NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELINDUNG PRIBADI

Benda logam seukuran kepalan tangan itu melayang di udara, memutar lambat di bawah guyuran sisa gerimis malam. Di mata Leo, waktu seolah berhenti berdetak. Pecahan detik itu terasa seperti berjam-jam. Ia bisa melihat pin granat yang sudah terlepas, memantulkan cahaya redup dari lampu jalan yang berkedip-kedip di kejauhan.

Di sebelahnya, Elena masih sibuk menyeret dua tas kanvas berisi uang tiga juta dolar. Posisi gadis itu benar-benar terbuka, sama sekali tidak menyadari kematian yang sedang meluncur ke arah mereka.

Insting hewani Leo mengambil alih. Logikanya mati. Otaknya tidak sempat memikirkan rasa sakit di bahu kanannya yang baru saja dijahit, atau rencana besar memperebutkan takhta klan Valenti. Yang ada di kepalanya hanya satu: gadis peretas ini tidak boleh mati malam ini.

"Elena, awas!" teriak Leo melempar tubuhnya ke arah gadis itu.

Berat tubuh pria itu menghantam Elena dengan keras, membuat gadis itu terkesiap kaget saat kedua kakinya kehilangan pijakan. Leo merengkuh pinggang Elena, memutar posisi mereka di udara, dan membanting punggung gadis itu ke atas aspal kasar tepat di balik tumpukan pipa beton gorong-gorong berukuran raksasa.

Sedetik sebelum granat itu menyentuh tanah, Leo menutupi seluruh tubuh Elena dengan tubuhnya sendiri. Ia menyembunyikan kepala gadis itu di dadanya, menekan tubuh mereka seerat mungkin ke permukaan beton yang dingin.

BBAAAMMM!

Ledakan itu tidak terdengar seperti suara di dalam film aksi. Suaranya jauh lebih mengerikan, seperti raungan monster yang merobek udara dan gendang telinga secara bersamaan. Gelombang kejutnya menghantam tumpukan pipa beton di atas mereka, menggetarkan tanah pijakan seolah terjadi gempa bumi berkekuatan tinggi.

Udara dingin malam seketika berubah menjadi hawa panas yang membakar. Serpihan aspal, kerikil, dan pecahan logam panas berhamburan liar ke segala arah seperti badai peluru tajam.

Leo memejamkan mata rapat-rapat sambil menggertakkan giginya. Ia merasakan punggungnya dihantam rentetan benda keras berulang kali. Jas sutra mahal yang membalut tubuhnya robek di beberapa tempat. Bau mesiu yang menyengat, daging terbakar, dan debu beton langsung memenuhi rongga hidungnya, membuat napasnya sesak.

Selama beberapa detik setelah ledakan, dunia terasa hening. Telinga Leo hanya menangkap suara dengingan bernada tinggi yang menyakitkan. Pandangannya berkunang-kunang, debu kelabu pekat menyelimuti udara di sekitar mereka, membuat jarak pandang hanya tersisa kurang dari satu meter.

Di bawah tubuhnya, Elena terbatuk keras. Tangan gadis itu mencengkeram erat kemeja Leo yang sudah bersimbah darah.

"Leo..." panggil Elena dengan suara serak, napasnya tersengal-sengal menelan debu. "Kau... kau masih hidup?"

Leo tidak langsung menjawab. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya. Punggungnya terasa seperti baru saja dipukuli dengan palu godam berkali-kali. Luka tembak di bahu kanannya sudah robek sepenuhnya, mengalirkan darah hangat yang kini menetes membasahi bahu gaun merah marun Elena.

"Aku belum mati," rintih Leo memaksakan diri untuk berguling ke samping, melepaskan tindihannya dari tubuh Elena. Ia bersandar pada pipa beton, napasnya putus-putus. "Sialan... punggungku rasanya seperti dipanggang."

Elena buru-buru duduk. Penampilannya sangat berantakan. Rambutnya yang disanggul anggun kini terurai berbalut debu tebal. Gaunnya kotor oleh lumpur dan sisa aspal. Tapi matanya membelalak panik saat melihat kondisi pria di depannya.

Jas abu-abu Leo hangus di bagian punggung. Beberapa serpihan tajam dari bodi mobil dan kerikil aspal menancap dangkal di punggung dan lengan kirinya. Darah segar terus mengalir dari bahu kanannya, menodai kemeja putihnya menjadi merah pekat. Topeng silikon Rafael Rossi di wajahnya ikut tergores aspal, sebagian mulai mengelupas di bagian leher, memperlihatkan kulit aslinya.

