“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Reno Mulai Meminjam
Pagi itu Laras menerima pesan dari Reno sebelum sempat menghabiskan sarapannya.
Reno:
Ada waktu ketemu siang ini? Aku mau bicara sesuatu.
Laras membaca pesan itu dua kali.
Sejak Arkan pergi, Reno memang lebih sering datang ke rumah. Kadang membawa makanan, kadang mengajaknya keluar, dan sesekali menemani Ibu Retno berbincang di ruang tengah.
Kehadirannya membuat rumah tidak terlalu sepi.
Setidaknya, Laras merasa begitu.
Laras:
Ada apa?
Reno:
Ada peluang bagus. Aku mau jelaskan langsung. Ini agak pribadi.
Laras meletakkan ponsel.
Ia tidak langsung menjawab. Ada sesuatu dalam kalimat Reno yang membuatnya penasaran sekaligus sedikit waspada.
Namun, ia akhirnya mengetik.
Laras:
Baik. Kita makan siang.
Reno datang tepat waktu.
Ia mengenakan kemeja biru muda dan jam tangan yang selama ini sering dipakainya. Penampilannya rapi seperti biasa. Begitu melihat Laras, ia tersenyum dan menarik kursi untuknya.
"Kamu kelihatan capek," katanya.
"Kurang tidur."
"Masih memikirkan Arkan?"
Laras mengangkat wajah.
"Kenapa tiba-tiba membahas dia?"
"Enggak. Aku cuma melihat kamu beberapa hari ini sering melamun."
Laras mengambil gelas air putih.
"Ada banyak urusan yang harus kuselesaikan."
Reno mengangguk seolah memahami.
"Aku tahu. Apalagi setelah semuanya berubah."
Tidak ada yang menjawab.
Reno mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan beberapa halaman presentasi.
"Aku mau mengajak kamu masuk ke sebuah investasi."
Laras memperhatikan layar.
"Investasi apa?"
"Pengadaan barang untuk beberapa proyek perusahaan. Ada peluang kerja sama dengan pihak yang sudah punya jaringan. Modalnya diputar sebentar, kemudian keuntungan dibagi."
"Perusahaan mana?"
Reno menggeser layar.
"Beberapa rekanan. Aku sedang mengurus jalurnya."
Laras membaca sekilas angka-angka yang tertera.
Ada nilai pembelian, perkiraan keuntungan, dan jangka waktu pengembalian modal.
"Berapa lama?"
"Kurang lebih satu bulan."
"Satu bulan?"
"Iya. Bahkan bisa lebih cepat kalau prosesnya lancar."
Laras mengerutkan dahi.
"Kalau memang sebagus ini, kenapa kamu tidak menggunakan uang sendiri?"
Senyum Reno tidak langsung hilang, tetapi matanya berubah.
"Uangku sedang tertahan di tempat lain."
"Berapa kebutuhan modalnya?"
Reno menyebutkan sebuah angka.
Laras terdiam.
Jumlah itu bukan uang kecil.
Ia memang memiliki tabungan dari hasil pekerjaannya selama ini. Namun, tabungan tersebut bukan sesuatu yang bisa dikeluarkan begitu saja.
"Aku harus memikirkannya."
"Tentu. Aku enggak memaksa."
Reno menyimpan ponselnya.
"Tapi kesempatan seperti ini enggak datang setiap hari."
Laras menatapnya.
"Kenapa kamu menawarkannya kepadaku?"
Reno tersenyum kecil.
"Karena aku percaya kamu."
Jawaban itu membuat Laras terdiam.
"Dan aku tahu kamu punya kemampuan mengelola uang. Kamu bukan orang yang sembarangan mengambil keputusan."
Laras menunduk.
Sudah lama ia tidak mendengar seseorang memuji pertimbangannya.
Dulu, Arkan tidak pernah banyak bicara soal uang. Ia hanya mengurus berbagai kebutuhan rumah tanpa menjelaskan bagaimana semuanya bisa berjalan.
Sekarang, ketika ada orang yang mengajaknya mengambil keputusan keuangan, Laras justru merasa harus membuktikan bahwa dirinya mampu.
"Jangan terburu-buru," ujar Reno. "Aku cuma ingin kamu mendapat kesempatan."
Mereka melanjutkan makan siang.
