Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Jantung Gladys terasa hampir meloncat keluar dari rongga dadanya.
Tekanan berlapis ini menghimpitnya dari segala arah: ancaman Praduta di ponsel yang meminta ditemui, tatapan curiga Papa Devandra, serta kepolosan Raka yang sama sekali tidak tahu bahaya mengintai istri tercintanya.
"Sayang, maaf aku tidak bisa mengantar mu ke kafe DeGla. Aku ada rapat pagi ini," ucap Raka sambil meneguk sisa tehnya, lalu berdiri dan meraih jas kantornya yang tersampir di kursi.
"I-iya, Mas. Tidak apa-apa," sahut Gladys dengan senyum kaku yang dipaksakan.
Sebelum Gladys sempat bernapas lega karena Raka harus segera berangkat, suara bariton Papa Devandra memotong udara dapur dengan mutlak.
"Biar Papa yang mengantar Gladys."
Deg!
Darah Gladys mendadak berdesir dingin. Diantar oleh Papa Devandra—pria paling curiga yang sedang mengawasi gerak-geriknya—sama saja menyerahkan diri ke dalam kandang macan.
Jika Papa Devandra ikut ke kafe atau bahkan melihatnya menemui Praduta, kehancuran mutlak akan langsung menimpa hidupnya.
"T-tidak usah, Pa." tolak Gladys cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik yang teramat sangat.
"Ada Pak Minto,"
Papa Devandra menyeringai tipis, memotong alasan Gladys tanpa celah.
"Pak Minto masih di rumah bersama Kirana, yang nanti langsung ke kafe."
Argumen Gladys langsung mati. Pak Minto, sopir keluarga, baru akan mengantar putrinya nanti siang.
Tidak ada lagi alasan untuk menolak tawaran mengerikan dari sang mertua.
Terjepit di antara teror Praduta dan interogasi terselubung Papa Devandra, Gladys hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan lemas. Ia tahu ia tidak punya pilihan.
"B-baik, Pa. Aku ganti baju dulu sebentar," cicit Gladys.
Ia langsung bangkit dari kursi dan berjalan setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Begitu pintu kamar tertutup, air mata ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja.
Dengan tangan gemetar hebat, ia menyambar pakaian ganti dan bersiap menghadapi perjalanan paling mendebarkan dalam hidupnya.
Gladys segera merapikan penampilannya, memastikan sisa air matanya tidak terlihat mencolok, lalu turun kembali ke lantai bawah.
Di ruang depan, Raka tampak sedang merapikan dasinya sebelum benar-benar berangkat ke kantor.
Melihat istrinya turun, Raka langsung tersenyum hangat dan merentangkan tangannya sejenak.
Gladys melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan penuh rasa bersalah yang menyesakkan dada.
Sebelum berbalik menuju mobil, Raka menangkup wajah Gladys dan mendaratkan kecupan lembut di kening wanita itu.
"Hati-hati di jalan ya, Sayang. Nanti sore kalau sempat, aku jemput ke kafe," bisik Raka penuh perhatian.
Gladys hanya bisa mengangguk pelan dengan tenggorokan yang tercekat, lalu berjalan keluar rumah.
Di halaman samping, mobil sedan hitam milik keluarga sudah terparkir.
Papa Devandra duduk di kursi kemudi, menunggunya dengan postur tegap dan ekspresi wajah yang sedingin es.
Gladys membuka pintu mobil di sisi yang berlawanan dan masuk ke dalam kabin.
Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil langsung berubah menjadi sangat mencekam.
Tidak ada suara radio, tidak ada sapaan basa-basi. Udara di dalam kabin terasa begitu tipis dan menyesakkan, seolah dipenuhi oleh tekanan tak kasat mata yang bersumber dari pria paruh baya di sampingnya.
Papa Devandra bahkan tidak melirik ke arahnya. Tatapan pria itu lurus ke depan, mengawasi jalanan perumahan yang mulai ditinggalkan, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk pelan lututnya—sebuah gestur penuh perhitungan yang membuat jantung Gladys berdegup liar.
Mobil meluncur meninggalkan gerbang rumah, membawa Gladys menuju pertarungan psikologis yang jauh lebih mengerikan, di mana setiap detik rasanya bisa meledakkan rahasia besar yang ia sembunyikan.
Mobil sedan hitam yang dikemudikan Papa Devandra itu membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang.
Di kursi depan, jarak antara Gladys dan Papa Devandra terasa begitu dekat, namun sekaligus bagaikan jurang pemisah yang siap menelannya hidup-hidup.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara.
Suasana di dalam kabin begitu sunyi, tetapi ketegangannya berdengung keras di telinga Gladys.
Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan perlahan.
Pikiran Gladys berkecamuk hebat—ia harus segera memikirkan cara untuk menghadapi Praduta di kafe nanti tanpa membuat Papa Devandra curiga, atau lebih buruk lagi, tanpa membuat mertuanya itu melihat langsung pertemuan mereka.
Dari ekor matanya, Gladys bisa melihat Papa Devandra perlahan menoleh.
Pria paruh baya itu akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar tenang namun mengandung otoritas mutlak yang menusuk tulang.
