Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
CAPTER 6
DEMI SEGELAS AIR, PERMINTAAN DARI SANG TUAN PUTRI
Matahari masih belum menampakkan diri dengan sempurna diujung timur tapi Hasan dengan semangatnya membangunkan tiga pasukan kunyuknya. Berkali – kali dia mengetok pintu kamar tapi tidak satu pun diantara tiga kunyuk itu yang terbangun.
“Mereka ini tidur apa mati." Hasan berguman
sambil terus mengetok pintu kamar.
Kesal karena usahanya tidak berhasil, dia kembali kekamarnya untuk mengambil telfon genggam yang tergeletak
diatas meja. Jarinya mencari nomor kontak Ilyas, berniat untuk menelfonnya tapi
keburu ada panggilan masuk. Ternyata panggilan itu dari Didik temannya.
“Hallo, Assalamualaikum iya Mas” Ucap Hasan begitu tersambung.
“Waalaikum salam...San kamu dimana?.” tanya Didik.
“Dirumah Mas tapi mau keluar kenapa?."
“Pesanannya yang kemarin itu.”
“Iya...kenapa Mas?.” tanya Hasan gelisah.
“Yang Qur’an itu harganya mahal...kalau yang bukan tinta emas tapi warnanya gold murah, gimana tetap pesan yang itu atau...,” Didik menjelaskan.
“Yang tinta emas itu harganya berapa Mas?.”
“Harganya 12.500 Reyal, katanya emang banyak orang pesan buat hadiah atau cindra mata gitu.”
“Iya wes Mas...terus masalah bayarnya gimana?.”
“Kalau itu gampang wes...kita bicarain belakang, San emangnya kamu ini mau nikah sama siapa?.”
“Kenapa Mas?."
“La kok rewel nemen...anaknya Sultan tah?!.”
“Ya nggak lah Mas...biasa cewek itu pengennya yang berkesan apalagi kalau kebanyakan nonton drama...maunya kisah cintanya seromantis drama.” Ucap Hasan sambil tertawa kecil.
Dari ujung telepon Didik juga ketawa mendengar pengakuan temannya itu. Keinginan untuk menggoda Hasan timbul
dibenaknya,
“Ini baru mahar San...awas entar kalau uda jadi istri dimakan kamu sama dia kalau nggak diturutin.” Goda Didik.
“Ya nggak lah Mas.”
“Nggak apanya..kalau uda kadung cinta disuruh bangun Tajmahal juga mau.” Ledek Didik.
“Inshallah nggak lah Mas.”
“Ingat San jangan sampai kamu disetir sama dia...yang harus pegang setir itu kamu!.” Ujar Didik sambil tertawa.
“Tenang Mas...”
“Ok wes lanjut nanti, katanya kamu mau keluar.”
“Ok Mas...makasih banyak.”
“Sipp!.”
-------
Kediaman pak Malik
Menjelang acara akad nikah besok suasana kediaman pak Malik sedikit berbeda dari biasanya, tanpak asisten
rumah tengah sibuk bersih-bersih, mengganti dan menata perabotan. Untuk meringankan pekerjaan bik Siti, pak Malik memintanya mencari jasa tenaga bersih-bersih. Mendapat instruksi itu dengan sigap bik Siti meminta bantuan beberapa saudaranya.
Pagi ini Naura malas untuk turun, kesibukan orang-orang dibawah membuatnya mengurung diri di kamar. Pak Malik yang belum melihat putrinya meminta bik Siti untuk membangunkannya.Segera setelah diminta bik Siti langsung naik kelantai dua, mengetuk pintu kamar Naura sedikit keras.
“Non!.” Teriaknya dari luar pintu.
Naura yang mendengar suara bik Siti memanggil namanya, segera turun dari kasur dan membuka pintu kamarnya.
“Iya Bik...ada apa?.” tanya Naura.
“Non ditunggu dibawah sama Bapak.”
“Huhhh...malas Bik yang mau ke bawah, banyak orang soalnya.” Tolak Naura.
“Ya jelas Non besok kan nikahnya Non!.”
“Bik bisa nggak ngomongin soal nikah...bikin aku tambah malas."
“Perasaan bingung, gugup itu uda biasa Non...bibik juga kayak gitu dulu."
“Ya beda Bik...ini kan nikahnya paksaan!.”
“Jangan gitu Non...bibik kebawah dulu ya.” pamit bik Siti.
