NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Pengantin Pengganti Yang Kabur

Ruang rapat kecil di belakang gereja berubah menjadi tempat paling mencekam. Tidak ada senyum ramah ataupun sapaan sopan yang lazimnya terlihat di hari pernikahan. Hanya tersisa wajah-wajah tegang dan tatapan penuh tuntutan.

Victor Milano berdiri di depan meja panjang dengan kedua tangan mengepal. Di sampingnya, sang istri, Clara Milano, tampak pucat. Sementara di seberang mereka duduk tiga tetua keluarga Theo.

"Putri sulung Anda telah mempermalukan keluarga kami." Suara Lukas Theo menyerang. Ia adalah salah satu anggota senior di keluarga Theo.

Victor mengembuskan napas panjang. "Kami akan bertanggung jawab."

"Bagaimana caranya kau akan bertanggungjawab?" tuntut Ardo Theo sesepuh lainnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi.

Keheningan memenuhi ruangan.

Kontrak kerja sama lintas benua yang telah dinegosiasikan selama bertahun-tahun bergantung pada pernikahan ini. Para investor, media, dan keluarga-keluarga sekutu telah hadir. Karenanya tidak mungkin pernikahan ini dibatalkan. Apalagi jika harus membatalkan upacara pernikahan ini beberapa menit sebelum dimulai. Bukankah itu artinya sama saja dengan mengumumkan kepada dunia bahwa aliansi mereka telah gagal.

Victor memejamkan mata beberapa detik, sebelum berkata, "Kami masih memiliki seorang putri."

Tatapan seluruh orang menjadi lebih serius beralih kepada Victor.

Di luar ruangan, Ara baru saja memasuki gereja ketika dua orang pengawal menyambutnya.

"Nona Ara, Tuan Victor meminta Anda ikut kami."

"Papa?"

Ia belum sempat bertanya lebih jauh, kedua pengawal itu sudah membawanya menuju ruang rapat.

Begitu pintu terbuka, ia langsung menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Ayahnya tampak kacau. Ibunya tampak membeku kehilangan semangat hidup. Seolah mereka baru saja membuat keputusan besar atau mengorbankan seseorang.

Itu juga pertama kalinya Ara melihat salah satu senior Keluarga Theo dari jarak dekat. Lukas Theo. Pria itu jauh lebih tinggi daripada yang ia bayangkan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, matanya dingin, dan aura yang dipancarkannya membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.

Lukas adalah kakak tertua dari Dante. Ia dituakan di keluarga Theo. Tetapi ia bukan kepala keluarga Theo. Dante lah yang sedang mereka bicarakan yang memegang mandat sebagai kepala keluarga Theo.

Ara melirik sekilas ke arah Lukas sebelum kembali memandang lurus ke depan.

"Ada apa ini?" tanya Ara pelan.

Victor menjawab dengan suara berat, "Alessia kabur."

Arabelle membelalak.

"Mustahil," katanya setengah tak percaya. Bagaimana bisa kakaknya yang ambisius itu rela meninggalkan dan melepaskan jabatan penerus perusahaan dan kabur begitu saja tanpa penjelasan.

"Kami sudah mencarinya. Dia benar-benar pergi. Kami tidak bisa menemukannya." Suara Clara terdengar sangat tertekan.

"Cari lagi. Kita harus terus mencarinya sampai ketemu," sahut Ara menggebu-gebu.

"Tidak sempat. Pernikahan sudah di depan mata." Suara Clara lemah, seolah ingin menangis.

"Kenapa tidak kita tunda dulu saja pernikahan ini. Kita cari hari baik lainnya." Ara mengusulkan apa yang ada dalam pikiran polosnya.

BRAKKKK!! Meja digebrak sangat keras. "Kau pikir pernikahan ini mainan?" bentak Lukas yang kehilangan kendali.

"Bukan begitu maksudku. Jangan marah. Bagaimanapun kakak perempuanku telah kabur. Bukankah seharusnya kita harus menemukannya dulu, baru kemudian kita bisa melangsungkan upacara pernikahan ini?" terang Ara panjang lebar.

"Tenanglah. Kami keluarga Milano tak akan ingkar janji. Upacara pernikahan ini akan tetap dilanjutkan," putus Victor menengahi.

Belum sempat Ara mencerna semuanya, Victor kembali berbicara.

