Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Buku yang Tidak Pernah Ia Tunjukkan
"Kamu yakin nggak salah pesen bunganya?" suara Tia terdengar dari balik pintu kamar mandi kos, sementara Alya sibuk merapikan seprai yang sudah dia ganti tiga kali sejak subuh, meski Bayu baru akan sampai siang nanti.
"Bukan aku yang pesen, Ti. Ibu Darmi yang nawarin, katanya biar kamarnya wangi," Alya menjawab, menata satu vas kecil berisi melati di meja belajarnya, lalu mundur beberapa langkah untuk menilai hasilnya. Mengernyit tidak puas, lalu memindahkannya lagi ke dekat jendela.
"Segitunya nyiapin buat calon suami sendiri," Tia keluar sambil terkekeh, rambutnya masih basah karena baru keramas, sengaja mampir sebelum shift siangnya dimulai hanya untuk menemani Alya yang, menurutnya, terlalu gugup untuk ukuran seseorang yang cuma akan bertemu tunangan sendiri. "Padahal kalian kan udah pacaran lama."
"Justru karena udah lama, jadi harus tetap dijaga rasanya," Alya membalas, tersenyum kecil sambil merapikan poninya di depan cermin retak kecil yang sudah menemaninya sejak awal ngekos. "Nanti kalau udah nikah, siapa lagi yang mau repot-repot beli melati."
"Kirain kamu bakal cerita macem-macem soal dr. Raze," Tia menggoda lagi, duduk di ujung kasur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Kupikir setelah kejadian di ruang operasi sama gala kemarin, kamu bakal galau."
"Nggak ada yang perlu digalauin, Ti," Alya menjawab cepat, sedikit terlalu cepat, dan Tia hanya mengangkat alis tanpa berkomentar lebih jauh, membiarkan Alya sibuk sendiri dengan vas bunga yang sudah dia pindahkan tiga kali dalam sepuluh menit terakhir.
Bayu tiba tepat pukul satu siang, menenteng koper kecil dan sebuket bunga matahari yang dibelinya dari pedagang kaki lima dekat stasiun. Begitu melihat Alya berdiri menunggu di lobi rumah sakit, dia mempercepat langkahnya. Menjatuhkan koper begitu saja untuk memeluk Alya erat-erat, mengangkatnya sedikit dari lantai hingga gadis itu tertawa kaget. Wajahnya terbenam di leher Bayu yang masih tercium samar aroma kereta dan keringat perjalanan jauh.
"Aku kangen banget," bisik Bayu, hidungnya menyusuri rambut Alya sebentar sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu. Tangannya masih menggenggam pinggang gadis itu erat, seolah enggan melepaskan jarak yang baru saja mereka tutup. "Cantik banget kamu hari ini. Atau emang selalu cantik, cuma aku aja yang baru nyadar lagi."
"Gombal," Alya tertawa, memukul lengannya pelan, tapi pipinya sudah memerah, dan dia membiarkan Bayu mengecup keningnya di tengah lobi yang ramai. Tidak peduli beberapa pasang mata perawat lain yang melirik sambil tersenyum jahil.
"Serius, deh," Bayu melanjutkan, mengangkat bunga matahari itu ke depan wajah Alya. "Buat kamu. Maaf ya cuma ini yang sempat aku beli, keretanya mepet banget waktu sampai stasiun."
"Ini udah lebih dari cukup," Alya menerimanya, menciumi kelopak bunga itu sejenak sebelum memeluknya lagi, kali ini lebih lama, membiarkan dirinya benar-benar merasakan bahwa dia tidak sedang membayangkan kehadiran ini.
Suster Ratna, yang kebetulan lewat membawa map rekam medis, berhenti sebentar untuk menyalami Bayu dengan hangat. "Jadi ini yang bikin Alya senyum-senyum sendiri seminggu terakhir," godanya, dan Bayu tertawa lebar, mengulurkan tangan dengan sopan.
"Terima kasih udah jagain calon istri saya, Bu," katanya, dan Ratna menepuk bahunya sambil tertawa, bilang bahwa dia tidak perlu berterima kasih. Karena Alya sendiri yang selalu menjaga dirinya dengan baik, tidak pernah merepotkan siapa pun.
Wulan dan Tia menyusul tak lama kemudian, dan untuk beberapa menit, lobi rumah sakit itu dipenuhi tawa dan obrolan ringan seputar rencana pernikahan.
"Tanggalnya udah fix belum, sih?" Tia bertanya penasaran, matanya berbinar seperti anak kecil yang menunggu kabar liburan.
"Belum, masih dipertimbangkan," Bayu menjawab, melirik Alya sekilas dengan senyum. "Tapi kalau bisa sih, secepatnya. udah nggak sabar."
