Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Krek!
Suara cengkeraman gagang telepon terdengar menegang di seberang sana.
"Siapa kamu berani mengangkat telepon di kediaman istriku?" geram suara pria tua yang berat dan penuh arogansi dari ujung telepon.
Devan menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin mendengar klaim sepihak tersebut.
"Maaf pak tua, tapi wanita pemilik rumah ini baru saja sah menjadi istriku beberapa jam yang lalu." jawab Devan dengan nada mengejek.
"Jadi tolong cari janda tua di luar sana kalau kamu sedang kesepian, jangan mengganggu istri orang." tambah Devan tanpa ampun.
Clarissa hampir saja pingsan mendengar mulut tajam Devan yang berani mengumpat pada Tuan Besar Sanjaya.
"Bocah tengik! Kamu belum tahu sedang berhadapan dengan siapa!" teriak pria di seberang sana dengan kemarahan yang meledak-ledak.
"Jika kamu tidak menceraikan Clarissa besok pagi, aku pastikan mayatmu akan ditemukan mengambang di sungai kota!" ancam pria itu dengan sangat kejam.
Devan malah menguap pelan mendengar ancaman murahan yang sudah ribuan kali dia dengar di medan perang perbatasan itu.
"Baiklah pak tua, aku tunggu kedatanganmu besok dengan senang hati." ucap Devan santai.
Pip!
Devan langsung menutup telepon itu secara sepihak dan memutus sambungan tanpa menunggu balasan musuhnya.
Clarissa menarik napas panjang dengan dada yang naik turun karena panik luar biasa.
"Kamu gila ya!" teriak Clarissa sambil memukul lengan Devan dengan tas tangannya.
"Itu tadi Tuan Besar Sanjaya, pemimpin mafia paling kejam yang bisa melenyapkanmu hanya dengan satu jentikan jari!" omel Clarissa dengan wajah pucat pasi.
Devan hanya mengusap lengannya yang dipukul perlahan karena pukulan itu sama sekali tidak terasa sakit baginya.
"Bos, kalau aku bersikap sopan pada mereka, apakah mereka akan membatalkan niat untuk merebut perusahaanmu?" tanya Devan menatap lurus ke mata Clarissa.
Clarissa terdiam seketika mendengar pertanyaan logis yang sangat masuk akal itu.
"Tentu saja tidak kan? Mereka mafia licik, semakin kita tunduk, semakin mereka akan menginjak kepala kita." jelas Devan sambil berjalan santai menuju sofa ruang tamu.
"Lagipula aku ini suamimu sekarang, sudah menjadi tugasku untuk mengusir anjing liar yang menggonggong di depan rumah kita." tambah Devan sambil mendudukkan dirinya dengan sangat nyaman.
Mendengar ucapan Devan barusan, sebuah perasaan hangat yang aneh tiba-tiba menyelimuti hati dingin Clarissa.
Selama ini dia selalu berjuang sendirian untuk mempertahankan warisan keluarganya dari serangan serigala-serigala rakus di luar sana.
Baru kali ini ada seorang pria yang dengan sangat percaya diri berdiri di depannya dan secara terang-terangan melindunginya.
"Walaupun dia cuma pesuruh bodoh yang gegabah, setidaknya dia punya nyali yang lumayan besar." batin Clarissa mencoba menenangkan detak jantungnya yang sedikit berdebar.
Bi Inah yang sejak tadi mematung di sudut ruangan akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
"Nona Clarissa, Tuan Devan, kebetulan makan malam sudah siap di meja makan." ucap Bi Inah dengan nada sopan memecah kecanggungan di ruangan itu.
Clarissa berdeham pelan untuk mengembalikan ekspresi dingin dan angkuhnya seperti biasa.
"Ayo kita makan, aku sudah sangat lelah dengan semua drama hari ini." ajak Clarissa melangkah mendahului menuju ruang makan.
