Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Udara di dalam ruang pemeriksaan khusus lantai bawah tanah gedung pusat NesAura Skincare terasa begitu pengap dan dingin. Lampu sorot tunggal berwarna putih terang menggantung tepat di atas meja kayu minimalis di tengah ruangan, menyinari permukaan meja yang kosong tanpa hiasan apa pun. Dinding kedap suara berwarna kelabu di sekelilingnya menciptakan keheningan mutlak yang mencekam, seolah menelan setiap pantulan suara sekecil apa pun.
Di balik meja sisi seberang, Sasya Pratama terduduk di atas kursi besi dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar. Blazer formal berwarna merah marun yang tadi pagi melekat anggun di tubuhnya kini tampak kusut. Riasan wajahnya sedikit luntur akibat air mata kemarahan dan kepanikan yang tumpah sejak ia digiring masuk ke dalam ruangan ini beberapa jam lalu. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan, senyuman sinis, atau dagu yang terangkat tinggi seperti saat ia duduk di kafe Senopati tadi siang.
Pintu besi ruangan terbuka perlahan dengan bunyi decitan engsel yang berat.
Nesa melangkah masuk ke dalam ruangan dengan mengenakan setelan jas charcoal yang rapi. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai semen, memantulkan gema yang membuat bulu kuduk berdiri. Di belakangnya, Bila mengekor sambil membawa sebuah map dokumen transparan berisi salinan bukti forensik digital.
Nesa berhenti tepat di hadapan meja pemeriksaan, lalu menarik kursi di seberang Sasya dan duduk dengan tenang. Ia menatap kakaknya itu lekat-lekat tanpa secercah pun ekspresi iba di wajahnya.
Melihat kehadiran sang adik, pertahanan mental Sasya yang sedari tadi berada di ujung tanduk akhirnya benar-benar runtuh. Perempuan itu tiba-tiba bangkit dari kursinya, menghambur ke depan meja, dan mencengkeram tepi meja besi dengan jari-jarinya yang memutih.
"Nesa! Nesa, kamu gila ya?!" jerit Sasya histeris, air matanya tumpah semakin deras membasahi pipinya. "Berani-beraninya kamu menyuruh anak buahmu menyeret aku dari kafe seperti seorang kriminal! Aku ini kakak kandungmu! Kita punya darah yang sama."
Nesa sama sekali tidak bergeming. Ia tidak mengangkat suaranya, namun tatapan mata dinginnya jauh lebih mematikan daripada bentakan apa pun. "Darah kita memang sama?" ulang Nesa dengan nada suara yang sangat datar dan dingin. "Tapi Sayang nya Kata-kata itu baru saja keluar dari mulut seorang perempuan yang tega menusuk adiknya sendiri dari belakang, mencuri rahasia perusahaan, dan bersekongkol dengan suami saya untuk menghancurkan NesAura."
Sasya tersentak hebat, napasnya memburu tak beraturan. Ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, mencoba menepis tuduhan tersebut dengan raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Bukan... kamu salah paham, Nes! Aku dizalimi. Semua tuduhan itu fitnah! Dika... ya, Dika yang menjebakku! Lelaki itu memanfaatkanku, dia mengancamku agar mau menuruti kemauannya! Aku tidak tahu apa-apa soal kebocoran formula Glow Series itu."
Mendengar pembelaan murahan tersebut, Nesa justru menarik seulas senyuman tipis yang sarat akan sarkasme. Ia menggelengkan kepala perlahan.
"Air mata buaya, Sasya? Masih mencoba berbohong di hadapanku?" Nesa memberi gestur kepada Bila. Bila langsung membuka map transparan dan mengeluarkan selembar dokumen cetak tebal, lalu meletakkannya tepat di hadapan Sasya.
"Coba baca ini," ujar Nesa dingin. "Ini adalah rekam jejak digital percakapan encrypted antara kamu dan Rian mantan kepala logistik pabrik kita serta salinan slip transfer rekening bank atas nama samaran yang membiayai pabrik tiruan itu. Alamat IP ponsel yang kamu gunakan untuk mengirim instruksi pengiriman bahan baku ke pabrik gelap tersebut terdaftar atas nama apartemen pribadimu di kawasan Menteng. Masih mau bilang kamu tidak tahu apa-apa?."
Sasya menatap lembaran kertas di atas meja dengan mata membelalak ngeri. Warna kulit wajahnya seketika berubah menjadi sepucat kertas. Seluruh alibi yang sempat ia susun di dalam kepalanya runtuh berkeping-keping tanpa sisa. Bukti-bukti digital itu begitu telak, begitu akurat, dan tidak menyisakan celah sekecil apa pun untuk mengelak.
Ketakutan yang teramat sangat kini merayap ke seluruh tubuh Sasya. Kakinya lemas, membuatnya terduduk kembali di atas kursi besi dengan tubuh merosot dan bahu bergetar hebat.
