Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Keluarga Prakarsa
Aris menatap bibir manis Raya yang berada tepat di hadapannya. Terbawa oleh rasa cinta yang meluap-luap, rasa syukur karena ancaman orang tuanya mereda, serta kehangatan yang mengalir di dalam dadanya, Aris perlahan memejamkan mata dan mulai menundukkan kepalanya, berniat mendaratkan kecupan penuh rasa cinta di bibir wanita itu.
Namun, tepat saat jarak bibir mereka hanya tinggal hitungan sentimeter...
Seketika itu juga, bayangan mengerikan menyambar kesadaran Aris bagaikan sambaran petir di ruang gelap.
Bayangan malam jahanam itu berkelebat liar di balik kelopak matanya, suara benturan logam yang memekakkan telinga, pecahan kaca yang berserakan, hujan deras yang membasahi aspal malam, dan pemandangan mengenaskan ketika ia mendapati tubuh Ardiansyah terkulai lemas, bersimbah darah, dan kehilangan nyawanya di dalam mobil sedan putih yang hancur remuk.
Deg!
Napas Aris mendadak tersengal. Seluruh darah di tubuhnya mendadak surut, meninggalkan sensasi dingin yang menusuk tulang. Matanya membelalak lebar, dan tubuhnya bergetar hebat.
Dengan sentakan kasar yang mengejutkan, Aris langsung menarik mundur wajahnya, menjauhkan bibirnya dari Raya seolah ia baru saja menyentuh bara api yang membakar. Tangannya yang tadinya memegang pipi Raya terlepas begitu saja.
Raya terperanjat kaget. Ia menatap Aris dengan mata membelalak penuh kebingungan. "A-Aris...? Ada apa...?"
Aris terhuyung mundur dua langkah, memegang dadanya yang terasa sesak luar biasa, sementara napasnya memburu tidak beraturan. Keringat dingin kembali bercucuran di pelipisnya.
Melihat sentuhan itu terhenti secara tiba-tiba dan ketakutan mengerikan yang terpancar dari mata Aris, Raya makin merasa cemas. Ia pun mengulurkan tangannya hendak menyentuh lengan Aris. "Aris, kamu kenapa? Apakah ada yang sakit lagi? Apakah aku berbuat salah...?"
"J-jangan...!" rintih Aris tertahan, mengangkat satu tangannya untuk menghentikan gerakan Raya. Suaranya bergetar parah, dihiasi oleh kepedihan dan rasa jijik pada dirinya sendiri.
Pria perkasa itu menundukkan kepalanya, lalu mencengkeram rambutnya sendiri dengan erat. Di dalam hatinya, bisikan tak kasat mata terus menghantam keras.
Bagaimana bisa kamu mencium bibir wanita ini... menggunakan bibir yang sama dengan pria yang merenggut nyawa suaminya? Sentuhanmu adalah dosa. Kebahagiaanmu adalah kutukan.
"Aris... kumohon, katakan ada apa..." suara Raya berubah serak, air mata kecemasan kembali menetes di pipinya melihat Aris tersiksa hebat di hadapannya.
Aris memejamkan matanya erat-erat, menahan isak tangis keputusasaan yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Ia tahu ia tidak boleh menceritakan alasannya. Ia harus kembali menelan mentah-mentah rasa bersalah itu sendirian di dalam penjara tak bertepi yang diciptakannya sendiri.
Beberapa hari setelah konfrontasi menegangkan di mansion pribadi Aris, suasana, di Kediaman Utama Keluarga Prakasa terasa begitu kontras dengan tempat tinggal Aris.
Terletak di sebuah kawasan perbukitan elit dengan arsitektur klasik Eropa modern yang dikelilingi pagar tinggi berukir emas dan taman luas terawat, rumah utama ini memancarkan wibawa kekuasaan yang sesungguhnya.
