NovelToon NovelToon
Ketika Pengorbanan Dipermainkan

Ketika Pengorbanan Dipermainkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.

Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.

Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.

Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.

Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Gerbang yang Tertutup untuk Bara

Setelah mengetahui identitas asli Mentari, Bara terus memikirkan perempuan itu. Ia masih sulit percaya bahwa gadis yang selama ini dianggapnya sebagai karyawan biasa, bahkan sering ia bandingkan dengan Vanya ternyata putri tunggal keluarga Adiprana, pemilik kelompok bisnis besar. Pria itu menyesali kebodohannya karena selama ini dirinya sama sekali tidak mengenal kehidupan pribadi Mentari.

Seketika itu juga ingatan-ingatan tentang ketika dirinya meremehkan Mentari, menganggapnya tak layak berdiri di sisinya berkelebatan di depan matanya bagaikan slide-slide film. Lalu pria itu juga teringat bahwa setiap kali Mentari mengatakan akan ada jalan keluar setelah itu jalan keluar itu benar-benar datang.

“Jadi, apakah selama ini Mentari yang mendatangkan jalan keluar itu untukku? Jadi selama ini Mentari selalu membantuku secara diam-diam?" Bara menggelengkan kepalanya berkali-kali mengingat balasan apa yang telah ia berikan pada gadis itu.

"Pantas saja dia begitu marah padaku,” gumamnya pelan. "Ternyata selama ini aku benar-benar keterlaluan padanya, bahkan selama ini aku selalu membandingkan dia dengan Vanya, menyuruhnya belajar pada Vanya. Dia pasti sangat membenciku sekarang terutama setelah pesta peresmian itu." Bara masih saja bergulat dengan pikirannya.

“Tidak!" Bara kembali menggelengkan kepalanya. “Mentari hanya marah sesaat, dia pasti tahu kalau saat itu aku melakukan semua itu Karena aku tidak tahu bahwa sebenarnya dia juga bisa berpenampilan modis bahkan lebih cantik dari Vanya. Kalau aku minta maaf padanya dengan sungguh-sungguh dia pasti akan mengerti.”

"Ya.” Bara menganggukkan kepalanya dengan percaya diri. “Selama ini dia sangat mencintaiku, dia pasti memaafkanku."

Bara segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor Mentari. Namun, panggilannya tidak tersambung. Ia mencoba berkali-kali, kemudian mengirim pesan, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban.

“Kenapa nomor ini tidak aktif?” gumamnya kesal sambil menatap layar. Ia lupa bahwa Mentari telah memblokir nomornya.

Bara segera berdiri dari tempat duduknya berniat untuk mendatangi Mentari. Namun ketika ia baru saja melangkah tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena baru sadar bahwa dia tidak tahu di mana tempat tinggal Mentari. Pria itu meraup wajahnya kasar menyadari bahwa selama ini dia terlalu tidak peduli pada Mentari.

Tidak ingin menyerah, Bara mendatangi bagian administrasi untuk mencari tahu di mana Mentari tinggal. Namun, jawaban para karyawan justru membuatnya semakin frustasi. Mereka mengenal Mentari sebagai rekan kerja yang pendiam, sehingga tidak banyak yang mengetahui kehidupan pribadinya termasuk di mana rumah Mentari.

“Bukankah kalian sering bekerja bersama? Bagaimana bisa tidak ada yang tahu di mana rumahnya?” tanya Bara kepada salah seorang karyawan.

“Maaf, Pak. Kami hanya mengenalnya sebagai rekan kerja. Mbak Mentari jarang bercerita tentang urusan pribadinya. Dan kami juga tidak pernah pergi bersama,” jawab karyawan itu dengan hati-hati.

Bara terdiam. Selama tiga tahun bersama, ia tidak pernah berusaha mengenal dunia Mentari di luar hubungan mereka. Ia bahkan tidak tahu siapa orang-orang yang biasa ditemui perempuan itu.

