**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Om Jack Pulang
"Kamu menikah dan baru memberi tahu setelah aku mendarat?"
Om Jack berdiri di depan RS Sentosa dengan koper besar, ransel, dan wajah yang tampak sama kesalnya seperti dua belas tahun lalu ketika Kayla pulang sekolah dengan lutut terluka.
Kayla memeluknya sebelum sempat dimarahi lagi.
"Aku mengirim pesan."
"Dua hari setelah menikah. Itu bukan memberi tahu. Itu mengirim laporan kejadian."
Tiana yang berdiri di samping mereka mengangkat tangan. "Saya saksi, Om. Pernikahannya memang secepat pasien masuk IGD."
Jack menatap Kayla dari kepala sampai kaki. "Dia menyakitimu?"
"Tidak."
"Memaksamu berhenti kerja?"
"Tidak."
"Mengatur uangmu?"
"Justru dia memberi terlalu banyak."
"Itu juga mencurigakan."
Kayla tertawa dan mengambil pegangan kopernya. Jack Lie adalah adik Rosa, tetapi tidak pernah mirip kakaknya. Ketika keluarga Halim meminta uang, Jack justru mengajarinya membuka rekening sendiri. Ketika Vera mengambil barangnya, Jack membelikan gembok dan menyuruh Kayla belajar mengatakan tidak.
Selama beberapa tahun terakhir ia bekerja berpindah-pindah dari dapur kapal pesiar ke restoran di Singapura, Melbourne, dan Barcelona.
Sebelum berangkat ke luar negeri, Jack adalah satu-satunya orang dewasa yang datang ke acara kelulusan Kayla tanpa diminta. Ia membawa bunga matahari yang dibungkus koran karena tidak punya uang membeli buket mahal.
Ketika Kayla mulai kuliah kedokteran, Jack mengirim sebagian gajinya setiap bulan. Bukan untuk membayar keluarga Halim, melainkan langsung ke rekening Kayla dengan pesan yang selalu sama: untuk buku, bukan untuk utang orang lain.
"Aku membawa sesuatu untukmu," kata Jack.
Ia membuka ransel dan mengeluarkan kotak kayu kecil. Di dalamnya ada pisau ukir makanan dari Osaka dan stetoskop baru yang dibeli di Melbourne.
"Om, ini mahal."
"Aku melewatkan ulang tahunmu tiga kali. Anggap saja aku membayar bunga keterlambatan."
Kayla memeluknya lagi. Di bahu Jack, ia kembali merasa seperti gadis yang punya satu tempat aman meski rumah Halim tidak pernah benar-benar menjadi rumah.
"Aku sudah memesan kamar di rumah singgah dokter dekat rumah sakit," kata Kayla. "Sementara tinggal di sana dulu."
Jack mengerutkan kening. "Kenapa bukan di rumahmu?"
"Karena suamiku sedang dinas luar, dan aku tidak mau membawamu masuk tanpa bicara dengannya."
"Bagus. Rumah tetap punya batas meski sudah menikah."
Tiana berbisik, "Om ini lebih galak daripada konsulen bedah."
"Saya dengar," kata Jack.
Dua hari kemudian, Kayla membawa Jack ke Cluster Peony untuk makan siang. Adrian sedang menerbangkan rute Makassar bersama Sean, tetapi sudah memberi izin dan meminta Kayla mengirim salam.
Begitu masuk dapur, Jack membuka lemari es dan menghela napas.
"Ini rumah pengantin baru atau ruang penyimpanan air mineral?"
"Adrian bisa memasak telur."
"Aku ikut prihatin kepada telur."
Jack mengeluarkan ikan, jeruk nipis, jahe, dan cabai yang dibelinya di perjalanan. Dalam setengah jam, aroma mentega lemon dan bawang memenuhi rumah. Kayla membantu memotong sayur sementara Jack menumis daging sapi dengan jahe asam.
Bel pintu berbunyi berkali-kali.
Ketika Kayla membuka, Ci Michelle berdiri dengan napas terengah dan kacamata hitam masih menempel di kepala.
"Di mana laki-lakinya?"
"Laki-laki apa?"
"Petugas keamanan melihat pria besar membawa koper masuk. Adrian sedang di luar kota. Aku meneleponmu lima kali!"
Kayla mengeluarkan ponsel. Baterainya habis.
"Ci mengira aku membawa selingkuhan?"
"Aku mengira seseorang memaksa masuk. Kalau ternyata selingkuhan, aku akan memarahi kalian berdua."
Jack muncul dari dapur dengan celemek abu-abu dan pisau dapur di tangan.