"Awas aja kalau nggak diundang," Wulan menyahut, nada datarnya kali ini terselip humor yang jarang dia tunjukkan, dan Bayu tertawa, berjanji akan mengirim undangan paling depan untuk mereka bertiga karena, katanya, "tanpa kalian, siapa yang bakal jagain Alya seharian di rumah sakit ini."
Menurut Tia, harus segera ditentukan tanggalnya sebelum dia sendiri lupa cara jadi bridesmaid yang baik. Bayu meladeni semua candaan itu dengan mudah, gaya bicaranya yang santai dan hangat membuat siapa pun di sekitarnya merasa nyaman dalam hitungan menit. Sesuatu yang membuat Alya diam-diam bangga memilih pria ini sebagai pasangan hidupnya.
Mereka berjalan berdua menyusuri koridor menuju kantin, tangan saling bertaut. Bayu mulai bercerita tentang katering yang baru saja dia survei di kota sebelah, tentang tante dari pihak keluarganya yang ngotot ingin menyumbang tenda pernikahan meski belum diminta, tentang segala detail kecil yang membuat rencana pernikahan mereka terasa semakin nyata setiap harinya.
"Kamu udah mikirin gaunnya belum?" tanya Bayu, meremas tangan Alya pelan.
"Belum sempat, Kak. Kerjaan lagi padat banget," Alya menjawab, sedikit merasa bersalah karena menyadari betapa banyak hal pernikahan yang belum sempat dia pikirkan dibanding Bayu yang jelas sudah menyiapkan banyak hal diam-diam.
"Nggak apa-apa, santai aja. Yang penting kamu ada di sana, aku udah cukup senang," Bayu tersenyum, mengangkat tangan Alya ke bibirnya, mengecup punggung tangannya lembut, gestur yang selalu berhasil membuat pipi Alya memanas meski mereka sudah bersama bertahun-tahun.
Mereka baru saja hendak berjalan menuju kantin ketika langkah dr. Raze muncul dari arah lift. Jas putihnya rapi seperti biasa, ekspresinya datar seperti biasa, tapi matanya berhenti sedikit lebih lama dari yang seharusnya ketika melihat tangan Bayu yang masih melingkar di pinggang Alya.
"Suster Nireva," sapanya, lalu menoleh kepada Bayu dengan anggukan singkat. "Bayu."
"Dokter Raze," Bayu membalas ramah, tidak canggung sedikit pun, karena memang bukan tipe orang yang mudah merasa terintimidasi oleh siapa pun. "Kebetulan ketemu lagi. Saya sebenarnya penasaran, boleh tanya sedikit?"
Alya merasakan tubuhnya menegang tanpa sadar, tapi Bayu melanjutkan sebelum dia sempat menahannya.
"Soal mutasi Alya ke tim inti bedah jantung," Bayu berkata, nadanya tetap santai, seolah sedang menanyakan cuaca. "Saya cuma penasaran, prosesnya emang biasa secepat itu, ya? Alya cerita, surat keputusannya keluar bahkan sebelum evaluasi resminya jalan."
Untuk sepersekian detik, ruang di antara mereka terasa lebih senyap dari yang seharusnya, meski lobi itu sendiri masih ramai oleh suara pengumuman dan langkah orang berlalu-lalang.
"Sistem evaluasi kami fleksibel untuk kasus-kasus dengan bukti kompetensi yang jelas," dr. Raze menjawab, suaranya tenang, terukur, tanpa jeda yang bisa menandakan kegugupan sedikit pun. "Suster Nireva menunjukkan itu dengan sangat jelas minggu lalu. Saya tidak melihat alasan untuk menunda sesuatu yang sudah pasti hasilnya."
"Masuk akal," Bayu mengangguk, meski matanya menyipit sedikit, seperti orang yang mencoba mencocokkan jawaban itu dengan sesuatu yang masih terasa janggal di kepalanya. "Cuma kadang birokrasi rumah sakit kan biasanya lama, Dok. Apalagi tempat sebesar ini."
"Birokrasi ada untuk melayani hasil, bukan sebaliknya," dr. Raze menjawab lagi, kalimatnya pendek, tegas, jenis kalimat yang terdengar seperti penutup diskusi meski disampaikan dengan nada paling sopan yang bisa dia keluarkan.
"Berarti kalau ada kasus lain yang menurut Dokter juga jelas kompetensinya, prosesnya bisa secepat itu juga?" Bayu bertanya lagi, masih dengan nada santai, tapi ada sesuatu di baliknya yang terdengar seperti sedang menguji, bukan sekadar penasaran.
Untuk pertama kalinya, dr. Raze berhenti sejenak sebelum menjawab, matanya menatap Bayu lurus-lurus, seolah sedang menilai ulang lawan bicaranya. "Tergantung kasusnya," katanya akhirnya. "Tidak semua orang menunjukkan hal yang layak dipercepat."
