NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.

Kabar Bahagia dan Rencana Kecil

Langkah kaki Dimas perlahan menjauh, menyisakan Arga dan Bima yang masih berdiri di tempat sambil menatap punggung sahabatnya itu. Angin sore berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun kering di depan mata mereka. Tiba-tiba saja ide melintas di kepala Arga, membuatnya menyenggol lengan Bima dengan siku.

"Eh Dim udah pergi, kita punya info penting lho buat Laras. Besok kan ulang tahun Dimas," bisik Arga pelan, matanya berbinar penuh rencana.

Bima mengangguk cepat, lalu mengerutkan kening sedikit. "Iya, gue juga baru kepikiran. Tapi lo yakin nggak sih kalau Laras bakal semangat banget pas tahu berita ini? Takutnya dia cuma biasa aja atau malah bingung harus ngapain."

Arga tertawa kecil sambil menepuk bahu Bima. "Ah masa sih? Gue malah yakin banget dia bakal antusias banget. Dimas kan cowok yang dia suka, pasti dia bakal berusaha kasih yang terbaik, ngejar apa yang bisa bikin Dimas senang. Cewek kalau udah suka pasti begitu, kan?"

Bima menghela napas panjang lalu tersenyum setuju. "Ya juga sih. Kita kasih tahu aja, siapa tahu ini jadi kesempatan bagus buat dia memperbaiki sikapnya sekaligus bikin Dimas terkesan. Lagian nggak ada salahnya membantu teman yang berniat baik."

Keesokan paginya, suasana sekolah sudah ramai dengan suara siswa yang berdatangan. Laras baru saja turun dari mobil, merapikan seragamnya sambil berjalan santai menuju gerbang. Namun langkahnya terhenti seketika saat melihat Arga dan Bima berjalan beriringan menghampirinya dengan wajah serius tapi menyembunyikan senyum.

Degup jantung Laras tiba-tiba berpacu lebih cepat. Ia menelan ludah pelan, menatap mereka bergantian dengan wajah bingung.

"Eh, ada apa nih kok tiba-tiba kalian cari aku?" tanyanya pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Ada masalah sama Dimas ya? Atau ada yang salah sama tugas kita lagi?"

Arga dan Bima saling berpandangan sekilas, lalu Arga membuka mulutnya dengan nada santai. "Nggak ada masalah kok, Ras. Cuma ada info penting aja yang mungkin berguna buat lo. Besok... eh nggak, hari ini sebenernya tanggal berapa sih lo tahu?"

Laras mengerutkan kening makin dalam, masih belum paham arah pembicaraan ini. "Tanggal dua puluh empat. Kenapa emangnya?"

"Nah pas banget!" seru Bima. "Tahu nggak lo, hari ini itu adalah hari ulang tahun Dimas. Tepat hari ini dia genap berumur tujuh belas tahun."

Laras terdiam sejenak, matanya sedikit membelalak kaget. "Hah? Ulang tahun Dimas? Terus... terus apa hubungannya sama aku?" tanyanya sambil menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk, wajahnya masih tampak bingung setengah tidak percaya.

Arga tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Laras pelan. "Ya hubungannya kan kalau misalkan lo pengen ngasih ucapan selamat atau bahkan hadiah, itu nggak kenapa-napa kan? Justru itu momen yang pas banget lho."

Wajah Laras perlahan berubah dari bingung menjadi cerah berseri. Rasa cemasnya hilang seketika, berganti dengan semangat yang meluap-luap. Ia merasa seperti baru saja diberi kunci pintu emas menuju kesempatan yang selama ini ia cari.

"Benar ya? Jadi aku boleh banget ngasih sesuatu buat dia?" tanyanya antusias.

"Boleh banget, malah bagus," jawab Bima. "Tapi ingat ya, kasih yang tulus aja, nggak perlu berlebihan. Yang penting niatnya baik."

