“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Gerbang Para Raja
Yang Xuan masih memikirkan nama yang baru saja disebutkan ayahnya. Qin Xuan, pemuda yang berhasil menduduki peringkat pertama dalam Peringkat Manusia, memiliki nama yang sama dengan tunangannya dari Kota Qingquan.
Namun, setelah mempertimbangkannya, ia segera menggeleng pelan.
Tidak mungkin mereka orang yang sama.
Yang Xuan mengenal kemampuan Qin Xuan sebelum Dantiannya hancur. Bahkan ketika masih menjadi murid berbakat Sekte Bintang Langit, pemuda itu hanya mencapai batas kekuatan tingkat kedua dalam sistem sembilan tingkatan. Setelah kehilangan Dantiannya, ia seharusnya tidak mungkin berkultivasi lagi.
Sementara itu, pendekar yang baru menduduki peringkat pertama memiliki kekuatan sedikitnya tujuh puluh tujuh banteng. Keduanya jelas memiliki perbedaan yang terlalu besar.
Yang Xuan sendiri baru berusia delapan belas tahun, tetapi telah melampaui batas kekuatan tingkat keempat. Bakat tersebut membuatnya diterima langsung di Halaman Mendalam Akademi Bela Diri Tianyuan.
Dengan masa depan yang begitu menjanjikan, ia semakin sulit menerima pertunangan yang telah diatur keluarganya.
Di kursi utama, Yang Shan memperhatikan putrinya sekilas sebelum kembali memandang para tetua.
Sebagai kepala keluarga, ia ingin memperkuat kedudukan Keluarga Yang melalui hubungan dengan orang-orang berpengaruh. Jika memungkinkan, ia bahkan ingin menjalin hubungan dengan jenius yang baru menduduki peringkat pertama itu.
Seandainya pemuda tersebut bersedia menjadi menantunya, kedudukan Keluarga Yang mungkin dapat meningkat hingga mendekati Keluarga Nangong.
Ketika Yang Shan masih mempertimbangkan kemungkinan itu, seorang tetua tiba-tiba berbicara.
“Kepala Keluarga, kita memang belum mengetahui asal-usul Qin Xuan yang menduduki peringkat pertama. Namun, bukankah tunangan Nona Xuan juga bernama Qin Xuan?”
Beberapa tetua langsung menoleh kepadanya.
“Tetapi Qin Xuan dari Kota Qingquan sudah kehilangan Dantiannya,” lanjut tetua tersebut.
“Sekarang Nona Xuan telah diterima di Akademi Bela Diri Tianyuan. Apakah pertunangan itu masih perlu dipertahankan?”
Tetua lainnya segera menyetujui pendapat tersebut.
“Benar. Masa depan Nona Xuan sangat cerah. Jangan sampai pertunangan lama menghalangi perkembangannya.”
“Kalau Qin Xuan masih menjadi tuan muda Sekte Bintang Langit, mungkin pertunangan itu masih bisa dipertimbangkan. Namun, sekarang dia bahkan tidak mampu berkultivasi.”
Yang Shan sebenarnya sudah lama ingin membatalkan pertunangan tersebut. Baginya, bakat Yang Xuan terlalu berharga untuk disia-siakan. Ia bahkan berharap putrinya kelak dapat menjalin hubungan dengan keluarga kekaisaran.
Namun, ia tidak ingin dikenal sebagai orang yang mengingkari janji.
Karena itu, Yang Shan menggeleng dengan wajah seolah keberatan.
“Tidak bisa. Keluarga Yang tidak boleh sembarangan membatalkan kesepakatan yang telah dibuat.”
“Kepala Keluarga,” seorang tetua kembali membujuk, “kita bisa memberikan kompensasi kepada Keluarga Qin. Mereka hanyalah keluarga kecil di Provinsi Barat Daya. Dengan begitu, kedua pihak tidak perlu memperpanjang persoalan ini.”