Reno bercerita tentang beberapa orang yang menurutnya berhasil mendapatkan keuntungan dari peluang serupa. Ia menyebut nama-nama yang tidak terlalu dikenal Laras, tetapi cara bicaranya terdengar meyakinkan.
"Kalau berhasil, uangmu bisa berkembang tanpa harus menunggu kenaikan gaji."
"Memangnya sudah ada kontrak?"
"Ada proses administrasi yang sedang berjalan."
"Berarti belum ada?"
Reno tersenyum.
"Dokumennya sedang disiapkan. Kamu tahu sendiri, urusan bisnis tidak semuanya bisa selesai dalam sehari."
Laras mengangguk pelan.
Ia masih belum sepenuhnya yakin.
"Kalau aku memberikan uang, bagaimana jaminannya?"
Reno meletakkan sendok.
"Kamu menganggap aku orang asing?"
"Bukan begitu."
"Selama ini kita saling mengenal, Laras."
"Aku hanya ingin semuanya jelas."
Reno menarik napas.
"Aku mengerti. Tapi jangan sampai urusan administrasi membuat kita saling curiga."
Kalimat itu membuat Laras tidak nyaman.
"Aku tidak sedang mencurigaimu."
"Bagus."
Reno kembali tersenyum.
"Kita kan keluarga."
Laras terdiam sesaat.
Keluarga.
Kata itu terdengar sederhana, tetapi belakangan ia semakin sering mendengarnya dari Reno.
Ia mengingat bagaimana Reno selalu datang ketika dibutuhkan. Ketika rumah terasa kosong, ketika Ibu Retno ingin ditemani, atau ketika ia sendiri tidak tahu harus berbicara kepada siapa.
Reno ada.
Sementara Arkan sudah memilih pergi.
Laras akhirnya mengangguk.
"Aku akan melihat dulu tabunganku."
Reno terlihat lega.
"Terima kasih. Aku tahu kamu bisa memahami situasiku."
"Tapi aku belum menjanjikan apa pun."
"Tentu."
Reno tidak memperpanjang pembicaraan.
Namun, sebelum mereka meninggalkan restoran, ia kembali mengingatkan bahwa kesempatan tersebut memiliki batas waktu.
Laras pulang dengan pikiran yang semakin penuh.
Di rumah, Ibu Retno sedang duduk di ruang tengah.
Begitu melihat Laras masuk, ia langsung bertanya.
"Dari mana?"
"Makan siang dengan Reno."
"Reno yang mengajak?"
"Iya."
Ibu Retno tersenyum.
"Anak itu memang perhatian. Tidak seperti orang yang dulu tinggal di rumah ini."
Laras tidak menanggapi.
Ia meletakkan tas di sofa, lalu mengambil air minum.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Ibu Retno.
"Reno menawarkan investasi."
"Investasi?"
Laras mengangguk.
"Dia membutuhkan modal untuk peluang kerja sama pengadaan barang."
"Berapa?"
Laras menyebutkan jumlahnya.
Wajah Ibu Retno langsung berubah.
"Sebesar itu?"
"Belum tentu aku ikut."
"Kenapa belum tentu?"
"Karena aku harus memastikan dulu."
Ibu Retno mendecakkan lidah.
"Kalau Reno sudah menawarkan, berarti dia sudah memikirkan semuanya."
"Justru itu. Aku belum melihat dokumennya."
Ibu Retno menatap putrinya.
"Kamu harus mulai memikirkan masa depan. Jangan terus-menerus takut mengambil keputusan hanya karena pernah salah memilih suami."
Ucapan itu membuat Laras terdiam.
Ia tidak suka ketika setiap persoalan kembali dikaitkan dengan Arkan.
Namun, ia juga tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Aku akan memeriksanya dulu."
"Ya sudah. Tapi jangan sampai Reno kecewa."
Ibu Retno kembali duduk.
Laras membawa gelasnya ke kamar.
Malamnya, Laras membuka laptop dan memeriksa kembali presentasi yang dikirim Reno melalui pesan.
Angka-angkanya terlihat menarik. Jika seluruh perkiraan keuntungan benar, uang yang dikeluarkan bisa kembali dalam waktu relatif singkat.
Namun, ia menemukan beberapa bagian yang belum jelas.
Nama perusahaan pelaksana tidak dicantumkan secara lengkap. Tidak ada rincian jaminan. Bahkan jadwal pengembalian modal hanya ditulis dalam bentuk perkiraan.