Laras mengangguk semangat, lalu bertanya dengan nada memohon. "Tapi... tolong kasih tahu aku dong, apa sih kesukaan Dimas? Makanan apa, barang apa, atau hal apa aja yang bikin dia senang? Aku pengen banget kasih sesuatu yang bisa bikin dia tertegun, yang bikin dia tahu kalau aku benar-benar perhatiin dia."

Arga dan Bima saling bertukar pandang, lalu mulai bercerita. "Dimas itu sebenernya simpel kok, Ras. Dia suka hal-hal yang sederhana tapi berkesan. Dia suka buku, suka kopi susu hangat, dan suka barang yang berguna daripada yang cuma cantik doang. Dia juga suka kalau ucapan selamatnya jujur dan tulus, bukan yang dibuat-buat atau puitis berlebihan."

Mereka bercerita sekitar tiga puluh menit, menjelaskan hal-hal kecil tentang Dimas yang jarang orang lain tahu. Laras mendengarkan dengan saksama, setiap kata yang keluar dari mulut mereka dicatat baik di ingatannya maupun di buku catatan kecil yang ia keluarkan dari tas.

Setelah merasa cukup, Arga menepuk bahu Laras terakhir kali. "Nah, itu aja info dari kita. Sekarang giliran lo yang berkreasi. Semoga berhasil ya, Ras!"

"Terima kasih banyak ya, kalian berdua benar-benar sahabat yang baik buat Dimas dan buat aku juga!" seru Laras dengan mata berbinar bahagia.

Mereka pun berpisah jalan menuju kelas masing-masing. Laras berjalan dengan langkah ringan, hatinya berbunga-bunga penuh rasa syukur. Ia tidak menyangka kalau sahabat dekat Dimas justru mendukungnya dan membantunya seperti ini. Rasa percaya dirinya yang sempat goyah setelah penolakan kemarin kini kembali tumbuh kuat.

Begitu masuk kelas, ia langsung mencari Citra, teman satu-satunya yang sejak awal masuk SMA selalu menemaninya dan bisa ia percaya sepenuhnya. Citra sedang duduk di bangkunya sambil membaca buku, namun segera menutup bukunya saat melihat Laras menghampiri dengan wajah berseri-seri.

"Kenapa lo senyum-senyum sendiri gitu, Ras? Ada kabar gembira ya?" tanya Citra sambil tersenyum ramah.

Laras langsung duduk di sebelahnya, berbisik pelan agar tidak terdengar siswa lain. "Cit, hari ini ulang tahun Dimas! Arga sama Bima baru aja kasih tahu aku, bahkan mereka kasih tahu apa kesukaannya juga. Aku pengen banget kasih kejutan buat dia, tapi aku butuh bantuan lo. Boleh nggak lo temenin aku cari barangnya nanti sepulang sekolah?"

Citra tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Wah, semangat banget nih. Boleh dong, aku ikut lo kemana aja. Kita cari yang paling pas dan paling berkesan buat dia ya."

"Tapi gue takut aja gitu kalau misalkan dia nggak suka sama pemberian gue kira-kira dia bakalan suka nggak ya?"

"Ya ampun ngapain ragu kayak gitu sih nggak usah ragu-ragu kayak gitu kali santai aja nggak usah deg-degan banget kayak gitu semuanya bakalan baik-baik aja kok," ucap Citra.

Sisa waktu di kelas terasa lambat berjalan bagi Laras. Pikiran dan imajinasinya terus melayang membayangkan berbagai macam hadiah, membayangkan wajah Dimas saat menerima pemberiannya nanti. Ia berjanji pada dirinya sendiri, kali ini ia akan melakukannya dengan cara yang benar—tidak terburu-buru, tidak agresif, tapi tulus dan penuh perhatian.

Saat bel pulang akhirnya berbunyi, Laras langsung berkemas cepat dan berjalan beriringan dengan Citra keluar kelas. Mereka tahu ini baru permulaan, tapi hati Laras sudah penuh dengan harapan besar. Mungkin lewat hal sederhana seperti ini, ia bisa menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya—bukan sekadar ingin mendekat, tapi benar-benar ingin mengenal dan dihargai oleh orang yang ia suka.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!