Naura yang lagi sumpek kembali menutup pintu kamarnya. Merangkak naik ke atas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Mendapati putrinya belum juga turun, pak Malik berinisiatif itu menghampirinya dan berniat untuk mengajaknya sarapan bersama. Tanpa mengetuk pintu pak Malik memasuki kamar Naura, berjalan mendekati putrinya yang sedang tertidur. Namun sebenarnya hanya pura-pura tidur, agar bisa menghindar dari Papa-nya.
Dengan lembut pak Malik membangunkan Naura, mengelus rambut putrinya dan tak lupa mencium kepala Naura.
Tersentuh dengan perlakuan lembut papanya, Naura membuka matanya perlahan.Tersenyum manis dan memeluk papanya dengan hangat.
Bagi Naura dia adalah sosok ayah terbaik dan masih menjadi yang terbaik meski sekarang sedang berselisih. Sekeras apapun dirinya tetap akan melunak dan menyerah terhadap ayahnya.
“Pagi Pa.” Sapanya.
“Pagi Sayang...kenapa belum turun, papa uda nungguin dari tadi yang mau sarapan."
“Maaf Pa...Na malas yang mau turun soalnya dibawah rame.” Rengek Naura.
“Itu biasa Sayang...ayo bareng sama papa turunnya.” Ajak pak Malik.
Sekali lagi Naura dibuat tidak berdaya untuk menolaknya, meski malas dan berat dia tetap tersenyum manis. Bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi dan beberapa menit berikutnya dia keluar, berjalan kearah papanya yang duduk dipinggir kasur, dengan mengandeng lengan Papa-nya Naura berjalan menuruni tangga.
“Na...bajumu buat besok bentar lagi dikirim kesini, punya Mas mu juga dikirimnya hari ini.” pak Malik memberitahu.
“Iya Pa...entar langsung Nana coba takutnya kurang pas.”
“Inshallah pas...papa pesen ditempat biasanya mama kamu pesen terus David udah ngecek ukuran bajumu.” Ucap pak Malik.
Mendengar mamanya disebut hati Naura sedih seketika, rasa kangen menghampirinya. Matanya berkaca-kaca namun dia berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan papanya. Semua itu dia lakukan agar papanya juga tidak merasa sedih.
“Ayo sarapan dulu Pa...kita bahas lainnya selesai sarapan.” Naura mengalihkan pembicaraan.
-----
Rumah Hasan
'Tok tok tok'
“Permisi!.”
Mendengar ada suara dari luar Hasan berlari menuju pintu depan, mendapati seseorang yang tidak dikenalnya tersenyum ramah. Dia pun bertanya,
“Maaf Mas-nya dari mana?.”
“Saya diminta pak Malik buat nganterin baju buat acara besok.” Pemuda itu menjelaskan.
“Ohhh...masuk dulu Mas."
“Iya makasih tapi saya masih banyak kerjaan Mas...” Sambil menyerahkan tas yang dia bawa.
“Ini Mas...?!.” Hasan kurang yakin.
“Iya...saya permisi dulu Mas.”
“Makasih lho Mas uda ngerepotin.”
“Sama-sama Mas.”
Setalah pemuda itu tidak kelihatan Hasan kembali ke dalam, namun Ilham mengagetkannya. Entah sejak kapan
tahu-tahunya dia sudah berdiri kayak hantu.
“Apa itu Mas?.” tanya Ilham penasaran.
“Uda sana cepetan mandi kalau mau ikut!.” sambil berjalan memasuki kamarnya dan menutup pintu.
Dengan langkah berat dan mata yang masih mengantuk Ilham berjalan ke kamar mandi. Sementara itu di dalam
kamar, dengan segera Hasan membuka dan mengeluarkan isinya. Setelan Jas bergaya burgundy, warna pearl dan
kemeja bewarna putih lengkap dengan sepatunya. Hati Hasan tersentuh dengan perlakuan pak Malik kepadanya. Matanya terus menatap pakaian dan sepatu yang akan ia kenakan besok. Seolah tak percaya kalau dia akan segera mengakhiri masa lajangnya, wajah kedua orang tuanya tiba-tiba terlintas. Seolah membisikkan sesuatu ditelinganya dan menggenggam erat tangannya. Air mata tak terasa jatuh dan membasahi pipinya, perlahan ia menghapus air mata itu dengan tangannya yang dingin. Hatinya bergetar menahan sakit tak kala mulutnya melafalkan kata ayah dan ibu.