"Kau gila?!" bentak Elena dengan suara bergetar panik, tangannya tanpa sadar menyentuh dada Leo untuk memastikan pria itu masih bernapas. "Kenapa kau melindungiku, hah?! Kau bisa mati tertembus serpihan besi!"

"Kalau aku biarkan kau berdiri di sana, kepalamu sudah hancur sekarang," balas Leo tersenyum miring, senyum yang dipaksakan di tengah rasa sakit yang mendera. Ia memuntahkan ludah yang bercampur darah dan debu ke aspal. "Lagipula... siapa yang akan meretas sistem bank Marco kalau kau mati?"

Elena menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya yang biasanya menatap sinis kini memancarkan kilat emosi yang sulit diartikan. Ada kemarahan, kepanikan, dan sebersit rasa hangat yang membuatnya dadanya sesak. Sepanjang hidupnya di dunia bawah tanah yang kejam, tidak ada satu orang pun yang pernah melempar tubuh mereka sendiri untuk melindunginya dari ledakan mematikan. Ayahnya tewas di depan matanya sendiri, dan sejak saat itu Elena percaya bahwa perlindungan hanyalah mitos.

Namun malam ini, seorang pangeran mafia arogan yang nyaris mati di pelabuhan baru saja membuktikan bahwa keyakinannya salah.

Tiba-tiba, suara batuk kasar disusul tawa serak terdengar dari arah kepulan asap.

Leo dan Elena serentak menoleh.

Algojo bertubuh besar yang melemparkan granat tadi ternyata masih hidup. Pria itu berjalan tertatih-tatih keluar dari bayangan asap sisa ledakan. Separuh wajahnya dipenuhi luka bakar parah dan darah mengucur dari pelipisnya. Mata kirinya sudah bengkak menutup, tapi mata kanannya menatap mereka dengan kebencian murni. Tangan kanannya merogoh sarung pistol di pinggang, menarik sebuah pistol otomatis dan mengarahkannya ke arah mereka.

"Kalian pikir... uhuk... kalian bisa merampok Bos Marco lalu pergi begitu saja?" ejek algojo itu meludah ke tanah, langkahnya gontai menyeret kaki kirinya yang sepertinya patah.

Pistol polimer Leo tertinggal di dalam mobil. Jarak algojo itu kini tinggal lima meter dari tempat mereka berlindung.

"Elena, menunduk," perintah Leo dengan nada sangat pelan namun tegas.

"Kau mau apa? Kau tidak punya senjata!" bisik Elena panik, menarik ujung jas Leo agar pria itu tetap berlindung di balik pipa.

"Menunduk saja," geram Leo menepis tangan gadis itu dengan lembut.

Matanya menyapu sekeliling dengan cepat. Di dekat kakinya, tergeletak sebuah potongan besi *rebar* proyek berukuran sepanjang lengan orang dewasa dengan ujung yang bergerigi tajam akibat patahan.

Leo mencengkeram besi itu dengan tangan kirinya yang sehat. Ia menarik napas panjang, menekan seluruh rasa sakit di tubuhnya ke dasar pikirannya, menguncinya rapat-rapat. Saat ia mengembuskan napas, sorot matanya berubah menjadi gelap dan kosong. Mode bertahan hidup seorang pembunuh telah mengambil alih sepenuhnya.

"Mati kau, keparat!" teriak algojo itu menarik pelatuk pistolnya.

Dor! Dor!

Leo melompat keluar dari balik pipa beton tepat saat tembakan itu meletus. Peluru pertama meleset menghantam udara kosong. Peluru kedua menyerempet lengan atas Leo, menambah daftar lukanya malam ini, tapi pria itu sama sekali tidak berhenti.

Dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk seseorang yang sedang terluka parah, Leo memangkas jarak lima meter itu dalam tiga langkah besar. Algojo itu membelalakkan matanya yang tersisa, panik melihat monster yang menerjang ke arahnya, dan mencoba membidik ulang.

Tapi terlambat.

Leo mengayunkan potongan besi *rebar* di tangan kirinya sekuat tenaga dari bawah ke atas. Ujung bergerigi tajam besi itu menghantam pergelangan tangan algojo yang memegang pistol dengan suara tulang patah yang memualkan.

"Arrrgghhh!" jerit algojo itu menjatuhkan pistolnya, memegangi pergelangan tangannya yang bengkok dengan sudut yang tidak wajar.

