Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Setelah papa Jodi pergi, Nadia kembali ke dalam dan menghampiri Jayden. "Masih sakit?" tanya Nadia lalu mengandeng lengan Jay lagi.
Jay bingung dengan perubahan sikap Nadia yang terbilang drastis.
"Sakit," rengek Jay yang tak mau membuang kesempatan.
"Cih. Jalan sendir!" bahkan sikap Nadia kembali berubah ketus pada Jayden dalam hitungan detik.
Dan bukan Jay yang tak kehabisan akal, cowok itu memeluk badan Nadia dari beakang, seolah Jay ingin di gendong oleh Nadia.
"Jay, lo itu berat berasa kecil badan lo? hah?"
Nadia sempoyongan dengan satu paper bag mewah yang ia terima.
"Itu buang aja deh, nanti gue beliin buat lo kalau lo suka, sama tokonya kalau perlu,"
"Jangan di buang, sayang anjir."
Kini mereka kembali ke kamar, Nadia dengan antusias membuka paper bag yang ia terima dari Jodi Mahendra.
"Waahhh.... Satu set perhiasan cuy," serunya dan Jay memutar bola matanya malas.
"Pasangin dong," pinta Nadia pada Jay untuk memasang kalung ke lehernya.
"Jelek!" Ketus Jay tak suka.
"Apaan sih, gaje deh, bagus begini di bilang jelek."
ini," "Buang! Nanti gue beliin yang lebih bagus dari
Mata Nadia berbinar saat mendengar Jay akan membelikan dirinya satu set perhiasan juga.
"Serius? Di beliin? Beneran atau prank ini?" seru Nadia menoleh ke ara Jay.
"Kapan gue nggak pernah serius sama lo sih? hidup gue bahkan udah gue taruhin buat lo sayang, masih aja nggak percaya." dengus Jay melengos.
Tiba - tiba Nadia memeluk Jay dengan senyum yang sumringah, "Kalau begini kan gue jadi seneng," jay masih mematung tak percaya jika Nadia memeluk dirinya terlebih dahulu.
"Lo mau apa sih baby? pasti gue beliin, asal lo terus selalu ada di samping gue," Jay menatap netra Nadia dengan dalam.
"Pasti sakit ya?" tanya Nadia memeluk dan mengusap pelan di punggung Jay pelan.
"lya sakit, sakit banget malah, makanya lo jangan galak- galak sama gue, coba lo kasih sun pasti langsung sembuh deh luka gue ini."
"Serius?" Ekspresi Nadia begitu serius.
"Kapan gue bohong sayang?"
Dan .... Cup! Nadia mengecup bibir Jayden sekilas. "Sembuh nggak?" tanya Nadia dengan polosnya.
Sebentar Jayden mematung, lalau netranya beralih pada benda yang sedikit bervolume itu dengan warna merah jambu yang menggoda.
"Yang lama, baru bisa sembuh," Jay menarik tengkuk leher Nadia dan merebahkan badan Nadia di atas kasur dengan mudahnya.
"Jay....!" panggil Nadia yang sudah tidak dapat Jay dengar dengan kesadaran.
Jay membuka mulutnya dan mulai menci um bi bir Nadia dengan perlahan, jay bahkan sedikit menggigit agar Nadia mau membuka bi birnya.
Kali ini, Nadia tak segan lagi untuk membalas perlakuan jay, cewek itu dengan tanpa malu lagi membalas pergerakan Jay yang mulai menyusuri dan menjelajahi di setiap inci.
Nafas keduanya mulai negos- ngosan tapi entah kenapa keduanya tak mau ada yang mengalah dan berhenti dari aktivitas tersebut.
Bahkan Nadia tak segan lagi untuk menyisir rambut Jay dengan jemarinya yang mungil, membuat Jay merasa sensasi yang lebih berbeda dari biasanya.
Hah.. hah.. hah..
Kedua netra Jay dan Nadia saling beradu, hidung mereka masih saling menempel dengan nafas yang sama - sama berderu.
Jay menarik sudut bibirnya, ia merasa bahwa Nadia sudah sedikit luluh dengan dirinya hingga mau melakukan dengan sama-sama li arnya.
