Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Andika, Diah, dan Kayla langsung berdiri serentak, wajah mereka penuh keterkejutan.
Diah spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Revan..."
Andika segera melangkah maju, suaranya rendah namun tegas. "Rafael, lepaskan! Ini rumah sakit!"
Tapi Rafael seakan tidak mendengar. Ia menatap Revan dengan mata terbelalak, tak percaya. Selama ini, pria di hadapannya selalu menunduk, selalu patuh, selalu tahu tempatnya. Tapi tatapan barusan... bukan tatapan seorang asisten yang sekadar khawatir pada istri tuannya. Itu tatapan seorang pria yang hatinya sedang berdarah-darah.
Perlahan, rasa bersalah yang tadi melumpuhkannya berganti dengan kemarahan yang meledak. Ia mencengkeram kerah jas Revan dengan kedua tangan, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Katakan... ada hubungan apa antara kamu dengan istriku? Hah?!" desisnya tajam, suaranya bergetar menahan amarah.
Lorong yang sunyi tiba-tiba terasa begitu sempit. Seorang perawat yang lewat berhenti sejenak, ragu melangkah mendekat.
Revan tidak bergeming. Dadanya naik turun, tinjunya terkepal erat di sisi tubuh. Ia tidak berusaha melepaskan cengkeraman itu. Matanya menatap lurus ke mata Rafael. Untuk pertama kalinya, ia tidak menunduk.
"Hubungan apa?" ulangnya pelan, lalu tersenyum getir. "Kamu yang seharusnya bertanya pada dirimu sendiri, Rafael. Alina adalah istrimu. Tapi kenapa kamulah yang terus-menerus menyakitinya? Hingga akhirnya dia terbaring tak berdaya di balik pintu itu karena kamu!"
Andika buru-buru menarik lengan Rafael. "Cukup! Jangan berdebat disini, Ini rumah sakit!"
Tapi Rafael tak melepaskan cengkeramannya, justru makin kuat hingga kancing jas Revan nyaris lepas.
"JANGAN ALIHKAN PEMBICARAAN! Aku suaminya! Aku berhak tahu kenapa asistenku sendiri bisa segila ini karena istriku! Kamu mencintainya, ya? KAMU MENCINTAI ISTRIKU?!"
Kata-kata itu meledak di lorong yang hening. Revan menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah dan basah, tapi kali ini ia tidak lagi menyembunyikannya.
"Ya."
Satu kata itu terasa begitu berat namun pasti, seakan mengguncang lantai tempat mereka berdiri. Diah terdiam, matanya membelalak. Kayla menutup mulutnya dengan tangan. Andika mematung di tempat.
"Ya, aku mencintainya," suaranya pecah namun lantang. "Sejak aku melihat kamu membiarkannya sendirian di rumah besar yang sepi itu. Sejak aku menyadari bahwa senyumnya sering kali hanya ia paksakan saat kamu pulang terlambat. Sejak hari itu... aku mulai memperhatikannya. Aku tidak merebutnya, Rafael. Aku hanya menjemput wanita yang sudah lama menunggu untuk diselamatkan dari pernikahan yang kamu sia-siakan itu."
Tangan Rafael yang mencengkeram kerah jas itu perlahan melemah, lalu terlepas begitu saja. Ia mundur selangkah, seakan kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Wajahnya pucat pasi.
"Revan... kamu..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Keheningan yang menyakitkan seketika menyelimuti lorong itu. Keempat orang di sana masih terpaku, tak satu pun mampu berkata apa-apa. Pengakuan itu terasa begitu berat, begitu nyata, hingga seakan udara di sekitar mereka ikut berubah.
Hingga akhirnya pintu ruangan terbuka perlahan. Heru keluar, kerut di dahinya menunjukkan kebingungan.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanyanya pelan namun tegas.
Pandangannya lalu jatuh ke wajah Rafael, tepat di pipinya yang kini terlihat memerah dan mulai membekas samar memar di sana. Heru menghela napas panjang, napas yang terdengar begitu lelah dan berat.
