NovelToon NovelToon
Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:29.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.

Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.

Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.

Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.

Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Satu bulan sudah berlalu sejak adik Rian tinggal di rumah mereka.

Satu bulan yang terasa jauh lebih panjang dari sekadar hitungan hari. Rumah yang dulu hanya diisi oleh tiga orang—Mia, Rian, dan Kayla—kini terasa sesak oleh kehadiran Lukman, Sonya, dan bayi laki-laki mereka yang lahir dua minggu lalu. Setiap sudut rumah berubah. Kamar Kayla sudah lama berpindah fungsi. Kulkas selalu lebih cepat kosong. Tagihan listrik naik. Dan yang paling terasa, rasa nyaman yang dulu ada perlahan menguap.

Lukman sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Lebih tepatnya, ia tidak pernah benar-benar mencari lowongan. Setiap pagi ia bangun siang, membuka ponsel, bermain game atau menonton video, lalu tidur siang lagi. Sonya sibuk mengurus bayi yang baru lahir, sementara Rian terus menanggung semua biaya. Makan, susu formula, popok, bahkan ongkos kontrol ke bidan—semuanya dari gaji Rian.

Malam itu, suasana di ruang tamu terasa tegang. Kayla sudah tertidur di kamar utama. Bayi Lukman menangis pelan dari kamar belakang, disusul suara Sonya yang menenangkan. Rian duduk di sofa, memegang remote televisi yang tidak dinyalakan. Mia berdiri di depannya, tangan masih memegang daftar belanja yang ditulis di kertas sobekan.

“Aku minta uang buat belanja besok,” pinta Mia. Suaranya datar, tapi ada kelelahan yang jelas terdengar.

Rian mengangkat kepala. Alisnya berkerut. “Memangnya uang yang kemarin aku kasih sudah habis? Kamu beli apa saja? Jangan boros-boros, Mia.”

Kalimat itu menusuk. Mia merasakan jari-jarinya mengepal di sisi tubuh. Ia menatap suaminya lama, mencoba menahan nada marah yang ingin keluar.

Bukan dia yang boros. Ia sudah sangat hemat. Setiap kali belanja, ia menghitung ulang. Ia mengurangi jajan untuk dirinya sendiri. Ia bahkan sudah tidak membeli vitamin yang biasanya ia minum. Tapi jumlah mulut yang harus diberi makan bertambah dua orang dewasa dan satu balita. Susu formula anak Lukman jauh lebih mahal dari susu Kayla. Popok habis dalam hitungan hari. Beras yang biasanya cukup untuk dua minggu kini hanya bertahan seminggu.

“Kamu lupa ada adikmu yang harus kamu kasih makan?” ucap Mia, suaranya mulai sengit. “Selama ini mereka menumpang di sini tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Lukman tidak kerja. Hanya makan, tidur, lalu minta ini minta itu. Aku yang masak, aku yang cuci, aku yang belanja. Lalu kamu bilang aku boros?”

Rian menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya, seolah lelah mendengar keluhan yang sama berulang kali. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan dompet dari saku celana. Ia mengambil selembar uang kertas satu juta rupiah, lalu menyerahkannya kepada Mia.

“Ini untuk satu minggu,” kata Rian singkat. “Atur saja sebaik mungkin.”

Mia menatap uang itu. Satu juta untuk tujuh hari. Untuk lima orang dewasa dan dua anak kecil. Susu formula, beras, lauk, sayur, minyak, gas, popok, dan kebutuhan bayi lainnya. Angka itu terasa menghina.

“Tidak bisa,” kata Mia tegas. Ia tidak menerima uang itu. “Susu Kayla juga sudah habis karena diminum berdua dengan keponakanmu. Bayi itu masih kecil, tapi Sonya bilang susunya kurang, jadi mereka ambil susu Kayla. Aku sudah bilang berkali-kali, tapi mereka tidak peduli. Sekarang susu Kayla habis, dan kamu kasih aku satu juta untuk semuanya?”

Rian terdiam. Mulutnya terbuka ingin membantah, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia tahu istrinya benar. Ia tahu Lukman tidak berusaha. Tapi di kepalanya, dia berpikir kalau itu adiknya, tanggung jawabnya.

Mia menatap suaminya lebih lama. Ada kekecewaan yang dalam di matanya. Bukan hanya soal uang. Tapi soal rasa dihargai. Soal rasa bahwa suaminya masih melihatnya sebagai pasangan, bukan sekadar orang yang mengurus rumah dan menanggung beban keluarga besarnya.