"Kamu sepertinya sangat gelisah, Gladys," ucap Papa Devandra tanpa mengalihkan pandangannya dari samping, mengamati setiap gerak-gerik menantunya yang kaku.
"Ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dari Raka atau dari keluarga ini?"
Gladys menarik napas dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga untuk meredam gemetar di sekujur tubuhnya.
Ia menoleh perlahan, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya meski tenggorokannya terasa kering kerontang.
"T-tidak ada apa-apa, Pa." jawab Gladys dengan nada yang diusahakan sesantai mungkin.
Ia menundukkan pandangannya, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.
"Aku hanya merasa akhir-akhir ini memang sedikit kelelahan mengurus operasional kafe DeGla. Mungkin itu yang membuatku terlihat murung atau kurang tidur."
Papa Devandra tidak langsung merespons. Pria paruh baya itu menatap Gladys lekat-lekat, menilai setiap gerak-gerik dan ekspresi wajah menantunya itu dengan tatapan seorang predator yang sedang mengamati buruannya.
Hening kembali merayap di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin, membuat keringat dingin justru merembes di pelipis Gladys.
Beberapa detik kemudian, Papa Devandra menolehkan wajahnya ke arah jendela samping, membiarkan embusan napas berat lolos dari bibirnya.
Kata-kata yang keluar selanjutnya dari mulut pria itu justru terasa jauh lebih menohok daripada sebuah bentakan.
"Papa sendiri tidak tahu apa yang sedang kamu sembunyikan, Gladys," ujar Papa Devandra dengan suara datar namun penuh bobot dingin yang menusuk hati.
"Tapi ingat satu hal,"
Pria itu kembali menoleh, menghunjamkan manik matanya tajam-tajam kepada Gladys.
"Keluarga Devandra menjunjung tinggi kehormatan. Jika kamu memang merasa tidak sanggup lagi atau tidak bisa mempertahankan pernikahan ini dengan jujur, jalan keluarnya bukan berbuat hal-hal bodoh di belakang Raka."
Papa Devandra berhenti sejenak, memberikan jeda yang membuat udara di dalam mobil terasa kian menipis.
"Lebih baik kamu bicara jujur dan bercerai, daripada mencoreng nama baik keluarga kami dengan kebusukan yang kamu simpan sendiri."
Deg!
Kalimat itu menghantam dada Gladys bagaikan palu godam.
Kata bercerai meluncur begitu saja dari bibir sang mertua, membawa beban kenyataan yang teramat berat.
Raka begitu mencintainya, dan gagasan tentang perpisahan terasa jauh lebih mengerikan ketimbang ancaman yang ditebarkan oleh Praduta.
Sebelum Gladys sempat merangkai kata atau membela diri, mobil sedan hitam itu akhirnya memperlambat lajunya dan berhenti tepat di depan pelataran ruko Kafe DeGla.
Di kejauhan, kafe tampak masih sepi karena baru saja buka, namun di sudut seberang jalan, sebuah bayangan sosok pria berdiri bersandar di balik pilar trotoar—menatap tajam ke arah mobil mereka dengan senyuman penuh kemenangan.
Kata-kata Papa Devandra tentang perceraian masih terus menggema di telinga Gladys, menghantam batinnya hingga terasa remuk.
Dengan tangan yang kaku dan dada yang sesak, Gladys mendorong pintu mobil lalu melangkah turun ke halaman kafe DeGla.
Ia tidak berani menoleh lagi ke belakang. Mobil sedan hitam Papa Devandra perlahan melaju pergi, meninggalkan pelataran kafe dan membelah jalanan raya.
Namun, kelegaan yang Gladys harapkan sama sekali tidak kunjung datang.
Saat Gladys mempercepat langkahnya menuju pintu depan kafe yang masih sepi, bayangan tinggi besar mendadak memotong jalannya.
Praduta sudah berdiri di sana, menunggunya persis di balik pilar dekat pintu masuk.
Sorot matanya liar, dipenuhi kombinasi antara kepemilikan dan obsesi yang makin tak terkendali.
Gladys tersentak kaget. Sebelum ia sempat menjerit atau melangkah mundur untuk kabur, Gladys buru-buru memutar kunci dan mendorong pintu kaca kafenya agar bisa berlindung di dalam.
Namun, Praduta bergerak jauh lebih cepat.
Pria itu menyusup masuk mengekor di belakangnya.
Begitu pintu kaca tertutup merapat, Praduta mendorong tubuh Gladys ke dinding terdekat di balik area remang kafe yang belum sepenuhnya menyala.
"Pra—!"
Ucapan Gladys terputus seketika. Tanpa memberi ruang sedikit pun untuk bernapas atau membela diri, Praduta langsung mencengkeram kedua bahu Gladys dan mendaratkan ciuman paksa di bibir wanita itu.
Ciuman yang penuh desakan, brutal, dan sarat akan tuntutan mutlak bahwa Gladys adalah miliknya.
Gladys membeku kaku di bawah himpitan tubuh Praduta.
Air mata ketakutan dan penyesalan langsung menetes membasahi pipinya, bercampur dengan rasa bersalah yang teramat dalam kepada Raka.