Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 09
Part 09
"Aku tidak tahu apa aku bisa saat itu, tapi kehadiranmu yang langsung mengajakku pergi membuatku merasa sangat bersyukur, setidaknya orang tidak akan tahu aku menangis." Amanda menjawab sendu, mengingat bagaimana dirinya dipermalukan oleh temannya yang dulu selalu menjaganya. Tidak hanya rasa malu, namun rasa kecewa itu begitu dalam menusuk hatinya yang belum sembuh.
"Iya, orang lain harus melihat kamu tegas dan judes, dengan begitu orang tidak akan mudah menyepelehkanmu." Cio menyahut kesal meski sebenarnya ia hanya ingin memberi Amanda semangat baru untuk menghadapi hidup dengan cara yang lebih baik lagi.
"Iya, aku mengerti. Sekarang, kamu makanlah! Kamu pasti belum sarapan kan?" ujar Amanda sembari menatap kotak bekal makanannya yang berada di tangan Cio.
"Nanti saja di kantin." Amanda hanya mengangguk mengerti sembari memperbaiki posisi bekal makanannya yang sempat merusut dari tangannya. Diam-diam, Cio memperhatikan hal itu dan ia juga bisa melihat lunch box itu masih berisikan dua kotak bekal makanan di dalamnya.
"Kamu membawa kotak bekal makanan berapa?" tanya Cio terdengar penasaran yang kali ini justru ditanggapi kediaman oleh Amanda yang kian merengkuh kotak makanannya.
"Apa kamu masih membawakan lelaki itu makanan setelah apa yang sudah terjadi kemarin?" tebak Cio tak percaya, namun lagi-lagi Amanda masih terdiam dan bahkan mengalihkan tatapannya ke arah luar jendela.
"Apa kamu sudah tidak waras?" keluhnya sebal namun Amanda masih sama terdiam dan menunduk sendu.
"Aku hanya berjaga-jaga saja, Farel itu paling tidak bisa menerima makanan kantin terlalu sering. Dari kecil dia sudah dibekali makanan sampai SMA, hanya setelah kuliah saja Farel menolaknya, mungkin dia malu kalau masih membawa bekal makanan di umurnya yang sudah dewasa." Amanda menjawab lirih, namun alasannya itu tidak bisa Cio terima. Kenapa Amanda masih saja bersikap baik pada lelaki itu, setelah apa yang sudah dilakukannya.
"Sejak kecil dia sudah dibekali makanan dari rumah, seharusnya dia sudah paham dengan kesehatannya. Apa kamu pikir, dia akan makan di kantin setelah tahu tubuhnya tidak bisa menerima makanan kantin terlalu sering? Dia pasti akan makan di restoran, jadi berhentilah mengkhawatirkan orang yang tidak memperdulikanmu!" Cio berujar kesal, merasa tak percaya dengan Amanda yang begitu memikirkan temannya, padahal lelaki itu belum tentu juga merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi kemarin dan sebelum-sebelumnya.
"Aku tahu itu kok, Farel pasti makan dengan baik bila saat jam makan siang. Tapi akhir-akhir ini, dia sering berangkat pagi, jadi belum sempat sarapan di rumah. Makanya aku membawakannya bekal untuk dia sarapan, aku cuma tidak mau kalau dia makan makanan kantin, kan kalau pagi restoran belum ada yang buka, itu bisa mempengaruhi kesehatannya." Amanda menjawab seadanya sedangkan Cio hanya bisa diam tanpa bisa melawan lagi, karena apa yang Amanda lakukan memang baik, tapi kenapa gadis itu masih belum mengerti dan sadar, bila temannya yang selalu diperhatikannya itu tidak pernah memperdulikannya.
"Terserah kamu saja, tapi terima kasih ya untuk makanan ini." Cio menunjukkan bekal makanan yang tadi Amanda berikan untuknya.
"Iya," jawab Amanda terdengar lega.
***
Di tengah para mahasiswa yang berlalu lalang, Amanda mencari keberadaan Farel. Dan di sampingnya, Cio masih menemani Amanda untuk berjaga-jaga saja kalau-kalau Amanda bertemu dengan Farel, lelaki itu akan bersikap buruk lagi pada gadis itu. Cio hanya tidak mau kalau Amanda direndahkan lagi, meski ia sendiri tidak bisa mencegah Amanda memberikan perhatiannya pada sosok temannya itu.
"Kamu kenapa masih ada di sini?" Amanda bertanya ke arah Cio, setelah menyadari lelaki itu ternyata mengikutinya sedari tadi.
"Aku akan pergi, setelah kamu memberikan bekal sarapan untuk temanmu itu." Cio menjawab seadanya karena memang itu niat awalnya, namun Amanda justru mengembuskan nafas beratnya, merasa tersentuh dengan apa yang Cio lakukan untuknya. Amanda bisa mengerti kenapa Cio bersikap seperti itu, mungkin dia merasa khawatir kalau-kalau Farel bersikap buruk lagi terutama di hadapan orang banyak seperti kemarin.
"Apa kamu mengkhawatirkan aku?" tanyanya sendu.
"Tentu saja, tidak. Aku cuma khawatir, kalau bekal makananmu ini nanti dibuang lagi. Kalau dia tidak mau, berikan saja padaku, aku akan memakannya sampai habis." Cio menjawab cepat dan itu cukup membuat Amanda merasa dihargai terlihat dari bibirnya yang tersenyum tipis dengan tatapan memicingnya.
"Tentu saja kamu akan menghabiskan semuanya kalau aku memberikannya padamu, kamu kan Babi." Amanda menjawab sebal dengan bibirnya yang tersenyum meremehkan seolah Amanda yang pertama kali ditemuinya itu sudah kembali dari keterpurukannya.
"Tidak apa-apa, kalau kamu memanggilku Babi asal kamu yang menjadi pemilikku." Cio menjawab santai dengan cengiran manis khas miliknya, membuat Amanda tersipu karena ulahnya yang selalu saja konyol dan menyebalkan.
"Dasar konyol, mana mau aku menjadi pemilik babi kaya kamu? Selain banyak makan, kamu juga menyebalkan." Amanda menjawab kesal meski bibirnya justru tertawa kecil seolah apa yang diucapkan Cio itu benar-benar bisa menghiburnya.
"Kenapa begitu, seharusnya kamu merasa beruntung karena punya babi sepertiku. Meskipun banyak makan, aku juga babi yang tampan, kamu tidak akan menemuinya di pelosok negeri ini." Cio menjawab angkuh dan itu berhasil membuat tawa Amanda meledak hanya karena ucapan konyolnya.
"Oh iya?"
"Tentu saja."
Keduanya tidak akan menyadari, bagaimana Farel menghentikan langkahnya setelah melihat Amanda terlihat akrab dengan seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Amanda terlihat begitu bahagia, bahkan matanya menyabit seperti dulu, memperlihatkan bagaimana dia merasa nyaman bersama lelaki tersebut.
"Siapa lelaki itu?" Farel bergumam dalam hati, merasa penasaran dengan lelaki yang saat ini masih menggoda Amanda dengan kalimat-kalimatnya. Sampai saat Farel tersadar dari pikiran anehnya, merasa tidak mengerti kenapa dia harus peduli dengan semua itu. Amanda memang temannya tapi itu dulu, bahkan saat ini ia merasa sangat membenci gadis itu, lalu untuk apa ia memperdulikannya termasuk dengan siapa Amanda bercanda tawa.