" Katakan sekali lagi, apa yang kau ucapkan tadi?!" Dirga menatap dengan sorot mata menghunus ke arah wanita di hadapannya.
" A-aku ingin kita putus, a-aku merasa tertekan selama menjadi pacarmu, jadi aku mohon, aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja," suara Kirania terdengar lirih.
" Baik ... baiklah, jika itu yang kau mau, mulai saat ini kita putus, aku tidak akan mengganggu. Dan aku menganggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya!" tandas Dirga meninggalkan Kirania dengan langkah lebar.
Sejak saat itu Kirania memang tak pernah melihat sosok pria yang sudah membuatnya jatuh hati.
Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan dalam situasi yang rumit.
Akan kah cinta lama mereka bersemi atau mereka sama-sama mempertahankan gengsi mereka masing-masing demi menghindari rasa sakit hati.
ig : rez_zha29
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Kirania merasa waktu yang berjalan sangatlah lamban. Apa yang ada di depannya bergerak bagaikan slow motion, hingga membuatnya harus berlama-lama dengan pria yang tiba-tiba saja mengusik ketenangannya.
Bagaimana bisa dikata tenang? Sepanjang menunggu antrian di bank, pria itu terus saja melancarkan ucapan-ucapan yang bisa melambungkan hatinya ke angkasa. Belum lagi saat ini, ketika giliran dia maju ke Customer Service, Dirga pun ikut menemani sampai duduk di depan meja Customer Service, bukannya menunggu di kursi antrian. Mereka berdua bagaikan pasangan atau lebih tepatnya Dirga itu bagaikan seorang kekasih yang menemaninya melakukan pengaduan ke pihak bank.
" Kenapa bisa kecopetan, Mbak? Masnya ini nggak nemenin Mbaknya, ya?" canda petugas bank bernama Della berusaha ramah melayani.
" Dia memang susah, Mbak. Nggak mau kalau saya temani, Mbak. Takut nggak bisa dilirik sama cowok lain mungkin kalau diantar sama saya." Dan menyebalkannya lagi, Dirga malah melayani candaan pegawai bank itu.
" Mbaknya cantik gini, jangan dilepas sendirian lho, Mas. Nanti beneran dilirik cowok lain." Walau sambil bercanda petugas bank itu tetap melakukan pelayanan terhadap Kirania.
" Tuh, dengar kata Mbak Della. Aku nggak boleh lepas kamu sendirian, karena itu aku menemani kamu di sini."
Kirania memutar bola matanya menanggapi ucapan Dirga.
" Silahkan masukan PIN nya enam angka yang mudah diingat, tapi hindari memakai tanggal lahir ya, Mbak." Petugas Bank itu menyodorkan mesin EDC PinPad ke arah Kirania.
" Apa boleh pakai PIN yang lama, Mbak?" tanya Kirania.
" Boleh saja, nggak masalah." Akhirnya Kirania menekan enam angka PIN lamanya.
" Sudah berhasil. Ini buku tabungan, KTP dan ATM nya, disimpan baik-baik ya, Mbak. Ada lagi yang bisa dibantu?" tanya petugas bank.
" Ada, Mbak. Bantu doain biar dia mau jadi pacar saya ya, mbak," kelakar Dirga membuat pegawai bank itu terkekeh.
Kirania langsung melotot mendengar ucapan Dirga. Dia benar-benar dibuat kesal dengan tingkah konyol Dirga.
" Iya, nanti saya bantu doakan. Tapi nanti jangan lupa ya undangannya." Pegawai bank itu menimpali.
" Jangan dengar dia, Mbak," ketus Kirania. " Terima kasih ya, Mbak." Kirania kemudian bergegas berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Dirga menuju mesin ATM untuk mengambil sejumlah uang, untuk mengganti uang Dirga yang kemarin dipinjamnya.
" Nih ... hutang aku sudah lunas, jadi jangan mengikuti aku lagi." Kirania menyodorkan uang lima ratus ribu kepada Dirga yang masih menunggunya.
" Kalau aku mau terus ngikutin kamu, gimana?"
" Makanya ini aku bayar biar kamu nggak ada alasan ikutin aku lagi.
" Kalau aku nggak mau terima uangnya, gimana?"
Kirana berdecak. Dia kemudian menarik tangan Dirga dan menaruh uang itu di tangan Dirga. Sama persis dengan yang dilakukan Dirga kepadanya kemarin malam.
" Modus, kamu! Bilang saja pengen pegang-pegang tangan aku."
Ucapan Dirga sontak membuat Kirania menjauhkan tangannya dari tangan Dirga. Dia memilih segera pergi dari hadapan Dirga daripada membuatnya mendadak darah tinggi.
" Kamu mau pulang? Aku antar saja, ya?" Dirga masih mengekori Kirania.
" Nggak usah!"
" Aku ingin tahu kamu tinggal di mana di Jakarta ini. Nggak mungkin 'kan tiap hari pulang pergi Jakarta - Cirebon?"
Kirania menghentikan langkahnya kemudian kembali menghadap ke arah Dirga. Dia heran dari mana Dirga tahu tentang kota asalnya, tapi dia malas menanyakan itu.
" Mau kamu apa, sih?" tanya Kirania jengkel.