"Sembuh?" Jay terkekeh saat Nadia dengan polosnya bertanya.
Dan Jay menganggguk pelan, " Sembuh sayang," cup. dan Jay mengecup hidung Nadia sekilas karena gemas.
"Masa sih?" Nadia masih tak yakin dan akhirnya bangun dan ingin melihat luka di punggung Jayden.
"Mau ngapain?" tanya Jay bingung.
"Gue bohong, di mana ada luka sembuh dengan Ciu man baby," tukas Jay mencubit pipi Nadia yang sedikit gembul.
"Lo bohongin gue?"
"Lo marah?"
Nadia ingin marah pun tak jadi, mengingat bahwa apa yang Jay alami saat ini, Nadia tahu walau jay belum mau bercerita sepenuhnya.
Nadia menggeleng sebagai jawaban " Tapi besok lo beliin gue satu set yang lebih bagus dari ini," dan kini Jay yang megangguk.
"Semua harta gue punya lo, beli apa yang lo mau sayang, gue nggak akan pernah ngelarang, selama lo ada di sisi gue," tukas Jay tulus.
"Ehem...' Nadia berdehem, menetralkan perasaanya yang entah mengapa saat ini seolah banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya.
"Muka lo kenapa merah? malu ya?" ledek jay dan Nadia menghindari tatapan Jay dengan memunggungi cowok itu.
"apaan sih gaje deh," ketus Nadia dengan detak jantung yang berkali kali lipat lebih cepat dari biasanya.
Jay memeluk Nadia dari belakang," Gue suami lo sayang, kenapa harus malu?" Jay mengecup leher Nadia dari belakang, membuat sang empu merinding karena deru nafas Jay yang menyapu.
"Jay geli," protes Nadia yang ingin melepaskan.
Tapi dering ponsel Nadia membuyarkan kedunya karena tertera nama Kevin di layar tersebut.
Dengan cepat Jay langsung merebut ponsel Nadia. dan menggeser tombol merah.
"Jay apaan sih? kok di matiin?"
"Lo masih berharap sama dia?" tegas Jay yang kini sudah berubah ekspresi.
"Nggak gitu Jay, siapa tahu itu penting dari sekolah,"
"Lo lupa siapa donatur terbesari sekolah itu? suami lo Nad, kalau emang ada hal penting, pasti udah ada yang kabarin gue lebih dulu," suara Jay mulai berat dan serak, ia tak suka jika cowok jelek itu selalu mengganggu rumah tangganya.
Di satu sisi, Nadia memang masih memberatkan Kevin, tapi di sisi lain dan untuk saat ini, Nadia tak mau membuat hati Jay juga terluka setelah apa yang ia terima dari perlakuan orang yang tega membuat punggungnya terluka.
"Sorry," Nadia menarik kelingking Jay karena Jay tak mau menatapnya. "Gimana kalau kita," ucapan Nadia tertahan, dia sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Hrmm...?" Jay menoleh, katakanlah Jay paling lemah jika bersama Nadia.
"Main kartu," ucap Nadia asal.
Jay menaikan satu alisnya. "Kartu apa?"
"Kartu apa ya? Domino? Atau remi? Gue juga nggak paham sebenarnya, hehe..."
"Nggak mau, gue ngambek!" Jay pura-pura merajuk. la ingin tahu bagaimana reaksi Nadia.
"Jangan ngambek dong, sorry deh, gue janji bakal jauhin Kevin. Tapi ya pelan-pelan," Nadia terus menarik jari kelingking Jay.
"Kalau gue minta lo berhenti sekolah gimana?"
"Hah? Kok gitu? Ya nggk bisalah, apa lagi bentar lagi kita lulus, masa berhenti," protes Nadia. "Jangan bilang lo nyuruh gue berhenti karena Kevin?" Imbuh Nadia.
"Kalau iya kenapa?"
"Hah???!!!! Bentar lagi lulus sayang, masa berhenti, sampe lulus lah sekolahnya."
"Home schooling kan bisa."
"Masa lo tega sih sama gue, home schooling kan nggak enak, nggak punya temen anjir."
"Temen lo yang itu bawa aja ke rumah, gampang kan?"