“Mas jam berapa berangkatnya?." Suara Ilham yang nyaring membuatnya tersadar.
Sambil mengusap air mata dipipinya dia menjawab,
“Jam 8.30.”
“Kalau gitu aku keluar dulu ya beli makanan buat sarapan...Ilyas sama Andik udah bangun kok.”
“Mmmm....” Hasan merespon sambil memasukkan kembali baju yang tadi dia keluarkan.
Lalu dia keluar dari kamar dan duduk diruang tengah sambil menyalakan TV, menunggu Ilyas dan Andik yang sedang bersiap-siap. Beberapa menit kemudian Ilham datang dengan menenteng makanan. Dia berjalan menghampiri Hasan dan meletakkan bungkusan yang berisi makanan itu diatas meja. Dan beranjak pergi ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.
“Kalau tiap hari kayak gini enak paling ya.” seru Andik dan bergabung dengan Ilham dan Hasan.
“Ngarep banget!.” Ilham menanggapi.
Hasan mengabaikan keberadaan mereka berdua, pikirannya justru tertuju pada hal lain. Meski matanya menatap layar televisi tapi pandangannya kosong. Bahkan suara Andik yang menegurnya juga tidak terdengar olehnya. Gambaran tentang akad nikahnya besok serta gaun pernikahan yang telah dikirim tadi pagi terus berlenggang dalam kepalanya, sementara hatinya dirundung kesedihan yang dalam.
Impiannya menikah disaksikan oleh kedua orang tuanya tak mungkin tercapai, dan itu menyayat hatinya.
Kesedihan terpancar jelas di wajahnya, dan air mata pun tanpa perintah telah mengalir membasahi pipinya. Andik dan Ilham yang berada didekatnya sontak kaget, keduanya tidak pernah melihat wujud Hasan yang sekarang. Pria yang mereka anggap seperti saudara laki-lakinya sendiri tidak pernah menunjukkan kelemahannya dihadapan mereka, apalagi meneteskan air mata. Hati mereka juga dibuat sedih melihatnya, mereka yang biasanya sering usil justru terdiam.
Ilyas yang baru keluar dari kamar berjalan mendekat dan hendak ngerjain Hasan dipelototin oleh Andik dan Ilham. Sambil memberikan isyarat padanya untuk diam. Paham dengan apa yang kedua temannya isyaratkan, dia pun melangkah dengan hati-hati.
“Mas....” Suara samar Ilham menyadarkan Hasan.
Dengan segera dia menghapus air mata yang terlanjur jatuh. Untuk mengalihkan suasana Ilham dengan tengilnya menendang betis Ilyas dan menyuruhnya untuk mengambil air minum.
“Sana ambil air minum...mumpung belum duduk!.”
“Injih...Ndoro Tuan....” Sambil membungkukkan badan kearah Ilham.
Setelah selesai sarapan, sambil menunggu taksi pesanan datang mereka berempat duduk di teras depan rumah. Ilham mengusulkan untuk main kerambol dan usulan itu disetujui oleh kedua temannya. Namun baru beberapa putaran, taksi yang dipesan sudah tiba di depan rumah. Permainan pun dihentikan dan mereka segera memasuki mobil dan Hasan adalah orang terakhi yang masuk. Berikutnya mobil melaju dengan kecepatan normal menelusuri jalan raya yang lumayan padat. Tempat yang dituju jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka, kira-kira 1.5 jam untuk mencapainya dengan roda empat.
Sepanjang perjalanan tiga kunyuk terus bercanda, membuat suasana didalam ramai. Tapi lain halnya dengan Hasan, dia tidak banyak bicara hanya menatap keluar cendela, sesekali tersenyum tipis mendengar dagelannya Ilham.
Ramainya suasana tiba-tiba hening tak kala telepon genggam Hasan berdering, rupanya telepon dari mas Didik. Segera jari telunjuk Hasan mengklik dial warna hijau untuk menyambungkan panggilan.
“Iya Mas Assalamualaikum.” Begitu panggilan terhubung.
“Waalaikumussalam...udah berangkat San?.” tanya Didik.
“Iya Mas kenapa?.”
“Ohh...nggak cuma mau ngasih tahu kalau tasybihnya itu adanya cuma yang dari batu giok, kalau yang diminta sama tuan putrinya kamu itu radak angel soalnya itu termasuk barang mahal, terus gimana ini...mau diambil apa gimana?.”
