Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Suami Tengil
Setelah melakukan sesi foto prewedding berdua dan juga bersama keluarga. Refisha dan Ezra kembali ke pelaminan dengan mereka yang bersalaman pada para tamu yang mengucapkan selamat kepada keduanya.
Refisha jika sudah mengganti gaun pengantinnya saat ini lebih mewah, karena ini adalah resepsi pernikahannya, tetapi tetap elegan dan cantik dipadukan dengan hijabnya.
Ezra juga kelihatan semakin tampan menggunakan jas berwarna hitam, pasangan pengantin itu sejak tadi bersalaman dengan tamu.
Refisha tetap memberikan senyum ramahnya kepada para tamu yang mengucapkan selamat pada.
Sampai akhirnya tamu yang menghampiri mereka adalah keluarga dari Malik yang tak lain juga sepupu Ezra.
"Ezra selamat ya untuk pernikahan kamu dan juga wanita ini, Tante tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu sampai-sampai punya ketertarikan kepadanya," ucap Nia benar-benar sinis melihat ke arah Refisha.
"Ma, sudah!" tegur suaminya untuk menjaga sikap.
"Tante terima kasih sudah datang di acara pernikahan saya, silakan dinikmati acaranya," ucap Ezra yang tiba-tiba saja menggenggam tangan istrinya.
Refisha melihat ke arah tangannya tersebut, Ezra kelihatan sekali bahwa berpihak kepadanya dan memamerkan bahwa wanita di sebelahnya itu bisa menikah tanpa harus menikah dengan laki-laki di sebelahnya.
"Jika Tante bertanya apa yang membuat saya tertarik pada Refisha, sudah pasti ketertarikan itu berasal dari mata yang beruntung, dan bukan dari mata yang salah sampai tidak bisa melihat apa yang tertarik atau tidak," jawab Ezra memberi sindiran kepada Malik yang pernah didengar sendiri bagaimana laki-laki itu menghina Refisha.
"Asalkan kamu tidak menyesal saja," ucap Nia. tersenyum dan kemudian langsung pergi.
"Ezra, Om mengucapkan selamat untuk pernikahan kalian," pria itu hanya mengucapkan selamat dengan Ezra dan juga tersenyum pada Refisha.
Lalu kemudian sekarang giliran Malik selalu dengan penampilannya menggunakan baju kokoh ala-ala gus yang mencari perhatian.
"Mungkin ada dosa besar yang kau lakukan sampai-sampai kamu harus menikah dengannya, tetapi apapun itu aku ucapkan selamat dan semoga saja kau tidak cepat bosan dengan wanita yang sudah pasti membosankan seperti dia," ucap Malik berbisik membuat Ezra begitu kesal sampai mengepal tangannya.
Malik dengan santai menepuk Ezra dan melihat sinis pada Refisha yang sama sekali tidak ditatap oleh Refisha dan kemudian Malik langsung pergi.
Ezra melihat ke arah sang istrinya yang mana wajah cantik itu terlihat murung, tetapi Ezra benar-benar menjadi garda terdepan untuknya dan lihatlah bagaimana Ezra yang menggenggam tangannya semakin erat sembari mengusap-usap punggung jari-jari tangan itu.
Refisha benar-benar merasa seperti dilindungi, tidak pernah disangka dalam hidupnya bahwa akan ada pria yang memperlakukannya seperti ini.
"Are you oke?" tanya Ezra.
Refisha menganggukkan kepala dengan tersenyum.
********
Setelah melewati acara resepsi pernikahan yang cukup melelahkan, akhirnya pasangan suami istri itu saat ini sudah berada di dalam kamar pengantin yang tak lain kediaman Refisha, karena besok pagi Refisha baru dibawa pergi ke kediaman Ezra.
Kamar pengantin seperti biasanya, kamar Refisha yang biasanya sangat formal sekarang telah disulap menjadi kamar yang begitu indah dengan kelopak mawar berada di atas ranjang, terlihat dua handuk angsa yang saling berhadapan, aromanya juga terasa sangat berbeda, lebih romantis dan terasa hangat.
Refisha baru saja memasuki kamar, Refisha sedikit merasa canggung dengan kamarnya yang berbeda, tetapi karena itu kamarnya jadi Refisha berusaha untuk tenang.
Ceklak!
Jantungnya berdebar kencang ketika suara pintu kamar dibuka dan Ezra yang berdiri di depan pintu kamar dan menatapnya begitu dalam.
Tatapannya sangat mematikan, sangat menakutkan seperti monster yang akan menerkam dirinya hidup-hidup.
Ezra tersenyum dan kemudian menutup pintu kamar, lalu melangkah dengan senyum nakal menghampiri Refisha.
Refisha kemudian membalikkan tubuhnya, Refisha menghampiri cermin dan ingin melepas bagian mahkota yang masih terpasang di atas kepalanya.