Sementara itu dari kejauhan, Vanya yang mengikuti langkah Bara sejak keluar dari ruang kerjanya mengepalkan tangannya.

Ia kemudian memeriksa berkas personalia Mentari, berharap menemukan alamat rumahnya. Namun, data yang tersimpan malahan apartemen yang selama ini ia tinggali bersama dengan Mentari. Setelah mencari tanpa hasil, Bara akhirnya kembali ke ruang kerjanya dan membuka laptopnya untuk mencari informasi tentang keluarga Adiprana.

Berbagai informasi mengenai keluarga Adiprana muncul di layar. Ia membaca beberapa artikel hingga menemukan alamat kediaman utama mereka di kawasan elite pinggiran kota.

Tanpa menunda lagi, Bara mengambil kunci mobil dan berangkat ke sana. Sepanjang perjalanan, ia menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf atas kejadian di malam peresmian perusahaan, ketika ia membiarkan Vanya mempermalukan Mentari di depan banyak orang.

“Aku hanya perlu bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya,” gumam Bara, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “Dia pasti mau mendengarkanku.”

Namun, ketika mobilnya berhenti di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Adiprana, kepercayaan dirinya seketika menciut.

Bara turun dari mobil dan menghampiri salah seorang petugas. “Saya Bara. Saya ingin bertemu dengan Mentari Adiprana,” katanya sambil berusaha bersikap sopan.

Petugas itu memandangnya sejenak sebelum menjawab, “Apakah Anda sudah membuat janji, Pak?”

“Belum, tetapi saya adalah kekasihnya. Dia pasti mau menemui saya.”

“Maaf, Pak. Tanpa janji sebelumnya, kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”

Bara mengerutkan kening. “Kalau begitu, hubungi Mentari. Biarkan dia sendiri yang memutuskan apakah mau menemuiku atau tidak.”

Petugas tersebut menghubungi pihak dalam, tetapi beberapa saat kemudian ia kembali dengan jawaban yang sama. Bara tidak diizinkan masuk karena Mentari tidak bersedia menemuinya.

Merasa diperlakukan seperti orang asing, Bara mulai kehilangan kesabaran. Ia mencoba melewati gerbang, tetapi dua petugas lain segera menghadangnya.

“Saya tidak akan pergi sebelum bertemu Mentari!” serunya sambil berusaha melepaskan lengannya dari pegangan petugas.

“Silakan tinggalkan tempat ini, Pak. Anda tidak diperkenankan masuk,” tegas salah seorang petugas.

Bara tetap bersikeras hingga kedua petugas itu mencekal kedua lengannya dan menyeretnya menjauh dari gerbang. Dan untuk kedua kalinya, tubuh Bara terhempas ke sisi luar pagar. Ia terhuyung sebelum akhirnya berhasil berdiri kembali dengan pakaian kusut dan wajah memerah.

“Dasar satpam kurang ajar!” bentaknya, menahan rasa malu sekaligus amarah. “Lihat saja nanti, kalau aku menikah dengan Mentari kalian yang pertama kali akan aku usir dari rumah ini!"

Salah seorang petugas memandangnya dengan tatapan sinis. "Dasar gila!” ucapnya kemudian kembali masuk ke dalam gerbang dan mengunci gerbang tersebut

Tidak terima dengan perlakuan penjaga itu, Bara kembali mendekati gerbang dan memanggil nama Mentari sekeras mungkin.

“Mentari! Aku tahu kamu ada di dalam! Keluarlah sebentar, lihatlah mereka memperlakukanku dengan buruk. Kamu harus menghukum mereka!”

Tidak ada jawaban. Gerbang tetap tertutup, sementara para petugas kembali berjaga tanpa menghiraukannya.

“Mentari aku akan tetap berdiri disini,” teriak Bara lagi. "Aku akan menunggu sampai kamu datang menemuiku. Kalau kamu tidak mau keluar aku tidak akan pergi!”