“Iya wes Mas...urusan cocok nggak cocoknya belakangan aja.” Ucapnya tak bersemangat.
Setelah menempuh perjalan lumayan jauh akhirnya mobil tiba juga dilokasi yang dituju. Dengan semangatnya pasukan kunyuk yang terdiri dari Ilham, Andik dan Ilyas turun dari mobil, lalu disusul oleh Hasan. Langkah
tiga orang itu cukup cepat membuat Hasan tertinggal dibelakang.
“Mas...ayo yang cepat dikit jalannya, jangan lesu gitu!.” Teriak Andik.
Hasan tidak menimpali dia memilih diam dan terus berjalan menyusul mereka bertiga. Pemandangan ditempat
itu sangat indah ditambah lagi udaranya yang sejuk membuat hati menjadi lebih bersemangat. Tapi itu tidak berlaku bagi Hasan, udara itu semakin menambah dinginnya hati.
Setelah berjalan beberapa menit lamanya, mereka akhirnya tiba disebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi. Terlihat tidak sedikit pengunjung yang mandi sambil bermain dialiran sungai dekat air terjun tersebut, ada juga yang sibuk mengambil foto melalui kamera handphonenya. Termasuk tiga kunyuk itu juga tidak mau metinggalan untuk berselfie ria.
“Ham mana sumber mata airnya?.” tanya Hasan.
“Ohhh..iya lupa, kalau sumbernya bukan disebelah sini Mas!.” Terangnya.
“Kamu gimana Ham!.” Keluh Hasan.
“Tenang Mas...Mas tinggal balik lagi kebawah sampai dipersimpangan barusan, nah disana ada petunjuk arahnya.” Ilham menjelaskan
“Kamu nggak ikut?.” tanya Hasan.
“Hehehe....”
Karena tiga kunyuk itu sudah asyik dengan sendirinya, mau tidak mau Hasan sendirian meneju ke tempat itu. Sedikit mempercepat langkahnya supaya segera mencapai sumber mata air yang dituju, dia sampai – sampai tidak memperhatikan jalan dengan benar, alhasil dia terpeleset.
“Awww...” Rintihnya sambil mencoba berdiri dengan berpegangan pada dahan pohon.
Sepertinya kakinya terkilir tapi dia mengabaikannya, sambil menahan rasa sakit dipergelangan kaki dia tetap
mencoba berjalan dengan langkah cepat. Setelah berjalan beberapa ratus meter jauhnya, sampai juga dia ditempat yang dimaksud.
Sumber mata air dengan pemandangan yang sangat indah, dihiasi bebatuan berukuran cukup besar dan dirindangi oleh dua pohon besar. Satu pohon tumbuh di jalan setapak, tepat diatas sumber mata air, akarnya menonjol keluar melalui celah – celah bebatuan disekitarnya. Sementara yang satunya tumbuh dibawah, membelah sumber air itu, akarnya juga menonjol keluar diantara tanah dan bebatuan disekelilingnya. Airnya sebening kristal sehingga batu-batu kecil berwarna putih, lumut yang tumbuh dan ikan – ikan terlihat dengan jelas.
Alaminya pemandangan disana seketika mengubah suasan hatinya yang sedari tadi murung. Entah kenapa secara tiba-tiba dia teringat dengan Naura, tangannya tanpa perintah mengambil telefon genggam dari dalam tas kecil. Lalu semenit kemudian memotret dirinya dengan latar pemandangan di sumber mata air itu. Tidak hanya itu dia juga merekamnya termasuk ketika dia mengambil sebotol air dari sumber. Dengan senangnya dia mengirimkan foto dirinya dan rekamannya pada Naura.
Naura yang lagi uring-uringan di dalam kamar segera meraih handphonenya begitu suara beep berbunyi. Mendapati dua notifikasi dari Hasan, jarinya langsung membuka notifikasi itu. Wajahnya tersenyum begitu melihat foto dan video yang dikirim Hasan. Dia membalasnya dengan mengirimkan emoji wajah tersenyum. Dan menuliskan,
“Apa benar ini dirimu?.” Serta membubuhi emoji tertawa dan emoji peri bersayap.
Hasan membalasnya dengan mengetik, “Menurutmu?.” dengan emoji marah.
