Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Seseorang Mulai Mengawasinya
Pukul empat sore, Arthur Sterling meninggalkan gedung fakultas ekonomi dengan sebuah rencana yang mulai terbentuk di benaknya.
Langit New York diselimuti awan kelabu. Angin musim gugur menyapu dedaunan kering di sepanjang trotoar, sementara kendaraan bergerak padat menuju pusat kota. Di antara orang-orang yang bergegas mengejar kereta bawah tanah, Arthur berjalan dengan langkah tenang.
Ia hanya memiliki kurang dari sepuluh dolar di rekening bank, lima puluh dolar dalam perhitungan modal awalnya, dan sebuah investasi berisiko yang belum memberikan keuntungan apa pun.
Jika ia ingin membangun kerajaan bisnis, ia harus menyelesaikan satu masalah terlebih dahulu.
Arus kas.
Arthur memahami bahwa memiliki pengetahuan tentang masa depan tidak otomatis membuat seseorang kaya. Ia tetap membutuhkan uang untuk bertahan hidup, membayar kebutuhan sehari-hari, dan memanfaatkan peluang ketika peluang itu muncul.
Lebih penting lagi, ia tidak boleh mengulangi kesalahan masa lalunya dengan mengorbankan seluruh kehidupan pribadi demi mengejar kekayaan.
Ia berhenti di depan sebuah toko elektronik kecil di dekat stasiun kereta bawah tanah. Di balik kaca etalasenya, beberapa komputer bekas dipajang dengan harga yang masih terlalu tinggi untuk kantongnya.
Arthur mengeluarkan ponsel, membuka catatan, lalu menuliskan tiga hal.
Pendapatan jangka pendek.
Modal usaha.
Investasi jangka panjang.
Ketiganya harus berjalan bersamaan.
Investasi saham yang telah ia lakukan termasuk kategori ketiga. Sementara itu, peluang kerja sama dengan Daniel bisa menjadi sumber pendapatan jangka pendek jika mereka berhasil mendapatkan klien.
Namun, Arthur membutuhkan sesuatu yang dapat dimulai tanpa modal besar.
Ia teringat sebuah perusahaan kecil yang pernah berkembang pesat pada akhir dekade tersebut. Perusahaan itu menawarkan layanan pemasaran digital bagi bisnis lokal, tetapi pada 2016 masih menghadapi kesulitan mendapatkan pelanggan karena pemiliknya tidak memahami cara menjual jasa secara efektif.
Arthur tidak perlu mendirikan perusahaan serupa dari awal.
Ia bisa membantu bisnis lokal meningkatkan kehadiran mereka di internet, menyusun strategi pemasaran, dan memperoleh komisi berdasarkan hasil yang terukur.
Pekerjaan itu tidak glamor.
Namun, uang pertama tidak harus berasal dari sesuatu yang glamor.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Daniel.
Bro, aku sudah memikirkan ide bisnismu. Aku tidak sepenuhnya yakin, tapi aku bersedia mendengarkan penjelasanmu lebih lanjut. Besok kita bertemu?
Arthur tersenyum tipis.
Ia membalas singkat.
Besok pukul sepuluh. Bawa laptopmu dan daftar lima bisnis lokal yang menurutmu memiliki produk bagus, tetapi pemasaran mereka buruk.
Beberapa detik kemudian, Daniel menjawab.
Kenapa harus lima?
Arthur mengetik.
Karena aku meminta lima.
Balasan Daniel datang hampir seketika.
Suatu hari nanti, aku akan menyesali keputusan berteman denganmu.
Arthur memasukkan ponselnya ke saku.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia merasa bahwa kehidupannya mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Namun, ia belum menyadari bahwa seseorang telah memperhatikannya sejak meninggalkan kampus.
Di sebuah kantor di Manhattan, seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun duduk di balik meja kayu berwarna gelap.
Namanya Richard Coleman.
Ia merupakan salah satu direktur investasi di sebuah perusahaan pengelola aset menengah yang memiliki hubungan bisnis dengan sejumlah lembaga keuangan besar. Richard dikenal sebagai investor berhati-hati, tetapi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap pergerakan pasar yang tidak biasa.
Di hadapannya terdapat sebuah laporan transaksi.
Richard membaca dokumen itu untuk ketiga kalinya.
"Arthur Sterling," gumamnya.
Seorang analis muda bernama Michael Reed berdiri di seberang meja.
"Apakah nama itu berarti sesuatu bagi Anda, Pak?"
