NovelToon NovelToon
The Actress Who Fell For A Hidden Heir

The Actress Who Fell For A Hidden Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Duniahiburan
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.

Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.

Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.

Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.

Arka bukan sekadar mahasiswa.

Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.

Karena mencintai seseorang ternyata mudah.

Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebetulan yang Terus Berulang — Part 2

Saat jam istirahat tiba, Arka dan Rendy turun ke kantin fakultas.

Suasana kantin hari ini jauh lebih ramai daripada biasanya. Obrolan mahasiswa, tawa keras, dan dentingan sendok di piring menciptakan kebisingan yang khas.

Arka memesan seporsi nasi goreng ayam sederhana, sementara Rendy memilih mi ayam bakso. Mereka menempati meja kosong di pojok dekat jendela.

Baru beberapa menit mereka menyuap makanan, teman sekelas mereka, Dimas, datang menghampiri bersama dua orang mahasiswa lain dari jurusan sebelah.

"Eh, gabung ya, meja lain penuh," sapa Dimas santai.

Rendy langsung menggeser nampannya. "Duduk, Dim."

Dimas duduk sambil meletakkan botol teh manis esnya di atas meja. Kemudian, tanpa basa-basi apa pun, ia langsung menodong Arka.

"Ka."

"Hm?" Arka menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.

"Gue dengar rumor seru pagi ini."

Arka menghentikan suapannya. "Rumor apaan?"

Dimas tersenyum usil. "Katanya... lu kenal dekat sama Alya Renata ya?"

Rendy langsung tersedak kuah mi ayamnya.

Arka menutup matanya sesaat, menarik napas dalam, lalu menatap Dimas dengan tajam. "Siapa yang mulai nyebar cerita nggak jelas itu?"

Dimas dengan polosnya menunjuk orang di sebelah Arka. "Dia."

Arka memutar lehernya ke arah Rendy secara slow motion. "Lu?"

Rendy mengangkat kedua tangannya ke udara, memasang wajah tak bersalah. "Gue cuma cerita dikit doang."

"Lu cerita ke siapa aja?!"

"Ya... ke orang."

"Orang siapa?!"

"Ya orang yang nanya."

Arka memijat pelipisnya perlahan.

Dimas tertawa terbahak-bahak. "Tenang aja, Ka. Kita-kita mah cuma buat bahan candaan doang kok."

"Kalau cuma buat candaan, kenapa ceritanya bisa nyebar dari satu jurusan ke jurusan lain?" balas Arka sinis.

"Karena ceritanya sangat di luar nalar," jawab Dimas santai. "Seorang Arka, mahasiswa paling apatis sefakultas, kepergok nolongin artis cantik."

Arka memutuskan untuk mengabaikan mereka dan kembali memakan nasi gorengnya.

Namun, Dimas rupanya belum selesai. Ia menyenggol bahu Rendy, namun matanya menatap Arka. "Hebat juga ya. Katanya, lu ketemu dia secara kebetulan sampai tiga kali, Ka?"

"Empat."

Kata itu meluncur spontan begitu saja dari mulut Arka. Cepat dan tanpa beban.

Seketika itu juga, suasana di meja tersebut langsung hening senyap.

Arka berhenti mengunyah. Nasi di mulutnya mendadak terasa hambar. Ia baru menyadari apa yang baru saja dikatakannya.

Rendy menatapnya dengan mata melotot. Dimas menatapnya dengan rahang sedikit turun. Dua mahasiswa lainnya berhenti menyeruput es teh mereka.

Arka perlahan meletakkan sendoknya kembali ke piring. Ia berdeham pelan. "...Maksud gue, rumornya lu lebayin jadi tiga."

Rendy langsung menggebrak meja kantin. "HAH! Keceplosan lu!"

"Diam, Ren."

"Empat kali, bro?! Kapan yang keempatnya?!" teriak Rendy antusias.

"Enggak ada yang keempat." Arka berusaha membela diri dengan wajah sedatar mungkin.

"Jelas-jelas lu barusan yang ngoreksi sendiri!" Rendy tertawa histeris. "Wah, diam-diam menghanyutkan ternyata temen gue ini."

Dimas ikut tertawa puas. "Nah kan. Ini udah jauh lebih menarik dari sekadar rumor."

Arka menggeleng pasrah. "Enggak ada yang menarik, Dim. Beneran."

"Terus kenapa lu bisa kebetulan ketemu sampai empat kali sama artis papan atas? Pakai dukun mana lu?" goda Dimas.

