Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Part 12
Alex berjalan ke arah kelasnya, di sana sudah ada Farel dan teman-temannya yang lain. Dengan perasaan tanpa minat, Alex menghampiri mereka dan duduk di tempat biasa, tepatnya di bangku yang bersejajar dengan tempat duduk Farel.
"Kamu tadi kenapa menolong anak itu? Apa kamu mengenalnya?" Farel tiba-tiba bertanya setelah Alex benar-benar berada di sisinya.
"Dengar, Rel. Dia bukan anak sembarangan, kalau kamu tidak ingin mendapatkan masalah, lebih baik jangan mengganggunya lagi." Alex menjawab tanpa minat sembari membuka buku miliknya.
"Siapa yang mengganggunya? Dia yang menghina Vanessa lebih dulu, makanya aku menghajarnya." Farel menjawab angkuh dan itu cukup membuat Alex muak.
"Kamu pikir, Cio akan melakukan itu tanpa sebab? Dia pasti juga ada alasannya kan? Jadi, cobalah mengerti posisi kalian masing-masing."
"Maksud kamu apa mengingatkan aku tentang posisi? Jelas, posisi kita memang berbeda. Aku dengan dia dari keluarga yang tidak selevel, dan kenapa juga aku harus menuruti perkataanmu?" Farel menjawab sebal, merasa tidak terima dengan apa yang baru Alex katakan. Temannya itu mengingatkannya akan posisi, jelas saja Farel merasa dirinya lebih baik dari lelaki yang bernama Cio tersebut.
"Iya, kamu dengan Cio dari keluarga yang sangat berbeda, bahkan jauh berbeda." Alex meninggalkan Farel begitu saja lalu pindah ke bangku yang lebih jauh dari keberadaan teman-temannya, membuat mereka keheranan karena Alex menjauh tanpa ada masalah yang mereka tahu.
"Alex kenapa?" Dio bertanya penasaran ke arah Farel yang terlihat sangat geram dengan tingkah laku Alex yang justru membela orang lain ketimbang membelanya
"Mana aku tahu? Tidak penting juga kan?" Farel menjawab sinis, masih merasa geram dengan ucapan Alex yang tidak dimengertinya itu.
***
Di kantin, yang Amanda lakukan hanya terdiam sembari membawa kotak bekal makanannya itu di pelukannya. Matanya menyiratkan keraguan saat tertatih pada sosok Farel yang tengah memakan makanan kantin bersama dengan teman-temannya. Ingin rasanya Amanda mendatangi lelaki itu dan melarangnya untuk terus makan di sana, karena semua itu tidak baik untuk kesehatannya. Namun yang Amanda lakukan hanya pasrah dan menatap Farel penuh luka, terlebih lagi saat mengingat semua yang sudah terjadi di antara mereka, membuat Amanda merasa lelah dan ingin menyerah.
Mungkin, membiarkan Farel dengan kehidupannya sendiri adalah hal yang paling baik untuk hubungan mereka. Toh, Farel juga sudah dewasa, daya tahan tubuhnya mungkin sudah membaik selama ini. Jadi Amanda tidak perlu terus mengkhawatirkannya, terlebih lagi memberi perhatian yang bahkan tidak pernah lelaki itu harapkan.
Dengan perasaan yang sedikit lebih baik, Amanda meletakkan kotak bekal makanan itu di atas meja, lalu membuka salah satunya dan memakan isinya tanpa mau memperdulikan lagi keberadaan Farel di sana. Di tengah acara makanannya, Amanda didatangi Cio yang baru selesai dengan kelasnya. Lelaki itu bersama dengan Alex, yang akhir-akhir ini lebih sering bersama Cio ketimbang dengan Farel.
Amanda sendiri tidak tahu, sebelum ini hubungan mereka sedekat apa, tapi yang pasti itu lebih dalam dari hubungannya Alex dengan Farel yang baru terjalin dua tahun belakangan ini. Itu bisa terlihat dari cara bagaimana Alex lebih mementingkan Cio ketimbang Farel, saat mereka bertengkar beberapa hari yang lalu.
"Kamu makan sendiri tanpa mengajakku? Calon istri macam apa kamu?" Cio tiba-tiba berujar tak percaya, membuat Amanda yang sedang asyik menyantap makanannya itu menoleh dengan sorot mata memicing.
"Aku yang tidak sudih punya calon suami kaya kamu." Amanda menjawab sebal sembari kembali memakan makanannya. Namun Cio justru terlihat tak suka, terlihat dari caranya menatap Amanda tak percaya.
