NovelToon NovelToon
DOSEN DUDA DINGIN

DOSEN DUDA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Dosen
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BJP

Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.

Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Tok tok "Na, makan dulu yuk...mama udah selesai masak nih"ucap Clara.

Zafana menghela, "Zafa gak laper ma"

Oliver dapat mendengar perbedaan suara Zafana dengan biasanya dan itu semakin membuatnya merasa cemas. Ia baru saja sampai dan langsung meminta Clara untuk menemaninya memanggil Zafana.

"Kamu kenapa sih Na? Ada masalah sama nak Oliver ? Atau sama Roos? Kamu habis berantem ya sama Alaska?"tanya Clara bertubi-tubi.

"Gak ma, Zafa lagi butuh istirahat aja"jawab Zafana. Oliver mengangguk lalu membiarkan Clara kembali turun meninggalkan dirinya sendiri didepan pintu kamar Zafana.

"Kalau memang gak kenapa-napa angkat telepon saya"ucap Oliver sontak membuat Zafana kembali menangis tertahan. Dengan helaan yang cukup panjang Zafana kembali membuka mulutnya.

"Pak Oliver ngapain disini?" "Tentu saya dan anak-anak mencemaskan kamu"jawab Oliver.

"Saya gak papa kok pak, bapak pulang aja"ucap Zafana.

"Anak-anak berpesan jika mereka belum bertemu kamu mereka gak mau pulang"jawab Oliver.

"Saya lagi gak enak badan"ucap Zafana.

"Mereka hanya minta kamu---" "

Tolong pak, saya butuh waktu sendiri"sela Zafana dnegan suara yang gemetar.

Oliver menunduk, tangannya mengepal memegangi knop pintu sangat erat hingga membuat beberapa uratnya terlihat.

"Saya akan tunggu kamu disini"jawab Oliver

Zafana kembali menangis, kali ini rasanya lebih menyakitkan. Dengan langkah yang lesuh Zafana melangkah menuju pintu dan terduduk bersandar dibalik pintu.

"Pergi pak"ucap Zafana dengan suara yang semakin terdengar menyakitkan dari balik pintu.

Oliver memejamkan matanya,

"Zafa....Kalau itu mau kamu, maka izinkan saya melihat kamu sebelum saya dan anak-anak pulang"

Zafana menghela lalu bangkit. Ia menghapus jejak air mata pada wajahnya lalu membuka pintu. Bola mata Oliver tertuju pada manik Zafana yang terlihat merah. Dengan langkah cepat ia memeluk tubuh Zafana dengan sangat erat, tidak tega rasanya melihat gadis yang ia sayangi harus menangis seperti ini, terlebih semuanya atas ulah mamanya dan juga Sintya. Zafana hanya terdiam kaku dalam pelukan Oliver tanpa berniat untuk membalasnya.

Detik berikutnya Zafana segera mendorong tubuh Oliver lalu kembali masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya tanpa berbicara apapun lagi. Melihat itu Oliver hanya bisa menghela. Ia harus dengan segera menyelesaikan masalah ini agar Zafana bisa kembali tersenyum kepadanya. Oliver melewati anak tangga kembali turun menghampiri Clara yang terlihat sedang bermain bersama Aileen dan Enzi.

"Papa..mami mana?"tanya Aileen.

"Mami lagi pusing sayang, biarin mami istirahat dulu ya, besok kalau mami udah sembuh kita kesini lagi"jawab Oliver. Enzi menghela,

"mama nanti kasih obat pusing ya eyang, biar cepet sembuh" Clara mengangguk, "nak Oliver mau pulang sekarang?"

"Iya tante, biarin Zafana istirahat dulu deh"jawab Oliver. Clara mengangguk lalu bangkit menurunkan Aileen dari pangkuannya dan menatap Oliver dengan tatapan khawatir.

"Sebenarnya apa yang terjadi, nak Oliver?"tanya Clara dengan nada pelan.

"Zafana dirundung di kampus karena ketahuan menjalin hubungan sama saya, mereka berpikir Zafana dan saya menjalin hubungan hanya untuk nilai kelulusannya"jelas Oliver sontak membuat Clara membulatkan matanya.

"Kasihan sekali Zafana..pantas aja pulang dari kampus gak mau ditawarin makan"ucap Clara.

"Tolong bujuk Zafana supaya mau makan ya Tante"

"Iya nak Oliver, nanti tante bujuk"jawab Clara.

"Ya usah kalau gitu Oliver sama anak-anak pamit pulang sekarang"ucap Oliver.

"Iya, hati-hati nak Oliver"jawab Clara.

Oliver tersenyum simpul lalu menuntun tangan kedua anaknya dan berjalan keluar ditemani oleh Clara.

Selama perjalanan pulang Oliver terus teringat dengan pelukan terakhirnya dengan Zafana dihari ini.

Dia juga tidak tau kenapa Rina bisa tega menghancurkan sumber bahagianya seperti ini.

Hari semakin berlalu, setelah memutuskan untuk kembali mengambil libur selama 1 minggu, akhirnya Zafana sudah berani untuk kembali menginjakan kakinya di kampus. Roos yang sejak tadi duduk disamping Zafana dibuat bingung dengan sikap temannya yang semakin banyak diam.