"Siapa? Mela? Nggak bisa gitu juga sayang, please dong bolehin gue sekolah di sekolahan sampe lulus." Nadia benar-benar memohon.
Jay mengulum bibirnya saat ia ingin menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, baru kali ini Jay mendegar Nadia memohon pada Jay.
"Ya ya ya.... Boleh ya?" Nadia kembali merengek.
"Tergantung."
"Tergantung apa sayang?" Kali ini Nadia benar-benar dalam mode manja dan merayu.
Jay menutup bibirnya yang akan kembali tersenyum saat melihat ekspresi Nadia yang membuatnya ingin sekali menyerbu saat itu juga, apa lagi mendengar Nadia berkali-kali memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Ya tergantung gimana sikap kamu ke aku," Jay merebahkan badanya dengan tengkurap karena luka di punggungnya masih terasa sakit.
Dan ponsel Nadia kembali berdering, tapi kali ini bukan Kevin pelakunya. Melainkan Mela sang sahabat Nadia yang menelepon.
"Kenapa Mel?" Tanya Nadia dengan melihat ke arah Jay.
"Lo kenapa nggak masuk sekolah? Ada urgent apa njir? Gue ke rumah lo ya sekarang!?" - pesan Mela.
"Nggak usah anjir, gue nggak apa-apa kok, besok juga gue masik sekolah, nggak usah ke rumah, lagian gue lagi ngak ada di rumah juga." - Nadia.
"Ye.... Di tengok sama temen malah nggak mau lo! Lagi pacaran ya lo sama Jayden? Si Kevin nanyain lo muli nih." - Mela.
Nadia melihat ke arah Jayden sekilas. Cowok itu bisa memejamkan matanya karena tahu jika dirinya berbalas pesan dengan Mela.
"Salamin aja ke Kevin. Besok gue iuga masuk gitu." - Nadia.
"Hemmmm...!!!" Jay berdehem seolah tahu isi pesan Nadia.
Nadia terkejut dan terbelalak. "Bisa bisanya dia mata lagi merem juga," gumam Nadia dalam hati.
"Ya udah nanti gue salamin deh."
Dan chatingan pun berakhir.
Nadia mendekati Jayden, menyisir rambut Jay kini seolah menjadi hobi baru Nadia. Cewek itu mengamati wajah tampan Jay yang ia rasa Jay bikan cowok seumurannya. Jay terlihat gagah dan tampan, belum lagi aura wibawa tapi BadBoy secara bersamaan. Membuat cowok itu semakin mempesona di mata kaum hawa.
"Laper nggak sayang? Kita belum makan loh," lirih Jay mendongak.
"Laper, tapi gue pengennya makan lo, boleh nggak?"
Tuk.
"Aww... Kok di sentil sih? Sakit tahu." Kesal Nadia protes.
"Nanti gue makan beneran baru tahu rasa, nangis sesegukan," ejek Jay.
"Tapi gue beneran," kata Nadia. Dan itu membuat Jay bangun dari rebahannya.
"Baby, jangan mancing, laki lo ini buas loh."
"Emangnya kenapa kalau buas? Kan udah sah."
Entah dari mana Nadia mempunyai keberanian hingga berani menantang Jayden dengan urusan hal itu. Padahal Nadia tahu betul jika dirinya masih belum bisa menerima Jay sepenuhnya.
"Jangan mancing kalau ujung-ujungnya gue harus nyolo lagi sayang, sakit tapi tak berdarah ituharus nyolo lagi sayang, sakit tapi tak berdarah itu loh."
Seketika Nadia tertawa terbahak-bahak karena mendengar jawaban Jay.
"Apaan sih? Kan aku cuma canda."
"Nggak lucu sayang, ini beneran udah bangun malah."
Nadia terbelalak dan seketika netra beralih dimana tempat sesuatu itu bangun.
"Tanggung jawab nggak?! Maksa nih!"
Nadia menelan ludahnya kasar, "Jangan di paksa sakit tahu."
Kini gantian Jay yang terbelalak. " Sayang kamu??!!" Dan Nadia kembali tertawa saat melihat ekspresi wajah Jay yang panik.
Nadia menjulurkan lidahnya mengejek Jay.