Naura tertawa geli menerima balasan chatnya dari Hasan, sangking senengnya tanpa dia sadari jarinya mengklik tombol panggilan video. Tak butuh waktu lama Hasan langsung menerima begitu panggilan video itu tersambung.
“Assalamualaikum.”
Suara Hasan memecut kembali kesadaran Naura, secepat kilat dia mengakhiri panggilan video yang dibuatnya. Jantungnya berpacu dengan cepat tak kala wajah Hasan terlihat dilayar handphone dan suaranya membangunkan bulu-bulu kecil disekujur tubuhnya serta membuka pori-pori kulinya, juga mengirimkan gelombang magnetik melalui syaraf dan terpusat dipangkal kepalanya.
Dilain tempat Hasan yang tidak memahami situasinya justru menyangka Naura marah. Dia masih menatap layah ponsel dan mencoba menerka kesalahan apa yang membuat calon istrinya marah seketika. Sambil berfikir dia memutuskan untuk menelfon balik, jarinya dengan cekatan mengklik nomor Naura dilayar handphone. Panggilan itu sudah tersambung tapi Naura tidak mengangkatnya, sebaliknya dia mereject panggilan masuk dari Hasan. Masih belum mau menyerah, Hasan terus mencoba.
“Mas udah ngambil airnya!." Teriak Ilham.
Seketika Hasan mematikan panggilan yang dia buat dan berjalan kearah tiga kunyuk yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Kakinya yang sakit menyusahkan dia berjalan dengan normal. Tiga kunyuk yang memperhatikan cara berjalan Hasan yang sedikit pincang langsung berlari kearahnya.
“Mas kenapa ma kakinya?!.” Sembur Ilyas.
“Itu bajunya juga kotor!." Imbuh Andik.
Ilyas dan Andik maju kedepan dan mencoba membatu Hasan, awalnya Hasan kekeh menolak bantuan mereka berdua. Mereka yang tidak mau menyerah membuat Hasan membiarkannya.
Setelah berada dibawah mereka meminta Hasan duduk di gazebo yang berada didekat gapura. Andik meminta Hasan untuk meluruskan kakinya sebentar, dia memerikasa pergelangan kaki Hasan yang terkilir. Lalu pelan-pelan dia mulai mengurut.
“Awww...pelan – pelan." Rintih Hasan sambil mencengkram lengan Ilyas yang berdiri disamping.
“Ini udah yang paling pelan Mas...entar nyampek rumah saya urut lagi pakek minyak.” Andik menerangkan.
“Alhamdulillah...untung ada kamu Dik.”
“Mas ini sek mau mampir – mampir apa langsung balik kerumah?.” tanya Ilham.
“Emang kalian masih mau mampir kemana?.”
“Nggak ada Mas...tapi perutku laper.”
“Ya udah kita mampir ketempat makan dulu.” Seru Hasan.
“Mas boleh request nggak?!.” tambah Ilham.
“Request apa?.” tanya Hasan.
“Makannya di restoran padang ya?!.” pinta Ilham.
“Wiuhh...gaya lu mau makan di restoran.” Seru Ilyas membuat Ilham tertawa.
“Berhubung mas lagi bermurah hati ok lah kita makan disana sesuai permintaan sang reporter.”
“Tapi aku yang nentuin tempatnya ya Mas.” Ilham ngelonjak.
“Haih...dikasih hati minta jantung pula!.” Seru Hasan.
Dengan senangnya Ilham langsung memesan car dan setelah menunggu agak lama mobil yang dipesan datang. Mereka berempat segera masuk kedalam mobil.
----
Kediaman pak Malik
Naura yang baru ingat jika hari ini memiliki janji dengan seseorang, segera bangkit dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi. Setengah jam kemudian dia telah berganti pakaian dan mempercantik wajahnya dengan sedikit riasan. Kali ini dia memakai dress bewarna kuning bumblebeed tanpa lengan yang panjangnya kira-kira 15cm diatas lutut, dengan model kerah flat collar serta bagian bawah sedikit mengembang, dikombinaksikan dengan sepetu sneakers bewarna putih membuatnya terlihat seperti onni.
Naura tergesa-gesa menuruni anak tangga dan menghampiri papanya yang tengah sibuk memberikan instruksi pada beberapa orang.
“Pa Nana keluar dulu ya!.”
“Keluar kemana sayang?.” tanya pak Malik.