Richard tidak langsung menjawab.
"Belum."
Ia mengetuk halaman laporan menggunakan ujung pena.
"Seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun. Tidak memiliki pendapatan tetap. Saldo rekening hampir kosong. Namun, ia menempatkan sebagian besar uangnya pada opsi saham sebuah perusahaan farmasi kecil."
Michael mengangguk.
"Transaksinya memang tidak biasa, tetapi jumlahnya terlalu kecil untuk memengaruhi pasar. Bisa saja dia hanya seorang mahasiswa yang sedang mencoba peruntungan."
"Itu kemungkinan yang masuk akal."
Richard menyandarkan punggungnya.
"Namun, saya ingin tahu mengapa dia memilih perusahaan tersebut."
"Apakah Anda mencurigai adanya informasi orang dalam?"
"Saya belum menuduh siapa pun. Jangan membuat kesimpulan sebelum kita memiliki bukti."
Richard menutup laporan itu.
Ia telah melihat banyak investor pemula kehilangan uang karena mengejar rumor. Sebagian besar dari mereka tidak pernah memahami risiko yang diambil.
Namun, ada pula segelintir orang yang mampu menemukan peluang sebelum pasar menyadarinya.
Richard ingin mengetahui Arthur termasuk kelompok yang mana.
"Periksa apakah dia memiliki hubungan keluarga dengan perusahaan tersebut," perintahnya. "Lihat juga riwayat transaksinya, sejauh yang bisa diperoleh secara sah. Jangan mengakses informasi pribadi yang tidak berhak kita lihat."
"Baik, Pak."
"Dan satu hal lagi."
Michael berhenti sebelum mencapai pintu.
"Jangan menghubunginya dahulu. Saya ingin melihat apa yang akan dilakukannya selanjutnya."
Setelah Michael pergi, Richard kembali menatap laporan tersebut.
Di dunia investasi, transaksi kecil tidak selalu berarti tidak penting.
Terkadang, seseorang yang tidak memiliki apa-apa justru lebih berbahaya daripada investor besar yang merasa sudah mengetahui segalanya.
Keesokan paginya, Arthur tiba di sebuah kedai kopi dekat kampus pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.
Daniel sudah menunggunya di meja dekat jendela. Di hadapannya terdapat laptop, secangkir kopi, dan beberapa lembar catatan.
"Kau terlambat lima belas menit dari jadwal yang kubayangkan," ujar Daniel.
Arthur melihat jam tangannya.
"Aku datang lima belas menit lebih awal."
"Itulah masalahnya. Kau membuatku merasa terlambat padahal aku datang tepat waktu."
Arthur duduk dan meletakkan tasnya di samping kursi.
"Bagaimana daftar yang kuminta?"
Daniel memutar laptopnya.
Lima nama bisnis muncul di layar. Ada sebuah restoran keluarga, toko pakaian kecil, jasa perbaikan komputer, studio fotografi, dan toko perlengkapan olahraga.
Arthur memeriksa satu per satu.
"Kenapa memilih mereka?"
"Produknya bagus, ulasan pelanggan cukup positif, tetapi situs web mereka buruk atau bahkan tidak punya situs web."
Daniel membuka halaman restoran keluarga yang berada di kawasan Queens.
"Lihat ini. Mereka punya pelanggan tetap, tetapi informasi jam operasionalnya berbeda antara situs direktori dan halaman media sosial. Foto makanannya juga buruk. Mereka mungkin kehilangan pelanggan hanya karena orang tidak yakin restoran ini benar-benar buka."
Arthur mengangguk.
"Bagus. Itu masalah yang bisa kita ukur."
Ia mengambil selembar kertas dan membaginya menjadi beberapa kolom.
Jumlah pelanggan potensial.
Masalah pemasaran.
Biaya perbaikan.
Hasil yang dapat diukur.
"Kita tidak akan menjanjikan bahwa penjualan mereka langsung naik dua kali lipat," kata Arthur. "Kita akan menawarkan layanan sederhana: memperbaiki informasi bisnis, membantu mereka mengelola kehadiran daring, memperbarui foto produk, dan membuat kampanye pemasaran lokal dengan anggaran kecil."
Daniel memperhatikan catatan itu.
"Berapa harga yang akan kita tawarkan?"
"Untuk klien pertama, kita bisa mulai dari seratus lima puluh hingga tiga ratus dolar, tergantung pekerjaan. Sebagian dibayarkan di awal, sisanya setelah pekerjaan selesai."
Daniel mengerutkan kening.