" Mau aku? Aku mau antar kamu pulang."
" Aku bukan anak kecil, nggak perlu diantar-antar!" ketus Kirania kembali melangkahkan kakinya
" Ya kalau kamu nggak mau diantar, jangan salahkan kalau aku ngikutin kamu terus." Dirga melangkah mendahului Kirania lalu berjalan di depan menghadap Kirania dengan langkah mundur. " Jadi, mau terima tawaran aku atau ... jangan kaget kalau someday, tiba-tiba aku datang ke rumah kamu langsung bawa lamaran?" Dirga memainkan alisnya turun naik.
" Kamu kenapa sih mengganggu aku terus?! Aku tuh punya salah apa sama kamu? Aku punya hutang, sudah aku lunasi. Lantas apa lagi?!"
" Kamu tahu apa salah kamu ke aku? Salah kamu itu, karena kamu sudah mencuri hati aku."
Kirania mendengus kesal. " Dasar cowok sinting!" geram Kirania.
" Wow ... baru kali ini ada yang berani bilang aku cowok sinting." Dirga memegang dada dengan kedua tangannya mendramatisir. " Hatiku terluka ...."
" Dasar gila!! Awas ...!!" Kirania mendorong cukup keras tubuh Dirga yang menghalangi langkahnya. Kemudian setengah berlari meninggalkan Dirga dengan wajah memerah menahan amarah.
Sedangkan Dirga hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Dirga, Dirga ... kenapa lu jadi aneh gini, sih?!" gumam Dirga heran pada dirinya sendiri.
***
" Ran ... Rania "
Terdengar teriakan Bude saat Rania sedang di kamar mandi.
" Ada apa, Bude?" tanya Rania menyembulkan kepalanya yang basah.
" Ada temanmu."
Kirania teringat ucapan Hasna yang katanya akan meminjam buku siang tadi.
" Oh, suruh tunggu saja, Bude. Bilang saja sedang mandi."
" Ya sudah buruan, Bude mau ke warung dulu sebentar, ya. Mau beli makanan, nggak enak ada tamu nggak disuguhi apa-apa."
" Iya, Bude." Kirania langsung menutup kembali pintu kamar mandi.
Sementara Bude Arum kembali ke ruang tamu menemui tamu yang mencari Kirania.
" Sebentar, ya. Rania nya sedang mandi."
" Oh ... baik, Bu," sahut orang itu
" Adik ini teman kuliahnya Rania?"
" Iya, Bu." Orang itu menjawab singkat.
" Siapa namanya tadi?"
" Dirgantara ...."
" Namanya gagah sekali, persis seperti orangnya." Bude Arum tersipu.
" Terima kasih, Bude. Oh, maaf ... Ibu ini budenya Rania, kah?"
" Lho, kok tahu? Padahal 'kan baru pertama main ke sini, ya? Apa Rania sering cerita?"
" Ah, itu ... saya dengar waktu dia telepon ketika dia kecopetan, Bude." Dirga langsung mengganti panggilan Ibu menjadi Bude mengikuti panggilan Kirania.
" Lho, Nak Dirga tahu juga ya Rania dua hari lalu kecopetan? Jangan-jangan Nak Dirga yang kasih pinjam uang ke Rania?" Bude Arum langsung menebak.
" Iya Bude, itu saya ...."
" Waduh, terima kasih banyak ya, Nak Dirga. Maaf, kalau keponakan Bude jadi ngerepotin Nak Dirga."
" Nggak apa-apa, Bude. Saya senang kok bisa membantu Kirania."
" Eh, Bude tinggal sebentar ke warung ya, Nak Dirga. Nggak enak nggak punya apa-apa yang bisa disuguhkan," pamit Bude Arum.
" Nggak usah repot-repot, Bude. Biarkan saja nggak apa-apa, kok. Saya diterima di sini juga saya sudah terima kasih sekali."
" Tentu saja diterima, masa ditolak? Nak Dirga 'kan teman kampus Rania. Apalagi kemarin-kemarin sudah menolong Rania. Lagipula jarang-jarang ada teman pria Rania datang ke sini, jadi mesti disambut dengan baik." Bude Arum langsung melangkah ke luar rumahnya.
Lima menit kemudian, Kirania telah menyelesaikan mandinya. Dia melangkah ke luar dari kamar mandi menggunakan setelan baju tidur tanpa lengan dengan celana pendek setengah paha warna khaki, dan rambut dililit handuk.
Dengan agak cepat dia berjalan ke ruang tamu karena dia merasa terlalu lama menyuruh Hasna menunggu.
" Sorry ya, Has. Kelamaan nunggunya," ucap Kirania seraya membuka gorden yang menutup ruang tamu dengan ruang tengah.
Namun sedetik kemudian jantungnya terasa copot saat dia melihat bukan Hasna yang sedang menunggu di ruang tamu rumah Pakdenya, tapi pria yang beberapa hari ini mengganggunya dengan tingkahnya yang menyebalkan.
Kirania terkesiap melihat tamu tak diundang yang ada di depannya saat ini. Sejurus kemudian Kirania memutar badan dan bergegas masuk ke dalam meninggalkan Dirga yang juga tercengang melihat penampakan Kirania sore ini di hadapannya tadi.
"
*
*
Bersambung...
Happy Reading😘