"Alya emang selalu begitu, sih," Bayu menyahut cepat. Tangannya merapatkan pelukan di pinggang Alya seolah menegaskan sesuatu tanpa perlu mengucapkannya keras-keras. "Dari dulu, kalau dia niat sama sesuatu, hasilnya nggak pernah main-main. Makanya saya nggak kaget dia dilirik buat tim inti."
"Kalau begitu, Anda cukup mengenalnya," dr. Raze menjawab, nadanya tetap datar, tapi ada sesuatu di ujung kalimat itu yang, bagi telinga yang cukup peka, terdengar seperti sindiran halus yang dibungkus rapi. "Semoga Anda terus mengenalnya sebaik itu."
Kalimat itu seharusnya terdengar seperti kesopanan biasa, tapi entah kenapa membuat udara di sekitar mereka terasa sedikit lebih berat, dan Alya bisa merasakan tangan Bayu mengeras samar di pinggangnya, meski wajahnya masih tersenyum seperti biasa.
"Kalau tidak ada hal lain, saya permisi. Suster Nireva, jangan lupa laporan sore ini," dr. Raze menutup percakapan itu, mengangguk singkat kepada Bayu sekali lagi sebelum berbalik menuju lift.
Dia berlalu tanpa menunggu balasan, dan begitu jas putihnya menghilang di balik pintu lift, Bayu bersiul pelan, menggelengkan kepala.
"Orangnya emang selalu segitu dinginnya?" tanyanya kepada Alya, setengah bercanda, setengah serius.
"Selalu," Alya menjawab, mencoba terdengar ringan, meski di dalam dadanya masih menyisakan sesuatu yang berat dari cara dr. Raze menatapnya sekilas sebelum berbalik pergi tadi. Tatapan yang, jika dia jujur pada dirinya sendiri, terasa seperti peringatan yang tidak pernah diucapkan secara langsung.
Sore itu, setelah shift Alya selesai, mereka berdua naik ke taman atap rumah sakit. Tempat yang jarang diketahui pasien karena hanya staf yang punya akses kartu ke sana, tapi cukup indah untuk memandang matahari terbenam di ufuk kota yang perlahan berubah warna jingga keunguan. Bayu duduk di bangku besi, menarik Alya untuk duduk di antara kedua kakinya, punggung gadis itu bersandar ke dadanya. Tangannya melingkar erat di sekeliling perut Alya sementara dagunya bertumpu di puncak kepalanya.
"Aku suka banget momen kayak gini," Bayu berbisik, hidungnya menyusuri rambut Alya, mengecup pelan bagian belakang telinganya hingga membuat gadis itu tergelak geli. "Nggak ada rumah sakit, nggak ada dokter galak, cuma kita berdua."
"Aku juga," Alya berbisik balik, menyandarkan kepalanya lebih dalam ke bahu Bayu, matanya terpejam menikmati kehangatan pelukan itu, mencoba melupakan sejenak semua kejanggalan yang menumpuk sejak minggu-minggu terakhir. "Kak, gimana kalau kita percepat aja pernikahannya? Nggak usah nunggu tahun depan."
Bayu terdiam sebentar, lalu mengecup puncak kepalanya lembut. "Kenapa? Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa," Alya buru-buru menjawab, meski suaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri. "Cuma... aku pengen cepet-cepet jadi istrimu aja. Biar semuanya jelas."
"Aku juga pengen," Bayu menjawab, memutar tubuh Alya perlahan hingga mereka saling berhadapan, tangannya mengangkat dagu gadis itu lembut, matanya menatap dalam-dalam seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terucap di balik permintaan tiba-tiba itu. "Tapi aku juga pengen tahu, ini beneran cuma soal aku, atau ada yang bikin kamu ngerasa harus buru-buru?"
"Kenapa kamu mikir gitu?" Alya bertanya balik, mencoba terdengar santai, meski jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya.
"Nggak tahu," Bayu mengangkat bahu, jarinya mengelus pipi Alya pelan. "Cuma dari tadi, sejak ketemu dokter itu, kamu kayak... beda. Lebih tegang. Terus tadi kamu tiba-tiba ngomong soal percepat nikah. Aku cuma pengen mastiin, kamu baik-baik aja."
Alya membuka mulutnya, hendak menjawab. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya, karena jujur pada Bayu berarti harus menjelaskan gembok baru, tirai baru, pot mint yang diganti tanpa dia minta, kotak kecil di langit-langit lorong kosnya, dan bibir yang sempat menyentuh perban di tangannya. Semua hal yang, jika diucapkan keras-keras, akan terdengar terlalu gila untuk dipercaya siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
"Bukan siapa-siapa," akhirnya dia hanya berkata, menundukkan wajahnya ke dada Bayu lagi, menghindari tatapan yang terlalu tajam itu. "Aku cuma kangen kepastian."
