Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Penyelamat yang membuat jantung berdebar
"Tasya!" teriak Arga panik membuat Brian yang masih di dalam tenda juga akhirnya terbangun dan menyusul Arga.
"Kak Arga tolong!"
Jingga yang melihat adegan itu hanya bisa tersenyum sinis, dia tidak perlu meminta tolong karena meskipun ia meminta tolong sampai suaranya habis, dua pria itu tidak akan pernah menyelamatkannya.
Jadi Jingga hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk selamat dari bencana itu, untungnya di dekat Jingga ada kayu yang mengapung, Dia segera menggapainya dan berpegangan pada kayu itu.
Aliran sungai yang deras membawa mereka begitu jauh, Arga yang mengejar pun sudah menceburkan dirinya ke sungai dan mengejar Tasya.
Hanya dalam hitungan menit, Arga berhasil menggapai Tasya dan dengan bantuan tali yang dilemparkan Brian dari pinggir sungai mereka berhasil selamat ke pinggir sungai.
Saat Tasya ditarik ke pinggir sungai, Tasya tersenyum melihat Jingga yang berpegangan pada sepotong kayu yang membawanya hanyut menuju hulu.
'Mau bermain-main denganku? Tidak mungkin menang! Hati Bryan dan Arga hanya milikku seorang! Sekarang, nikmati kematianmu! Pergilah ke neraka bersama sepotong kayu itu!' ucap Tasya dalam hati.
Begitu mereka tiba di pinggir, Tasya melihat Jingga yang sudah sangat jauh terbawa aliran sungai, wajahnya panik menatap Arga dan Bryan sambil berkata, "Kita harus menolong Kak Jingga!"
Brian dan Arga menatap Jingga yang terbawa arus sungai semakin menjauh dari mereka, "biarkan saja, ini adalah akibat jika dia berani bermacam-macam padamu! Beraninya dia mendorongmu ke tengah sungai saat dia tahu kau tidak bisa berenang! Perempuan seperti dia layak mendapatkan karmanya!" kata Arga segera membawa Tasya ke gendongannya dan berjalan kembali ke kemah.
Brian pun tidak menoleh ke belakang, dia mengikuti kedua orang itu meninggalkan Jingga yang semakin jauh terbawa arus sungai.
"Terima kasih," kata Jingga melihat ketiga orang itu yang sama sekali tidak memperdulikannya.
"Sekarang aku sudah benar-benar tidak akan memberi mereka kesempatan, tunggu saja, kita akan kembali dan memperhitungkan semuanya!" ucap Jingga seraya menyeka air matanya, segera melihat ke arah sebuah ranting pohon yang menjulur ke sungai, dia mengundurkan tangannya dan meraih ranting tersebut berhasil menggunakan ranting itu untuk berenang ke pinggir dan naik ke permukaan.
Hosh.. Hosh.. Hosh...
Nafas Jingga memburu saat ia berusaha berdiri dan berjalan membelah semak berduri untuk menyelamatkan diri.
Akhirnya ia tiba di jalan setapak, tetapi lukanya sudah penuh dengan goresan luka dan kakinya juga tampaknya tertusuk sesuatu di hutan hingga membuatnya sulit untuk melangkah.
"Sial! aku tidak boleh mati di sini!" Gerutu Jingga saat ia duduk dan merobek gaunnya lalu membungkus kakinya yang terus berdarah.
"Kau baik-baik saja?" Tiba-tiba sebuah suara dari belakang membuat Jingga terkejut ia menoleh dan mendapati seorang pria tampan dengan bahu kekarnya berlari kecil ke arahnya.
Wajah itu seketika membuat Jingga terpesona, benar-benar tampan, bahkan pria tertampan yang pernah ia lihat di dua kehidupan.
Saat itu wajah Jingga memerah ketika ia menyadari tubuhnya yang basah kuyup dengan gaun putihnya itu telah membuat bagian tubuhnya terekspos.
Kulit mulus Jingga di balik gaun putih itu benar-benar tidak bisa disembunyikan lagi, bahkan dada yang membusung menggoda itu pasti tidak luput dari pandangan sang pria itu.
Gila!
Ini hampir tidak berbeda dengan tampil polos di depan pria asing!
Jingga dengan gagap berkata, "A.. Aku...."
"Pakai ini dulu?" pria tampan itu berjongkok di hadapan Jingga, segera melepaskan mantelnya lalu memakaikannya pada Jingga.
Wajah Jingga semakin memerah ketika ia menarik erat-erat mantel itu, ini pertama kalinya ia menggunakan barang orang lain yang bukan berasal dari Arga dan Brian.
Sementara jantungnya, perasaan macam apa ini?
Bukankah biasanya dia hanya merasakan perasaan ini ketika dekat dengan Arga?
Sekarang perasaan ini muncul untuk orang asing yang belum ia kenal, bahkan mereka baru bertemu kurang dari semenit.
"Lukamu harus segera diobati, pendarahannya tidak berhenti," kata pria tampan itu segera membawa Jingga ke gendongannya dan berjalan dengan langkah yang mantap.
'Tubuh perempuan ini sangat kurus, bahkan dia lebih ringan dari seekor rusa kecil,' pikir sang pria dalam hati berusaha menahan diri agar tidak mencuri pandang pada wajah Jingga yang begitu mempesona.
Sementara Jingga yang berada di gendongan sang pria, dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat menyadari jantung pria itu juga berdegup lebih kencang darinya.
Apakah arti dari semua ini?
Mereka sama-sama berdebar satu sama lain, apakah jangan-jangan....
Jingga menggelengkan kepalanya, memejamkan mata dan tidak ingin berpikir aneh-aneh pada seorang pria baik yang baru saja ia temui.
Coba saja kalau itu pria lain yang melihatnya, mungkin dia sudah habis dilecehkan di tengah hutan beranta itu.
Tapi pria ini, dia sangat sopan, baik dan juga tampan, tidak ada satupun kekurangan darinya, beribu kali lebih baik dari dua pria yang dipungut keluarga Amazon dan sudah didandani seperti layaknya pengeran.