NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Dua pria lain muncul dari belakang, menutup jalan keluar. Tiga badan besar, tiga napas berbau rokok, dan satu lampu yang berkedip seperti hendak menyerah.

Elang berhenti. Tangannya masih di saku. "Kalian siapa?"

Pria di tengah mengusap dagunya yang berewok. Jaket kulitnya mengilap di bawah cahaya. "Wahyu. Bosku nyuruh aku ngajarin kau sopan santun."

"Bosmu?"

"Ray Nugroho." Seringai Wahyu melebar. "Kau pasti ciut dengar nama itu."

Elang menunduk. Bahunya bergetar sebentar, dan yang keluar dari mulutnya adalah tawa pendek yang kering.

"Ray." Ia mengangkat wajah. "Kakakku yang bahkan butuh Ayah buat mengambil sepotong kue itu, kirim tiga orang ke gang gelap? Dia gak berani datang sendiri, ya?"

Seringai Wahyu hilang. Urat di lehernya menonjol. "Mulutmu..."

Wahyu menjentikkan jari ke arah dua temannya. Mereka merapat tanpa suara, melingkar di sekeliling Elang seperti pagar.

Elang memperhatikan lingkaran itu, lalu mendengus, seolah sedang menghitung kembalian yang kurang.

"Kalian bertiga," katanya. "Cuma itu?"

Wahyu maju. Pukulan lurusnya meluncur ke wajah Elang.

Elang menggeser kepalanya satu jengkal. Angin kepalan menyapu telinganya.

Tangan kanannya keluar dari saku. Ia menangkap pergelangan Wahyu, memutarnya. Siku kirinya menghantam rusuk lawan. Napas Wahyu pecah, tubuhnya terhuyung ke samping.

Dua langkah kaki menghentak di belakang.

Elang menunduk. Lengan besar menyambar udara tepat di atas kepalanya. Ia merapat, menangkap lengan itu, lalu memutar pinggul. Pria berkumis itu terangkat, melayang lewat bahunya, dan punggungnya menghantam aspal. Bunyi udara terdorong keluar dari paru-parunya.

Satu lagi, yang bertato di leher.

Tendangan rendah mengincar lutut Elang. Ia mengangkat kaki, membiarkan tendangan itu lewat. Tumit kirinya berputar di aspal. Tendangan memutarnya mendarat di sisi kepala si bertato, dan pria itu jatuh ke dinding tanpa sempat berteriak.

Gang kembali sunyi, kecuali napas Wahyu dan erangan pelan dari dekat tong sampah.

Elang melangkahi tangan si berkumis yang terulur minta tolong, seperti orang melangkahi genangan. Ia bahkan tidak menunduk.

Pria itu bangkit dengan satu tangan memegangi rusuk. Matanya merah. Ia menerjang dengan kedua tangan terentang.

Elang menyapu kakinya. Wahyu tersungkur. Dalam sekejap Elang sudah menindih punggungnya, satu lutut menekan tulang belikat, satu lengan terkunci ke belakang.

"Aduh... aduh, ampun!" Wahyu menempelkan pipinya ke aspal. "Tuan, aku mohon, ampuni kami. Aku mau melakukan apa pun!"

Elang mengendurkan tekanan. Ia berdiri, merapikan manset yang sedikit kusut, lalu berjongkok di sebelah kepala Wahyu.

"Apa pun?"

"Iya, Tuan. Apa pun."

"Bagus."

Tangan kanan Elang yang bersarung mendarat di bahu Wahyu.

"Aku mau kau jadi bawahanku. Semua gerak-gerik Ray, kau yang laporkan padaku."

Cahaya biru menyala dari punggung sarung tangannya. Panel melayang di depan matanya.

[Permintaan dijalankan...]

[Subjek Wahyu memiliki mental yang lemah. Keberhasilan: 60%.]

[Permintaan berhasil.]

[Kuota tersisa: 4/5.]

Bahu Wahyu mengendur di bawah telapak tangannya. Sorot matanya, yang tadi merah dan liar, turun menjadi sesuatu yang tenang dan terlalu jinak.

"Baik, Bos," katanya. "Aku setia sama Bos."

Elang menatap angka enam puluh itu sebentar.

'Cukup.' Ia mengangkat tangannya dari bahu Wahyu. 'Kalau dia sudah terikat sistem, dia tidak akan pernah mengkhianatiku.'

"Berdiri."

Wahyu bangkit, canggung, menahan sakit di rusuknya. Dua temannya masih mengerang di dekat tembok. Salah satunya berusaha merangkak tanpa mengangkat kepala.

"Dengar baik-baik." Elang membetulkan kerah jasnya. "Kau pergi ke Ray. Bilang kau sudah menghajarku sampai aku tidak bisa berdiri. Bilang aku menangis."

"Siap, Bos."

"Jangan berlebihan. Cukup bilang aku kapok."

Wahyu mengangguk dua kali. Ia menyeret temannya satu per satu, menopang yang bertato di bahunya, lalu menghilang ke ujung gang tanpa menoleh.

Elang berdiri sendirian. Lampu itu mati sekali, menyala lagi.

Ia menepuk debu dari lutut celananya. Telapak tangannya tidak sakit. Napasnya bahkan tidak lebih cepat dari saat ia masuk gang tadi.

Sudut bibirnya terangkat.

"Tiga orang," gumamnya. "Seharusnya Ray mengirim lebih banyak, kalau mau membuatku repot."

Di ujung gang, lampu jalan akhirnya menyala stabil. Elang berhenti di bawahnya dan mengangkat tangan kanan, memutar pergelangan sekali. Tidak ada goresan di sarung tangan itu, tidak ada setitik debu pun. Seolah benda itu sendiri sedang menertawakan tiga orang tadi.

"Empat permintaan," gumamnya. "Besok pagi kembali lima."

Ia memasukkan tangan itu ke saku dan tersenyum, lebih pelan, hampir pada dirinya sendiri.

"Ray, kau bahkan tidak tahu sedang melawan apa."

Ia melanjutkan langkah menuju kontrakannya, sepatu menapak tenang di aspal yang masih dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!