NovelToon NovelToon
Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

✨ Sinopsis

Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Hati Sejak Kecil

📖 Bab 1

 

Pintu utama rumah besar itu terbanting keras. Bunyinya menggelegar sampai ke lantai atas, membuat pelayan yang sedang menyapu di ruang tengah langsung membeku di tempat. Di ambang pintu, berdiri Tuan Aris, ayah Aluna. Wajahnya merah padam, napasnya naik turun, dan tas kulit di tangannya ia cengkeram begitu kuat sampai urat-urat di pergelangan tangannya terlihat jelas.

Aluna yang baru saja turun dari tangga sambil memainkan ujung rambutnya langsung berhenti melangkah. Ia tahu, nada langkah kaki ayahnya yang berat dan kasar itu berarti satu hal: badai sedang datang.

"Aluna!" seru Tuan Aris, suaranya menggelegar di ruangan yang luas itu. "Kemarilah sekarang! Jangan pura-pura tidak mendengar!"

Aluna menghela napas panjang, memutar bola matanya ke atas sebentar sebelum akhirnya melangkah turun sepenuhnya. "Iya, iya, ini aku datang. Nggak usah teriak-teriak dong yah, rumah kita gede banget, suaranya sampai ke kamar aku lho."

"Jawab pertanyaan ayah dulu!" Tuan Aris meletakkan tasnya di meja dengan kasar. "Hari ini Bu Guru menelepon ayah. Katanya kamu bolos pelajaran Matematika? Dan bukan cuma sekali, tapi tiga hari berturut-turut? Itu benar, Aluna?"

Aluna mengedikkan bahu, tidak terlihat takut sama sekali meski ayahnya sedang marah besar. "Yah, Matematika itu membosankan banget. Bu Guru juga ngajarnya ngebosenin. Daripada duduk di kelas sambil ngantuk, mending aku ke perpustakaan baca buku cerita. Itu kan lebih bermanfaat."

"Bermanfaat?" Tuan Aris tertawa sinis. "Kamu ini anak siapa, hah? Kita ini keluarga yang orang lain hormati! Kamu pikir ayah bekerja keras cuma buat kamu main-main di sekolah? Kalau nilaimu terus-terusan turun, mau jadi apa kamu nanti? Hanya karena kamu anak orang kaya bukan berarti kamu bisa santai begitu saja, Aluna!"

"Duh, Ayah tenang dulu dong," Aluna duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Aku tahu aku anak siapa. Aku tahu aku anak Ayah dan Ibu. Tapi Ayah, aku punya otakku sendiri, aku punya hatiku sendiri. Aku nggak mau hidup cuma buat nilai dan aturan yang nggak masuk akal. Ayah selalu sibuk kerja, selalu sibuk urus perusahaan. Kapan terakhir kali Ayah tanya, 'Aluna, kamu senang nggak sekolah? Aluna, kamu mau apa?' Nggak pernah kan? Yang Ayah tahu cuma nilai, prestasi, dan citra keluarga!"

Suara Aluna ikut meninggi. Matanya yang bening sekarang berkaca-kaca, ia menahan emosinya yang juga sedang memuncak.

Tepat saat itu, Ibu Amira turun dari lantai atas dengan langkah lembut namun tegas. Ia mendekat, meletakkan tangannya di bahu suaminya terlebih dahulu, lalu menatap putri tunggalnya itu dengan pandangan yang penuh pengertian.

"Ayah nggak bermaksud mengekang kamu, Nak," ucap Ibu Amira lembut. "Ayah cuma khawatir sama masa depan kamu. Dunia luar itu keras, dan Ayah ingin kamu siap menghadapinya. Cara Ayah mungkin salah, tapi niatnya tulus untuk kebaikan kamu."

"Tapi Bu, caranya itu lho… kayak aku ini barang berharga yang harus dijaga ketat banget. Aku ini manusia, aku mau main, mau ketawa, mau punya teman. Bukan cuma duduk diam jadi putri sempurna yang diinginkan Ayah," Aluna menunduk, suaranya melembut seketika saat berhadapan dengan ibunya.

"Tentu saja kamu boleh punya teman, Nak. Justru teman yang baik akan membimbing kamu ke jalan yang benar," Ibu Amira tersenyum lembut. "Ingat kan Orion dan Rexy? Dua anak laki-laki itu selalu kamu ceritakan. Mereka pintar, sopan, dan keluarga mereka juga kita kenal baik. Kalau saja kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka, ibu yakin Ayah juga akan lebih tenang membiarkan kamu keluar rumah."

Aluna mendongak, matanya langsung berbinar saat mendengar nama kedua sahabatnya itu. Wajah yang tadi cemberut kini seketika berubah cerah.

"Ah, ngomong-ngomong soal mereka, aku emang paling nyaman sama Orion dan Rexy, Bu! Mereka nggak pernah menuntut aku jadi siapa-siapa. Aku jadi diriku sendiri di depan mereka. Mau aku nakal, mau aku manja, mau aku ngeluh, mereka tetap ada di sana. Rasanya seperti… seperti mereka itu bagian dari jiwaku sendiri, gitu lho!"