"Kamu yang akan menggantikan kakakmu."

Ara merasa pendengarannya salah. "Apa?" ulangnya. Dunianya seakan berhenti berputar mendengar kata-kata ayahnya barusan.

"Kamu yang akan menikah dengan Dante." Victor Milano tak memberi ruang bagi putri bungsunya untuk pura-pura bodoh atau pura-pura tak mendengar.

"Tidak!!" Jawaban itu keluar spontan dari mulut Ara. Ia jelas menolaknya.

Penolakan itu mengagetkan seluruh aula. Karena selama ini tidak ada yang berani menolak Dante Theo secara terbuka.

"Kamu putriku, kamu yang harus menikah!" tegas Victor tak berkompromi.

"Tidak!" protes Ara memperjuangkan nasibnya. "Aku bahkan tidak mengenalnya!"

Victor menghantam meja. "Ara Milano!" Suara ayahnya menggema di seluruh ruangan. "Kamu tahu apa yang dipertaruhkan hari ini?"

Ara menggigit bibir. "Aku tahu. tapi ini juga hidupku."

Clara menggenggam tangan putrinya. "Sayang, tolonglah Mama. Tolonglah keluarga kita." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata ibunya.

"Kalau pernikahan ini batal, bukan hanya kerja sama bisnis yang hancur. Kepercayaan semua mitra akan runtuh. Ribuan karyawan bisa kehilangan pekerjaan. Keluarga kita juga akan menjadi bahan tertawaan."

Ara menatap ibunya dengan tatapan nanar tak percaya. "Lalu aku? Bagaimana denganku?"

"Pikirkanlah, tidak akan ada hal baik yang akan terjadi jika pernikahan ini hancur. Bahkan bukan tidak mungkin jika keluarga kita bakal lenyap." Clara masih berusaha membujuk putri bungsunya.

Semua orang mengabaikan penolakan Ara. Keputusan itu tidak dapat ditawar lagi. Itu harga yang harus dibayar keluarga Milano. Harga yang harus ia bayar, karena ia putri ayahnya.

Di sudut ruangan, Dante yang baru masuk berbicara. "Aku tidak keberatan."

Semua mata beralih kepadanya. "Siapa pun putri keluarga Milano yang menikah denganku, hasilnya tokh masih sama."

Kalimat itu terdengar datar. Tidak kejam. Tetapi juga tidak menyisakan sedikit pun kehangatan.

Bagi Dante, pernikahan hanyalah bagian dari kesepakatan. Pengantinnya hanyalah nama di dalam kontrak. Entah Alessia atau Ara Milano, tidak ada bedanya.

Anehnya, justru sikap itu membuat Ara semakin kesal. "Semudah itu?"

"Sesederhana itu." Dante sengaja mengoreksi perbendaharaan kata Ara yang kurang tepat.

Ara sungguh tak berdaya, ia tersudut dan digiring memilih pernikahan yang tak ia inginkan ini. Ia dibawa paksa masuk ke ruang rias.

Beberapa penata rias segera bekerja. Gaun yang tadinya disiapkan untuk Alessia mulai disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Kerudung panjang dipasang. Perhiasan dikenakan. Semuanya berlangsung begitu cepat hingga Ara bahkan tidak sempat memprotes lagi.

Saat semua orang sibuk, pikirannya justru bekerja jauh lebih cepat. Kalau Alessia bisa kabur, kenapa aku tidak?--pikirnya. Ia menyesal kenapa hari ini ia harus datang ke pernikahan kakaknya.

Ia melirik jendela. Jendela terlalu tinggi letaknya dari halaman gereja. Ia tidak mungkin melompat dan meresikokan kakinya patah. Pintu belakang juga dijaga ketat dua pengawal. Lorong samping penuh keluarga.

"Sial," umpatnya menggeram. Ia menarik napas panjang. Tenang dulu, Ara.---gumamannya membatin. Kalau sekarang ia nekat kabur, pasti langsung tertangkap. Mereka baru kehilangan Alessia. Ini tidak akan semudah membalikkan telapak tangan menyusun rencana pelariannya.

Pikirnya--ikuti saja semua prosesi pernikahan ini. Jangan membuat mereka curiga. Ia akan menunggu waktu yang tepat baru pergi.