Tanpa memberikan ampun sedetik pun, Leo memutar tubuhnya, menggunakan momentum putarannya untuk menendangkan lutut kanannya tepat ke ulu hati pria besar itu. Algojo itu tersedak, matanya melotot kehabisan napas, dan tubuhnya membungkuk ke depan.

Leo mencengkeram bagian belakang leher algojo itu, memaksanya menunduk lebih rendah, lalu menghantamkan lututnya sekali lagi, kali ini tepat ke wajah pria tersebut. Suara retakan tulang hidung terdengar jelas. Darah muncrat ke udara. Algojo bertubuh raksasa itu langsung ambruk ke tanah seperti karung beras, tidak bergerak lagi.

Leo berdiri terengah-engah di atas tubuh musuhnya yang pingsan. Besi *rebar* terlepas dari tangannya dan berdenting jatuh ke aspal. Adrenalin di tubuhnya mulai menyusut, digantikan oleh rasa lemas dan nyeri yang datang bak gelombang tsunami.

Ia terhuyung ke belakang, pandangannya kembali berputar.

"Leo!" panggil Elena berlari mendekat.

Gadis itu langsung memapah tubuh Leo, menaruh lengan kiri pria itu ke bahunya, menahan beban tubuh Leo yang nyaris ambruk. Elena melirik ke arah algojo yang tergeletak di tanah, lalu kembali menatap wajah Leo yang kini seputih kertas.

"Sudah kubilang aku akan mengurusnya," gumam Leo memaksakan senyum tipis, napasnya berbau besi dan darah.

"Tutup mulutmu. Berhenti berlagak jagoan," omel Elena dengan mata berkaca-kaca, meski suaranya terdengar lega.

Dari kejauhan, menembus rintik hujan yang mulai menderas, terdengar suara lengkingan sirine polisi yang saling bersahutan. Jumlahnya tidak cuma satu atau dua, melainkan belasan. Ledakan granat di pinggiran distrik hiburan tentu saja menarik perhatian seluruh armada kepolisian kota yang sudah disuap Marco.

"Mereka datang. Kita harus pergi dari sini, sekarang," ucap Elena menatap ke arah sumber suara sirine.

Gadis itu menoleh ke tumpukan pipa beton tempat kedua tas kanvas raksasa berisi uang tiga juta dolar mereka tergeletak. Menyeret dua tas seberat puluhan kilo sambil memapah pria dewasa yang terluka parah adalah hal yang mustahil.

"Tinggalkan uangnya," bisik Leo menyandarkan kepalanya ke bahu Elena, kesadarannya mulai timbul tenggelam. "Nyawa kita lebih penting."

"Jangan bercanda. Uang itu darah kita malam ini," tolak Elena keras kepala.

Ia mendudukkan Leo sejenak bersandar pada bangkai SUV yang hancur. Gadis itu berlari ke arah dua tas tersebut, membuka salah satu tasnya, lalu mengeluarkan sekitar sepuluh bendel uang tunai dan membuangnya ke aspal begitu saja untuk mengurangi beban. Ia memindahkan sisa uang di tas pertama ke dalam tas kedua secara paksa, menjejalkannya hingga tas kanvas itu nyaris robek.

Kini, tiga juta dolar itu—dikurangi beberapa ratus ribu yang sengaja dibuangnya—telah masuk ke dalam satu tas raksasa yang sangat berat.

Elena mengalungkan tali tas itu menyilang di tubuhnya, menahan bebannya di punggung mungilnya. Ia kemudian kembali ke sisi Leo, merangkul pinggang pria itu kuat-kuat.

"Satu tas uang di punggungku, satu pangeran mafia di bahuku," gerutu Elena memaksa Leo untuk berdiri. "Kalau kita selamat dari malam ini, kau berhutang pijat refleksi padaku, Valenti."

Leo tertawa pelan, tawanya terdengar lebih seperti rintihan. "Akan kusewa satu panti pijat penuh untukmu, Phantom."

Dengan langkah tertatih dan sisa-sisa tenaga terakhir, mereka berdua berjalan memasuki kegelapan gang sempit di balik area konstruksi, meninggalkan mobil yang terbakar, uang yang berserakan, dan kekacauan besar yang baru saja mereka ciptakan. Hujan lebat turun menyapu jejak darah mereka, menelan sosok sang pelindung dan gadis peretas itu ke dalam pekatnya malam kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!