"Gue bilang kebetulan, ya kebetulan."

Dimas menyipitkan matanya, mencondongkan badan ke depan. "Jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa lagi?"

"Jangan-jangan lu diam-diam suka sama dia ya?"

Arka langsung menjawab mantap. "Enggak."

Terlalu cepat.

Rendy kembali menepuk meja. "Waduh!"

"Apaan lagi?" sungut Arka.

"Jawaban lu cepet banget ngegasnya. Mencurigakan."

"Karena pertanyaannya gampang dan jawabannya emang enggak."

Dimas tertawa lebih lunak. "Serius, Ka. Lu cowok normal. Dia Alya Renata. Kalau memang ada rasa penasaran atau suka dikit, jujur aja."

Arka meletakkan sikunya di meja dan menatap teman-temannya satu per satu sambil menggeleng tegas. "Gue enggak suka."

"Kenapa?"

Arka terdiam sebentar. Bukan karena ia bingung mencari alasan, justru karena alasannya terlalu logis.

"Karena gue enggak punya satu alasan pun buat suka sama dia," jawab Arka tenang.

Suasana meja perlahan berubah menjadi agak serius. Dimas mengangkat alisnya.

Arka melanjutkan kalimatnya sambil menatap sisa makanannya. "Gue baru kenal dia. Kenal sebatas nama. Dia punya dunianya sendiri yang jauuuh dari dunia kita."

Arka mengangkat bahu. "Dan gue, gue juga punya hidup sendiri yang cukup bikin pusing. Ngapain nambah beban pikiran?"

Rendy yang sejak tadi selalu bercanda akhirnya terdiam. Jawaban Arka terdengar jauh lebih dewasa dan serius dari biasanya.

Dimas mengangguk kecil tanda setuju. "Masuk akal sih, Ka. Realistis banget."

Arka kembali meraih sendoknya. "Makanya, udah ya. Jangan bikin cerita aneh-aneh yang nggak ada faedahnya."

Rendy tersenyum minta maaf. "Siap, Bos."

Beberapa detik keheningan terjadi, sebelum Rendy kembali buka mulut.

"Tapi ya, Ka, semisal nih... kalau suatu hari nanti ternyata takdir bikin kalian jadian beneran—"

"Rendy."

"Iya, Ka?"

"Diam."

"Siap."

Mereka berempat akhirnya tertawa bersama. Topik pembicaraan pun perlahan bergeser kembali ke hal-hal membosankan seperti revisi tugas akhir, mood dosen pembimbing, dan rencana realistis mencari pekerjaan setelah lulus.

Bagi Arka, pembicaraan seperti inilah yang jauh lebih penting.

Karena sebentar lagi, masa tenang kehidupannya di kampus ini akan segera berakhir. Dan setelah lembar ijazahnya keluar, ia tahu bahwa ada satu takdir yang tidak akan bisa ia hindari selamanya.

Keluarganya akan kembali menariknya dengan paksa ke dunia yang selama ini ia hindari mati-matian.

Dunia megah nan kejam bernama Skysea Group.

Sore hari perlahan turun. Gedung fakultas mulai sepi dari aktivitas mahasiswa.

Arka masih tertahan di salah satu meja perpustakaan pusat kampus. Laptopnya menyala, menampilkan beberapa dokumen file tugas akhir berdampingan dengan jurnal pdf berbahasa Inggris.

Ia melepas kacamata anti-radiasinya dan mengusap wajah kasar. "Gila, capek juga."

Di seberang meja, Rendy masih asyik membaca komik dari aplikasi di ponselnya dengan earphone terpasang.

"Makanya jangan sok rajin lu, Ka," celetuk Rendy tanpa melihat.

Arka melirik sinis. "Lu sendiri draft bab tiga aja belum kelar. Jangan sok menasihati."

"Jangan bongkar aib di tempat umum, dong."

Arka tersenyum kecil. Ia kembali memfokuskan mata ke layar dan mengetik beberapa kalimat.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman. Sampai tiba-tiba, ponsel di saku celana Arka bergetar panjang.

Satu pesan WhatsApp masuk. Dari ayahnya.

Dermawan Pratama: Malam ini pulang. Ada sesuatu yang sangat penting yang perlu Ayah bicarakan denganmu.

Ekspresi santai di wajah Arka perlahan memudar. Dahinya mengernyit sedikit. Tidak banyak, namun Rendy yang duduk di depannya sudah cukup mengenalnya untuk menyadari perubahan atmosfer tersebut.

Rendy melepas satu earphone-nya. "Kenapa, Ka?"