"Zafa, pulang kampus kita nonton yuk, kayaknya seru deh kalau kita healing time setelah sekian lama"ucap Roos.

Zafana tidak menjawab, ia menatap fokus buku mata kuliah ditangannya. Melihat itu Roos hanya bisa menghela, ia tidak tau lagi bagaimana caranya agar Zafana bisa kembali seperti dulu lagi.

Sedangkan diluar kelas semakin banyak mahasiswa yang menghina Zafana, mengkritik apapun tentang Zafana dan Zafana hanya diam. Karena ia juga tidak mau membuat masalah di semester akhirnya ini.

Brakk

Roos sontak menoleh kearah pintu, menatap nyalang kearah perempuan yang satu minggu lalu menghancurkan kebahagiaan Zafana.

"Eh Zafa, lihat deh gue bawa apa"ucapnya setelah berada dihadapan Zafana dan juga Roos.

"Lo jangan macem-macem ya!"bela Roos dan Zafana masih fokus pada bukunya.

"Zafa ayo kita pergi dari sini"ucap Roos sambil menarik tangan Zafana namun ditepis oleh Zafana, membuat Roos kembali duduk disampingnya.

"Lo suka mie ayam kan? Nih gue bawain buat lo, sekalian sama minumannya"ucap perempuan itu.

"Gue gak laper, makasih"jawab Zafana.

"Oh ya? Tapi sayangnya mie ayam ini gak bakal masuk ke perut lo, tapi ke atas kepala lo"jawab wanita itu sambil menuangkan semangkuk mie ayam itu keatas kepala Zafana.

"Alina! Lo kurang ajar banget ya!"ucap Roos sambil mendorong tubuh Alina.

"Itu balasan buat lo yang udah berani masuk ke kehidupannya pak Oliver!"bentak Alina.

Zafana memejamkan matanya yang terasa memanas lalu menggebrak meja sembari bangkit dengan napas yang terpengangah.

"Gue punya salah apa sama kalian hah? Selama ini gue diem bukan karena gue terima dengan semua perlakuan lo! Gue Cuma gak mau ngerusak momen terakhir gue di kampus ini..tapi kenapa? Kenapa lo hancurin hidup gue dengan kayak gini?"Zafana hilang kesabaran dan langsung menunjuk orang-orang yang berdiri didepannya.

"Kalau lo mau hidup lo aman disini, jauhin pak Oliver!"jawab Alina.

"STOP!"suara berat itu berhasil membuat Alina menoleh dnegan tatapan panik.

"Zafana, kamu---

Jadi kamu yang merundung Zafana?"

Oliver, laki-laki itu langsung membentak Alina hingga membuatnya terlonjat kaget.

"Pak tapi saya Cuma---"

"Disuruh sama Sintya kan kamu?!"tanya Oliver dengan nada tinggi.

Alina sontak membulatkan matanya lalu menunduk.

"Urusan kita belum selesai! Saya akan bawa ini ke meja hijau"ucap Oliver lalu menarik tangan Zafana untuk keluar dari kerumunan itu.

"Pak, jauhin saya"ucap Zafana sambil menepis tangan Oliver yang menggenggamnya.

"Jangan berbicara hal bodoh, ikut saya---"

"Jauhin saya"Zafana mengulangi ucapannya.

"Zafa, saya gak akan jauhin kamu"

"Semua ini terjadi karena Sintya kan? Wanita yang terobsesi sama bapak? Otomatis ada campur tangan mama bapak juga kan?" Zafana bertanya dengan nada sendu.

"Zafa---"

Zafa langsung melangkah meninggalkan Oliver sebelum lelaki itu menyelesaikan ucapannya. Zafana masuk kedalam toilet yang berhasil mendapatkan beberapa tatapan dari mahasiswa yang berada disana, tidak sedikit dari mereka yang tertawa saat melihat dirambut Zafana terdapat banyak Mie.

Zafana masuk kedalam salah satu bilik lalu menangis tertahan disana. Kenapa mereka semakin memperlakukan dirinya seperti sebuah sampah? Beberapa menit kemudian toilet mulai tidak terdengar suara obrolan dari mahasiswa lagi.

Tinggal ia seorang diri didalam sana, dengan cepat Zafana keluar dari bilik itu menuju wastafel untuk membersihkan sisa mie yang ada dikepalanya.

"Kasihan banget sih gue"gumam Zafana diakhiri tawaan yang hambar.

Sssttttttt

Sebuah asap tiba-tiba masuk kedalam toilet lewat pentilasi udara yang berada ditembok bagian atas. Zafana menoleh dengan tatapan panik lalu segera melangkah keluar. Tapi sayang, pintu toilet tidak bisa ia buka, bahkan sepertinya terkunci dari luar.

Dor dor dor

Zafana menggedor pintu toilet, berharap ada yang menolongnya disana.

"Ada orang disana? Tolong bukain pintunya don plis!"pekik Zafana.

....

"Tolong!!!!"

1
JULIAN
Mohan bantuanya karna saya masi pemula klu ada kesalahan dlm penulisnya tolong dibantu untuk saya perbaiki🙏🙏
Reni Anjarwani
lanjut2
Reni Anjarwani
bagus ceritanya up doubel thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!