NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Aku sangat munafik!

Sinar matahari pagi merembes lembut melalui celah tirai putih di kamar utama lantai dua. Raya mengerjap perlahan, menyesuaikan retinanya dengan pendar cahaya yang hangat. Untuk pertama kalinya sejak tersadar dari koma, kepalanya tidak terasa terlalu sakit.

Ia bangkit perlahan, merapikan piyamanya, lalu melangkah keluar dari kamarnya. Saat melewati koridor, ia melirik pintu kamar di seberang, kamar Aris yang sudah terbuka sedikit.

Aris memang selalu memastikan Raya memiliki ruang dan privasi penuh dengan memberinya kamar tersendiri, sebuah sikap sopan yang menurut Raya makin membuktikan betapa menghargainya Aris sebagai seorang kekasih.

Raya kemudian menuruni anak tangga kayu berkerikil halus. Suasana rumah terasa begitu tenang, hanya diserbu oleh aroma harum mentega cair, roti panggang, dan seduhan kopi hitam yang menguar dari arah dapur.

Dari balik dinding pembatas dapur terbuka, Raya melihat pemandangan yang membuatnya terpaku.

Aris, pria terpandang, dingin, dan dikelilingi kekuasaan di dunia bisnis kini berdiri di depan kompor dengan mengenakan kemeja kerjanya yang lengannya dilipat sampai siku.Sebuah apron masak berwarna hitam melekat di tubuh atletisnya.

Pria itu tampak sibuk membalik lembaran panekuk di atas teflon dengan cermat, dengan sesekali melirik resep di layar ponsel yang bersandar di sebelah wadah adonan.

"Kalau gulanya kebanyakan, nanti adonannya malah bantat..." gumam Aris pelan pada dirinya sendiri, seraya mengerutkan dahi serius seolah sedang membaca kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah.

Raya tak bisa menahan senyum tipis di bibirnya. Pemandangan itu begitu kontras dengan imajinasinya tentang seorang pengusaha kaya raya yang biasa dilayani banyak pelayan.

"Apa seorang Aris pandai memasak?" suara lembut Raya memecah keheningan dapur.

Aris berbalik dengan cepat. Raut wajah tegangnya seketika mencair, digantikan oleh senyuman tulus yang selalu berhasil membuat Raya merasa aman.

"Pagi, Raya," sapa Aris lembut, sambil mematikan kompor. Ia meletakkan spatula dan melangkah menghampiri Raya, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Kamu sudah bangun? Kenapa tidak panggil aku kalau mau turun? Kepalamu masih pusing?"

Raya menggeleng pelan, manik matanya menatap Aris lekat-lekat. "Aku sudah jauh lebih baik. Dan... aku tidak tahu kalau kamu bisa memasak."

"Banyak hal tentang aku yang belum kamu ingat," jawab Aris setengah bercanda, menyembunyikan debar di dadanya. Ia lalu menuntun Raya duduk di kursi meja makan marmer yang mengkilap. "Duduklah. Aku buatkan sarapan spesial khusus untukmu."

Tak lama kemudian, Suster Santi turun dari lantai atas sambil menggendong Cyla yang tertawa riang. Begitu melihat Raya dan Aris di meja makan, Cyla langsung meronta-ronta minta turun.

"Mama! Papa!" seru Cyla cadel, berlari kecil dengan kaki mungilnya menghampiri kursi Raya.

Aris dengan sigap mengangkat Cyla dan mendudukkannya di baby chair di sebelah Raya. Suasana meja makan pagi itu mendadak hidup oleh celotehan riang dan gelak tawa kecil.

Aris dengan telaten menyuapkan potongan panekuk kecil bersiram madu ke mulut Cyla, sementara Raya membantu melap sisa remah makanan di pipi balita itu.

Melihat keharmonisan kecil itu dari seberang meja, dada Aris berdesir hangat. Untuk beberapa detik yang singkat, Aris hampir percaya pada kebohongannya sendiri. Ia hampir percaya bahwa mereka adalah keluarga bahagia tanpa noda masa lalu.