“Nana lupa kalau udah ada janji ketemuan ma seseorang, Na keluarnya bareng sama Lisa kok Pa.”
“Jangan lama-lama ya Nak....”
“Da Papa!.” Pamit Naura sambil memberikan ciuman manis di pipi sang ayah.
Naura menghentikan mobilnya tepat didepan butik, lalu menelfon Lisa. Lisa yang sudah dari tadi menunggu langsung berlari keluar begitu menerima telfon dari Naura.
“Temanya hari ini kuning ya Mba?!." begitu masuk ke dalam mobil.
Naura menjawabnya dengan senyuman manis sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya. Sedetik kemudian mobil itu melaju dengan kecepatan normal menuju sebuah restoran dimana mereka telah membuat janji.
“Nggak ada yang ketinggalan kan Lis?.” Naura memastikan
“Tenang Mba.” Sambil menunjuk pada tasnya.
“Masih jauh nggak Lis?." sekali lagi bertanya.
“Nggak kok Mba paling setengah jam lagi nyampek.”
“Ohh....”
Setengah jam kemudian mobil mencapai tempat yang dituju, keduanya pun turun dari mobil dan berjalan memasuki restoran.
“Selamat siang." Sapa seorang pelayan.
“Siang...saya ada janji sama ibu Farida pemilik resto ini.” Naura menjelaskan.
“Oh...mari ikut dengan saya.”
Pelayan itu membawa Naura dan Lisa menemui pemilik restoran diruangan yang berada disamping kasir. Setelah mengetok pintu, pria muda itu mempersilahkan Naura dan Lisa masuk.
“Siang Bu.” Sapa Naura.
“Siang...mba Naura ya.” ibu Farida menyambutnya.
“Iya Bu....”
“Silahkan duduk mba...maaf ya ngerepotin.”
“Nggak apa – apa kok Bu.”
“Tunggu bentar ya anak saya masih dijalan."
Sesaat kemudian , tampak seorang wanita muda bersama dengan pria berperawakan tinggi masuk. Dia adalah putri ibu Farida yang akan menikah dua bulan lagi. Setelah bersalaman Naura lansung meminta wanita itu untuk berdiri dan mengambil ukuran badannya, sementara Lisa dengan cekatan mencatatnya. Lalu dilanjutkan mengambil ukuran badan sang pria.
Diluar ruangan Hasan beserta tiga kunyuk baru saja sampai, mereka melangkah masuk dan mengambil meja yang berada diujung sebelah kanan. Meja itu berhadapan langsung dengan pintu yang berada disebalah kasir. Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menanyakan minuman apa yang hendak mau dipesan.
Setelah selesai menulis satu persatu minuman yang dipesan dia kembali kebelakang. Tak lama setelah itu
pelayan yang lainnya datang dengan membawa berbagai menu khas padang, lalu menata satu persatu piring yang dibawa diatas meja.
“Silahkan....” Pelayan itu menjamu dengan ramah.
“Terimakasih Mas.” Seru Hasan.
“Kok aku jadi bingung ya mau ambil yang mana.” Ilham berucap.
“Tinggal ambil aja satu – satu.” Sambil tertawa Ilyas menimpali.
Diruang yang lainnya Naura sedang menanyakan konsep apa yang akan diusung pada acara pernikahan putri ibu Farida, semua itu untuk menentukan dan menyesuaikan model gaun yang akan dirancang. Ibu Farida menginginkan gaun khas Minang namun tetap terlihat modern.
“Maaf Bu saya mau nanya toiletnya ada disebelah mana?.” tanya Naura.
“Toiletnya diluar mba dipojok sebelah kiri.”
“Boleh saya keluar sebentar?."
“Oh iya mba silahkan."
Setelah pamit Naura keluar ruangan, dia fokus berjalan menuju toilet dan tidak menyadari kalau Hasan juga berada disana. Hasan yang melihat Naura berjalan keluar dari ruangan sebelah kasir sontak kaget. Terlebih lagi melihat Naura dengan pakaian seksinya. Hatinya senang tak kala melihat wajahnya tapi juga marah tak kala melihat selain wajahnya. Dress warna kuning tanpa lengan yang hanya menutupi separuh paha putihnya terlihat mencolok, bahkan siapapun yang berpapasan dengan wanita itu pasti akan tergiur dengan kemolekan tubuhnya.
