NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 - SUAMIMU TAMPAKNYA PANGLIMA PERTAMA

Malam itu ruang makan utama rumah keluarga Wijaya terasa lebih ramai dari biasanya. Meja panjang di tengah ruangan dipenuhi hidangan khas rumah makan mereka, dan aroma rempah yang hangat bercampur dengan canda tawa keluarga yang sedang berkumpul santai.

Di dinding ruangan, cermin gema besar masih redup. Kirana memberi isyarat kepada pelayan yang berjaga di sampingnya. "Nyalakan cermin gema yang besar itu," bisiknya pelan. "Sebentar lagi akan ada berita yang sayang untuk dilewatkan."

Pelayan itu menurut. Cahaya cermin gema menyala, dan seketika wajah-wajah yang sedang asyik menyantap hidangan tersambar oleh silau cahaya yang datang tiba-tiba.

Seorang penyiar muncul di tengah cermin, berdiri di depan gerbang istana dengan wajah berseri-seri seperti baru menemukan harta karun.

"Inilah kabar paling mengejutkan hari ini!" serunya bersemangat. "Panglima Pertama Kekaisaran Cakrawala, Panglima Kabut yang selama ini selalu tampil berbalut kabut dan bertopeng naga, pagi ini tampil di hadapan publik tanpa keduanya!"

Sang penyiar adalah seorang perempuan manusia naga yang berparas cantik, dengan sepasang telinga naga mungil — sebelah tegak, sebelah lagi terkulai — yang membuat orang gemas hanya dengan memandangnya.

Ia melanjutkan dengan nada yang kian bergelora. "Selama ini rakyat sibuk menebak-nebak penampilan Panglima. Hasilnya kali ini mengejutkan semua orang!"

Setelah pengumuman itu, sang penyiar mewawancarai beberapa orang yang kebetulan lewat. Semua menjawab dengan mata berbinar, karena tak menyangka Panglima Pertama ternyata setampan itu.

"Tadi aku sempat berpikir, Panglima tak mungkin terlihat seperti itu... eh, maksudku, ternyata beliau gagahnya bukan main!" ujar salah seorang yang diwawancarai, dengan wajah yang masih merah padam.

Di meja makan keluarga Wijaya, suasana berubah hening seketika. Semua yang sedang menyuap makanan berhenti, menatap cermin gema dengan mulut yang setengah terbuka.

"Klik." Sumpit di tangan Ki Ageng jatuh ke lantai. Lelaki tua itu menatap cucunya dengan mata yang penuh arti, campuran antara takjub, curiga, dan tidak percaya.

Kirana segera menundukkan kepalanya, berpura-pura sibuk dengan makanan di hadapannya, berusaha menghindari tatapan kakeknya untuk sementara waktu.

Dari sekian banyak orang di ruangan itu, Ratih adalah yang paling tenang. Ia memang sempat kaget ketika pertama kali mengetahui kabar itu, tetapi sekarang, melihat suami dan mertuanya yang justru lebih terkejut darinya, hatinya merasa anehnya damai.

Namun yang reaksinya paling hebat adalah Sekar. Ujung bibirnya bergetar, dan kedua tangannya menggenggam sumpit begitu erat sampai-sampai terasa hampir patah.

Sekar menoleh ke arah Kirana, matanya membelalak, lupa menjaga sikap manis yang biasa ia pertunjukkan. "Orang yang menikahimu hari itu... dia kerabat Panglima, ya?" tanyanya dengan suara hati-hati.

Sekar tidak hadir di puncak menara hari pernikahan itu, tetapi belakangan ia sempat menonton rekaman pernikahannya. Ia dulu menunggu-nunggu Kirana tampil memalukan di depan para tamu, siapa sangka gadis itu justru mengganti mempelai lelakinya seketika.

"Dan yang paling menyebalkan, mempelai pengganti itu jauh lebih gagah daripada Danendra Prasaja," gerutu Sekar dalam hati, sambil terus menatap Kirana dengan mata menyelidik.

Kirana yang awalnya sempat menyesal menikah dengan Rangga dalam keadaan kalut hari itu, kini merasa cukup senang melihat ekspresi Sekar.

