Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Pelarian
Hutan bambu di utara Lembah Bunga Lotus malam itu terasa begitu kejam. Hujan gerimis yang bercampur dengan angin malam pegunungan menusuk tulang, menyebarkan bau anyir darah yang menempel di sekujur pakaian ketiga sosok yang berlari compang-camping di tengah kegelapan.
Di antara rimbunnya akar pohon dan bebatuan licin, Feng dan Bao memapah tubuh seorang gadis remaja yang langkah kakinya kian melemah.
Zhao Lianhua yang baru saja menyaksikan kehancuran markas tercintanya dan pengorbanan Tuan Zhao, berjalan dengan kesadaran yang mulai melayang-layang.
Pakaian birunya kini berlumuran darah segar yang merembes dari luka sayatan di bahu dan lengan kanannya.
Setiap kali ia melangkah, tetesan darah hangat jatuh menyentuh dedaunan basah, dan meninggalkan jejak kelam di atas tanah berlumpur.
"Tahan sebentar lagi, Lianhua!" napas Feng tersengal-sengal. Wajah pemuda itu penuh dengan noda jelaga dan air mata yang menyatu dengan air hujan.
Bahunya sendiri terluka akibat sabetan tombak musuh, namun ia mengabaikannya demi terus menyeret langkah Lianhua menjauhi kejaran Pasukan Serigala Hitam.
"Bao, periksa jalan di depan! Pastikan tidak ada prajurit istana yang berjaga di jalur gua persembunyian!" perintah Feng kepada Bao yang berlari di barisan depan dengan napas memburu.
Bao, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, mengangguk cepat. Ia menyingkirkan dahan-dahan semak berduri yang menghalangi jalan setapak menuju mulut Gua Mutiara Air, tempat rahasia yang dulu pernah dijelajahi Lianhua saat ia masih berusia tujuh tahun.
Begitu mereka tiba di dalam rongga gua yang gelap dan terlindung dari terpaan angin luar, Feng dan Bao merebahkan tubuh Lianhua secara perlahan di atas hamparan lumut kering di dekat dinding batu.
Lianhua tidak merintih kesakitan karena luka fisiknya. Rasa sakit di bahunya tak ada apa-apanya dibanding rongga dadanya yang terasa hampa dan terbakar.
Matanya yang jernih menatap kosong ke arah langit-langit gua yang diterangi pendar samar jamur malam. Bayangan detik-detik mengerikan di Lembah Berkabut terus berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan mimpi buruk yang tak berujung.
“Feng, Bao! Bawa Lianhua pergi dari sini! Selamatkan dia!”
Suara Tuan Zhao yang bergetar saat menahan pedang musuh dengan dadanya terus terngiang-ngiang di telinganya. Begitu pula wajah Paman Chen, Paman Han, dan puluhan pemuda desa yang gugur tersapu gelombang panah dan meriam api istana.
"Ayah... Paman Chen... Paman Han..." bisik Lianhua dengan bibir gemetar pucat pasi. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit berdiri, namun tenaganya sudah terkuras habis akibat kehilangan banyak darah.
"Aku harus kembali..." rintih Lianhua, jemari tangannya yang berlumuran darah mencengkeram tanah batu gua dengan putus asa. "Lepaskan aku... Aku harus kembali ke lembah! Bagaimana bisa aku melarikan diri seorang diri sementara semua orang... sementara Ayah Zhao masih di sana berjuang menghadapi mereka?!"
Feng berlutut di samping Lianhua, dan menahan pundak gadis itu dengan lembut namun tegas. Air mata Feng pun menetes deras membasahi pipinya.
"Lianhua, sadarlah!" suara Feng bergetar hebat karena menahan isak tangis yang menyesakkan dada. "Jika kau kembali sekarang, pengorbanan Tuan Zhao akan sia-sia! Beliau mempertaruhkan nyawanya agar kau bisa hidup! Apakah kau ingin seluruh cucuran darah di lembah itu menjadi sia-sia?!"
"Tapi... tapi aku meninggalkan mereka, Feng! 😭😭😭" air mata Lianhua akhirnya tumpah dan mengalir deras membasahi pipinya yang kotor oleh debu pertempuran.
