Pertemuan tak sengaja Justin si tuan muda arogan dengan seorang perempuan malam bernama Erika. Keduanya berakhir dengan bermalam bersama. Dari perbuatan mereka itulah Erika hamil dan Justin harus bertanggung jawab.
"Gue jijik dengan perempuan malam seperti Lo," ungkapnya.
Si tuan muda arogan itu tidak menerima kenyataan bahwa anak yang dikandung Erika adalah anaknya. Menolak habis-habisan Erika dari kehidupannya. Memperlakukan Erika bak sampah yang menjijikkan. Siksaan dan hinaan dia berikan kepada Erika.
Apakah pria arogan itu akan terus mengelak anak yang dikandung Erika adalah anaknya? Bagaimana kelanjutan kehidupan Erika si perempuan malam itu? Simak terus cerita Cinta Satu Malam Mr. Aroggant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viviane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanggung Jawab
"Oh jadi Lo mau ngancam gue?" geram Justin kesal.
"Teriak saja sana!" sambungnya.
"Dasar perempuan gila!"
Pria itu memalingkan pandangannya dari perempuan yang ditabraknya tadi. Ternyata perempuan itu tidak lain adalah Erika yang semalam menamainya tidur.
"Jika Tuan tetap tidak mau bertanggung jawab. Saya akan teriak sekarang juga," ancam Erika lagi.
"Silahkan saja!" balas Justin yang masih berkacak pinggang.
"Saya harap Tuan sadar bahwa disini adalah kawasan saya kerja. Jadi jika rekan-rekan saya tidak terima bisa saja menghajar anda habis-habisan." Erika meyakinkan kembali.
Erika menatap Justin yang tampak memikirkan kembali omongannya tadi. Kalau dipikir-pikir memang benar juga. Ini kawasan tempat hiburan malam, tentu saja banyak memiliki pengawal yang melindungi para pekerja disana.
"Dasar perempuan licik!" umpat Justin.
"Lo sedang menjebak gue kan," tambahnya.
"Biar gue bertanggung jawab dan memberikan ganti rugi untuk Lo."
Justin menerka Erika hanya memanfaatkan dia dalam keadaan ini. Sudah banyak kejadian yang dialami olehnya. Banyak sekali perempuan-perempuan diluar sana yang sering memanfaatkan keadaan.
"Gue sudah tau dengan sandiwara murahan Lo!" ucap Justin.
"Saya tidak sedang bersandiwara Tuan. Apakah anda tidak melihat kaki saya tidak bisa untuk digerakkan?" balas Erika.
"Jadi intinya sekarang anda mau bertanggung jawab atau saya akan teriak sekarang?" tegas Erika yang membuka mulutnya untuk berteriak.
Langsung saja telapak tangan kekar pria itu membungkam mulut Erika. Akhirnya Justin pasrah dan mengalah daripada dia menjadi serangan massa. Mendingan bertanggung jawab dengan duit yang tidak seberapa.
"Cepat masuklah ke dalam mobil!" perintah Justin kepada Erika.
"Tuan apakah anda tidak melihat bahwa untuk berdiri saja saya tidak bisa?" protes Erika yang masih diam pada posisinya semula.
Pria itu berdecak kesal, masa iya harus mengendong perempuan itu ke dalam mobilnya. Tetapi mau bagaimana lagi? Akhirnya digulungnya kemejanya dan bersiap membopong Erika masuk ke dalam mobil.
"Merepotkan saja!" gerutunya setelah berhasil mendudukkan Erika di mobilnya.
*
*
Mobil sport itu membawa kesebuah rumah sakit terdekat. Segera Erika ditangani oleh petugas medis di IGD. Tidak lama setelah itu, Erika dipindahkan ke ruang rawat.
"Puas Lo sudah mengacaukan waktu istirahat gue?"
Seseorang mengucapkan itu dan masuk ke ruang rawat Erika. Ya, dia adalah Justin yang datang dengan melipat dua tangannya di dadanya. Menatap sinis kepada perempuan yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Sekali lagi Lo berulah lagi dengan gue. Habis sudah hidup Lo!" tegas Justin.
"Gue sudah membayar semua biaya administrasi rumah sakit," lanjutnya.
"Dan ini buat Lo!" ucap Justin seraya melemparkan segepok uang ratusan ribu kehadapan Erika dengan kasar.
Setelah melemparkan itu, Justin memalingkan wajahnya. Rasanya muak melihat perempuan yang sudah mengacaukannya malam ini.
"Itu kan yang Lo harapkan dari kejadian ini?" tanya Justin dengan wajah yang menoleh kearah yang lain.
"Perempuan murahan," sindirnya dengan senyum sinisnya.
"Segitu kan harga diri Lo?" tambahnya seraya pergi meninggalkan tempat itu.
Perempuan itu menatap sedih kepergian Justin dari sana. Memang benar apa yang dikatakan Justin. Erika membutuhkan uang sebanyak mungkin. Tetapi entah kenapa hatinya miris dan pedih mendengar penuturan Justin baru saja.
"Tuan tunggu!" ucap Erika yang meraih segepok uang itu.
Dengan tertatih dia berjalan keluar dari ruang rawatnya. Berusaha menyusul kepergian Justin, meskipun Erika merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya. Namun dia akan berusaha mengejarnya.
##
Apa yang dilakukan Erika? Kenapa dia mengejar Justin? Bukankah dia juga senang dengan uangnya? Next bab ya.
Sebelum lanjut ke bab berikutnya minta klik love (favorit-kan), like dan komentar-nya ya kakak. Sehat dan sukses selalu. Terima kasih 😇
Tinggalkan aja Justin
biar tau rasa.
penyesalan memang terlambat.
terlalu arogan.
biarkan aja Erika diculik...
Bagusnya tinggalkan rumah itu
jadi perempuan yg baik.
cocok sama jastin...
Erika yg bodoh...