NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Jalan menuju pinggiran barat kota sepi sekali pada pukul dua pagi. Lampu jalan hanya menyala di beberapa persimpangan, dan di antara itu hanya ada gelap yang tebal serta suara jangkrik dari kebun-kebun kosong. Elang menyuruh sopirnya berhenti di ujung gang dan berjalan sendiri sampai sebuah rumah kecil bercat hijau pudar muncul di sisi kanan jalan.

Pagarnya rendah dari besi berkarat, dan halamannya hanya cukup untuk menaruh dua pot tanaman. Lampu teras mati. Di jendela samping, gorden tipis bergoyang pelan oleh angin, dan di dalamnya tidak ada cahaya sama sekali.

Elang berhenti di depan pagar dan memejamkan mata sebentar. Insting Dewa tidak menyala. Tidak ada niat membunuh dalam jarak yang bisa ia rasakan, tidak ada tekanan samar yang mengawasi dari jauh, dan tidak ada langkah siapa pun di sekitar rumah itu.

'Kosong. Atau sudah selesai.' Pikiran itu muncul, tetapi tengkuknya tetap menegang.

Ia membuka pagar dan melangkah melewati halaman. Pintu depan tidak terkunci. Ia mendorongnya dengan ujung jari, dan engselnya berderit panjang sampai membuat sekelilingnya terasa lebih sepi. Dari dalam datang bau sabun, minyak kayu putih, dan sesuatu yang lebih tajam di bawahnya, bau yang pernah ia cium sekali di tambang dan tidak ingin ia kenali lagi.

Ia menyalakan senter ponselnya.

Ruang tamu itu kecil dan rapi. Sofa tua dengan sarung bunga, meja kayu dengan taplak rajut, dan lemari kaca berisi piring-piring yang jarang dipakai. Lantainya bersih, dan tidak ada satu pun benda yang tampak dipindahkan. Tidak ada laci yang terbuka, tidak ada pecahan kaca, dan tidak ada tanda orang masuk dengan paksa.

Elang melangkah ke dapur, tempat cahaya senternya jatuh pada sosok yang duduk bersandar di dekat meja makan.

Seorang lelaki tua dengan rambut putih tipis dan kumis lebat, persis seperti foto yang ia lihat di layar. Matanya setengah terbuka, dan tangannya terkulai di pangkuan. Di lantai di dekat kakinya ada sebilah pisau dapur dengan gagang kayu, ujungnya gelap oleh sesuatu yang sudah mengering. Pria itu sudah meninggal beberapa waktu yang lalu, dan wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, hanya keterkejutan yang belum sempat berubah menjadi apa pun.

Elang berdiri diam. Ia tidak mendekat lebih jauh, dan ia tidak menyentuh apa pun.

"Pak Sutarman," katanya pelan.

Tentu tidak ada jawaban. Ia menghela napas, menurunkan senter, dan menahan diri untuk tidak memejamkan mata. Selama sepuluh tahun hidup dengan sarung tangannya, ia belum pernah melihat akibat dari orang yang menggunakan kemampuan seperti ini dengan niat jahat.

Ia memeriksa dapur dengan hati-hati, tanpa menyentuh meja atau lemari. Gelas teh di atas meja masih setengah penuh, dan di sampingnya ada dua cangkir, satu di dekat lelaki tua itu dan satu lagi di sisi seberang. Cangkir kedua kosong. Ada bekas sidik jari di tepinya yang bisa dilihat dari sudut cahaya senter, tetapi ia tidak berani mengambil kesimpulan apa pun darinya.

'Dia menerima tamu. Tamunya bukan orang yang ia takuti.' Elang menyorot ke arah pintu belakang, yang terkunci dari dalam. 'Dan pergi lewat pintu depan.'

Ia keluar dari dapur dan memeriksa dua kamar kecil di sisi lorong. Satu kamar berisi ranjang bujang dengan seprai putih yang sudah disetrika, dan di atas lemari kecil di sudutnya berdiri sebuah bingkai foto berwarna kecokelatan.

Elang mengangkat bingkai itu dengan dua jari. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri di depan rumah yang sama, mengenakan kaus kebesaran dan memegang layang-layang di satu tangan. Matanya besar dan serius, rambutnya keriting dan senyumnya hanya setengah. Elang membalik bingkainya.

Ada tulisan tangan di punggung foto, dengan pulpen biru yang sudah luntur. Rayan.

Ia memandang tulisan itu cukup lama. Nama itu tidak ia kenal, dan tidak ada petunjuk lain di dekatnya. Tidak ada tanggal, tidak ada keterangan siapa anak itu bagi lelaki tua yang kini terbujur di dapur.

Elang mengeluarkan ponselnya dan memotret foto itu dari depan dan belakang, dua kali. Setelah itu ia mengembalikan bingkainya ke tempat semula, tepat di bekas debu yang membentuk lingkaran.

Ia keluar dari rumah tanpa menutup pintu, berdiri di halaman, dan mengambil sebuah kartu nama dari saku dalam jasnya. Kartu itu diselipkan Pak Agus ke tangannya di tambang sebelum polisi itu berbalik pergi. Ia menekan nomor yang tertera di sana dan menunggu dua dering.

"Pak Agus." Suaranya tenang. "Ini Elang. Aku butuh Bapak datang ke sebuah alamat. Ada orang meninggal."

...-----...

Dua mobil polisi dan satu ambulans tiba dalam dua puluh menit. Pak Agus turun lebih dulu dengan wajah mengantuk dan jaket yang dikancing sembarangan, tetapi matanya segera tajam ketika ia melihat Elang berdiri di halaman. Ia mendengarkan ringkasan Elang tanpa menyela, memberi isyarat pada anak buahnya untuk masuk, dan kembali menatap pemuda itu.

"Kau tidak masuk ke dalam rumah selain untuk melihatnya?"

"Aku masuk sampai dapur dan satu kamar." Elang tidak mengelak. "Aku tidak menyentuh apa pun selain bingkai foto di kamar itu, dan aku sudah mengembalikannya."

Pak Agus menatapnya agak lama. "Kenapa kau ada di sini?"

"Seseorang memakai ponsel milik lelaki ini untuk mengirim ancaman." Elang menjawab dengan jujur sejauh yang bisa ia katakan. "Aku mencari pemiliknya. Aku tiba terlambat."

Pak Agus tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan, menyelipkan satu tangan ke saku jaket, dan berbalik memberi perintah. Tidak lama kemudian petugas membawa kantong jenazah keluar dari rumah, dan Elang berdiri dengan tangan di saku sambil memperhatikan.

Ia belum mendapatkan apa pun tentang si kiri. Hanya satu foto anak kecil, satu nama, dan satu mayat. Ia mengangguk singkat kepada Pak Agus, lalu berjalan kembali ke ujung gang tempat sopirnya menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!