Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Majikan Sejati & Pelajaran yang Harganya Dua Lengan
Ning Xuanwu berlutut di atas tanah yang terasa semakin keras di bawah lututnya.
Pikirannya berputar seperti roda yang kehilangan porosnya.
'Majikan."
Bukan tamu. Bukan kenalan. Bukan bahkan murid dari sosok agung yang kebetulan singgah. Keempat Leluhur Bela Diri yang namanya tidak berani disebut dengan suara penuh di kalangan sekte-sekte besar—sosok-sosok yang membuat kaisar menimbang ulang keputusannya sebelum tidur—berdiri menunduk di hadapan pemuda berjubah putih biasa itu dan menyebutnya Tuan.
Semua kepingan yang selama ini tidak masuk akal tiba-tiba menyusun dirinya menjadi gambar yang sempurna dan mengerikan.
Artefak Penggoncang Langit dijadikan pengganjal anak tangga—bukan karena penghinaan yang disengaja, melainkan karena bagi sosok di tingkatan itu, nilai artefak tersebut memang tidak lebih dari batu biasa.
Delapan belas lukisan senjata yang memancarkan tekanan cukup untuk membuat Leluhur Bela Diri tersengal—hanya hiasan dinding di ruang depan sasana kecil itu.
Wuchen dan Wufeng tidak dibunuh oleh manusia. Mereka ditelan oleh lingkungan tempat itu sendiri, seperti nyamuk yang terbang ke api tanpa mengerti apa yang sedang mereka dekati.
Ning Xuanwu memejamkan matanya.
Wu Yonghong melangkah mendekati Lin Qian dengan ekspresi orang yang ingin melaporkan sesuatu penting. Sebelum ia sempat membuka mulut, Lin Qian sudah melambaikan tangan.
"Aku sudah tahu. Kalian urus saja sendiri—aku percaya pada penilaian kalian." Ia menoleh ke arah halaman belakang, hidungnya terangkat sedikit. "Kalau-kalau aku ingat, masih ada bahan di dapur yang perlu dibereskan sebelum malam."
Bagi Lin Qian, pemandangan tadi tidak lebih dari empat orang tua yang sedang menegur anak buah atau murid nakal yang tidak tahu sopan santun. Ia tidak menyadari bahwa dirinya adalah pusat dari seluruh kekacauan yang sudah berlangsung selama berminggu-minggu.
"Berikan pelajaran yang cukup," tambahnya sambil melangkah ke dalam, suaranya santai seperti seseorang yang menitipkan urusan rumah tangga kecil, "tapi beri juga kesempatan untuk berubah."
Pintu menutup.
Keempat tetua itu menunggu hingga langkah kaki Lin Qian benar-benar tidak terdengar lagi.
Lalu mereka berbalik menghadap Ning Xuanwu.
Perubahan di mata mereka terjadi dalam satu kedipan—dari postur penghormatan tertinggi, kembali ke tatapan empat makhluk yang sudah hidup cukup lama untuk kehilangan kesabaran terhadap kebodohan.
Wu Yonghong berbicara pertama, suaranya datar seperti permukaan danau yang menyembunyikan kedalaman tak terduga. "Kau dengar sendiri apa kata Tuan. Nyawamu tidak diambil—itu bukan kelemahan, itu pilihan Senior. Apakah kau bisa selamat setelah ini dan menjadi manusia yang lebih baik... itu sepenuhnya tergantung keberuntunganmu sendiri." Jeda pendek. "Sekarang, serahkan kantung penyimpananmu."
Ning Xuanwu tidak bergerak selama dua detik penuh.
Lalu tangannya bergerak ke pinggang dan mengeluarkan kantung penyimpanan yang ia bawa—berisi seluruh harta dan sumber daya sekte yang ia anggap cukup untuk membiayai ekspedisi pembalasan ini. Semuanya diserahkan tanpa satu kata pun, karena ia tahu bahwa membuka mulut untuk protes di sini hanya akan mengundang sesuatu yang jauh lebih buruk dari kehilangan harta.
Kakek bergigi emas menerima kantung itu tanpa melihat isinya. Baginya itu bukan penjarahan—itu denda yang sangat wajar mengingat apa yang sudah dilakukan terhadap wilayah Tuan mereka.
Sun Zhuge—kakek cincin tengkorak yang selama ini paling banyak diam—melangkah maju.
Jari-jarinya berkedip hitam pekat, warna yang tidak berasal dari qi biasa melainkan dari sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih berbahaya dari sistem kultivasi yang dikenal kebanyakan orang.
"Satu pelajaran lagi, agar kau tidak lupa."
Kabut hitam pekat melesat dari ujung jarinya dan menempel di lengan kanan Ning Xuanwu—satu-satunya lengan yang tersisa. Ia mengenalinya dalam sekejap, dan darah di wajahnya surut seketika.
Racun Iblis Surgawi.
Racun yang bekerja dari dalam ke luar, menyebar melalui meridian, tidak bisa dihentikan dengan qi biasa, tidak bisa disembuhkan dengan ramuan apa pun yang ia ketahui. Dalam tiga hari ia akan mati kesakitan—kecuali ia membuang bagian yang terinfeksi sekarang, sebelum racun menyebar lebih jauh.
