Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Keesokan harinya, matahari terbit dengan cerah, membawa kehangatan pagi yang menyegarkan.
Di Vila Raja, Jiang Muchen baru saja selesai sarapan bersama anak-anaknya. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelelahan atau ketegangan di wajahnya. Dia adalah ayah yang sempurna di pagi hari.
Wrrrrmmm.
Dartz Prombron hitam pekat itu kembali melaju membelah jalanan Jiangcheng, mengantarkan Zihan dan Ziyue menuju TK Internasional Royal Bintang Lima.
Setibanya di depan lobi, Shen Yueru sudah menunggu dengan senyum manisnya yang biasa. Hari ini dia mengenakan gaun selutut berwarna biru muda yang membuatnya terlihat semakin segar dan cantik alami.
"Selamat pagi, Tuan Muda Zihan, Nona Ziyue. Selamat pagi, Tuan Jiang," sapa Shen Yueru lembut, membungkukkan badannya sedikit.
"Pagi, Guru Shen!" Ziyue langsung memeluk kaki guru favoritnya itu, sementara Zihan memberikan salam hormat yang sopan.
Jiang Muchen menatap Shen Yueru dengan sorot mata tenang namun bersahabat.
"Guru Shen, wajahmu terlihat lebih cerah hari ini. Apakah lukamu kemarin sudah tidak sakit?"
Shen Yueru menyentuh pipinya secara refleks, rona merah langsung menjalar di wajahnya karena perhatian kecil dari Jiang Muchen.
"S-sudah jauh lebih baik, Tuan Jiang. Salep yang dikirimkan oleh Kepala Sekolah Lin kemarin sangat ampuh. Terima kasih banyak atas perhatian Anda."
"Baguslah. Aku akan meninggalkan mereka dalam perawatanmu hari ini. Aku memiliki beberapa urusan bisnis penting yang harus diselesaikan untuk membersihkan sedikit kotoran di kota ini," ucap Jiang Muchen.
Shen Yueru mengangguk patuh, meski dia tidak mengerti apa maksud dari 'membersihkan kotoran' tersebut. Di matanya, Jiang Muchen adalah pria hebat yang sangat sibuk.
Setelah memastikan anak-anaknya masuk ke dalam kelas dengan aman, Jiang Muchen kembali ke mobilnya.
Ciiit.
Jiang Muchen memutar kemudi, mengarahkan monster baja itu menuju pusat distrik komersial Jiangcheng. Targetnya hari ini adalah Markas Besar Grup Real Estat Naga Hitam, perusahaan raksasa miliknya yang bernilai puluhan miliar Yuan.
Gedung pencakar langit berlapis kaca biru itu menjulang setinggi enam puluh lantai, mendominasi cakrawala bisnis Jiangcheng.
Saat Dartz Prombron milik Jiang Muchen berhenti di depan lobi VIP, barisan eksekutif tingkat atas sudah berdiri berjejer menunggunya. Di barisan paling depan, Direktur Wang berdiri dengan postur sangat tegap, kemejanya disetrika sangat rapi, dan rambutnya diklimis hingga mengkilap.
Pintu mobil terbuka, dan Jiang Muchen melangkah turun.
"Selamat datang di markas besar, Bos Besar!"
Suara puluhan eksekutif bergema serentak di lobi utama yang luas itu, membuat para karyawan biasa dan tamu perusahaan menoleh dengan rasa terkejut. Mereka bertanya-tanya siapa pria muda berpakaian kemeja putih sederhana yang bisa membuat seluruh jajaran direksi menunduk hormat seperti itu.
Jiang Muchen tidak mempedulikan tatapan orang-orang. Dia berjalan lurus melewati lobi, auranya yang mendominasi membuat barisan eksekutif itu otomatis membelah jalan untuknya.
Ting.
Pintu lift khusus VVIP terbuka di lantai enam puluh. Jiang Muchen melangkah masuk ke dalam ruang rapat utama yang memiliki dinding kaca panorama menghadap seluruh penjuru kota. Dia berjalan menuju ujung meja oval panjang dari kayu eboni dan duduk di kursi utama.
Direktur Wang dan lima eksekutif inti lainnya mengambil tempat duduk dengan sangat hati-hati, tidak berani bersandar pada kursi mereka.
"Direktur Wang," panggil Jiang Muchen memecah keheningan.
"Y-ya, Bos Besar! Apa instruksi pertama Anda untuk kami hari ini?" jawab Direktur Wang dengan cepat, buku catatan sudah siap di tangannya.
"Aku membaca laporan keuangan semalam. Grup Naga Hitam saat ini merupakan pemasok material utama dan pemodal sekunder untuk tiga proyek properti komersial milik Grup Zhao, benar?"
"Benar sekali, Bos. Grup Zhao sangat bergantung pada material baja dan semen dari anak perusahaan kita, serta kucuran dana pembangunan berkelanjutan. Kontraknya bernilai sekitar tiga miliar Yuan."
"Mulai detik ini, batalkan semua kontrak itu."
Perintah Jiang Muchen diucapkan dengan sangat datar, namun efeknya seperti bom nuklir di dalam ruang rapat tersebut.
Para eksekutif saling berpandangan dengan wajah pucat. Direktur Wang menelan ludah dengan susah payah.
"B-Bos Besar... membatalkan kontrak sepihak sebesar itu berarti kita harus membayar denda penalti jutaan Yuan. Selain itu, proyek tersebut didukung oleh departemen tata kota Jiangcheng. Jika kita tiba-tiba memutus pasokan, Grup Zhao pasti akan menggunakan koneksi pemerintah mereka untuk menekan kita secara hukum. Izin proyek-proyek masa depan kita bisa dibekukan oleh pemerintah kota."
Jiang Muchen tersenyum tipis. Senyum yang membuat suhu di ruangan itu terasa turun belasan derajat.
Dia merogoh saku kemejanya perlahan, lalu mengeluarkan sebuah benda logam dan melemparnya ke tengah meja eboni.
Klak.
Suara logam berbenturan dengan kayu bergema pelan.
Mata Direktur Wang dan para eksekutif lainnya langsung tertuju pada benda tersebut. Itu adalah lencana perunggu gelap dengan ukiran harimau bersayap.
Mata Direktur Wang terbelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Sebagai pemain lama di industri real estat yang selalu berurusan dengan pemerintah dan militer, dia sangat tahu benda apa itu.
"I-itu... Lencana Harimau Song... Lencana komando tertinggi dari Keluarga Jenderal Song..." gumam salah satu eksekutif senior dengan bibir bergetar hebat.