Arka mengunci layar ponsel dan menelungkupkannya di atas meja. "Enggak apa-apa."

"Masalah keluarga?"

Arka mengangguk kecil. "Mungkin. Nanti malam gue disuruh balik."

Rendy tidak bertanya lebih jauh. Sebagai sahabat, ia tahu batasan privasi Arka yang memang tidak pernah bercerita banyak soal detail keluarganya.

"Kalau butuh bantuan pelarian atau mau curhat, call aja gue," tawar Rendy tulus.

Arka tersenyum. "Thanks, Ren."

Ia mulai membereskan kertas-kertasnya dan memasukkan laptop ke dalam ransel.

Hari ini seharusnya ditutup sebagai hari yang biasa saja. Kelas membosankan. Makan di kantin. Sedikit candaan dengan teman. Merevisi tugas akhir di perpustakaan.

Tidak ada sesuatu yang akan mengubah hidupnya.

Setidaknya, begitulah yang dipikirkan Arka saat ia berdiri dan menyandang tasnya berjalan keluar dari gedung perpustakaan.

Namun, baru beberapa langkah menyusuri trotoar menuju parkiran, ponsel di sakunya kembali bergetar pelan.

Kali ini bukan pesan dari ayahnya. Melainkan sebuah notifikasi pop-up dari portal berita online yang mendadak muncul di layar kunci.

Arka hanya berniat menghapusnya sekilas. Namun, deretan huruf kapital di judul berita itu sukses membuat langkah kakinya berhenti mendadak.

[EKSKLUSIF] "Aktris Alya Renata Dikabarkan Akan Terlibat Proyek Film Baru, Ambil Lokasi Syuting di Universitas Bina Bangsa."

Arka mematung. Matanya menyipit membaca nama kampus yang tertera di sana.

"Seriusan?" gumamnya pelan.

Ia membuka notifikasi berita tersebut. Matanya dengan cepat memindai beberapa baris pertama paragraf.

Kemudian, ia terdiam total.

Lokasi syuting yang disebutkan secara gamblang dalam artikel berita itu... adalah kampusnya sendiri. Universitas tempat ia berdiri saat ini.

Arka menatap layar poselnya selama beberapa detik, lalu menghela napas panjang ke udara sore.

"Jangan-jangan..."

Ia belum selesai bergumam ketika Rendy tiba-tiba muncul dan menabrak bahunya dari belakang.

"Woy! Berhenti di tengah jalan, kenapa lu?"

Arka terdiam sejenak, lalu tanpa bicara ia membalikkan layar ponselnya agar Rendy bisa membacanya.

Rendy menyipitkan mata membaca berita itu. Wajahnya perlahan berubah dari bingung, kaget, lalu sebuah senyum super lebar yang menyebalkan perlahan merekah di wajahnya.

"Ka..." panggil Rendy dengan nada menggoda.

Arka langsung tahu kalimat apa yang akan keluar selanjutnya. "Jangan mulai, Ren."

Rendy tertawa lepas. "Belum juga gue ngomong!"

"Ekspresi muka lu udah cukup menjelaskan niat buruk lu."

Rendy menepuk bahu Arka dengan kencang. "Kayaknya, cerita kebetulan lu sama si artis cantik masih bakal berlanjut ke episode lima, bro!"

Arka hanya bisa menutup mata dan menatap pasrah ke arah gedung kampusnya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa bahwa masa-masa tenang di penghujung kehidupan kampusnya akan berakhir jauh lebih cepat, dan jauh lebih ramai daripada yang ia harapkan.

Dan entah kenapa... nama Alya Renata lagi-lagi masuk secara kebetulan, tepat ke dalam poros kehidupannya.

Bersambung...

1
joikendil joikendil
Gokil sih kak, bab ini definisi "kamu boleh masuk ke duniaku, tapi duniaku juga bakal ngebongkar duniamu". Alya pulang happy bawa definisi kampus = liburan, Arka ditinggal sama berita nasional nama lengkap + wajah HD. Jurnalisnya udah mulai ngetik Skysea Group. Gak sabar bom kebohongan besar Arka meledak.
joikendil joikendil
Jujur awalnya agak takut baca age gap karena biasanya cringe, tapi di sini age gap nya justru bikin nyaman.

Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.

Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!

Semangat kak, ditunggu update-nya!
sphinxeditz77: Wah, makasih banyak kak sudah kasih 5⭐ dan review sepanjang ini 😭🙏 Senang banget bacanya, apalagi karena kakak sampai nangkep detail tentang Arka yang protective tapi tetap kasih Alya ruang untuk berkarier.

