Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Mertua
Sore ini, Rea sudah siap dengan pakaian kasualnya, sweater putih, jeans hitam, sepatu putih dengan rambut diikat kuda, seperti biasa.
"Mau kemana?" tanya Althan yang tengah duduk di teras rumah sambil menyeruput teh hangat.
"Mau ke rumah Kak Gala," jawab Rea bertepatan dengan motor matic milik Gala memasuki pekarangan rumahnya.
Gala turun dari motor, kemudian membuka helmnya sembari tersenyum ke arah sang mertua. "Assalamualaikum, Yah."
"Waalaikumussalam."
Althan menerima uluran tangan Gala yang hendak menyalaminya. Setelah itu, Gala juga mengulurkan tangan ke arah Rea.
"Apa?" tanya Rea dengan tidak peka.
"Salam sama suami biar berkah," katanya sambil meraih tangan Rea, dan menempelkan punggung tangannya di hidung gadis itu.
Rea mendengus, menepis pelan tangan itu dan menatap Gala sinis. Bagaimana tidak, Gala bukan hanya menempelkan namun juga sedikit mendorongnya hingga ia sedikit mundur.
Althan yang melihat hal tersebut sontak terkekeh pelan, sepasang suami-istri baru yang selalu ribut ketika bertemu.
"Sudah siap?"
Rea mengangguk atas pertanyaan yang Gala berikan.
"Ya sudah. Yah, Gala izin bawa Rea ke rumah gak apa-apa?" tanya Gala dengan sopan.
"Ya gak apa-apa, dong. Kalau tinggal sama kamu terus juga gak masalah."
Gala mengangguk, lalu menyalami ayah mertuanya kembali. "Kami pamit, Yah. Assalamualaikum."
"Heh, salam dulu sama Ayah!" tegur Gala ketika melihat Rea berlalu mengikutinya tanpa bersalaman dengan Althan lebih dulu.
Althan tersenyum menerima uluran tangan Rea yang tampak malas, kemudian mengusap dan mengecup singkat puncak kepala gadis itu.
"Hati-hati, ya? Jangan ngebut, ini lagi jam-jam pulang kerja, biasanya ramai," ucap Althan mengingatkan.
Gala mengangguk, kemudian memberikan helm pada Rea seraya memakai helmnya sendiri.
Gala memasangkan helm dengan baik di kepala gadisnya, dengan mengancingkan pengait helm itu.
"Kalau pakai helm itu yang benar, biar aman," begitu katanya.
Rea hanya berdecak malas, baginya Gala terlalu ribet, walaupun memang benar adanya.
Padahal, jika berkendara sendiri saja Rea sangat jarang mengenakan helmnya.
"Pegangan!"
Rea sontak meletakkan kedua tangannya di bahu Gala, membuat cowok itu berdecak.
"Gini dong, biar pro!" kata Gala seraya menarik tangan Rea untuk melingkari pinggangnya.
"Biasa aja, gak usah canggung. Sudah halal, gak dosa, " katanya saat merasakan Rea ingin melepas pelukannya.
Rea hanya mampu pasrah, ia bahkan menyandarkan kepalanya di pundak cowok itu. Biarkan saja, lagi pula tidak ada salahnya, kan?
"Sudah makan?" tanya Gala saat motor mereka mulai melaju membelah jalanan yang memang cukup ramai.
"Kan mau masak?" Rea beralih menumpukkan dagu di atas pundak Gala, menatap cowok itu dari kaca spion.
"Ibu sudah masak."
Rea memukul punggung cowok itu. "Ish, kan gue pengin belajar masak. Kalau Ibu sudah masak, entar masakannya buat apa?" kesal Rea dengan bibir mengerucut.
"Ya gak tau. Orang tadi pas gue bilang lo mau ke sana, Ibu langsung masak aja. Katanya, buat nyambut anak mantu." Gala tidak berbohong, karena itu memang kenyataannya.
Rea berdecak sambil menghela nafas kasar. "Percuma dong gue datang."
"Gak, orang Ibu sudah pengin banget lo datang ke sana."
Rea tak menjawab, ia sudah terlanjur bete karena niatnya ingin belajar masak dengan sang mertua harus gagal.
Gala melirik gadis itu lewat kaca spion, sontak tersenyum kecil. Ia menghentikan laju motornya ketika sampai di depan rumah.
"Ayo turun," ajak Gala yang sudah turun lebih dulu, dan membantu Rea melepas helmnya.
"Sudah jangan bete gitu. Masa ketemu sama mertua, wajahnya ditekuk?"
Gala mengulurkan tangan pada gadisnya, meminta Rea untuk mengikuti langkahnya.