Tanpa menunggu jawaban, Mia berbalik. Ia masuk ke kamar utama dan menutup pintu pelan, tapi cukup terdengar di telinga Rian.

Di dalam kamar, Mia duduk di tepi ranjang. Kayla tidur nyenyak di sisi lain, napasnya teratur. Mia menatap wajah putrinya yang tenang, lalu menutup muka dengan kedua tangan. Air mata yang sudah lama ditahan akhirnya jatuh pelan.

Satu bulan.

Hanya satu bulan, tapi ia merasa seperti sudah kehilangan banyak hal. Ruang pribadinya. Ketenangannya. Bahkan rasa hormat dari suaminya sendiri.

Di luar, suara bayi menangis kembali terdengar. Disusul langkah kaki Lukman yang pergi ke dapur, membuka kulkas, lalu menutupnya lagi dengan keras. Rian masih duduk di sofa, memegang uang satu juta yang tidak diterima istrinya.

Mia mengusap air matanya. Ia berbaring di samping Kayla, memeluk tubuh kecil putrinya. Di dalam gelap kamar, ia berbisik pelan,

“Mama capek, sayang… Mama sangat capek.”

Dan untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, Mia bertanya pada dirinya sendiri sampai kapan ia harus terus mengalah?

Di dalam kamar, Mia berbaring miring menghadap dinding. Lampu kamar dimatikan, hanya cahaya remang dari lampu tidur kecil yang masih menyala di pojok. Kayla tidur nyenyak di sampingnya, napas kecilnya teratur, tangan mungilnya menggenggam ujung selimut. Mia menatap wajah putrinya lama, lalu menutup mata. Tapi air mata yang sudah mengalir sejak tadi tidak bisa ia hentikan.

Ceklek....

Pintu kamar berderit pelan.

Rian masuk. Ia tidak langsung berbicara. Hanya duduk di tepi ranjang, memunggungi Mia. Suara napasnya terdengar berat.

“Sayang, jangan marah terus. Aku sudah kasih uang.” lirih Rian

Mia tidak menjawab. Ia tetap memunggungi suaminya.

Rian menghela napas. “Lukman itu adikku. Aku tidak bisa membiarkan dia kesulitan. Kamu tahu sendiri betapa susahnya mengurus anak dan istri saat tidak memiliki uang"

“Aku tahu,” jawab Mia akhirnya, suaranya serak. “Kita juga pernah susah. Tapi waktu itu kita tidak menumpang di rumah orang, menghabiskan makanan orang, memakai susu anak orang, lalu diam saja tanpa berusaha.”

Rian terdiam. Ia menunduk sambil memegang keningnya.

“Dia sedang mencari kerja,” katanya lemah.

“Kapan? Dan dimana?” tanya Mia, kali ini ia berbalik. Matanya masih basah, tapi tatapannya tajam. “Setiap hari dia tidur sampai siang. Main HP, makan, dan tidur lagi. Sudah satu bulan, Rian. Satu bulan. Tidak ada satupun lowongan yang dia lamar, tidak ada satupun wawancara. Bahkan untuk membantu mencuci piring atau menyapu halaman saja dia malas.”

Rian membuka mulut, ingin membela, tapi tidak ada kata yang keluar. Karena ia tahu istrinya benar.

Dari kamar belakang, tangisan Janu terdengar lagi. Disusul suara Sonya yang menenangkan, lalu suara Lukman yang kesal karena terganggu tidurnya. “Ssstt… diam dong. Papa mau tidur.”

Mia tertawa kecil, pahit. “Dengar sendiri. Itu yang kamu bela.”

Rian berdiri. Ia berjalan mondar-mandir di kamar yang sempit. “Aku akan bicara sama dia besok. Aku janji. Nanti aku suruh dia lebih serius cari kerja.”

“Kamu sudah bilang begitu minggu lalu,” balas Mia pelan. “Dan minggu sebelumnya. Dan minggu sebelumnya lagi.”

Keheningan kembali mengisi kamar. Hanya suara napas Kayla dan detak jam dinding yang terdengar. Rian akhirnya duduk lagi di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangan, ingin memegang tangan Mia, tapi Mia menarik tangannya pelan.

