Karin gadis pemalas yang punya hobby nonton Drakor dan Dracin sepanjang masa remajanya, tidak menyangka bahwa nasibnya akan seperti di drama drama yang pernah ia tonton.
Diumur ke 20 tahun ia dipaksa menikah muda dengan Om Om yang di jodohkan Oleh Ayahnya.
Om Om itu adalah kolega bisnis Ayah Karin bernama Arjuna Prayoga.
Meskipun hanya berbeda 7 tahun tapi Karin yang saat itu masih kuliah, sangat sulit untuk menerima perjodohan dan pernikahan itu.
Apalagi Karin sudah memiliki pacar yang telah dipacarinya selama bertahun tahun bernama Kai Bagaskara seorang cowok populer dan sangat dicintainya.
Dapatkan Karin Lolos dari perjodohan yang disiapkan Ayahnya?
Ataukah pada akhirnya ia akan benar benar menikah dengan Om Arjuna?
Selamat membaca semoga kalian suka dengan karyaku, saranghae 🩷
BTW karena ini cerita tentang pernikahan Harap bijak sebelum membaca okey...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Wanita Penolong
Malam itu Sekar tak sengaja menemukan seorang Lelaki muda tergeletak di pinggir jalan.
Lelaki itu memegang sebotol beer dan ada sebuah handphone tergeletak tak jauh dari tempat pria itu tersungkur.
Sekar yang baru saja pulang selepas seharian menghadiri sidang perceraiannya dengan Wiliam, tak tega melihat pria muda itu tergeletak di jalanan sepi yang kini di lewatinya.
Setelah melewati pria itu beberapa ratus meter di depan, entah mengapa jiwanya merasa tak tenang.
Sekar memundurkan mobil kurang lebih 200 meteran, lalu Ia mematikan mesin mobilnya. dan dengan hati hati turun dari kemudi, jiwanya diliputi rasa waspada bisa aja pria ini berniat jahat seperti modus kejahatan yang belum lama ini kerap terjadi.
"Dek, dek bangun." Ucap Sekar seraya mengguncang guncangkan tubuh Pria muda tersebut, ia melakukannya hampir 5 menit.
Perlahan tapi pasti pria itu membuka matanya.
Mata dengan bola mata kecoklatan yang sangat indah itu terbuka.
"Dek, bangun jangan tiduran di jalan seperti ini!" Ujar Sekar lagi.
Membuat Kai mulai tersadar, Kai berusaha sekuat tenaga untuk terbangun, perlahan lahan ia mulai menggerakkan kedua tangannya demi menopang tubuhnya agar bisa terduduk.
Wanita yang terlihat dewasa itu membantu Kai duduk.
Aroma tubuh Kai yang kini berbau alkohol disadari oleh perempuan itu ia sedikit menutup hidungnya yang mancung.
"Kamu mabok de?" Tanya Wanita itu spontan.
Kai mengangguk lemah, kini ia terduduk bersandar di pembatas jalan.
Handphone yang tergeletak di jalan itu menyala, nampak sebuah notifikasi transfer masuk ke Handphone Kai, pembayaran kerjanya menjadi bartender di Bar.
Sekar buru buru mengambil handphone itu mewakili Kai yang kini masih terlihat lemah, betapa terkejutnya wanita itu ketika melihat sosok tak asing menjadi wallpaper di layar kunci Kai.
Sekar berusaha untuk tak bereaksi berlebihan, niatnya ingin menggali sesuatu dari Pria random yang di temuinya ini.
"Gue tebak, apa Lo lagi patah hati?" Tanya Sekar seraya memberikan Handphone itu ke tangan Kai.
Kai meraihnya masih dengan tubuh yang lemah dan kepala yang sangat pusing, dia mengangguk "Gue pengen mati aja Mba." Ucap Kai.
Sekar menatapi Pria muda di hadapannya. Tubuhnya tinggi proporsional, muda, sangat tampan, kulitnya putih bersih, dengan rambut tebal, dari segi manapun wanita mana yang tidak akan terpikat oleh sosoknya.
Dia membatin pantas saja bocah tengik itu begitu menolak Kakak Kesayangannya.
"Tunggu dulu, kalau Lo mati apa Lo gak ninggalin sesuatu yang berharga di dunia ini?." Kata Sekar berusaha bijak, dia tau saat ini pasti pria muda ini sedang sangat terluka dan sakit hati.
"Ada mba, tapi...." Kai terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ya kalau masih ada lo gak boleh mati bocah." Sekar mendekat ke arah kai Menepuk halus punggung pria muda itu.
"Saat ini Lo pasti lagi galau banget dek, gimana kalau kita makan dulu, Lo pasti laper kan?" Tawar Sekar ramah.
Kai menatap wajah perempuan dewasa di hadapannya, wajah ayu yang manis dengan polesan make up tipis membingkai wajah wanita di hadapannya itu. Ia nampak bukan orang jahat.
Kai mengangguk "Tapi apa lo gak ke repotan mba?" Tanya Kai sungkan.
"Hari ini gue belum berbuat baik, tapi kebetulan gue liat lo tersungkur di jalan pulang gue, nampaknya tuhan kasih gue tiket buat berbuat baik." Wanita itu berkata riang.
Membuat hati Kai agak menghangat "Makasih banyak ya mba sebelumnya." Ucap Kai tulus.
Sekar tersenyum "Let's go brother." Ucapnya seraya menarik pergelangan tangan Kai membantunya bangkit.
Malam itu Kai terselamatkan oleh perlakuan hangat Sekar. Kini mereka makan di sebuah kedai pinggir jalan yang nampak sudah sepi pengunjung.