Isakannya berubah menjadi ratapan pilu seorang anak yang kehilangan segalanya di dunia ini. "Aku pemimpin mereka... 😭😭😭Seharusnya aku berdiri di garis depan bersama Ayah sampai akhir! Kenapa... kenapa aku yang harus selamat?!"
Bao yang sedang merobek secarik kain dari jubahnya untuk membalut luka Lianhua ikut terisak. "Lianhua... bukan salahmu. Pasukan istana datang membawa senjata pemusnah yang tidak bisa kita imbangi. Tuan Zhao menitipkanmu pada kami... Beliau ingin melihatmu tetap hidup."
Mendengar nama Tuan Zhao disebut, Lianhua menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetar. Tubuhnya bergetar hebat dalam dekapan kesedihan yang teramat sangat.
Di dalam kegelapan Gua Mutiara Air itu, gadis yang selama ini dikenal paling cerdik, paling tangguh, dan paling berwibawa di antara seluruh pasukan perlawanan, kini hanyalah seorang gadis tujuh belas tahun yang hancur lebur kehilangan figur seorang ayah.
Melihat kondisi Lianhua yang kian melemah akibat demam tinggi dan pendarahan yang belum berhenti, Feng segera mengambil alih kendali kesadaran praktisnya.
Sebagai pemuda yang sempat diajar dasar-dasar pengobatan oleh Bibi Mei, ia tahu mereka tidak boleh tinggal diam di tempat terbuka terlalu lama.
"Bao, nyalakan obor kecil dari batu api! Cepat kumpulkan herba penawar infeksi yang tumbuh di dinding dalam gua ini!" titah Feng.
Bao mengangguk dan bergegas meraba-raba kegelapan sudut gua. Tak lama kemudian, ia kembali membawa segenggam daun herba segar berwarna keperakan yang biasa digunakan untuk menghentikan pendarahan.
Feng menumbuk herba itu menggunakan dua buah batu datar, lalu menghampiri Lianhua.
"Lianhua, tahan sebentar. Ini akan terasa sangat perih," ujar Feng lembut sambil membuka balutan kain kotor di bahu kanan Lianhua.
Lianhua mengepalkan giginya rapat-rapat, dan menahan erangan saat ramuan herba dingin itu ditekan langsung di atas luka sayatan pedang yang menganga.
Rasa perih yang luar biasa menyengat sekujur sarafnya, hingga membuat keningnya dibanjiri butiran keringat dingin. Namun, ia tidak mengeluarkan suara rintihan sedikit pun. Sisa-sisa harga diri dan keteguhan seorang putri pejuang tetap terjaga di balik bibirnya yang digigit hingga berdarah.
Setelah luka itu dibalut rapat menggunakan kain bersih, pernapasan Lianhua perlahan-lahan mulai teratur, meski tubuhnya masih menggigil kedinginan akibat demam.
Feng duduk bersila di samping Lianhua, dan menatap ke arah mulut gua yang diluar sana masih diguyur hujan deras.
"Feng," bisik Lianhua lirih, suaranya terdengar sangat lemah. Matanya yang sayu menatap pemuda itu di bawah pendar obor kecil. "Bagaimana... bagaimana keadaan di luar sana? Apakah... apakah pasukan istana mengejar kita?"
Feng menggeleng pelan. "Untuk malam ini, hujan lebat dan longsoran batu di tebing utara menutup jalur masuk lembah. Pasukan istana kemungkinan besar sedang membersihkan reruntuhan dan mengamankan area bawah. Tapi mereka tidak akan berhenti, Lianhua. Mereka tahu kita berhasil lolos."
Lianhua memalingkan wajahnya dan menatap dinding gua yang basah. Tatapannya kosong namun menyimpan bara api yang membara di baliknya.
"Mereka boleh meratakan Lembah Bunga Lotus menjadi abu..." bisik Lianhua, suaranya kini berubah menjadi dingin, sangat kontras dengan kondisinya yang melemah. "Mereka boleh membunuh semua orang yang kita sayangi... Tapi selama aku bernapas, Aliansi Bunga Lotus tidak akan pernah mati."
Feng dan Bao tertegun mendengarkan kalimat itu. Meskipun tubuh Lianhua terluka parah dan air matanya belum sepenuhnya kering, jiwa kepemimpinan di dalam diri sang putri tidak pernah padam. Ia hanya beralih bentuk dari kepedihan menjadi tekad baja yang siap menuntut keadilan.
Bersambung...