengah. Perangkat itu terhubung ke penyimpanan kantor, lalu membuat salinan cadangan melalui vendor pemeliharaan. Vendor tersebut diakuisisi Kalyana dua tahun lalu melalui perusahaan lapis ketiga.

Aku tidak ingat menyetujui akuisisinya.

Tapi aku ingat meminta tim keamanan memastikan data kantor Nadira dapat dipulihkan jika terjadi serangan siber. Perintah yang terdengar masuk akal, lalu berubah menjadi akses yang tidak pernah diketahui Nadira.

Bahkan kebocoran malam ini mungkin berawal dari perlindungan yang kubuat sendiri.

Elsa menelepon kembali.

“Salinan tujuh halaman dibuka dari terminal Surya,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu belum tahu bagian buruknya.”

“Foto Aditya?”

“Bukan. Akses foto dilakukan dari arsip yang tidak tercantum dalam daftar aset perusahaan. Seseorang memakai akun sementara untuk masuk.”

“Nama akun?”

“NSasmita.”

Aku butuh waktu untuk memahaminya.

Elsa mengulang dengan lebih lambat, “Identitas aksesnya Nadira Sasmita.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursi berputar ke belakang.

“Nadira tidak punya akses ke sistem Kalyana.”

“Secara resmi, tidak.”

“Kapan akun itu dibuat?”

“Sebelas tahun lalu.”

Saat Nadira masih berusia delapan belas tahun.

“Siapa yang menggunakannya malam ini?”

“Jejak perangkat disamarkan. Tapi akses lama pada akun yang sama menunjukkan rekening, dana aman, dan beberapa pembayaran disetujui atas namanya.”

Perhatianku berpindah ke halaman NIKAHI di layar lain. Selama ini aku mengira halaman pengganti adalah kebohongan terbesar yang ditanam dalam buku.

Ternyata nama Nadira sudah dipakai jauh sebelum aku menjadi pengelolanya.

“Aku perlu seluruh log,” kataku.

“Aku kirim ke pengacara Nadira.”

“Dia belum punya pengacara.”

“Kalau begitu pastikan dia mendapatkannya. Bukan darimu.”

Aku terdiam.

Elsa benar. Bila aku datang membawa bukti, Nadira akan melihatnya sebagai bentuk baru pengaturan. Bila aku menyembunyikannya, aku mengulang kesalahan lama. Kali ini aku harus menyerahkan informasi itu tanpa ikut menentukan apa yang akan dilakukannya.

“Kirim salinan ke alamat Ruang Tengah,” kataku. “Tanpa nama pengirim.”

“Anonim akan membuatnya lebih curiga.”

“Pakai namamu.”

Elsa tersenyum miring. “Akhirnya kamu belajar bahwa orang lain boleh memilih cara bicara.”

Sambungan terputus.

Aku membuka percakapan dengan Nadira meski tahu nomorku diblokir. Pesan yang kutulis tidak akan terkirim, tetapi jemariku tetap bergerak.

Jangan memakai pemindai kantor. Sistemnya tidak aman.

Kuhapus.

Kalimat itu terdengar seperti larangan, dan aku tidak lagi tahu cara memperingatkan tanpa membuat peringatan terasa seperti perintah.

Kuketik lagi.

Aku menemukan bahwa data kantormu tersalin ke Kalyana. Elsa akan mengirim bukti. Putuskan sendiri apa yang ingin kamu lakukan.

Aku membaca pesan itu tiga kali. Bahkan ketika berusaha memberinya pilihan, aku masih menempatkan diriku sebagai orang yang pertama mengetahui bahaya. Aku masih ingin ia mendengar suaraku sebelum suara orang lain.

Akhirnya aku menyimpan teks itu di catatan, bukan mengirimkannya melalui nomor lain. Bila Elsa menghubungi Nadira, informasi akan sampai tanpa aku memakai keadaan darurat sebagai jalan kembali ke hidupnya.

Kali ini aku hanya perlu membiarkan tanganku tetap di tempatnya.

Aku membuka dasbor akses akun NSasmita. Daftar aktivitas lama memanjang jauh ke bawah: transfer, persetujuan dana, pembukaan rekening, dan otorisasi kepada beberapa orang yang namanya ada dalam buku.

Semua tampak seolah dilakukan Nadira sendiri.

Pada aktivitas terbaru, akun itu bukan hanya membuka foto Aditya.

Akun tersebut baru saja mengajukan permintaan untuk memindahkan seluruh dana perlindungan ke rekening lain.

Di kolom persetujuan tercantum satu nama.

Nadira Sasmita

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!