NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Suara langkah kaki yang terburu terdengar mendekat di lorong rumah sakit yang sepi dan putih. Langkah itu semakin cepat, beriringan dengan detak jantung yang berpacu.

‎‎Di depan pintu ruangan UGD yang menyala lampu merah-nya, Rafael berdiri mondar-mandir. Wajahnya pucat pasi, rambutnya sedikit berantakan. Sesekali ia berhenti, menarik napas panjang yang berat, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar, seakan tak percaya semua ini nyata.

‎‎Di deretan kursi tunggu, Andika dan Diah sudah duduk di sana. Diah menunduk, kedua tangannya saling mencengkeram erat di pangkuan, bahunya sesekali bergetar menahan tangis. Andika duduk tegak, tapi tatapannya kosong menatap pintu UGD, napasnya berat dan teratur namun jelas penuh kecemasan yang mendalam.

‎‎Saat Nova dan Heru berjalan mendekat dengan langkah yang dipercepat, Andika langsung berdiri menyambut besannya itu. Wajahnya berusaha tetap tenang, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihan.

‎‎"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Heru, suaranya bergetar namun tetap rendah. "Kenapa Alina bisa jatuh dari tangga?"

‎‎Keheningan menjawab pertanyaannya. Tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut. Tatapan semua orang perlahan beralih ke arah Rafael yang masih berdiri mematung di dekat pintu UGD.

‎‎Heru melangkah perlahan mendekat. Langkahnya berat, namun tegas. Ia berdiri tepat di depan menantunya itu, menatap lurus ke mata Rafael yang menunduk menghindari tatapannya.

‎‎"Alina adalah anak yang ceria," ucap Heru, suaranya rendah namun penuh penekanan yang menyakitkan. "Dia putri kami satu-satunya. Kami menikahkannya denganmu dengan harapan agar kamu bisa menjaganya, membuatnya bahagia."

‎‎Ia menjeda sejenak, menelan rasa getir yang mengganjal di tenggorokannya.

‎‎"Kenapa... kenapa bisa ada musibah seperti ini, Rafael?"

‎‎Rafael tertegun. Kakinya terasa lemas, seakan tulang-tulangnya perlahan melebur. Ia menatap mata ayah mertuanya itu, dan di sana ia tidak melihat kemarahan yang meledak-ledak, yang ia lihat hanyalah kesedihan yang dalam, kekecewaan yang menyayat hati.

‎‎"Aku... aku tidak bermaksud..." suaranya pecah, ia menelan ludah dengan susah payah. "Kami hanya sedang berdebat. Dia... dia mau pergi. Aku menahannya. Lalu... kakinya terpeleset. Itu kecelakaan, Pa. Percayalah, aku tidak pernah menyakiti Alina dengan sengaja."

‎‎Heru menghela napas panjang, napas yang terdengar begitu berat dan lelah. Ia menatap Rafael lama sekali, seakan ingin membaca kebenaran di balik mata itu.

‎‎"Sekarang dia ada di dalam sana, Rafael," ucap Heru pelan, tangannya gemetar menunjuk pintu UGD yang lampunya masih menyala merah. "Anakku yang dulu pulang dengan senyum lebar setiap kali membicarakanmu... sekarang terbaring tak sadarkan diri di balik pintu itu."

‎‎Tiba-tiba pintu UGD terbuka. Semua orang menahan napas serentak. Seorang dokter keluar dengan wajah yang sulit dibaca.

‎‎"Siapa keluarga pasien Alina Elviana?" tanyanya lembut.

‎‎Semua orang melangkah maju hampir bersamaan.

‎‎"Kami orang tuanya," jawab Heru tegas namun bergetar. "Bagaimana keadaan anak kami, Dok?"

‎‎Dokter itu menatap mereka satu per satu, lalu menghela napas pelan.

‎‎"Operasi berjalan lancar. Tapi kepala Alina mengalami benturan yang cukup keras. Dia... dia belum bisa kami pastikan kapan akan sadar. Dia dalam masa kritis. Kami akan memantaunya di ruang perawatan intensif."