Di saat Refisha mengalami kesulitan tiba-tiba saja sebuah tangan sudah berada di atas kepalanya yang membantu Refisha.
"Apa begitu sulit meminta bantuan kepada suami sendiri," ucap Ezra.
Refisha semakin gugup yang hanya melihat dari cermin dan sementara Ezra juga menatapnya benar-benar sangat tengil melihat kegugupan istrinya itu.
"Refisha, saya tahu kamu itu saat ini sangat gugup, kamu terlihat tegang, padahal kita sudah suami istri. Kamu seperti akan diterkam saja saat ini," goda Ezra.
Refisha tidak menjawab dan hanya diam saja, tetapi tiba-tiba Ezra memegang kedua bahunya dan membalikan tubuh istrinya itu sehingga saat ini mereka saling melihat satu sama lain.
"Kamu cantik Refisha!" puji Ezra.
Sejak tadi kalimat itu ingin sekali keluar dari mulutnya, tetapi ternyata baru kesampaian saat ini dan Refisha semakin malu yang mengalihkan pandangannya.
Tidak ingin istrinya itu mengalihkan terus-menerus pandangannya membuat Ezra memegang dagu Refisha dan mensejajarkan wajah mereka dan akhirnya mereka berdua saling menatap.
"Kamu sadar tidak jika kita berdua sudah menikah?" tanya Ezra.
"Saya sadar," jawab Refisha.
"Lalu kenapa kamu terus saja menghindari saya? kenapa kamu tidak berani menatap saya? memang dosa ya, menatap pria yang sudah menjadi suaminya?" tanya Ezra.
"Tidak dosa, tetapi saya gugup dan mungkin ini pertama kali bagi saya, berada dalam ruangan tertutup bersama dengan seorang pria," ucap Refisha.
"Saya bisa melihat bagaimana kegugupan kamu, tetapi kamu harus terbiasa karena kita sudah menjadi pasangan suami istri," ucap Ezra.
"Insaallah saya akan terbiasa dan akan berusaha untuk menjadi istri yang terbaik," ucap Refisha membuat Ezra tersenyum.
"Jangan takut Refisha, saya juga tidak terlalu agresif yang langsung menyentuh kamu tanpa persetujuan kamu, saya tetap menunggu kamu siap, mungkin kita bisa mengenal terlebih dahulu," ucap Ezra ternyata memberi waktu untuk Refisha.
"Terimakasih karena sudah memikirkan bagaimana perasaan saya, mencoba untuk memberi ketenangan dan kenyamanan kepada saya, saya benar-benar minta maaf dengan sikap saya," ucap Refisha.
Ezra tersenyum yang memegang pipih Refisha, katanya akan memberi waktu, tetapi sentuhannya mampu membuat Refisha benar-benar semakin gugup dan mencoba untuk menghindar.
Ezra tersenyum melihat reaksi istrinya itu dan memang seperti dia sengaja jahil.
"Hmmmm, saya mau ganti baju dulu, kamu juga sebaiknya ganti baju," ucap Refisha.
"Pakaian kamu ribet, tidak mau dibantuin untuk melepasnya?" tanya Ezra dengan satu alisnya terangkat membuat Refisha menggelengkan kepala sungguh tidak tertarik sama sekali.
Refisha tersenyum dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Ezra.
"Refisha kamu itu santai saja, saya tidak akan memakan kamu," ucap Ezra dengan geleng-geleng kepala.
"Dia benar-benar sangat menggemaskan," ucap Ezra tampak geram dengan istrinya itu.
Refisha saat ini sudah berada di dalam kamar mandi, seperti apa yang dikatakan Ezra melepas pakaian yang dia gunakan itu sangat sulit, tetapi karena takut Ezra aneh-aneh kepadanya jadi mau tidak mau Refisha harus melakukannya sendiri dan lihatlah bagaimana dia yang saat ini berusaha untuk melepas pakaian itu dan menggantinya dengan pakaian tidur.
Ezra sendiri masih beradaptasi di kamar istrinya, berjalan melihat-lihat isi kamar tersebut. Refisha termasuk wanita yang rapi dan mungkin sangat suka belajar terlihat dari susunan buku yang berada di rak buku itu, Ezra juga mengambil salah satu buku.
"Hukum pernikahan," ucap Ezra membaca judul buku tersebut.
Bersambung.....
...Saya ucapkan terima kasih untuk para pembaca yang setia bergabung dalam novel saya. Komentar dari kalian menjadikan motivasi untuk saya terus belajar, saya mohon dukungan kepada para pembaca untuk selalu membaca novel-novel saya, apa yang kalian berikan merupakan apresiasi untuk membuat saya lebih semangat lagi....
...Untuk itu saya juga tidak lupa menyarankan para pembaca untuk mampir ke novel terbaru saya....
...Besar harapan saya novel terbaru saya bisa disukai banyak orang dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak komentar vote dan membaca dari bab 1 sampai bab akhir....