"Pergi." Satu kata dari Wu Yonghong, disertai satu tendangan yang melontarkan tubuh Ning Xuanwu ke udara. "Dan ingat keberuntunganmu."
Ning Xuanwu jatuh di luar pekarangan dengan bunyi yang berat—tepat di hadapan barisan pasukan Sekte Xuanwu yang telah menunggu dengan kecemasan yang makin lama makin tidak bisa disembunyikan.
Ia tidak berhenti di sana.
Ia bangkit, menyeka darah di sudut bibirnya, dan melesat ke gang sepi beberapa blok jauhnya—jauh cukup agar tidak terlihat, dekat cukup agar ia tidak membuang waktu yang tidak ia miliki.
Di sana ia berdiri sendiri, menatap lengan kanannya.
Lengan yang baru. Lengan yang ia dapatkan kembali dengan pengorbanan yang tidak ingin ia ingat—usia panjang yang dikorbankan, ritual yang menguras setengah dari simpanan qi hidupnya, harga yang oleh orang lain akan dianggap terlalu mahal untuk sepasang lengan.
Dan sekarang lengan itu diselimuti kabut hitam yang perlahan merayap ke siku.
Rasa sakit, amarah, dan keputusasaan bercampur menjadi sesuatu yang tidak memiliki nama yang tepat di dalam bahasa manusia mana pun.
"Jika tidak dipotong, aku mati."
Ia mengertakkan gigi.
Lalu ia mencabut pedang di pinggangnya dengan... tidak ada tangan karena pedangnya ada di sisi kanan. Ia merogoh dengan gerakan kikuk, mengambil belati cadangan dari balik jubahnya dengan tangan yang sama yang akan segera tidak ada lagi.
Satu tarikan napas panjang.
Satu tebasan.
Raungan yang ia tahan sekuat tenaganya hanya keluar sebagai suara rendah di tenggorokan, seperti hewan yang menolak menunjukkan kelemahannya bahkan saat sendirian. Darah menyembur. Ia menutup lukanya dengan qi yang tersisa, membakar ujung luka untuk menghentikan pendarahan dengan cara yang paling kasar dan paling menyakitkan.
Ia menatap lengannya yang tergeletak di tanah.
Kemudian berbalik dan melangkah kembali ke arah pasukannya tanpa melihat ke belakang.
Pasukan Sekte Xuanwu melihat pemimpinnya datang—pucat seperti kertas, jubah basah darah, dan kali ini benar-benar tidak memiliki satu pun lengan.
Tidak ada yang berani bersuara.
"Di mana Xu Kun."
Bukan pertanyaan. Nada suaranya adalah nada seseorang yang sudah melampaui amarah biasa dan masuk ke wilayah yang lebih dingin dan lebih berbahaya.
Dari balik tubuh Yao Linger, seorang pemuda merangkak keluar dengan wajah yang sudah memutih bahkan sebelum dipanggil. "K-Ketua... ini salah paham... aku bersumpah, waktu itu dia benar-benar tidak menunjukkan sedikit pun—"
Ning Xuanwu melesat.
Tangannya—satu-satunya yang tersisa—mencengkeram leher Xu Kun dan mengangkatnya setinggi yang bisa ia jangkau.
"Salah paham." Ia mengulang kata-kata itu dengan nada yang tidak mengandung emosi apa pun lagi. "Kau berani bilang salah paham."
Krak.
Xu Kun tidak sempat menyelesaikan pembelaannya.
Ning Xuanwu membanting tubuh itu ke tanah dan menginjak-injaknya—bukan dengan qi, bukan dengan teknik apa pun, hanya dengan kaki dan amarah murni—hingga tidak ada lagi yang bisa disebut sebagai bentuk manusia di sana.
Seluruh pasukan berdiri mematung. Napas ditahan.
Yao Linger menutup matanya.
Keheningan berlangsung cukup lama hingga seorang tetua senior—yang seharusnya lebih bijak dari itu—memberanikan diri membuka mulut dengan suara yang ia pikir cukup pelan untuk aman. "Ketua... langkah selanjutnya... apakah kita masih akan mencoba membalas—"
Wusss.
Satu telapak tangan. Satu gerakan.
Debu.
Ning Xuanwu berdiri di tengah lingkaran kosong yang terbentuk karena seluruh orang di sekitarnya mundur dua langkah serentak tanpa koordinasi. Tangannya masih terangkat. Napasnya kasar dan tidak beraturan.
"Akan kuajari kamu cara menjaga mulutmu," gumamnya ke tanah tempat tetua itu berdiri tadi, masih menghantam-hantam permukaan batu yang sudah tidak membutuhkan hantaman apa pun lagi.
Lama kemudian, ketika tenaganya sendiri yang memaksanya berhenti, Ning Xuanwu berdiri tegak dan menatap ke arah sasana kecil di kejauhan.
Di matanya: ketakutan yang tidak lagi mau ia akui sebagai ketakutan, dan dendam yang sudah tidak punya tempat untuk pergi.
"Pulang."
Suaranya keluar pelan, hampir tidak terdengar oleh barisan di belakangnya.
"Kembali ke gunung. Dan jangan pernah ada yang berani mendekati tempat itu lagi—selamanya."
Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mengangguk pun. Mereka hanya bergerak, membalik badan, meninggalkan Kota Yunzhou dengan langkah pasukan yang kalah perang tanpa pernah sempat bertempur.