Aku memang pengin hubungan mereka terasa seperti dua orang yang saling menghargai, bukan sekadar trope age gap. Jadi komentar seperti ini jujur bikin semangat banget buat lanjut nulis 😂🔥

Semoga bab-bab berikutnya tetap bikin kakak betah ngikutin Arka dan Alya. 🙏
total 1 replies
joikendil joikendil
Alya: "Besok datang lagi kan Ka?"

Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"

AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭

Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
joikendil joikendil
Bab ini definisi "respect" kak. Arka yang awalnya mikir akting itu cuma hafal dialog + akting manis, sekarang lihat sendiri harus inget blocking, ekspresi, nada suara, arah kamera, vas bunga kesenggol aja harus ulang. Diulang 7x tanpa ngeluh. Terus Arka bilang "Aku respect sama kamu, Al" - bukan "cantik" bukan "akting bagus" yang klise. Alya aja kaget karena jarang ada yang ngomong gitu. Suka banget pergeseran Arka dari lihat Alya sebagai artis terkenal, jadi lihat Alya sebagai manusia pekerja keras. Tapi nomor portal gosip itu masih neror ya? Takut!
sphinxeditz77: Nahhh ini dia 😂🙏 Aku memang pengin momen itu jadi titik perubahan cara Arka melihat Alya. Bukan lagi sekadar “aktris terkenal”, tapi seseorang yang benar-benar bekerja keras di balik kamera. Dan setelah lihat take berkali-kali, menurut Arka kata “respect” jauh lebih tepat daripada sekadar bilang “cantik” atau “aktingmu bagus.” 😭🔥
total 1 replies
joikendil joikendil
Jujur nangis baca part ini kak. Arka gak muji gaun mahal, gak muji cantik, gak muji akting. Dia cuma bilang "Ngerti alasan logis kenapa tiap kita ketemu mata kamu selalu kelihatan sangat capek". ITU DALEM BANGET.

Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
sphinxeditz77: Waduh sampai nangis 😭😂 makasih banyak kak! Bagian Arka melihat rasa capek Alya sebagai manusia memang penting banget buat perkembangan hubungan mereka. Tapi soal “Selamat sore Mas Arka Pratama?”... wkwkwk mulai masuk wilayah berbahaya itu 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Akhirnya! Arka diajak lihat syuting langsung. Suka detailnya kak, bangunan heritage disulap jadi rumah mewah, kabel seukuran lengan, lampu HMI raksasa, take diulang 7 kali cuma gara-gara bayangan mic bocor.

Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
sphinxeditz77: Wkwkwk makasih kak 😂 Aku memang sengaja masukin detail-detail kecil di lokasi syuting supaya Arka dan pembaca sama-sama bisa melihat kalau dunia Alya ternyata nggak sesederhana “datang, cantik, lalu akting” 🤣 Dan 2 es kopi itu memang bentuk perhatian Arka yang paling sederhana 😂
total 1 replies
joikendil joikendil
Arka: "Punya foto kamu bukan keharusan buatku"

Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya

Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!
joikendil joikendil
Bab ini favorit aku sejauh ini kak! Alya yang biasanya dipuja-puja, histeris dimintain foto, tiba-tiba ketemu Arka yang cuma bilang "Oh." doang pas tau dia Alya Renata. No pansos, no minta tanda tangan. Justru itu yang bikin Alya insecure: "Apa muka aku biasa aja kalau tanpa makeup?" Padahal dia kangen diperlakukan normal. Psikologisnya dapet banget! Dan plot foto buram jaket denim di grup WA angkatan udah mulai nyebar, duhhh...
sphinxeditz77: Wkwkwk ini salah satu bagian yang paling aku suka juga 😂 Karena Alya sebenarnya bukan butuh orang yang terus-terusan mengaguminya, tapi orang yang bisa memperlakukannya sebagai Alya biasa. Dan Arka malah “Oh.” doang pas tahu dia Alya Renata 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Kak ini bab paling tegang sejauh ini! Dari Alya nge-remas gelas kopi sampe plastiknya bunyi, terus Arka yang langsung "Ikut ke belakang. Percaya sama aku" - itu keren banget, gak banyak cing-cong. Tapi endingnya... ya ampun 😭 yang moto dari balkon lantai 2 fakultas itu siapa?? Foto Alya senyum-senyum sama Arka udah kesebar kayak virus katanya. Plis jangan cliffhanger lama kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!