Pria itu kemudian berdiri tegak di depan gerbang. Teriknya matahari perlahan membuat tubuhnya basah dengan keringat. Namun apa yang ia tunggu tak juga muncul. Mentari benar-benar tak mau menemuinya. Bahkan hingga akhirnya tugas Sang Surya digantikan oleh Dewi Rembulan, Mentari tak juga datang.

Bara memegangi perutnya yang terasa keroncongan. Tubuhnya sedikit terwujud karena berdiri dalam waktu lama. Dan akhirnya pria itu menarik napas panjang sebelum kembali berseru dengan suara yang mulai serak.

“Aku tahu kamu marah kepadaku. Aku memang bersalah malam peresmian itu. Seharusnya aku membelamu ketika Vanya mempermalukanmu, tetapi aku malah diam. Aku minta maaf, Mentari!”

Ia menunggu, berharap perempuan itu akan muncul atau setidaknya mengirim seseorang untuk menyampaikan jawaban. Namun, tidak ada satu pun orang yang datang menemuinya.

*

Malam semakin larut. Bara akhirnya menyadari bahwa tidak ada gunanya terus menunggu. Dengan tubuh lelah, ia memandangi gerbang tinggi dan bangunan megah di baliknya. Tempat itu terasa begitu dekat, tetapi Mentari seolah berada di dunia yang sama sekali tidak bisa dijangkaunya.

Ia menunduk sesaat sebelum kembali menatap gerbang tersebut. “Baiklah, aku tahu kamu sedang marah. Aku akan datang lagi kalau kamu sudah tenang, Mentari,” ucapnya pelan, berharap kata-katanya terdengar sampai ke dalam.

Setelah itu, Bara berbalik dan berjalan menuju mobilnya, meninggalkan kediaman keluarga Adiprana dengan harapan bahwa suatu hari nanti Mentari akan bersedia mendengarkannya.

1
Ayudya
malu kan kamu Vanya dan bara dllihat kenyataan yg ada bawa mentari dan Titan telah tunangan🥰🥰🥰🥰🥰
Ayudya
hey jalang Vanya ya jelas lah mentari bisa duduk dengan para petinggi Danuarta group lah Titan kan calon suaminya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
👍👍👍👍😍😍😍😍😍😍😍
Ayudya
siapa juga yg mau balikan ma kamu bara 🤣🤣🤣🤣😍😍
Ayudya
nah kaget kan kamu bara siapa mentari yg telah kau sakiti dan kau sia sia kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
jalan keluarnya ya kehancuran bara.CEO kok bego banget🤣🤣🤣🤣🤣
Siskasuryaningsih
lain kali semua barang ambel aja semua nya, jangan di tinggal kan, teros jual kan,, kan keren tu, 🤭🤭🤭🤭..
Ayudya
gercep banget babang Tristan langsung main tembak aja🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
panik panik dah kamu bara🤣🤣🤣🤣
Ayudya
nah bara kamu akan kembali jadi gembel🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ayo mentari balaskan semua rasa sakit yg telah bara berikan.tunjukan pada bara dan Vanya kalau kamu kuat
Mundri Astuti
bener" y si Vanya ...ga kapok juga...
Lucy
moga para preman bayaran Vanya ketangkap dan dikasih pelajaran,dan kau Vanya tunggu senjata makan tuan😀😀😀
Ariany Sudjana
semoga anak buahnya Titan bisa menangkap si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Titan Modus itu, supaya bisa dekat sama mentari 🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
segera*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
tadi itu*
Muft Smoker
mau di bantu gx Titan ,, bntar aq ambil 🔨 🔨 🔨 dlu ,,

Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
Muft Smoker: ok klo bgtuuu ,, 👍🏻👍🏻👍🏻😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
jjiiiiaaaaah si ibu malah pesen cucu ,,
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣
Patrick Khan
gws ya anak emak🤲
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih.
Alhamdulillah sudah baikan kok
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!