Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Tiba-tiba Siska menarik tangannya ke belakang karena merasakan suhu yang cukup panas menguar dari tanaman tersebut.
"Astaga tanaman ini benar-benar mengeluarkan hawa panas seperti tungku api kecil." Siska menatap Arga dengan mata terbelalak lebar meminta penjelasan.
"Seperti yang saya bilang Nona, saya hanya menanam varietas ajaib kelas dunia di kebun ini." Arga menjawab dengan nada arogan yang sengaja dibuat-buat.
"Cabai ini bukan cuma pedas tapi memiliki khasiat medis untuk membuang racun jahat di dalam pencernaan manusia."
Mendengar kata khasiat medis insting bisnis Siska sebagai manajer restoran langsung menyala terang.
"Berapa lama lagi cabai ini siap dipanen Mas Arga, saya ingin menjadi orang pertama yang mencicipinya."
"Besok pagi cabai ini sudah matang sempurna Nona, dan saya yakin rasanya akan membuat Nona ketagihan." Arga memberikan kepastian yang membuat Siska semakin antusias.
Siska berdiri tegak dan menepuk-nepuk tangannya yang bersih dari debu.
"Baiklah Mas Arga inspeksi saya sudah selesai dan saya sangat puas dengan kebersihan serta kualitas tanaman Anda."
"Mari kita duduk di teras depan untuk membicarakan kontrak kerja sama kita secara serius." Siska membalikkan badan dan berjalan keluar dari area kebun.
Arga mengunci kembali pintu pagar seng itu dengan gemboknya memastikan tidak ada celah keamanan sedikit pun.
Mereka berdua kini duduk berhadapan di kursi kayu teras depan yang sudah dibersihkan Arga sebelumnya.
Siska membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map transparan berisi beberapa lembar kertas berlogo restoran mewahnya.
"Ini adalah draf kontrak penawaran dari restoran kami Mas Arga, silakan dibaca dulu poin-poin utamanya." Siska menyodorkan map itu ke atas meja kayu di antara mereka.
Arga mengambil map itu dan membaca sekilas deretan tulisan formal yang tertuang di atas kertas bermaterai tersebut.
"Restoran kami berani mengontrak seluruh hasil panen tomat kristal Anda dengan harga lima puluh ribu rupiah per buahnya." Siska mulai menjelaskan penawarannya dengan nada negosiator yang ulung.
"Kami juga akan mengirimkan armada mobil pendingin setiap pagi untuk mengambil hasil panen langsung dari rumah Anda."
Arga meletakkan kembali map itu ke atas meja dan bersandar santai di sandaran kursinya.
"Penawaran yang menarik Nona Siska, tapi sepertinya Anda lupa dengan kesepakatan harga kita di pasar kemarin." Arga menatap tajam ke arah mata Siska tanpa berkedip.
"Kemarin saya bilang harganya seratus ribu rupiah per buah dan saya tidak pernah memberikan diskon kepada siapa pun."
Siska menghela napas pelan mencoba menahan senyumnya menghadapi pemuda keras kepala di depannya ini.
"Mas Arga, harga seratus ribu itu pantas untuk pembelian eceran di pasar."
"Tapi restoran saya menawarkan pembelian partai besar secara rutin setiap hari, dalam dunia bisnis wajar jika ada potongan harga lima puluh persen." Siska mencoba memberikan logika bisnis dasar kepada Arga.
"Di dunia bisnis sayuran biasa mungkin logika itu berlaku Nona Siska." Arga membalas ucapan Siska dengan nada yang semakin dingin dan tegas.
"Tapi tomat kristal saya adalah barang monopoli yang tidak akan pernah Anda temukan di belahan dunia mana pun."
"Harganya tetap seratus ribu per buah tanpa diskon, dan Anda harus membayarnya secara tunai atau transfer langsung setiap kali barang diambil."
Siska terdiam sejenak otaknya menghitung kalkulasi keuntungan yang akan didapat restorannya jika menyetujui harga gila tersebut.
Tomat itu sangat lezat dan berkhasiat sehingga dia yakin para pelanggan kaya di restorannya berani membayar hidangan salad seharga lima ratus ribu per porsi.
"Anda benar-benar negosiator yang sangat arogan dan keras kepala Mas Arga." Siska akhirnya tersenyum menyerah dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah saya setuju dengan harga seratus ribu per buah dan pembayaran lunas di tempat setiap harinya."
Arga tersenyum puas kemenangannya dalam negosiasi ini membuat darah di tubuhnya berdesir kencang.
"Keputusan yang sangat cerdas Nona Siska, Anda tidak akan pernah menyesal berbisnis dengan saya."
"Lalu bagaimana dengan cabai naga yang Anda ceritakan tadi Mas, saya ingin memasukkannya juga ke dalam kontrak." Siska kembali menyerang dengan target barunya.
"Untuk cabai api naga harganya jauh lebih mahal Nona, satu buah cabai harganya lima ratus ribu rupiah." Arga menyebutkan angka asal yang terlintas di kepalanya untuk menguji nyali Siska.