NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010: Klausul yang Disembunyikan

Pukul 08.03, Alexander meletakkan map cokelat MakanYuk di meja Gunawan.

Tidak ada basa-basi.

"Pak Anwar masih di RS Kota. Keluarga hampir menandatangani surat pelepasan hak tadi malam," kata Alexander. "Saya butuh izin kantor untuk menangani ini secara formal."

Gunawan belum menyentuh map itu. "Lawanmu PT MakanYuk Digital Indonesia."

"Saya tahu."

"Perusahaan sebesar itu tidak jatuh hanya karena satu map dari IGD."

"Maka saya tidak membawa satu map saja."

Alexander membuka berkas satu per satu. Surat pelepasan tanggung jawab. Foto kontrak kemitraan dari ponsel Yanti. Riwayat pesanan Anwar selama dua bulan terakhir. Screenshot target insentif harian. Pesan peringatan karena rating turun. Bukti suspend sementara saat Anwar menolak mengambil order jarak jauh pada jam hujan.

Gunawan akhirnya mengambil kacamata.

Dalam kepala Alexander, panel bening muncul.

Ting! Basis Data Hukum menganalisis klausul kontrak.

Kalimat-kalimat di dokumen itu seperti dipotong pisau.

Klausul 2.1: mitra bebas menerima atau menolak pesanan.

Catatan Sistem: bertentangan dengan sanksi suspend bila penolakan melewati ambang tertentu.

Klausul 4.3: mitra menentukan waktu kerja sendiri.

Catatan Sistem: bertentangan dengan skema insentif berbasis jam sibuk dan kewajiban online minimum.

Klausul 7.2: perusahaan tidak bertanggung jawab atas kecelakaan mitra di luar hubungan kerja.

Catatan Sistem: perlu diuji dengan kendali operasional, standar atribut, algoritma distribusi order, dan itikad baik berdasarkan KUHPerdata.

Alexander mendorong tiga lembar ke depan. "Mereka menulis 'mitra' di judul kontrak, Pak. Tapi kontrolnya ada di sistem mereka. Order diarahkan, rating menekan, suspend menghukum, insentif mengatur jam kerja. Kalau semua unsur itu dikumpulkan, hubungan ini tidak sesederhana kemitraan independen."

Gunawan membaca cepat. Wajahnya tidak berubah, tetapi telunjuknya berhenti di satu paragraf.

"Kamu sadar ini bukan gugatan sederhana?"

"Sadar."

"Kalau kantor masuk, kita membela satu keluarga sekaligus menyentuh model bisnis satu platform."

"Itu sebabnya saya datang ke Bapak, bukan langsung membuat surat sendiri."

Gunawan menatapnya.

Di ruangan luar, printer berbunyi. Seorang staf lewat membawa berkas, melirik nama MakanYuk di map, lalu pura-pura tidak melihat. Nama itu terlalu besar untuk kantor kecil yang bahkan masih memilih toner printer secara hemat.

"Alexander," kata Gunawan pelan, "kasus seperti ini mahal. Waktu, tenaga, risiko reputasi. Kalau kalah, mereka akan bilang kantor kita mengejar popularitas dari orang kecelakaan."

"Saya tidak mengejar popularitas."

"Semua orang bisa berkata begitu."

Alexander mengambil surat pelepasan tanggung jawab dari map. Ia menunjuk bagian tanda tangan keluarga.

"Mereka datang ke rumah sakit saat pasien belum sadar. Mereka menawarkan bantuan awal, tapi menyelipkan pelepasan hak. Mereka menyebut Anwar mitra, tetapi tidak membawa data BPJS Ketenagakerjaan, tidak membawa laporan kecelakaan kerja, dan tidak memberi akses riwayat order penuh. Kalau ini dibiarkan, keluarga kecil akan membayar luka yang lahir dari sistem besar."

Gunawan diam.

Alexander melanjutkan, suara tetap rendah. "Belajar hukum bukan untuk mencari celah agar yang kuat makin aman, Pak. Kalau celah seperti ini ada, tugas kita menutupnya dari sisi korban."

Kali ini Gunawan tersenyum tipis.

"Kamu baru beberapa hari di kantor ini, sudah berani mengajari saya tugas advokat?"

"Tidak, Pak. Saya sedang meminta Bapak memberi saya jalan yang sah untuk melakukannya."

Ruangan itu hening selama tiga detik.

Lalu Gunawan menutup map.

"Baik. KH Adiwangsa masuk sebagai kuasa pendamping keluarga Anwar Halim untuk tahap awal. Kita jadikan ini kasus percontohan. Kerja hukumnya harus bersih: surat kuasa, kronologi, permintaan dokumen, somasi awal, dan jika perlu, jalur Disnaker sebelum masuk Pengadilan Hubungan Industrial."