"Kenapa begitu murah?"
"Karena kita belum memiliki portofolio. Kita harus membuktikan bahwa pekerjaan kita memberikan nilai."
"Dan setelah itu?"
"Kita menaikkan harga berdasarkan hasil, pengalaman, serta biaya yang sebenarnya."
Daniel mengetuk meja dengan jarinya.
"Aku bisa membuat situs sederhana dan mengatur beberapa layanan daring. Tapi aku tidak pandai menjual."
"Aku yang akan menangani penjualan."
"Kau yakin bisa meyakinkan pemilik bisnis untuk membayar dua mahasiswa?"
Arthur menatapnya dengan tenang.
"Aku pernah menghabiskan puluhan tahun bernegosiasi dengan orang-orang yang mempertaruhkan miliaran dolar. Menawarkan layanan senilai dua ratus dolar seharusnya tidak menjadi masalah."
Daniel tertawa.
"Kau berbicara seolah-olah pernah menjadi direktur perusahaan besar."
Arthur terdiam sepersekian detik.
Kemudian ia mengangkat cangkir kopinya.
"Mungkin aku hanya terlalu banyak membaca."
Daniel menggeleng, tetapi tidak melanjutkan pertanyaan.
Mereka menghabiskan hampir satu jam menyusun rencana kerja. Daniel akan menyiapkan contoh halaman bisnis dan mengaudit situs calon klien, sedangkan Arthur akan menghubungi pemilik usaha serta menjelaskan layanan mereka.
Mereka sepakat tidak akan menyewa kantor atau membeli peralatan baru sebelum mendapatkan pendapatan pertama.
Semua biaya harus dijaga serendah mungkin.
Ketika pertemuan berakhir, Daniel menutup laptopnya.
"Jadi, siapa calon pelanggan pertama kita?"
Arthur menunjuk nama restoran keluarga di bagian atas daftar.
"Tempat ini."
"Kenapa?"
"Karena masalahnya jelas, pemiliknya kemungkinan dapat mengambil keputusan sendiri, dan kita bisa menunjukkan perubahan yang konkret."
Arthur berdiri.
"Selain itu, aku lapar."
Daniel menghela napas.
"Kadang-kadang aku tidak tahu apakah kau seorang pengusaha jenius atau hanya orang yang sangat pandai mencari alasan untuk makan."
"Kalau kita berhasil, kau boleh menyebutku apa pun."
Restoran itu terletak di sebuah jalan yang tidak terlalu ramai di Queens.
Papan namanya sederhana. Beberapa meja terlihat dari jendela depan, sementara aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruangan ketika Arthur dan Daniel masuk.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan celemek berdiri di belakang meja kasir.
"Selamat pagi. Kalian mau memesan sesuatu?"
Arthur mendekat dengan sopan.
"Selamat pagi, Pak. Nama saya Arthur, dan ini teman saya, Daniel. Kami mahasiswa yang sedang membantu bisnis lokal meningkatkan pemasaran mereka."
Pria itu menatap mereka bergantian.
"Jadi, kalian menjual iklan?"
"Bukan tepat seperti itu," jawab Arthur. "Kami melihat informasi restoran ini di internet. Ada beberapa hal yang mungkin membuat calon pelanggan kesulitan menemukan tempat ini."
Ekspresi pria itu berubah sedikit waspada.
"Seperti apa?"
Arthur tidak langsung mengeluarkan presentasi panjang.
Ia menunjukkan ponselnya dan membuka halaman restoran tersebut.
"Jam operasional di sini berbeda dengan informasi di direktori lain. Foto menunya juga sudah cukup lama, dan pelanggan yang mencari restoran sarapan di sekitar sini mungkin tidak menemukan informasi terbaru."
Pria itu memeriksa layar.
Wajahnya perlahan berubah serius.
"Benar. Saya sudah mencoba memperbaikinya, tetapi saya tidak terlalu mengerti komputer."
Arthur mengangguk.
"Kami bisa membantu memperbarui informasi, memperbaiki tampilan halaman bisnis, dan menyusun promosi lokal yang sederhana. Sebelum menawarkan harga, kami ingin memahami kebutuhan restoran ini terlebih dahulu."
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Samuel Carter, pemilik restoran yang telah dijalankannya selama hampir dua belas tahun.
Samuel menjelaskan bahwa bisnisnya masih bertahan berkat pelanggan tetap, tetapi jumlah pengunjung baru tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir.
Arthur mendengarkan dengan saksama.