Ia menyesap minuman kesegaran di hadapannya dengan santai, lalu menjawab pelan, "Bukan kerabat."

Sekar menghela napas lega. "Syukurlah, kalau begitu hanya mirip saja." Ia memaksakan senyum kering. "Tapi... dia memang mirip sekali ya."

Sejurus kemudian, Kirana berkata dengan suara yang semakin pelan namun tegas. "Coba tebak lebih berani lagi, Sekar. Bukan mirip. Memang dia."

Sekar membeku.

Kini tidak ada seorang pun yang bisa melanjutkan makan. Ki Ageng menatap cucunya dengan mata yang rumit. "Rara, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya.

Kirana melirik Sekar sebentar sebelum menjawab dengan tenang. "Bukankah karena Danendra tertahan oleh seseorang dan tidak bisa pulang untuk menikah? Lalu... aku bertemu dengan Panglima, kami jatuh cinta pada pandangan pertama, dan akhirnya menikah."

Ki Ageng menyipitkan matanya. Ia merasa cerita cucunya itu tidak rapat jahitannya, tetapi untuk sesaat ia belum menemukan celah untuk membongkarnya.

"Rara, kenapa kau baru memberi tahu sekarang?" Bawono ikut bertanya dengan cemas. "Kita semua jadi lalai terhadap Panglima. Jangan-jangan beliau tersinggung oleh sikap kita?"

Kirana meneruskan cerita karangannya dengan lancar. "Tidak apa-apa, Ayah. Kebetulan beliau masih ada urusan penting, jadi beliau pamit lebih dulu. Kami sudah sepakat akan bertemu lagi di Provinsi Kedaton beberapa hari lagi."

Bawono mengangguk pelan. "Baiklah. Hari pertama masuk sekolah nanti, Ayah antar kau ke sana."

Sebelumnya, Bawono tidak berniat repot-repot mengantar Kirana ke ibu kota. Tetapi sekarang keadaan berbeda — menantu lelakinya adalah Panglima Pertama Kekaisaran!

Pada akhirnya Ki Ageng mengambil keputusan yang membuat seluruh anggota keluarga mengangguk: seluruh keluarga akan berangkat bersama untuk mengantar Kirana di hari keberangkatan nanti.

"Aku belum tahu apakah Rangga sempat hari itu," gumam Kirana, dengan sudut bibir yang berkedut. "Sepertinya aku perlu menghubunginya lebih dulu untuk memastikan?"

Ki Ageng mengangguk mantap. "Benar, sebaiknya kau bertanya lebih dulu. Bagaimanapun, dia adalah orang penting yang sangat sibuk."

Kirana terpaksa menyetujui. Lagipula, nanti tinggal ia bilang Rangga tidak sempat — selesai urusan, begitu pikirnya sambil menyembunyikan senyum.

Namun ketika ia hendak beranjak naik ke kamarnya, langkahnya terhenti. Sekar menghadangnya di ujung koridor dengan tangan bertaut di depan dada.

Mata Sekar memerah, dan giginya terkatup rapat. "Jangan-jangan... kau memang sudah lama bersama Panglima, dan kau tidak pernah ingin menikah dengan Danendra?"

"Kalau begitu, untuk apa kau berpura-pura dengan semua sandiwara pilu itu waktu itu?" suaranya meninggi, penuh tuntutan.

Melihat kemarahan Sekar, Kirana justru tersenyum lebar.

"Kalau begitu, Sekar, adikku tersayang, aku justru ingin mengucapkan banyak terima kasih kepadamu!" jawabnya ringan.

"Kau tidak takut aku memberitahukan semuanya kepada Kak Danendra?" ancam Sekar.

"Kalau aku takut, masa aku berani mengatakannya di depanmu?" balas Kirana santai.

Kirana berbalik dan berlalu, meninggalkan Sekar yang berdiri membeku di tempat, wajahnya berubah semakin gelap.