Keluarga Prakasa bukanlah keluarga konglomerat sembarangan, gurita bisnis mereka membentang dari sektor logistik pelabuhan internasional, properti komersial, hingga pertambangan energi di berbagai belahan dunia.
Di ruang kerja pribadi Pak Baskoro yang dilapisi kayu jati tua dan dipenuhi rak-rak buku tebal bernilai sejarah, udara terasa dingin oleh pendingin ruangan.
Baskoro Prakasa duduk di balik meja kerja marmer hitamnya, jemarinya yang mengenakan cincin berlian bermotif keluarga mengetuk-ngetuk permukaan meja secara berirama.
Di seberangnya, istrinya, Lidya Prakasa, berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke kolam renang (infinity pool), memandangi gemerlap lampu kota di kejauhan dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.
Meskipun saat pertemuan mereka di mansion Aris beberapa hari lalu Lidya tampak melunak setelah mendengar penjelasan putranya, seorang wanita cerdas berdarah dingin sepertinya tidak akan pernah menelan mentah-mentah sebuah cerita begitu saja.
Ada terlalu banyak kejanggalan yang tersimpan rapi di balik alasan Aris. Seorang wanita amnesia tanpa identitas jelas, seorang anak balita yang diadopsi secara mendadak dari "sahabat yang telah meninggal", dan sifat Aris yang mendadak menjadi sangat tertutup dan protektif secara berlebihan.
Bagi keluarga Prakasa, masa depan konsorsium bisnis bukanlah main-main. Setiap langkah yang diambil oleh sang pewaris tunggal harus bersih dari celah hukum, skandal sosial, atau potensi ancaman reputasi di masa depan.
"Mas," suara Lidya memecah keheningan ruangan yang pekat. Ia memutar tubuhnya, menatap suaminya dengan raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran mendalam. "Kamu benar-benar percaya pada cerita Aris waktu itu? Tentang kecelakaan itu, tentang amnesia wanita itu, dan tentang anak angkat itu?"
Baskoro menghentikan ketukan jemarinya. Ia mendongak dan menatap istrinya dengan sorot mata yang sama sekali tidak menunjukkan kepolosan.
"Lidya, putra tunggal kita adalah pria paling rasional di dunia korporat," jawab Baskoro dengan suara bassnya yang tenang namun berwibawa. "Aris tidak pernah bertindak emosional sepanjang hidupnya. Tapi sejak kecelakaan beberapa bulan lalu, dia mengurung diri di rumah terpencil, mengabaikan rapat penting di kantor pusat, dan mempertaruhkan seluruh atensinya pada seorang wanita asing."
Baskoro berdiri dari kursi kerjanya, sambil merapikan jas rumahannya. "Aris mungkin berhasil menipu mata orang awam, tapi dia tidak bisa menipu orang tuanya sendiri. Ada rahasia besar yang sedang disembunyikan anak itu. Dan demi masa depan Aris serta kelangsungan nama besar keluarga Prakasa, kita harus tahu siapa sebenarnya wanita bernama Raya itu."
Lidya mengangguk pelan. "Lalu, apa rencana kita? Aris tidak akan pernah mau jujur jika kita terus mendesaknya secara langsung. Pertahanannya terlalu kuat kalau menyangkut wanita itu."
Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh pengalaman seorang pebisnis kawakan yang tahu persis bagaimana cara membuka brankas rahasia tanpa harus merusak kuncinya.
"Kita tidak perlu bertanya pada Aris," ujar Baskoro mantap. "Kita panggil satu-satunya orang yang tahu seluruh isi kepala Aris, yang mengatur setiap langkah operasionalnya, dan yang memegang seluruh arsip rahasia perusahaan maupun pribadinya."
"Maksudmu... Hendra?" tanya Lidya.
"Tepat sekali," sahut Baskoro. Ia kemudian meraih gagang telepon meja di sampingnya. "Panggil Hendra sekarang juga ke sini."
Bersambung...
.