Keesokan paginya, sinar matahari menyinari masuk melalui celah jendela kamar tamu di sayap kiri bangunan.
Devan membuka matanya perlahan dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat segar.
Tidur di bawah satu atap yang sama dengan Clarissa ternyata memberikan efek pemulihan pasif yang sangat luar biasa berkat energi Yin Murni milik wanita itu.
"Tingkat energiku sudah kembali sekitar dua persen, ini kemajuan yang sangat lumayan bagus." gumam Devan sambil merasakan aliran hangat di sekitar pusat dadanya.
Devan segera mandi dan mengenakan kembali setelan jas mahal pemberian Clarissa kemarin sore.
Saat dia melangkah keluar menuju ruang makan, Clarissa sudah duduk rapi di sana menikmati secangkir kopi hitam dan roti panggang.
Wanita itu menatap Devan dari atas ke bawah dan lagi-lagi harus menelan ludah melihat betapa tampan dan sempurnanya pria ini di pagi hari.
"Hari ini kamu akan ikut aku ke kantor." ucap Clarissa membuka percakapan tanpa basa-basi sama sekali.
"Tentu saja, bukankah aku harus kembali mengepel lantai lobi yang kemarin kutumpahkan airnya?" jawab Devan dengan nada polos yang dibuat-buat.
Clarissa memutar bola matanya malas mendengar candaan garing suaminya itu.
"Jangan bodoh, mulai hari ini jabatan resmi mu di perusahaan adalah Asisten Pribadi CEO." jelas Clarissa sambil meletakkan cangkir kopinya secara perlahan.
"Gajimu lima puluh juta per bulan, tugasmu hanya mengikutiku ke mana pun aku pergi dan membantuku menangkal para penjilat di kantor." tambah wanita itu menyebutkan angka yang sangat fantastis.
Devan mengangguk setuju karena posisi asisten itu akan membuatnya bisa selalu berada di dekat sumber energi penyembuhnya setiap hari.
"Siap laksanakan, Nyonya Bos." jawab Devan sambil mengambil sepotong roti panggang cokelat dari atas meja.
Satu jam kemudian, mobil sport mewah berwarna merah milik Clarissa kembali memasuki pelataran parkir gedung Grup Rajawali.
Namun kali ini Clarissa langsung masuk melalui jalur VIP bawah tanah menuju lift khusus eksekutif.
"Aku ada rapat direksi sebentar lagi, kamu masuklah lewat lobi utama dan langsung naik ke ruanganku setelahnya." perintah Clarissa dari dalam mobil sebelum pintu lift tertutup.
Devan mengangguk santai dan berjalan keluar dari area parkir VIP menuju pintu masuk lobi utama gedung perusahaan tersebut.
Pagi itu lobi kantor sedang sangat ramai oleh para karyawan yang terburu-buru melakukan absensi pagi mereka.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki Devan yang sangat tegas memecah kebisingan lobi perlahan demi perlahan.
Beberapa karyawan wanita yang kebetulan menoleh langsung menghentikan langkah mereka seketika dengan mata berbinar kagum.
"Ya ampun, siapa pria tampan itu? Apakah dia investor baru untuk perusahaan kita?" bisik seorang resepsionis dengan wajah tersipu malu.
"Lihat jas yang dipakainya, itu buatan desainer luar negeri yang harganya pasti ratusan juta lho!" sahut karyawan lain yang kebetulan sangat mengerti soal dunia fashion.
Namun tak lama kemudian, suasana kagum dan pujian itu berubah total menjadi keterkejutan yang luar biasa saat mereka menyadari wajah pria tersebut.
"Tunggu dulu... bukankah itu Devan si petugas kebersihan lobi?" teriak seorang karyawan pria dengan suara lantang yang memecah keheningan.
Seketika seluruh lobi menjadi hening mencekam dan semua pasang mata menatap lurus ke arah Devan tanpa berkedip.