Laras memperbesar halaman tersebut.
Ia membaca lagi.
Ada satu istilah yang membuatnya berhenti.
Pembukaan akses operasional.
Ia tidak memahami maksudnya.
Di bagian bawah halaman terakhir terdapat kode dokumen yang berbeda dari halaman sebelumnya. Laras mencatatnya. Nama salah satu perusahaan juga mengingatkannya pada perusahaan pengelola aset yang pernah muncul dalam bukti pembayaran tagihan rumah.
Ia mengirim pesan kepada Reno.
Laras:
Dokumen perusahaan pelaksananya mana? Aku belum menemukan nama lengkap dan alamatnya.
Beberapa menit kemudian, Reno menjawab.
Reno:
Masih dalam proses. Besok aku kirim.
Laras meletakkan ponsel.
Ia tidak ingin menuduh siapa pun. Tetapi ia juga tidak mau mengeluarkan uang tanpa mengetahui kepada siapa uang tersebut diberikan.
Pengalaman mengurus keuangan rumah tangga selama bertahun-tahun seharusnya membuatnya lebih teliti.
Ia menutup laptop.
Keesokan paginya, Reno datang ke rumah.
Ia membawa sekotak makanan dan sebuah map tipis.
"Untuk sarapan," katanya.
Ibu Retno menyambutnya dengan wajah senang.
"Wah, kamu memang tahu saja kalau kami belum makan."
Reno tertawa.
"Kalau begitu, kita sarapan bersama."
Laras keluar dari kamar setelah selesai bersiap.
Reno langsung mengangkat map yang dibawanya.
"Aku sudah membawa beberapa dokumen."
Laras duduk di hadapannya.
"Sudah lengkap?"
"Sebagian besar."
Ia menyerahkan beberapa lembar kertas.
Laras memeriksanya satu per satu.
Ada salinan identitas perusahaan, ringkasan kerja sama, dan lembar perhitungan keuntungan.
Namun, belum ada perjanjian yang mengatur pengembalian modal.
"Ini belum lengkap, Reno."
"Yang penting kamu sudah bisa melihat identitas pihak yang terlibat."
"Bagaimana dengan kontraknya?"
"Sedang disiapkan."
"Kalau begitu, aku belum bisa memutuskan."
Reno menyandarkan punggung.
"Kamu memang selalu ingin semuanya sempurna."
"Aku hanya ingin aman."
"Aku mengerti."
Tetapi nada suaranya terdengar berbeda.
Reno mengambil kembali beberapa lembar dokumen.
"Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tertekan."
Laras menatapnya.
"Kalau begitu, jangan terburu-buru meminta keputusan."
Reno terdiam.
Ibu Retno yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut bicara.
"Reno, Laras memang sedang banyak pikiran. Kamu maklum saja."
Reno tersenyum.
"Tidak apa-apa, Tante."
Ia kemudian menoleh kepada Laras.
"Aku hanya perlu tahu apakah kamu tertarik. Soal uangnya bisa dibicarakan nanti."
Laras mengangguk.
"Aku tertarik mengetahui peluangnya. Bukan berarti aku sudah menyetujui investasi."
"Baik."
Reno memasukkan dokumen ke dalam map.
Namun, sebelum berdiri, ia berkata pelan.
"Aku harap kamu tidak berubah pikiran hanya karena terlalu banyak mendengar pendapat orang lain."
Laras mengerutkan dahi.
"Maksudmu?"
"Enggak ada. Aku cuma ingin kita saling percaya."
Setelah Reno pulang, Laras kembali memeriksa dokumen yang sempat difoto melalui ponselnya.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Nama salah satu perusahaan yang tercantum di sana terasa tidak asing.
Ia pernah melihat nama serupa ketika menyelidiki tagihan rumah beberapa hari sebelumnya.
Tidak sama persis.
Namun, ada kemiripan pada bagian nama pengelola aset.
Laras belum memiliki cukup informasi untuk menarik kesimpulan.
Mungkin hanya kebetulan.
Mungkin pula perusahaan itu memang bergerak dalam beberapa bidang usaha.
Ia membuka percakapan dengan Reno.
Sebuah pesan baru masuk.
Reno:
Jangan terlalu lama, ya. Aku butuh kepastian sebelum akhir pekan.
Laras membaca pesan itu tanpa membalas.