Para tetua lainnya ikut menyampaikan persetujuan.
Setelah mendengarkan mereka, Yang Shan akhirnya memandang putrinya.
“Xuan'er, bagaimana pendapatmu? Ayah ingin mendengarnya langsung darimu.”
Yang Xuan berdiri. Ia menundukkan kepala sebentar sebelum menjawab dengan mantap.
“Aku akan mengikuti keputusan Ayah. Namun, aku juga ingin pertunangan itu dibatalkan. Qin Xuan sudah tidak bisa berkultivasi. Jika kami tetap menikah, masa depanku dan kepentingan keluarga akan ikut terpengaruh.”
Ia memang tidak pernah menyukai pertunangan tersebut. Sejak kecil, Yang Xuan bercita-cita mencapai puncak bela diri. Lelaki yang kelak mendampinginya harus memiliki kekuatan dan bakat yang sepadan.
Dalam pikirannya, pemuda yang baru menduduki peringkat pertama jauh lebih pantas menjadi pasangannya daripada Qin Xuan dari Kota Qingquan.
Yang Shan menghela napas panjang, seolah terpaksa menerima keputusan itu.
“Baiklah. Kali ini Ayah akan mengikuti keinginan kalian. Beberapa hari lagi, Keluarga Qin akan mengadakan upacara besar. Kirim seseorang ke sana untuk membatalkan pertunangan dan membawa kompensasi yang pantas.”
Mendengar keputusan tersebut, para tetua tampak lega. Yang Xuan pun tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
Sementara Keluarga Yang sedang merencanakan pembatalan pertunangan, Qin Xuan sama sekali tidak mengetahui pembicaraan tersebut.
Di Tangga Ujian Langit, tubuhnya masih diselimuti hujan cahaya yang berasal dari Jejak Bela Diri para pendekar Peringkat Manusia.
Energi murni terus memasuki tubuhnya, mempercepat penyatuan sisa Darah Sejati Iblis Pedang.
Bayangan banteng muncul satu demi satu.
Sembilan puluh lima.
Sembilan puluh enam.
Sembilan puluh tujuh.
Hingga akhirnya, sembilan puluh sembilan bayangan banteng mengelilingi Qin Xuan.
Ia telah mencapai batas kekuatan tertinggi yang dikenal dalam Alam Bela Diri Sejati.
Bahkan sebagian besar pemilik Pagoda Pemakaman Langit pada masa lalu hanya mampu mencapai kekuatan sembilan puluh sembilan banteng.
Namun, Qin Xuan justru mengerutkan kening.
Aneh. Mengapa aku merasa masih bisa menjadi lebih kuat?
Secara teori, sembilan puluh sembilan banteng merupakan batas tertinggi alam tersebut. Akan tetapi, Qin Xuan tidak merasakan hambatan yang biasanya muncul ketika seorang pendekar mencapai batas kekuatannya.
Karena penasaran, ia segera memasuki Pagoda Pemakaman Langit untuk menemui sosok misterius di dalamnya.
“Senior, aku sudah mencapai kekuatan sembilan puluh sembilan banteng,” kata Qin Xuan.
“Namun, rasanya aku masih bisa melangkah lebih jauh. Apakah ada tingkatan lain di atasnya?”
Sosok misterius itu memandangnya dengan tatapan berbeda.
“Kau bisa merasakan kemungkinan tersebut?” tanyanya. “Sepertinya Tubuh Dewa Segala Hukum memang luar biasa. Tidak mengherankan jika Pagoda Pemakaman Langit memilihmu.”
Qin Xuan menunggu penjelasannya.
“Perasaanmu benar. Di atas kekuatan sembilan puluh sembilan banteng, masih ada batas mutlak yang sesungguhnya, yaitu seratus banteng.”
“Seratus banteng?” Qin Xuan terkejut.
“Namun, tingkatan itu hampir hanya dikenal dalam legenda,” lanjut sosok misterius tersebut.