Andai Kirana benar-benar mencintai Danendra sampai mati, sekarang ia pasti sengsara, menangis sepanjang hari di kamar. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Meski digantung di hari pernikahannya, gadis itu justru memenangkan pertempuran yang indah dalam sekejap mata, begitu pikir Sekar dengan getir.

Satu-satunya masalah sekarang: apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Panglima itu? Sekar tidak tahu, dan itu yang membuatnya semakin gelisah.

"Sudahlah, jalan selangkah demi selangkah," ucap Sekar pada dirinya sendiri sebelum kembali ke kamarnya dengan langkah yang berat.

Namun kenyataannya, melangkah selangkah saja ternyata sulit. Gelang Lentera Kirana tiba-tiba bergetar — panggilan masuk dari Danendra Prasaja.

Ini panggilan dari Danendra lagi malam itu. Jelas sudah — Danendra pasti sudah mengenali Rangga dari berita yang tersebar hari ini.

Kirana tidak ingin mengangkatnya. Ia membiarkan getaran itu berjalan beberapa saat sebelum akhirnya senyap.

Namun tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Danendra, singkat dan menekan. "Kalau kau tidak mengangkatnya, aku akan datang ke rumahmu!"

Kirana tercenung. Dulu Danendra tidak pernah segigih ini mengejarnya. Kenapa sekarang tiba-tiba melekat begitu saja?

Setelah tersambung, Kirana bertanya dengan dingin, "Ada apa?"

"Apa berita itu benar?" suara Danendra terdengar buru-buru dari seberang.

"Berita yang mana?"

"Berita tentang Panglima Pertama! Dia... benarkah dia yang menikahimu hari itu?" Suara Danendra bergetar, campuran antara sedih dan marah yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.

Danendra merasa seolah seluruh isi hatinya telah ditipu. Jelas-jelas Kirana seharusnya menjadi istrinya!

Selama ini ia memendam rencana: begitu Kirana tenang, ia akan mengusahakan pembatalan pernikahan itu, dan bersedia menikahinya lagi.

Kalau tidak bisa, tunggu mereka berdua sama-sama masuk Akademi Militer Kekaisaran, lalu perlahan-lahan ia dekati lagi. Pasti akan selalu ada jalan, karena Kirana sangat mencintainya.

Siapa sangka, mempelai pengganti di hari pernikahan itu ternyata Panglima Pertama Kekaisaran Cakrawala!

"Danendra, apa kau punya hak untuk marah padaku?" Kirana tertawa dingin dari seberang. "Kau boleh pergi meninggalkanku di hari pernikahan, tapi aku tidak boleh menikah dengan orang lain? Kau sendiri yang harus sadar diri."

"Kirana! Bukankah dulu kau bilang mencintaiku! Untuk hal sekecil itu saja, kenapa kau tidak mau memaafkanku!" suara Danendra hampir pecah.

Kirana tidak menjawab. Ia membiarkan kalimat itu menggantung di udara sebelum akhirnya menutup panggilan dengan pelan.

Ia menatap jendela kamarnya, tempat lentera-lentera Provinsi Seruni berkelip di kejauhan. Rasa sepi yang sudah lama ia kenal kembali mengelilinginya, tetapi kali ini ia tidak merasa hancur.

Lima tahun membeku dalam Peti Kaca Rembulan mengajarinya satu hal: orang yang benar-benar mencintai tidak akan pernah membiarkan kekasihnya menunggu di puncak menara tanpa kepastian.

Danendra mengangkatnya di saat paling genting, dan Sekar dengan manis mengambil tempat di antara mereka. Kirana sudah cukup untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kini yang ia pilih bukanlah orang yang melarikan diri dari sumpah, melainkan pria berbalut kabut yang setia menunggunya menenangkan api darahnya malam itu.

"Panglima Pertama, ya..." gumam Kirana pelan, sebuah senyum tipis mengembang di bibirnya. "Ternyata aku menikahi pria paling ditakuti sekaligus paling setia di Cakrawala."

Ia memejamkan mata, membiarkan malam menutup hari yang panjang itu, sementara di ujung provinsi sana, nama Panglima Pertama masih menggema di setiap cermin gema.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!