Ia ingin percaya bahwa keputusan tersebut tidak akan merusak hubungan mereka.
Namun, perasaan tidak nyaman itu belum hilang.
Sementara itu, di tempat lain, Arkan sedang berada di ruang kerjanya.
Beberapa berkas terletak di atas meja. Ia belum menyentuh semuanya karena masih menunggu laporan awal dari Pak Surya.
Ponselnya bergetar.
Nama Pak Surya muncul di layar.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi. Saya sudah menerima informasi awal mengenai kode 47-KP-19," jawab Arkan.
Arkan menghentikan pekerjaannya.
"Bagaimana hasil pemeriksaan akses?"
"Belum ada pembukaan akses dari luar tim inti. Tetapi ada beberapa permintaan informasi yang perlu diperiksa lebih lanjut."
"Jangan mengambil kesimpulan sebelum datanya lengkap."
"Baik, Pak."
"Pastikan log akses diamankan. Jangan mengubah apa pun."
"Siap."
Arkan memandang berkas di hadapannya.
Ia masih mengingat suara Reno ketika menyebut kode proyek itu.
Orang tersebut seharusnya tidak mengetahui keberadaan kode tersebut.
"Pak Surya," katanya kemudian.
"Ya, Pak?"
"Periksa juga perusahaan yang pernah mengajukan permintaan kerja sama terkait proyek itu. Saya ingin tahu siapa saja yang pernah mendapat informasi."
"Baik. Apakah perlu memanggil pihak terkait?"
"Belum. Kita kumpulkan bukti terlebih dahulu."
Pak Surya mengiyakan.
Arkan mengakhiri panggilan.
Ia tidak berniat menggunakan kedudukannya untuk menekan siapa pun. Jika memang ada penyimpangan, semuanya harus dibuktikan melalui prosedur yang benar.
Namun, satu hal mulai mengusiknya.
Mengapa Reno membutuhkan informasi yang bahkan belum dibuka untuk pihak luar?
Menjelang sore, Laras akhirnya menghubungi Reno.
"Aku sudah memeriksa dokumennya."
"Bagaimana?"
"Aku masih belum bisa memberikan uang sebelum ada perjanjian lengkap."
Reno diam beberapa detik.
"Kamu benar-benar belum bisa membantu?"
"Bukan tidak mau membantu. Aku hanya tidak mau mengambil keputusan tanpa kepastian."
"Aku mengerti."
Tetapi kali ini tidak ada senyum dalam suaranya.
Laras melanjutkan.
"Kalau semuanya jelas, kita bisa membicarakannya lagi."
"Baik. Aku akan mengusahakannya."
Panggilan berakhir.
Reno tidak mengucapkan terima kasih seperti biasanya.
Laras menatap layar ponselnya.
Ia ingin percaya bahwa keputusan tersebut tidak akan merusak hubungan mereka.
Namun, ia semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Di dalam mobil yang terparkir beberapa blok dari rumah Laras, Reno duduk sambil memandangi layar ponselnya.
Wajahnya berubah.
Penolakan Laras bukan masalah terbesar. Ia masih bisa mencari jalan lain untuk mendapatkan uang.
Yang lebih mendesak adalah akses yang belum berhasil diperolehnya.
Ia membuka sebuah pesan lama, lalu memeriksa waktu yang tertera.
Pemeriksaan internal semakin dekat.
Reno mengumpat pelan.
Ponselnya berdering.
Sebuah nomor yang tidak disimpan muncul di layar.
Ia melihat ke arah rumah Laras sebelum mengangkatnya.
"Ya?"
Suara dari seberang terdengar singkat.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Belum berhasil."
"Kenapa?"
"Laras belum memberikan keputusan."
"Jangan sampai terlambat."
Reno mengatupkan rahang.
"Aku sedang mengurusnya."
"Yang kita butuhkan bukan uangnya saja."
Reno menoleh ke kaca spion.
"Aku tahu."
"Pastikan akses itu terbuka sebelum pemeriksaan dimulai."
Reno menurunkan suaranya.
"Kalau tidak, semuanya bisa terbongkar."
Hening sesaat.
Lalu ia menjawab dengan nada tegas.
"Aku butuh akses sebelum audit dimulai."
Panggilan terputus.
Reno memasukkan ponselnya ke saku.
Ia kembali memandang rumah Laras.
Kali ini, senyumnya tidak muncul.