Ara mengangkat wajah dan menatap ke cermin. Seperti kata pria tak berperasaan itu, tokh tidak ada bedanya apakah aku atau Alessia yang menikah dengannya. Ini hanya pernikahan di atas kertas.

Musik gereja kembali dimainkan. Pintu besar perlahan terbuka. Semua tamu berdiri.

Ara menggenggam buket bunga begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Selangkah demi selangkah ia berjalan menyusuri lorong yang seharusnya dilewati kakaknya.

Di ujung altar, Dante berdiri menunggu. Tatapan mereka akhirnya bertemu. Tidak ada senyum. Tidak ada rasa gugup layaknya sepasang calon pengantin. Yang ada hanyalah dua orang asing yang sama-sama dipaksa menjalani sebuah pernikahan.

Ketika Ara tiba di hadapannya, pendeta mulai memimpin upacara. Sampai pada saat kerudung pengantin harus dibuka, suasana mendadak khidmat.

Dante mengangkat kerudung putih itu perlahan. Wajah Ara terlihat lebih jelas dari dekat. Untuk sesaat, ia terpaku. Bukan karena jatuh cinta. Melainkan karena gadis di depannya menatap lurus ke arahnya tanpa rasa takut. Tatapan itu justru lebih mirip kekesalan dan kemarahan tertahan.

Ara seolah membalas tatapannya sembari berkata, "Jangan salah paham. Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini."

Entah mengapa, sudut bibir Dante hampir bergerak. Namun akhirnya keduanya kembali datar.

Upacara selesai. Tepuk tangan bergema. Lampu kilat kamera memenuhi gereja. Semua orang tersenyum seolah tidak pernah ada kekacauan sebelumnya.

Ara ikut menjalani sesi foto. Ia ikut menghadiri jamuan makan. Ia juga menyapa tamu. Bahkan ia mengangkat gelas untuk bersulang. Ia duduk berdampingan dengan Dante di meja utama. Ia benar-benar memainkan perannya dengan sangat baik.

Dari luar, mereka tampak seperti pasangan sempurna. Padahal di balik senyum tipis yang dipaksakan, Ara terus mengamati keadaan. Jumlah pengawal. Pintu keluar. Letak mobil. Posisi kamera pengawas.

Malam makin larut. Semakin malam, para tamu satu per satu juga pulang.

Konvoi mobil pengantin akhirnya bergerak menuju kediaman keluarga Theo. Ara duduk di kursi belakang bersama Dante. Perjalanan berlangsung hampir satu jam. Tak satu pun dari mereka berbicara. Hanya suara mesin mobil yang menemani.

Sesekali Ara melirik ke luar jendela, mencoba menghafal jalan yang mereka lewati. Setidaknya ia akan tahu kemana arah yang dapat membawanya kembali ke pusat kota.

Malam telah turun sepenuhnya ketika mereka tiba di mansion keluarga Theo. Rumah itu lebih menyerupai istana daripada tempat tinggal. Puluhan pelayan sudah berbaris menyambut.

Ara kembali memainkan perannya. Ia tersenyum simpul dan menyapa. Semua dilakukan tanpa cela. Namun, dalam hati ia menghitung waktu. Sebentar lagi ---batinnya bersabar.

Setelah prosesi penyambutan selesai, seorang pelayan mengantar Ara ke kamar pengantin yang telah dipersiapkan. Ruangan itu luas, elegan, dan dipenuhi bunga putih.

Pintu ditutup dari luar. Mereka membuat Ara sendirian.

Begitu sendiri, ia segera melepaskan gaun pengantin nya yang berat. Ia menggantinya dengan pakaian yang lebih sederhana yang ia temukan di kamar.

Ia mendekati balkon lalu melihat ke bawah. Taman belakang terlihat jauh lebih sepi dibanding halaman depan. Beberapa lampu taman menyala redup. Hanya ada dua pengawal yang berpatroli. Jauh lebih sedikit daripada siang tadi di gereja.

Jantung Ara berdegup lebih kencang. Inikah kesempatannya. Ia menoleh ke arah pintu kamar.

Menurut jadwal yang didengarnya, Dante masih berada di ruang kerja bersama para tetua keluarga. Itu artinya ia memiliki sedikit waktu.

Ara menarik napas dalam-dalam. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu balkon, melangkah keluar ke udara malam yang dingin, lalu mulai mencari jalan turun, sebelum sang pengantin pria sempat memasuki kamar mereka.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!