"Makan yang banyak, Lo kurus banget." Sekar menambahkan nasi ke piring Kai.
"Udah udah mba, gue gak enak ngerepotin Lo gini." Tolak Kai halus.
"Yaelah, anggap aja kita teman lama ketemu lagi." Ucap Sekar sambil terus menambahkan nasi dan lauk ke piring Kai.
"Makasih mba, Lo baik banget." Ujar Kai, dia memandangi Sekar dengan takjub, ternyata di dunia ini masih ada orang baik seperti wanita di hadapannya.
Sekar menggeleng "Kalau Lo fikir gue orang baik, Lo salah brother, gue ini cuma seorang pendosa yang kebetulan nemuin kucing di jalanan."
Kai terkekeh "Tadi separah itu ya mba kondisi gue." Ucapnya malu.
Sekar menggeleng gelengkan kepalanya "Lain kali kalau mau pingsan jangan di pinggir jalan, gimana kalau kaki Lo yang bagus itu di tabrak mobil." nasehatnya.
Kai mengangguk "Maaf ya mba."
"Kenapa lo minta maaf ke gue bocil, Lo minta maaf sama diri Lo sendiri, pake mau mati segala lagi, pendek banget fikiran Lo." Cerocos Sekar.
Kai tertunduk "Hidup gue kayak udah gak ada artinya lagi mba."
"Kenapa gegera cewek?" Tanya Sekar santai.
Kai menjawab singkat "Bukan itu doang sih mba"
"Terus"
Pria muda itu akhirnya membuka mulutnya bercerita panjang lebar tentang hal hal buruk yang menimpanya begitu bertubi tubi belakang ini.
Sekar mendengarkan dengan seksama, dirinya menitikan air mata saat Kai menceritakan Ibunya dan dirinya yang kini sebatang kara.
"Jadi pas Lo jual diri ke Tante Tante girang itu Lo bener bener butuh duit buat biaya mami Lo di RSJ?" Kai mengangguk malu, dirinya merasa kotor karena pernah melakukan pekerjaan itu.
"Ya ampun, kasian banget Lo cil, meskipun itu salah tapi gue bisa ngerti kenapa Lo lakuin itu semua." Sekar mengelus lembut rambut Kai, layaknya seorang kakak yang memberikan support pada adiknya.
Kai menitikan air matanya "Tapi gue gak pernah ngelakuin hal itu lagi mba, sekarang demi Karin gue rela kerja kasar dan serabutan apa aja, asalkan bisa tetep lanjut kuliah dan nanti bisa dapet kerjaan yang baik."
Air mata yang tadi hanya titik titik ini banjir membasahi pipi bujangan itu.
"Tapi sekarang semua udah hancur mba, Karin udah nikah sama cowok pilihan Ayahnya." Ucap lelaki itu dengan suara bergetar.
Sekar terdiam, lelaki yang Kai bilang itu adalah Kakak Kandungnya Arjuna Prayoga. Lelaki matang yang entah mendapat wangsit dari mana tiba tiba ingin menikahi gadis muda manja seperti Karin.
Sebagai Adik bahkan Sekar pun awalnya tidak menyetujui pernikahan kakaknya itu, karena baginya wanita semuda Karin yang notabenenya anak mommy itu mana bisa menjadi pasangan yang cocok dengan Kakaknya yang perfeksionis dan super sempurna.
"Tapi hidup lo harus terus berjalan cil." Ucap Sekar memotivasi.
"Yang Lo gak tau sekacau apapun hidup Lo, hidup orang lain juga bisa aja sama kacaunya."
"Maksud Lo mba?" Tanya Kai tidak mengerti.
"Lo liat gue baik baik." Pinta Sekar untuk memperhatikan dirinya.
"Liat gue, menurut Lo gue cantik dan sempurna gak?" Tanya Sekar penuh percaya diri.
Kai mengangguk Mba Sekar yang kini dihadapannya memang sangat cantik dan sempurna.
"Tapi apa Lo tau hal absurd yang terjadi di hidup gue?"
Kai menggeleng tidak tahu.
"Suami gue selingkuh, sama sahabat gue sendiri selama hampir 3 tahun, bahkan yang baru gue tau dia punya anak sama perempuan Sundal itu, sementara gue?" Kata kata Sekar terputus, dia mulai emosional jemarinya mengepal sebelum bisa melanjutkan kata katanya.
"Gue dia minta buat Childfree, gue nurut dan gue Oke aja, gue fikir dia kasian sama gue yang emang punya gangguan PCOS taunya di belakang gue, Hahahaha." Sekar menutup mulutnya saking tak percayanya dengan cerita hidupnya yang seperti alur drama sinetron.
"Dibelakang gue dia selingkuh dan berkhianat, se Anji*g itu."
Kai terbelalak kaget, ia terdiam ternyata wanita cantik di hadapannya juga sedang mengalami hal yang tak kalah beratnya.
"Mba gue turut sedih dengan cerita Lo, maafin gue ya mba udah bikin Lo ke triger." Sesal Kai.
Sekar tersenyum "Hidup emang selucu itu dek, jadi Lo jangan ngerasa sendirian." Sekar malah menguatkan Kai.
"Makasih ya mba, gue bener bener bersyukur ketemu Lo di hari ini."
Sekar mengangguk, akhirnya mereka lanjut makan, mengobrol dan akhirnya bertukar kontak, untuk nanti bisa saling menghubungi.
Dan setelah malam itu kini Kai memiliki seseorang yang dia anggap penyelamat hidupnya.