"Senyum," pinta Gala yang membuat senyum Rea terukir tipis, sangat tipis namun tak mengurangi kadar manis di wajah gadis itu.
"Waalaikumussalam! Akhirnya menantu Ibu datang juga," ucap Revin yang tiba-tiba sudah menyusul mereka di ambang pintu dan memeluk Rea erat.
"Belum juga salam, assalamualaikum!" protes Gala.
Revin menyengir. "Waalaikumussalam. Ya sudah, yuk masuk!"
Tanpa memedulikan keberadaan Gala, Revin menarik tangan Rea agar masuk ke dalam dan menemui Saka yang bersantai di ruang tengah.
"Mentang-mentang ada anak cewek, anak lakinya dilupain," dengus Gala sembari duduk di samping Saka.
Saka terkekeh dan menepuk pundak putranya, sembari menerima uluran tangan Rea.
"Baru sampai, Re?"
Rea mengangguk dan tersenyum tipis.
"Sudah makan?" tanya Revin sembari meminta Rea untuk duduk di sofa yang lain bersamanya.
"Ya sudah, makan sama kita aja!" Padahal Rea belum sempat menjawab, melainkan baru membuka sedikit mulutnya.
Saka dan Gala menggelengkan kepala melihat tingkah Revin yang begitu berlebihan menyambut Rea.
Tetapi, mereka memaklumi, mengingat Revin memang sangat menginginkan anak perempuan. Sedangkan anak mereka laki-laki, dan Gala enggan memiliki adik.
Meski begitu, kalaupun orang tuanya harus memiliki anak lagi, Gala tak akan menolak. Namun, memang sudah menjadi takdir Gala sebagai anak tunggal mungkin, sehingga mereka belum dikaruniai anak kedua.
"Ini sudah mau magrib loh, Bu. Nanti bakda magrib atau isya sekalian aja, biar gak nanggung," kata Gala yang disetujui oleh Saka.
"Oh gitu, ya sudah deh. Nanti kita bikin kue ya, sayang? Katanya kamu pengin belajar masak sama Ibu, iya, kan?"
Rea meringis pelan dan tersenyum kikuk, ia melirik ke arah Gala yang hanya menatapnya dengan senyum mengejek.
"Iya tuh, Bu. Masa tadi sudah mau nangis, waktu Gala bilang kalau Ibu sudah masak," adu Gala yang membuat Rea mendelik kesal.
Revin terkekeh dan mengusap kepala menantunya. "Nanti kita bikin kue yang simpel aja, besok baru kamu bantu Ibu masak, oke?"
Rea hanya mampu mengangguk, jujur saja ia masih terlalu canggung untuk berinteraksi dengan mertuanya.
"Rea nya tertekan itu loh, Bu," timpal Saka menyadari raut tidak nyaman yang Rea perlihatkan.
"Hah, iyakah? Rea gak suka dekat sama Ibu, ya?" Revin memasang wajah sedih. Memang, wanita anak satu itu meski sudah berusia kepala tiga, namun sifat polosnya di masa muda terkadang masih suka terbawa.
"Ah, enggak kok, Bu. Rea bukan gak suka, tapi sedikit canggung aja karena belum terbiasa," jelas Rea tak enak hati.
"Sudah-sudah, lebih baik kita siap-siap salat magrib, sebentar lagi azan. Rea, nanti bisa pinjam mukena sama Ibu, ya?"
Rea gelagapan atas ucapan Saka barusan. Ia mengangguk pelan seraya memilin ujung sweater yang ia kenakan.
Saka berlalu lebih dulu, begitupun dengan Revin yang hendak mengambilkan mukena untuk menantunya. Tersisa Rea yang kini berjalan mendekati Gala yang baru bangkit dari duduknya.
"Kak ...."
"Hm?" Gala menatap Rea dengan alis terangkat.
Rea lagi-lagi memilin ujung bajunya, menggigit bibir bawahnya, kakinya bergerak gelisah.
"Kenapa, hm?" tanya Gala seraya menunduk agar wajahnya bisa lebih dekat dengan wajah Rea.
"Gue ... gue gak pernah salat," gumam Rea yang masih dapat didengar jelas oleh Gala yang membulatkan matanya, terkejut.
"Ini mukenanya, nanti langsung ke mushola dekat dapur, ya? Kita salat jamaah," kata Revin yang baru datang dengan membawa sebuah mukena berwarna putih.
"Gala sama Rea salat di kamar, Bu. Gak apa-apa, kan?" Gala menerima uluran mukena dari Ibunya, dengan tangan lain mencekal tangan Rea agar lebih dekat dengannya.
Revin menatap Gala dan Rea bergantian, sebelum mengangguk dan tersenyum mengiyakan.
.
To be continue ...