Tuan Aris yang tadi masih mendengus kesal, perlahan duduk di seberang putrinya. Ia melihat perubahan ekspresi di wajah Aluna saat membicarakan kedua sahabatnya. Cahaya di mata putrinya itu tulus, dan itu membuat hatinya sedikit melunak.

"Mereka anak-anak yang baik, aku akui itu," kata Tuan Aris dengan nada yang jauh lebih rendah. "Orion anak yang bijaksana, pintar, dan sopan santun. Sedangkan Rexy… ya, dia agak liar dan terlalu berani, tapi hatinya baik. Keluarga mereka juga terhormat. Tapi Aluna, kamu harus ingat, pertemanan itu harus saling menguntungkan. Kalau mereka benar-benar sahabat baik, mereka harus bisa mengarahkan kamu ke hal yang positif, bukan ikut-ikutan membiarkan kamu melakukan hal yang salah."

"Ayah salah paham deh," Aluna tersenyum tipis, mulai merasa lebih nyaman untuk berbicara. "Justru mereka yang sering menasihati aku lho. Kalau aku lagi iseng atau bikin ulah, Orion akan bilang pelan-pelan sampai aku sadar sendiri. Sedangkan Rexy? Dia bakal langsung ngomel, bilang aku harus lebih hati-hati karena nanti kalau ada apa-apa, dia yang paling panik. Mereka itu kayak dua sisi mata uang yang melengkapi aku, Yah. Tenang dan berani. Lembut dan tegas."

"Kamu melihat mereka begitu dalam ya?" tanya Ibu Amira sambil tersenyum tipis.

"Iya Bu. Kita bertiga tumbuh bersama sejak masih pakai popok. Main di halaman rumah, berlari-larian, jatuh dan bangun bareng. Dulu Orion selalu yang pertama mengusap air mataku kalau aku menangis. Dia akan bilang, 'Aluna jangan nangis nanti jelek, sini aku temani sampai kamu senyum lagi'. Sedangkan Rexy? Dia akan marah ke siapa pun yang bikin aku sedih, bahkan kalau itu orang yang lebih besar darinya. Dia akan berdiri di depanku, membentengi aku dengan tubuh kecilnya, dan bilang, 'Siapa pun yang mau nyentuh Aluna, harus lewat aku dulu'. Bayangkan, dia masih kecil waktu itu tapi sudah berani begitu!"

Aluna tertawa kecil, teringat kenangan masa kecil yang begitu indah. Wajahnya berseri-seri, dan kedua orang tuanya hanya bisa diam melihat betapa berartinya kedua anak laki-laki itu bagi putri mereka.

"Mereka bukan sekadar teman main, Yah, Bu. Mereka adalah rumah kedua buat aku. Saat di sini rasanya terlalu sesak dengan aturan dan ekspektasi, aku tahu ada dua orang yang menungguku di luar sana, yang menerima aku apa adanya. Tanpa topeng, tanpa syarat. Cukup aku jadi Aluna, itu saja sudah cukup buat mereka."

Keheningan sejenak menyelimuti ruang tamu yang luas itu. Tuan Aris menatap putrinya dalam-dalam. Ia baru menyadari bahwa di balik sifat nakal dan pemberontakan Aluna, ada hati yang sangat tulus dan rindu akan kebebasan serta kehangatan yang murni.

"Ayah nggak melarang kamu berteman dengan mereka," akhirnya Tuan Aris angkat bicara, suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Asalkan kamu ingat batas-batasmu sebagai wanita terhormat, dan kamu tidak melalaikan kewajibanmu sebagai pelajar. Kalau mereka membuatmu menjadi lebih baik, Ayah akan mendukungmu. Tapi kalau sebaliknya…"

"Nggak akan, Yah! Aku janji!" Aluna langsung bangkit dan memeluk lengan ayahnya dengan riang. "Mereka itu pelindungku, bukan perusak. Percayalah, Ayah. Kalau ada bahaya datang, aku yakin nyawa mereka yang akan dipertaruhkan dulu sebelum membiarkan aku terluka. Begitu besar rasa sayang mereka padaku, Yah. Dan aku pun sayang pada mereka, sebagai sahabat yang tak tergantikan di dunia ini."

Tuan Aris mengelus kepala putrinya, senyum tipis akhirnya terukir di bibirnya. "Baiklah, Ayah percaya padamu. Tapi ingat janjimu itu, ya. Sekarang bersiaplah, mungkin sebentar lagi mereka akan datang menjemputmu. Kalau tidak salah ingat, kalian punya rencana pergi ke perpustakaan kota hari ini, kan?"

Aluna tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. "Siap, Komandan! Terima kasih, Yah! Terima kasih, Bu!"

Ia berlari kecil menuju tangga, langkah kakinya ringan dan penuh semangat. Di atas sana, jendela kamarnya terbuka sedikit, dan angin sepoi-sepoi masuk menyapa. Di luar sana, dua sahabat terbaiknya pasti sudah dalam perjalanan. Hati Aluna berdebar-debar dengan perasaan hangat yang menyenangkan.

Tiga hati yang tumbuh bersama, terjalin oleh ikatan persahabatan yang tak terucap namun begitu kuat. Di dunia yang penuh kemewahan dan kepura-puraan ini, mereka memiliki satu sama lain. Dan itu, bagi Aluna, adalah harta paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang apa pun di dunia ini.

😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!