‎‎Keheningan menyelimuti lorong itu. Hanya suara isak tangis Diah dan Nova yang terdengar samar. Rafael memegangi dinding di sampingnya agar tidak jatuh. Heru memejamkan matanya, menunduk dalam, satu tangannya menutup mulutnya sekuat tenaga, menahan gemetar yang tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya.

-

-

-

‎Pagi itu, cahaya matahari baru saja masuk melalui jendela kaca gedung perkantoran yang tinggi. Revan berjalan cepat menuju meja sekretaris, lalu berhenti di depan meja Sita.

‎‎"Sita, Tuan Rafael sudah datang?" tanyanya langsung, suaranya terburu.

‎‎Sita mendongak, wajahnya tampak berat. "Ah, Revan. Barusan Tuan Rafael menelepon. Katanya kamu tidak bisa dihubungi. Tuan Rafael tidak masuk kantor hari ini. Istrinya... Nyonya Alina masuk rumah sakit."

‎‎Revan membelalakkan matanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.

‎‎"Apa?!" serunya sedikit meninggi, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

‎‎Ia buru-buru merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya. Layarnya gelap. Mati. Ia lupa mengecasnya semalam.

‎‎Tanpa menunggu lebih lama, Revan langsung berbalik dan berlari menuju pintu lift.

‎‎"Revan! Tunggu! Ada pesan lain dari Tuan Rafael!" panggil Sita berusaha mengejar, tapi langkah Revan terlalu cepat. Ia masuk ke dalam lift, menekan tombol lobi bawah dengan tangan yang gemetar, pintu tertutup, memisahkannya dari suara Sita yang masih memanggil namanya.

‎‎Pintu lift terbuka di lobi bawah. Revan melangkah keluar dengan terburu-buru, hampir berlari menuju pintu keluar gedung. Dunia di sekelilingnya terasa kabur, hanya satu pikiran yang berputar di kepalanya, ia harus segera ke rumah sakit.

‎‎Ia masuk ke dalam mobil, menaruh ponsel mati itu di kursi penumpang, lalu menyalakan mesin dengan tangan yang sedikit gemetar. Jalanan terasa begitu lambat, setiap lampu merah terasa seperti selamanya. Ia menekan pedal gas sedikit lebih dalam dari biasanya, napasnya tak pernah benar-benar teratur.

‎‎Sesampainya di rumah sakit, ia berlari menuju meja informasi.

‎"Permisi... di mana ruang perawatan Nyonya Alina Elviana?" tanyanya terengah, matanya menatap petugas di sana dengan cemas.

‎‎Petugas itu mengecek sejenak, lalu memberikan nomor ruang dan lantainya. Revan berlari kembali menuju lift, jantungnya berpacu kencang seakan mau melompat keluar dari dada.

‎‎Pintu lift terbuka di lantai rawat inap. Revan melangkah keluar cepat, langkah kakinya bergema di lorong yang sepi. Di ujung lorong, di depan ruang rawat nomor 312, terlihat Rafael berdiri sendirian mematung di dekat jendela kaca pintu. Andika, Diah, dan Kayla duduk di bangku tunggu tak jauh dari sana, sementara Heru dan Nova baru saja masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk putri mereka.

‎‎Rafael mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat. Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya. Saat melihat Revan, bahunya seketika runtuh. Ia melangkah satu langkah mendekat, suaranya bergetar parau.

‎"Dia belum sadar, Revan... aku hancur. Ini semua salahku."

‎‎Kata-kata itu baru saja terucap, ketika tangan Revan tiba-tiba mencengkeram kerah kemeja Rafael dengan kuat, menariknya hingga terpaksa berdiri tegak di hadapannya. Sebelum Rafael sempat bereaksi, sebuah bogem mentah mendarat keras di pipi Rafael. Bunyi benturan itu samar namun nyata di lorong yang hening.

‎‎Rafael terhuyung mundur, menepuk pipinya yang terasa perih dan panas. Matanya membelalak menatap Revan yang dadanya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak.

‎‎Revan menunjuk pintu ruangan di belakang mereka dengan jari yang gemetar, suaranya rendah namun bergetar penuh amarah.

‎"Kalau kamu tidak bisa mencintainya dengan benar... setidaknya jangan pernah sakiti dia!"

-

-

-

Bersambung...

1
Mia Camelia
ayo revan rebut Alina yukk🤣🤣🤣
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!