“Sejak zaman dahulu, banyak jenius menghabiskan seluruh kemampuan mereka untuk mencapainya, tetapi tetap gagal.”
Qin Xuan semakin penasaran.
“Kalau begitu, bagaimana caranya mencapai kekuatan seratus banteng?”
“Kesempatan yang tepat.”
Melihat Qin Xuan belum memahami maksudnya, sosok misterius itu melanjutkan penjelasannya.
“Perbedaan antara sembilan puluh sembilan dan seratus banteng memang terlihat kecil. Namun, ketika batas itu ditembus, tubuh dan kehidupan seseorang akan mengalami perubahan mendasar. Itu bukan peningkatan kekuatan biasa.”
“Bahkan dengan Tubuh Dewa Segala Hukum, kau tetap membutuhkan sesuatu yang dapat memicu perubahan tersebut.”
“Pemicu?” Qin Xuan mengulang dengan alis berkerut.
Sosok misterius itu tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Qin Xuan akhirnya meninggalkan pagoda dan kembali ke Tangga Ujian Langit.
Awalnya, ia berniat mengakhiri ujian setelah mencapai peringkat pertama. Namun, ketika memandang tangga yang masih membentang ke atas, rasa penasarannya kembali muncul.
Kalau sudah sampai sejauh ini, sekalian saja kulihat apa yang ada di ujungnya.
Dengan kekuatan sembilan puluh sembilan banteng, Qin Xuan melanjutkan pendakian tanpa kesulitan berarti.
Tidak lama kemudian, ia mencapai anak tangga kedelapan ratus sepuluh.
Di sanalah Tangga Ujian Langit berakhir.
Tekanan pada anak tangga terakhir membutuhkan kekuatan sembilan puluh sembilan banteng untuk menahannya. Namun, perhatian Qin Xuan justru tertuju pada sebuah gerbang batu yang berdiri di hadapannya.
Gerbang tersebut memiliki tinggi sekitar sepuluh meter. Permukaannya dipenuhi tulisan kuno dan ukiran rumit yang belum pernah dilihat Qin Xuan sebelumnya.
Di bagian atasnya terukir tiga karakter kuno yang membentuk sebuah nama.
Gerbang Para Raja.
Qin Xuan membaca tulisan itu dengan penuh rasa ingin tahu. Ia kemudian meletakkan kedua telapak tangannya pada permukaan gerbang dan mulai mendorong.
Gerbang batu tersebut sangat berat. Namun, setelah Qin Xuan mengerahkan tenaga, kedua daun pintunya perlahan bergerak.
Suara gemuruh menggema ketika gerbang terbuka.
Di baliknya terbentang sebuah aula kuno yang luar biasa luas.
Pilar-pilar batu menjulang tinggi di kedua sisi, seolah menopang langit. Di bawahnya berdiri patung-patung prajurit berzirah yang tingginya mencapai ratusan meter.
Namun, semuanya tampak kecil dibandingkan singgasana batu yang berada di ujung aula.
Singgasana tersebut menjulang hingga ribuan meter. Di atasnya duduk sebuah patung lelaki paruh baya yang mengenakan jubah bergambar bintang dan mahkota di kepalanya.
Kedua tangannya bertumpu pada sandaran singgasana, sementara matanya terpejam.
Qin Xuan mendongak, berusaha melihat keseluruhan patung tersebut.
Di hadapan bangunan sebesar itu, dirinya terasa tidak lebih besar daripada seekor semut.
Siapa yang membangun tempat ini?
Ia memandang deretan patung prajurit, lalu kembali menatap sosok yang duduk di singgasana.
Dan siapa sebenarnya lelaki yang mereka kelilingi itu?
Qin Xuan belum menemukan jawabannya. Namun, ia mulai menyadari bahwa Gerbang Para Raja mungkin menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada ujian Peringkat Manusia.
......................
Bersambung...