Mata Hasan mengitari ruangan restoran, mengamati setiap pengunjung laki-laki untuk memastikan apakah mereka menatap wanitanya. Dengan hati bercampur aduk dia melakukan panggilan, Naura yang tidak menyadari kalau telepon genggamnya berdering terus melangkah menuju toilet.
Tak lama kemudian Naura keluar dari toilet sambil memeriksa beberapa notifikasi dan panggilan masuk dilayar handphone. Didapati beberapa panggilan masuk, Hasan yang sedari tadi mengamatinya langsung melakukan panggilan lagi namun Naura tidak menjawabnya. Kesal karena diabaikan Hasan langsung mengirim chat.
“Jangan pura-pura nggak dengar apalagi nggak ngelihat, tolong angkat telfonku.” isi chat Hasan
Naura bingung dengan isi chat Hasan, dia melihat keseliling dan mendapati laki-lakinya tengah duduk bersama tiga orang diujung sana. Dia tidak merespon dan justru sebaliknya bersikap seolah tidak mengenal Hasan. Dengan mengabaikan keberadaan Hasan dan memprovokasi kemarahnya, Naura kembali menuju ruangan yang tadi.
Setelah urusannya dengan ibu Farida selesai, Naura dan Lisa langsung pamit. ibu Farida mengantar keduanya menuju pintu.
“Mari Bu." Pamit Lisa.
Lalu keduanya melangkah keluar restoran, namun sebelum melewati meja paling depan langkah Naura terhenti. Dia berbalik dan melangkahkan kakinya mendekati Hasan. Sambil memasang senyum manis alias pura – pura manis, dia mengambil posisi duduk berdampingan dengan Hasan.
Kedatangan wanita asing dengan penampilan seksi membuat Andik, Ilyas dan Ilham kaget, spontan mereka terdiam dan menatap Hasan dengan tatapan penuh tanya.
“Siapa mereka?.” tanya Naura mengawali pembicaraan.
Hasan yang masih kaget terlihat bingung harus ngomong apa dan bagaimana menjelaskan pada tiga kunyuk itu nanti.
“Kapan – kapan ajak aku makan bareng juga ya!.” Pinta Naura sok manja.
“Ngapain disini?.” Akhirnya Hasan bisa mengatasinya.
“Ada urusan sama pemilik restoran ini.” Jawab Naura santai sambil memainkan gantungan HP.
Hasan kehilangan ide untuk melanjutkan percakapan, dia terdiam dan menundukkan kepalanya namun buru – buru
mengangkatnya lagi tak kala matanya mendapati paha putih nan mulus Naura nyaris menempel dengan pahanya.
Menyadari ada sesuatu yang kurang pas pada diri Hasan, Naura terus mengamatinya, matanya terhenti ketika mendapati kaos dan celana yang dikenakan Hasan sedikit berlumpur.
“Pakaian kamu kenapa kotor gitu?!." tanya Naura penasaran.
Hasan yang bingung untuk menjawab pertanyaan Naura dibantu oleh Ilham.
“Tadi kepleset Mba pas ke sumber buat ngambil air.”
Mata Naura terbelalak mendengar penjelasan Ilham, hatinya tersentuh.
“Udah dipijat kok tadi sama kita.” Tambah Ilham.
Naura tidak berkomentar dia hanya tersenyum pada tiga pria muda dihadapannya. Lisa yang sedari tadi berdiri
tak jauh dari sana, memanggil Naura.
“Mba ayo balik!.” Teriaknya.
Mendengar suara Lisa memanggilnya, Naura memutar kepala dan memberi isyarat untuk menunggunya di mobil. Tidak ingin membuat asistennya menunggu lama, Naura pamit pada Andik, Ilyas dan Ilham. Dan sebelum pergi meninggalkan mereka, Naura mendaratkan ciuman lembut di pipi Hasan. Hasan yang tidak berpikir akan mendapatkan ciuman secara tiba-tiba menjadi kikuk, wajahnya merona karena kaget dan malu. Ditambah tatapan melotot ketiganya yang seolah – olah mengintimidasi. Tidak tahu harus bersikap bagaimana, Hasan hanya bisa menundukkan wajah dan memijat-mijat pelipis matanya. Senyum puas terlihat di wajah Naura, sebenaranya ciuaman itu hanya untuk ngerjain Hasan di depan teman – temannya dan itu berhasil. Dengan hati bersorak penuh kemenangan dia pergi meninggalkan meraka.