"Kalau ada apa-apa, kamu cerita aja, ya?" Bayu berbisik, mengecup puncak kepalanya, tangannya mengusap lembut punggung Alya naik turun. Gerakan yang selalu berhasil membuat Alya merasa lebih ringan setiap kali beban di dadanya terlalu berat untuk dipikul sendirian. "Aku nggak akan marah, apa pun itu. Aku cuma pengen jadi orang pertama yang kamu larikan kalau ada yang salah."
"Aku tahu," Alya menjawab pelan, memeluknya lebih erat. Membiarkan kehangatan itu menutupi sedikit rasa bersalah yang terus mengendap setiap kali dia menahan sesuatu darinya.
Bayu tidak mendesaknya lebih jauh, hanya memeluknya lebih erat, mengecup puncak kepalanya berkali-kali seolah ingin menuangkan seluruh rasa aman yang bisa dia berikan ke dalam satu pelukan itu. Mereka duduk seperti itu sampai matahari benar-benar tenggelam, tidak ada yang berbicara lagi, hanya detak jantung masing-masing yang saling menjawab dalam diam.
Bayu mengantarnya pulang malam itu, mengecup keningnya lama di depan pintu kos sebelum akhirnya pamit ke penginapan tempat dia menginap semalam sebelum kembali ke kota sebelah esok pagi. Begitu pintu kamarnya tertutup, Alya merebahkan diri di kasur, memandangi langit-langit sambil mengulang setiap kalimat yang diucapkan dr. Raze siang tadi. Semoga Anda terus mengenalnya sebaik itu. Kalimat itu terdengar seperti doa baik-baik saja jika diucapkan orang lain, tapi dari mulutnya, entah kenapa, terasa seperti sebuah hitungan mundur yang baru saja dimulai.
Malam itu, di lantai dua puluh dua yang sudah lama sepi, dr. Raze duduk sendirian di mejanya, lampu meja satu-satunya sumber cahaya di ruangan gelap itu, dan dari laci paling bawah yang selalu terkunci, dia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit hitam yang sudah lusuh di beberapa sudutnya. Halaman-halamannya penuh tulisan tangan rapi yang tersusun berdasarkan tanggal, tanpa satu pun tanggal yang terlewat sejak halaman pertama.
Dia membuka halaman baru. Penanya bergerak dengan kecepatan yang sama seperti tangannya memegang pisau bedah. Pasti, tanpa keraguan, tanpa coretan.
˚♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡
Dia memeluk pria itu di depan semua orang hari ini. Aku menghitung tiga detik lebih lama dari yang seharusnya bisa kutoleransi.
Pria itu bertanya tentang mutasi. Cerdas juga, ternyata. Meski tidak cukup cerdas untuk berhenti bertanya di saat yang tepat. Dia bahkan berani bertanya dua kali. Aku menghargai keberanian itu, sedikit, sebelum akhirnya harus mengingatkannya di mana batasnya.
Dia memintanya mempercepat pernikahan sore ini. Aku tidak perlu mendengar percakapan itu langsung untuk tahu itu terjadi. Aku mengenal getar suaranya bahkan dari balik dinding.
♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡
Dia berhenti sejenak, penanya melayang di atas kertas, matanya menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan lampu-lampu kota yang berkelip jauh di bawah sana, sebelum akhirnya menulis satu baris terakhir. Tulisannya sedikit lebih tebal dari baris-baris sebelumnya, seolah ditekan dengan kesungguhan yang berbeda.
♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡
Waktunya hampir habis. Aku perlu mempercepat rencana sebelum pria itu benar-benar mempercepat miliknya.
♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡
Dia menutup buku itu, mengembalikannya ke laci. Menguncinya dengan bunyi klik pelan yang menggema aneh di ruangan sesenyap itu, lalu berdiri, berjalan menuju jendela. Menatap ke arah kota yang tidak pernah tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu, betapa dekat jarak antara kesabaran seseorang dan keputusan yang tidak bisa lagi ditarik kembali. Di sudut mejanya, tergeletak map berisi profil lengkap seorang pria bernama Bayu. Riwayat kerja, riwayat keuangan, dan satu nomor rekening di halaman terakhir yang sudah ditandai dengan tinta merah, menunggu untuk digunakan kapan pun dia memutuskan sudah waktunya.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈🅻🅾🆅🅴•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Ada cinta yang ditulis dengan tinta, dan ada cinta yang ditulis dengan rencana. Yang paling berbahaya bukanlah yang meluap dalam kata-kata, melainkan yang disusun rapi, halaman demi halaman, menunggu hari yang tepat untuk ditutup selamanya.