Michelle mundur satu langkah.
"Jack?"
Laki-laki itu menatapnya lama. "Michelle Gunawan?"
"Kalian saling kenal?" tanya Kayla.
"Satu sekolah," jawab keduanya bersamaan.
Michelle melepas kacamata. "Dia ketua klub masak yang tidak pernah membiarkan orang lain menyentuh pisaunya."
"Dia bendahara kelas yang menagih iuran sampai ke lapangan basket."
"Karena kamu menunggak tiga bulan."
"Aku membayar dengan kue."
"Kuenya gagal mengembang."
Kayla memandang mereka bergantian. Ketegangan di pintu berubah menjadi pertengkaran dua anak sekolah dalam hitungan detik.
Ponsel Michelle berbunyi. Ia telah mengirim pesan kepada Adrian sebelum naik ke rumah.
Pesan itu berbunyi: Ada laki-laki membawa koper masuk ke rumahmu. Mungkin Kayla memberimu tanduk.
"Ci!" Kayla merebut ponsel itu.
Panggilan video dari Adrian langsung masuk.
Wajahnya muncul dengan latar ruang kru bandara. Sean lewat di belakang sambil membawa kopi.
"Tunjukkan laki-lakinya," kata Adrian.
Kayla mengarahkan kamera kepada Jack.
Jack mengangkat pisau. "Jadi kamu suaminya?"
Adrian diam dua detik. "Om Jack? Selamat datang di Jakarta. Saya Adrian."
"Aku tahu namamu. Aku belum tahu apakah aku menyukaimu."
"Itu adil. Saya titip Kayla sampai saya pulang."
Jack mengangguk sedikit. Jawaban itu setidaknya tidak buruk.
Mereka makan berempat dengan Adrian tetap tersambung melalui video beberapa menit. Michelle mencicipi ikan panggang lemon, lalu berhenti mengunyah.
"Jack, kamu harus memasak di Naga Emas."
"Aku baru pulang."
"Satu malam saja. Aku ingin kepala dapur mencicipi saus ini."
"Kamu masih suka memerintah."
"Dan kamu masih senang kalau masakanmu dipuji."
Jack menambahkan ikan ke piringnya. "Itu bukan jawaban iya."
"Tapi juga bukan tidak."
Kayla menangkap rona tipis di pipi Michelle dan memilih diam. Adrian di layar menaikkan alis, tampaknya melihat hal yang sama.
Setelah panggilan berakhir, Jack mencuci wajan sendiri. Ia bercerita kepada Kayla bahwa dulu sahabatnya menikahi putri keluarga kaya, lalu dibuang ketika bisnis keluarga perempuan itu terancam.
Sahabat itu telah menjual restoran kecilnya untuk membantu usaha keluarga istri. Ketika utang muncul, keluarga tersebut menuduhnya menumpang hidup dan mengusirnya tanpa modal maupun nama usaha.
Jack yang membantu membelikan tiket pulang.
"Uang membuat orang mengukur hubungan seperti transaksi," katanya. "Jangan serahkan seluruh hidupmu kepada suami, sebaik apa pun dia sekarang."
"Aku tetap bekerja dan rekeningku terpisah."
"Pertahankan itu. Cinta boleh, kehilangan diri jangan."
"Adrian juga memilih keluar dari posisi keluarganya demi mempertahankan pernikahan kami."
Jack menutup keran dan menatapnya. "Itu terdengar besar. Tapi tindakan besar sekali belum tentu sama dengan kebiasaan baik setiap hari. Aku akan menilainya dari cara dia memperlakukanmu ketika tidak ada penonton."
Kayla tidak tersinggung. Justru itulah alasan ia merindukan Jack. Laki-laki itu tidak mudah silau oleh hadiah, nama belakang, atau satu adegan romantis.
Menjelang pulang, Michelle berdiri di pintu dengan kotak berisi sisa ikan.
"Jumat malam," katanya kepada Jack. "Datang ke Naga Emas. Anggap saja reuni dan uji menu."
"Kirim alamatnya."
"Jadi kamu setuju?"
"Aku setuju melihat dapurnya."
Michelle tersenyum lebar, lalu berjalan menuju mobil.
Seorang petugas keamanan yang membantu membawakan kotak berkata kepada Jack, "Ci Michelle jarang terlihat sesenang itu. Maklum, putri Engkong Herman Gunawan biasanya sibuk mengurus bisnis keluarga."
Tangan Jack yang sedang mengangkat piring berhenti.
"Herman Gunawan?" ulangnya.
Senyum di wajahnya perlahan hilang.