Ia tidak menjanjikan keajaiban.
Ia bertanya tentang jumlah pelanggan harian, jam tersibuk, menu paling populer, dan biaya yang sanggup dikeluarkan Samuel untuk pemasaran.
Setelah percakapan selama dua puluh menit, mereka menyepakati pekerjaan percobaan senilai dua ratus dolar. Samuel akan membayar seratus dolar di muka dan sisanya setelah perubahan yang disepakati selesai.
Daniel hampir tidak percaya ketika mereka keluar dari restoran.
"Kita benar-benar mendapat klien pertama."
Arthur memasukkan uang muka yang telah mereka terima ke dalam amplop.
"Jangan terlalu cepat merayakan. Kita masih harus menyelesaikan pekerjaannya."
"Tapi ini berarti kita punya uang untuk memulai!"
"Ini berarti kita punya tanggung jawab."
Arthur menatap restoran itu sekali lagi.
Dua ratus dolar bukanlah angka besar bagi seseorang yang pernah memiliki kekayaan triliunan dolar.
Namun, ia tahu betapa pentingnya pendapatan pertama yang diperoleh melalui usaha sendiri.
Dalam kehidupan pertamanya, ia memulai perjalanan bisnisnya dengan ketakutan akan kegagalan.
Kali ini, ia memulainya dengan kesabaran.
Sore harinya, Arthur kembali ke apartemennya.
Ia meletakkan amplop berisi uang muka di atas meja, kemudian membuka laptop tua yang sering mengalami gangguan.
Ia ingin memeriksa perkembangan investasinya.
Harga saham perusahaan farmasi itu belum menunjukkan perubahan besar. Tidak ada pengumuman resmi mengenai hasil uji klinis yang ia tunggu.
Arthur tidak panik.
Ia tahu bahwa pasar bisa bergerak berlawanan arah dalam jangka pendek. Ia juga memahami bahwa opsi memiliki risiko kehilangan seluruh nilai jika harga dan waktu tidak berpihak kepadanya.
Pengetahuannya tentang masa depan merupakan keunggulan, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan manajemen risiko.
Ia membuka halaman lain dan mulai menyusun daftar perusahaan teknologi yang ingin dipelajarinya.
Lalu, sebuah pesan masuk ke alamat surel mahasiswa miliknya.
Pengirimnya tidak dikenal.
Subjeknya singkat.
Pertanyaan tentang investasi Anda.
Arthur membuka pesan tersebut.
Mr. Sterling,
Kami memperhatikan transaksi Anda pada sebuah perusahaan farmasi yang diperdagangkan di NASDAQ. Kami tertarik memahami dasar analisis yang Anda gunakan sebelum mengambil posisi tersebut.
Jika Anda bersedia, kami ingin mengatur pertemuan singkat untuk membicarakan pandangan Anda mengenai pasar.
Hormat kami,
Richard Coleman.
Arthur membaca pesan itu dua kali.
Richard Coleman.
Nama tersebut membangkitkan ingatan samar. Dalam kehidupan pertamanya, Richard pernah menjadi investor berpengaruh yang terlibat dalam beberapa kesepakatan besar di Wall Street.
Namun, Arthur tidak mengingat bahwa mereka pernah berhubungan pada tahap awal kariernya.
Ia menutup surel itu tanpa membalas.
Bukan karena takut.
Ia hanya belum tahu apakah undangan tersebut merupakan peluang atau perangkap.
Arthur berdiri dan berjalan menuju jendela apartemen.
Di kejauhan, Manhattan berkilau di bawah cahaya senja.
Dahulu, ia menghabiskan puluhan tahun untuk mendapatkan tempat di antara para penguasa keuangan kota itu.
Sekarang, bahkan sebelum memperoleh seribu dolar pertama, seseorang dari dunia tersebut telah memperhatikannya.
Arthur tersenyum tipis.
"Sepertinya permainan ini akan dimulai lebih cepat daripada yang kuperkirakan."
Ia kembali ke meja, membuka surel Richard sekali lagi, lalu mulai menyusun balasan.
Jika Richard benar-benar ingin mengetahui cara berpikirnya, Arthur akan memberinya jawaban yang cukup menarik untuk membuat mereka bertemu.
Namun, ia tidak akan memberikan informasi yang bisa mengungkap rahasia terbesarnya.
Kali ini, Arthur Sterling akan membiarkan dunia melihat apa yang ingin ia tunjukkan—dan menyembunyikan segala sesuatu yang belum waktunya diketahui.