"Kenapa?"
"Karena kamu suka merampas bekal makananku, sampai aku harus membuatkanmu sendiri setiap pagi." Amanda menjawab tak suka, merasa kesal juga dengan kelakuan Cio yang selalu sama, mengambil makanannya dan memakannya tanpa seijin dari dirinya. Dan yang terjadi sekarang, Amanda harus membuat bekal lebih untuk Cio. Namun anehnya lelaki itu justru terdiam, seolah apa yang Amanda ucapkan adalah hal serius yang harus dipikirkan matang-matang.
"Aku minta maaf," ujarnya yang kali ini ditatap heran oleh Amanda, begitupun dengan Alex di sampingnya, yang merasa aneh dengan ucapan Cio yang tidak biasanya itu.
"Semenjak aku hidup sendiri dan bekerja paru waktu, aku jarang makan malam. Karena hal itu lah, setiap pagi aku selalu merasa kelaparan." Cio menjawab bersalah meski bibirnya tersenyum paksa di hadapan Amanda yang terdiam. Di sampingnya, Alex juga terdiam memikirkan hidup sahabatnya yang berbanding terbalik dengan kehidupannya dulu. Kemewahan yang selalu Cio dapatkan, sekarang hilang dan terganti oleh kerja keras dan usaha. Tentu saja melihat temannya seperti itu, Alex merasa kasihan meski yang bisa ia lakukan hanya mencarikan temannya itu pekerjaan malam. Mungkin karena itu juga, temannya itu jarang makan malam, karena pekerjaannya sebagai pelayan super market membuatnya harus berhemat.
"Kenapa harus hidup sendiri dan bekerja paru waktu? Memangnya kamu tidak tinggal dengan orang tuamu?" Amanda bertanya heran, merasa penasaran dengan kehidupan Cio yang tak banyak ia tahu.
"Tidak, orang tuaku kan sudah mati." Cio menjawab datar tanpa mau menatap ke arah Amanda yang menyerngitkan keningnya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru Cio katakan.
"Cio," tegur Alex kesal, mencoba mengingatkan batasan temannya itu yang cukup keterlaluan mengatakan orang tuanya sudah mati. Karena kenyataannya, papa temannya itu masih hidup dan sehat sekarang.
"Kenapa? Memang benar kan?" Cio bertanya meremehkan ke arah Alex yang terdiam.
"Bagiku, mereka semua sudah mati," lanjutnya dengan nada seraknya seolah apa yang baru dikatakannya adalah hal yang begitu menyakitkan. Sedangkan Alex lagi-lagi hanya terdiam dengan sesekali menghembuskan nafas beratnya, mencoba mengerti perasaan temannya yang mungkin masih belum menerima semua kejadian yang telah terjadi di hidupnya.
"Eh ... aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Aku minta maaf, bila aku menyinggung masalah orang tuamu. Aku benar-benar menyesal," ujar Amanda merasa bersalah, meski ia sendiri tidak tahu dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi di hidup Cio, tapi setidaknya ia berusaha untuk tidak mengungkitnya dan tidak membuat lelaki itu semakin bersedih. Namun anehnya, Cio justru menyengir tanpa dosa meski sangat terlihat bagaimana matanya itu menyiratkan luka.
"Aku maafkan, asal makanan ini untukku saja ya." Cio menarik bekal makanan milik Amanda yang seharusnya diberikan ke Farel.
"Ta-tapi ini kan ...." Amanda mencoba menghentikan Cio, meski ia sendiri bingung harus mencari alasan apa untuk membuat Cio mengerti.
"Tapi apa? Ini untuk lelaki cecurut itu kan?" tanya Cio sembari menunjuk ke arah bekal makanannya lalu berganti ke arah Farel. Namun Amanda justru terdiam seolah baru tertangkap basah mencuri sesuatu, membuat Cio yang melihat kediamannya hanya berdecap, merasa tak percaya dengan hati Amanda yang masih memperdulikan temannya yang menyebalkan.
"Stop memberi perhatian pada orang yang bahkan tidak ingin melihatmu. Lebih baik, kamu berikan perhatian pada orang yang benar-benar membutuhkannya." Cio menjawab bersemangat seolah pejuang kemerdekaan, berbeda dengan Amanda yang justru terlihat lesuh dan senduh.
"Siapa juga yang butuh perhatianku ...?"
"Aku, contohnya." Cio menjawab percaya diri dan itu berhasil membuat Amanda muak melihatnya.