Dada Alexander terasa panas, tetapi ia hanya mengangguk. "Siap, Pak."

Ting! Misi cabang terbuka: Buktikan hubungan kerja terselubung dalam kontrak MakanYuk.

Ting! Level meningkat: Lv4 Magang Hukum.

Angka itu muncul sebentar, lalu hilang.

Gunawan sudah berdiri. "Ambil surat tugas. Kita tidak datang seperti keluarga marah. Kita datang seperti orang yang tahu berkas mana yang akan membuat mereka berkeringat."

Satu jam kemudian, Alexander duduk di ruang tunggu lantai tiga markas MakanYuk.

Dinding kaca, sofa abu-abu, logo hijau-oranye, layar besar berisi peta pesanan yang bergerak cepat. Di layar itu, ribuan titik pengemudi diperlakukan sebagai angka. Tidak ada tulang rusuk retak. Tidak ada istri yang menangis di IGD.

Seorang pria berjas biru tua masuk bersama dua staf. Namanya tertulis di kartu meja: Bagas Pratama, Legal Relations.

"Pak Gunawan berhalangan?" tanya Bagas setelah membaca surat tugas.

"Pak Gunawan memimpin tim. Saya hadir untuk audiensi awal dan permintaan dokumen," jawab Alexander.

Bagas tersenyum sopan. "MakanYuk menghargai perhatian KH Adiwangsa. Tapi perlu kami luruskan, Pak Anwar Halim adalah mitra, bukan karyawan. Semua tercantum jelas dalam perjanjian."

"Kalau jelas, kami minta salinan lengkap perjanjian, riwayat order dua puluh empat jam sebelum kecelakaan, log suspend, skema insentif, data pelaporan asuransi, dan status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan terkait kecelakaan tersebut."

Senyum Bagas menipis.

"Data internal perusahaan tidak bisa diberikan sembarangan."

"Kami bicara untuk keluarga korban."

"Korban kecelakaan lalu lintas, Pak. Bukan kecelakaan kerja."

Alexander membuka map. "Pak Anwar menerima order lewat aplikasi MakanYuk, menuju titik antar, memakai atribut MakanYuk, dan sebelumnya mendapat tekanan target dari sistem MakanYuk. Kesimpulan Bapak terlalu cepat."

Staf di sebelah Bagas menunduk ke tablet.

Bagas menyilangkan tangan. "Strategi hukum kami disusun oleh Pak Robert Salim, Direktur Hukum MakanYuk. Beliau sangat berpengalaman dalam perkara kemitraan platform. Biasanya, perdebatan seperti ini selesai begitu pengacara membaca kontrak dengan jernih."

Nama itu masuk seperti paku.

Robert Salim.

Alexander menulisnya di sudut halaman.

"Kalau begitu," katanya, "sampaikan kepada Pak Robert bahwa kami sudah membaca kontraknya. Justru karena jernih, kami melihat bagian yang disembunyikan di balik kata 'mitra'."

Bagas menatap Alexander lebih lama dari yang sopan.

"Pak Alexander masih muda. Karier hukum panjang. Tidak semua pintu perlu dibuka dengan menendang."

"Saya mengetuk dengan surat tugas."

"Dan jika pintu tidak dibuka?"

"Kami ajukan permintaan resmi. Jika tetap ditolak, kami catat sebagai sikap tidak kooperatif."

Bagas tertawa kecil. "Bapak tahu berapa banyak firma besar yang bekerja dengan MakanYuk? Kota ini sempit. Reputasi lebih mudah dipersulit daripada dibangun."

Alexander menutup pulpen.

"Pak Bagas, tadi malam keluarga korban diminta menandatangani pelepasan hak sebelum pasien sadar. Hari ini perusahaan menolak dokumen dasar dan mulai bicara soal mempersulit karier saya. Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk memberi kami pola."

Senyum Bagas hilang.

Alexander berdiri. "Dalam dua kali dua puluh empat jam, kami tunggu jawaban tertulis atas permintaan dokumen. Setelah itu, kami lanjutkan melalui jalur yang tersedia."

"Hati-hati, Pak Alexander. Pengemudi lain bisa terkena dampaknya kalau perkara ini dibesar-besarkan."

Alexander berhenti di ambang pintu.

"Kalau hak mereka bergantung pada diamnya satu keluarga korban, berarti yang membahayakan mereka bukan saya."

Ia keluar dari ruang kaca itu dengan surat tugas di tangan.

Di belakangnya, layar peta MakanYuk terus bergerak. Ribuan titik masih berjalan, mengantar makanan, mengejar target, menanggung risiko sendiri.

Alexander menatap pantulan dirinya di pintu lift.

Hari ini MakanYuk menyebut mereka mitra.

Besok, ia akan mulai membuktikan bahwa perusahaan itu memperlakukan mereka seperti pekerja, lalu membuang mereka seperti beban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!