“Aku capek, Rian,” bisik Mia. “Aku capek masak untuk enam orang. Capek mencuci piring bertumpuk. Capek mendengar bayi menangis setiap malam, capek dimintai susu Kayla. Capek dibilang boros padahal aku sudah sangat hemat. Aku… aku merasa seperti pembantu di rumah sendiri.”

Kata-kata itu membuat Rian terdiam kaku. Ia menatap istrinya, betapa lelah wajah Mia. Ada kantung mata yang lebih dalam, ada garis lelah di sudut bibir, ada kehampaan di tatapan yang dulu selalu lembut.

“Aku tidak mau terus seperti ini,” lanjut Mia, suaranya bergetar. “Kalau mereka tidak segera pindah, aku yang akan pergi. Aku bawa Kayla. Aku tidak mau anakku tumbuh di rumah yang penuh ketegangan seperti ini.”

Rian menatapnya, kaget. “Mia… jangan bilang begitu.”

Mia tidak menjawab lagi. Ia hanya berbalik, memeluk Kayla lebih erat, dan menutup mata. Air matanya masih menetes pelan ke bantal.

1
Sayekti 0519
keren. banget,aku suka yg menghargai perubahan
Sayekti 0519
kekantor polisi lah,kok seneng ya d tabok orang.udah 3 kali lo
Sayekti 0519
jangan terlalu lengah dan pengertian,aman kan surat rumah.klw mereka g mau pergi jual saja
sunaryati jarum
Kirain Lukman , Rukmini ,dan Sonya, sadar ,taubat dan bekerja ternyata lebih parah.Untuk Mia akhirnya mendapat kebahagiaan
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk rian dan mia dan keluarga neraka' buat lukman dan sonya orang malas kerja pengen hidup enak dunia mimpi pun ngga ada 🤣
Putri Wulandari
lakol cuman gitu ceritanya
sunaryati jarum
Semoga mertua sadar jadi endingnya bahagia
Agus Tina
Bagus ceritanya
gesya garneta
othor jgn bikin rian berubah lah, jgn bikin cerita kyk di novel2 lain, endingnya pisah gara2 keluarga suami, justru bikin keluarga suami jadi baik sama mia
Agus Tina: Iya, betul ... bikin yg agak beda
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga Rian tidak goyah, apapun yang terjadi pada ibunya dan keluarganya.Kamu walau dihujat tetap berbakti dan mengirimkan uang.Seharusnya Bu Rukmini sadar,selama ini yang menopang hidupnya Rian padahal sudah punya keluarga,dan Mia istrinya tidak melarang ,ee malah dibenci.Sedangkan Lukman dan Sonya juga memiliki keluarga tapi hidupnya bergantung pada dirinya,malah disayang dan dimanjakan, renungkan Bu Rukmini apa perilaku pada kedua putra dan menantumu sudah benar dan adil
🎃
kok dera?
sunaryati jarum
Nah setelah kalian merasakan pahitnya hidup tanpa banyak uang dari Rian dan Mikha,jadi kebingungan sendiri.Itulah akibat memanjakan anak tapi membebani anak yang lain.Sonya terbiasa bergantung ini diminta cari nafkah.Semoga kalian sadar jika Mia dan Rian sangat berjasa pada hidup kalian.Sekarang Sonya harus belajar bisa menghidupi diri dan Janu.
dyah EkaPratiwi
enak dikota tapi numpang heyyy usaha makanya jangan suka ongkang2
Agus Tina
Apa Sonya tidak punya orang tua? Kan bisa sementara dia tinggal sama orang tuanya. Dan untuk Mia dan Rian memang lebih baik tinggal bersama orang tua dari Mia, agar para benalu itu tidak kembali lagi merongrong kehidupan mereka.
Jade Meamoure
bagus lah yg penting jangan ada drama kluarga lagi
Jade Meamoure
tk apa sih kalo rujuk hanya saja jauhkan dari keluarga toxic n harus bisa bertindak tegas sebagai kepala keluarga
gesya garneta
thor, jangan bikin rian berubah ya, biarkan mereka hidup bahagia🙏
Agus Tina
Sekoga Rian tidak berubah ...
sunaryati jarum
Semoga sumpah kamu kamu jalankan dan tidak goyah serta Bu Rukmini sadar akan semua kesalahannya pada Mia.Dan Sonya mau bekerja
falea sezi
🤣 Mia oon bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!