Siang harinya, setelah Cyla tidur siang dan Raya sibuk merapikan ruang baca di lantai bawah, Aris mengurung diri di ruang kerjanya.

Ia menatap pantulan dirinya di layar ponsel yang mati, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa mual mendadak menyerang perutnya. Senyuman hangat yang ia tunjukkan pada Raya tadi pagi, perhatian manis yang ia berikan, dan tawa Cyla, semuanya terasa seperti duri beracun yang menghujam jantungnya.

"Setiap kali kamu tersenyum padaku, Raya... kamu sedang tersenyum pada monster yang merenggut masa depanmu," batin Aris tersiksa.

Tok tok!!

Pintu ruang kerja diketuk dua kali, lalu Hendra melangkah masuk dengan membawa beberapa dokumen penting.

"Pak Aris, laporan keuangan proyek perumahan baru sudah siap untuk ditandatangani," ujar Hendra. Namun, saat melihat raut wajah atasannya yang pucat dan berantakan, Hendra menghentikan langkahnya. "Anda tidak apa-apa, Pak? Anda terlihat kurang sehat."

Aris mendongak, matanya merah menahan lelah dan beban psikologis yang berat. "Hendra... apa aku munafik?"

Hendra terdiam sejenak, seakan memahami arah pikiran atasannya. "Anda sedang melindungi Ibu Raya, Pak. Menjauhkan kenyataan pahit itu adalah cara terbaik agar beliau tidak mengalami guncangan mental."

"Tapi sampai kapan, Hendra?" suara Aris bergetar parah. "Sampai suatu hari ingatannya kembali secara tiba-tiba? Saat itu terjadi, dia pasti akan membunuhku dengan tangannya sendiri. Dia tidak akan pernah memaafkan pria yang membuat anaknya menjadi yatim."

Hendra menarik napas berat. "Maka pastikan ingatan itu tidak pernah kembali, Pak. Atau... pastikan saat dia mengingat semuanya nanti, rasa nyaman dan percaya beliau pada Anda sudah cukup kuat untuk menahan badai itu."

Aris terpejam rapat. Kalimat Hendra terdengar sangat kejam, namun di sisi lain, itulah satu-satunya jangkar yang ia miliki untuk mempertahankan dunia semu yang telah ia bangun.

**

Malam harinya, hujan gerimis kembali turun membasahi kaca jendela mansion, hingga membuat suhu udara di dalam rumah terasa dingin.

Raya duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah desain interior. Sementara Aris duduk di sofa terpisah di sampingnya, dan sibuk memeriksa beberapa berkas kantor lewat laptop di pangkuannya.

Raya melirik sekilas ke arah Aris. Ia menyadari guratan kelelahan di wajah pria itu. Tanpa berkata apa-apa, Raya beranjak ke dapur, membuatkan secangkir teh kamomil hangat, lalu meletakkannya perlahan di meja dekat Aris.

Aris tertegun, menutup laptopnya, dan menatap Raya dengan tatapan penuh tanya.

"Minumlah," ucap Raya lembut seraya duduk kembali di sofanya. "Kamu bekerja terlalu keras akhir-akhir ini. Meskipun aku belum ingat masa lalu kita, aku bisa melihat betapa besar tanggung jawab yang kamu pikul untuk aku dan Cyla."

Aris meraih cangkir teh itu. Mata ketatnya menatap Raya dengan kelembutan yang sangat dalam.

"Terima kasih, Raya..." bisik Aris. "Selama kamu dan Cyla ada di rumah ini, lelah separah apa pun pasti akan hilang. Selamat istirahat ya, kalau kamu merasa capek, langsung ke kamar saja."

Raya tersenyum manis dan mengangguk. Meskipun ingatannya kosong, hatinya perlahan mulai membuka diri dan menaruh kepercayaan penuh pada Aris.

Ia merasa sangat terlindungi oleh sikap pria itu yang selalu menjaga dan menghormatinya, tanpa pernah tahu bahwa benteng perlindungan itu dibangun di atas kuburan suami sahnya sendiri.

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!