"Sebaiknya kalian semua pulang saja dulu," ucapnya lembut namun tak dibantah. "Alina biar kami yang jaga di sini."
Ia menepuk pundak menantunya itu pelan. "Rafael, kamu juga pulang. Istirahatlah sebentar."
Rafael menggeleng, matanya tak beralih dari pintu ruangan. "Tidak, Pa. Aku akan tetap di sini. Aku mau menunggu sampai Alina sadar."
Andika melangkah maju, meletakkan tangan di bahu putranya. "Rafael, Papa Heru benar. Sebaiknya kita pulang dulu."
Ia menatap putranya dalam-dalam. "Ayo kita pulang. Ada yang ingin Papa bicarakan denganmu di rumah."
Rafael menatap tajam sejenak ke arah Revan yang masih berdiri mematung di sana, lalu mengangguk pasrah.
"Baiklah, Pa."
Ia berjalan lebih dulu di depan, langkahnya berat namun tegas. Andika berpamitan pada Heru, lalu Diah dan Kayla segera menyusul, meninggalkan lorong itu yang kini kembali hening.
Heru menatap ke arah Revan yang masih berdiri tak beranjak.
"Sebaiknya kamu juga pergi, Revan," ucapnya lembut tapi tegas. "Alina butuh istirahat."
Tanpa menunggu jawaban, Heru berbalik dan masuk kembali ke dalam ruangan, menutup pintu itu perlahan.
Revan berdiri sendirian di lorong yang kosong. Perlahan ia melangkah mendekat ke pintu yang tertutup itu, mengangkat tangannya, menyentuh permukaan pintu yang dingin dengan punggung jarinya, seakan bisa merasakan keberadaan Alina di balik sana.
Ia berdiri begitu lama, dalam diam yang panjang, seakan mengucapkan sesuatu yang tak terucap. Hingga akhirnya ia menghela napas panjang, menurunkan tangannya perlahan, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
-
-
-
Mobil Rafael berhenti di halaman rumah yang luas itu, diikuti mobil Andika yang parkir tak jauh di sebelahnya. Pintu terbuka, Rafael turun duluan. Wajahnya masih tampak lesu dan kusut, matanya menatap lurus ke arah teras rumah tanpa ekspresi.
Tak lama, Andika keluar dari mobilnya, diikuti Diah dan Kayla yang berjalan di belakangnya. Andika menutup pintu mobil, lalu menatap ke arah putranya itu.
"Ikut Papa ke ruang kerja," ucapnya singkat, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Rafael menelan ludah, menghela napas panjang, lalu menyusul langkah ayahnya. Ia tahu, percakapan ini tidak akan mudah.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Andika berdiri membelakangi pintu, menatap keluar melalui jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
Ketukan pintu terdengar pelan. Rafael masuk, menutup pintu di belakangnya perlahan. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti sekitar dua meter di belakang ayahnya. Tangan pria itu mengepal di sisi tubuhnya, menunggu.
Andika menoleh sedikit ke samping.
"Katakan yang sejujurnya, Rafael. Kenapa Alina bisa jatuh dari tangga? Bi Hani bilang Alina mengemasi barang-barangnya dan membawa koper besar."
Andika berbalik perlahan, menatap putranya dengan pandangan yang tajam.
"Katakan pada Papa, Rafael. Kenapa Alina sampai ingin pergi dari rumah kalian?"
Rafael menunduk dalam. Bahunya merosot perlahan. Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan itu.
"Maaf, Pa..." suaranya parau dan nyaris tak terdengar. "Aku yang salah... Alina tahu aku tidur dengan Amara, lalu dia..."
Belum sempat kalimat itu selesai terucap, Andika melangkah maju dan menampar pipi putranya dengan keras.
Plak!
Bunyi itu nyaring di ruangan yang hening. Kepala Rafael tertoleh ke samping, pipinya terasa panas dan perih. Ia tidak membalas, tidak juga mendongak. Hanya memejamkan matanya rapat, menampung rasa sakit yang jauh lebih dalam daripada bekas tamparan itu.
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