"Aku... aku terpaksa, Nesa..." rintih Sasya dengan suara parau, mencoba mengubah strategi dengan bermain iba. Ia menengadahkan wajahnya, menatap adiknya dengan tatapan memohon penuh keputusasaan. "Kamu tahu kan bagaimana perasaanku selama ini? Sejak dulu, orang tua kita selalu membandingkan kita. Kamu selalu dispesialkan, kamu yang disekolahkan tinggi-tinggi hingga bisa mendirikan perusahaan besar ini sendirian, sementara aku... aku selalu berada di bayang-bayangmu! Aku cuma ingin diakui, Nes. Aku ingin punya kekuasaan dan kekayaan yang setara denganmu..."
Nesa mendengarkan setiap kalimat rintihan itu dalam keheningan yang panjang. Tidak ada rasa kasihan di dalam hatinya; yang ada hanyalah rasa lelah yang amat sangat terhadap sifat egois dan iri dengki yang telah mendarah daging di dalam diri kakak kandungnya sendiri.
"Merasa tersaingi, iri, dan tidak puas dengan apa yang kamu miliki bukanlah alasan untuk menghalalkan segala cara demi menghancurkan hidup orang lain, Sasya," ucap Nesa dengan suara tenang namun menohok tajam ke ulu hati. "Kamu memilih jalan keserakahanmu sendiri. Dan sekarang, kamu harus memikul seluruh konsekuensinya."
Mendengar penolakan mutlak dari adiknya, topeng kepedihan Sasya seketika terkoyak. Sifat aslinya yang keras kepala dan penuh amarah kembali meledak. Ia mendongak, menatap Nesa dengan kilatan kebencian yang menyala-nyala di balik air matanya.
"Kamu memang perempuan egois, Nesa! Kamu tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain!" teriak Sasya frustrasi, urat-urat di lehernya menegang. "Kamu pikir hidupmu bakal tenang setelah menjebloskan aku dan Dika ke penjara? Perusahaan ini tidak akan bertahan lama tanpa jaringan distribusi yang kupegang! Kamu akan segera hancur bersama keangkuhanmu itu."
"Cukup!" bentak Nesa tiba-tiba. Suaranya tidak terlalu keras, namun memiliki otoritas mutlak yang langsung membungkam jeritan Sasya seketika.
Nesa berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu menatap Sasya dari atas dengan sorot mata predator yang tidak terbantahkan.
"Jaringan distribusimu sudah kita putus sejak pagi tadi, Sasya. Dan perusahaanku justru akan semakin bersih setelah mengeluarkan sampah-sampah pengkhianat seperti kalian berdua," kata Nesa dingin. Ia menoleh ke arah Bila dan petugas hukum di samping pintu. "Serahkan seluruh berkas acara pemeriksaan ini kepada pihak kepolisian sekarang juga. Pastikan Sasya langsung dipindahkan ke rutan wanita sore ini agar dia bisa merenungi perbuatannya bersama suami kesayangannya di balik jeruji besi."
"Baik, Bu Nesa!" seru Bila dan petugas hukum serempak.
"Tidak! Jangan! Nesa, jangan lakukan ini padaku! Aku kakakmu! Nesa...!" jerit Sasya histeris saat dua petugas keamanan melangkah maju untuk mengangkat dan menariknya dari kursi pemeriksaan.
Namun, rintihan dan teriakan histeris Sasya sama sekali tidak dihiraukan lagi. Pintu besi ruang interogasi kembali ditutup rapat, memotong segala suara kebisingan dan menyisakan keheningan mutlak di dalam ruangan tersebut.
Beberapa jam kemudian, di ruang kerja CEO lantai atas NesAura Skincare, Nesa berdiri mematung di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah lalu lintas sore kota Jakarta. Langit tampak mulai jingga, menandakan hari berangsur senja.
Meskipun dua musuh terbesar di dalam hidupnyamDika dan Sasyamkini telah resmi berada di dalam cengkeraman hukum dan meringkuk di tahanan, tidak ada rasa senang berlebihan yang bergemuruh di dada Nesa. Yang ada hanyalah rasa hampa dan kelegaan yang bercampur aduk. Pengkhianatan keluarga adalah luka paling dalam yang tidak akan pernah bisa sembuh begitu saja tanpa meninggalkan bekas parut yang membekas.
Pintu ruang kerjanya terketuk dua kali dengan sopan, lalu Bila melangkah masuk membawa sebuah tablet digital dan secangkir teh hangat.
"Bu Nesa," panggil Bila lembut, meletakkan cangkir teh di atas meja kerja. "Proses pelimpahan berkas Sasya ke kepolisian sudah selesai ditangani oleh tim hukum kita. Sore ini, dia sudah resmi ditahan di rutan wanita."
Nesa berbalik perlahan, berjalan mendekati meja kerjanya, lalu mendudukkan diri di kursi kulitnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. "Terima kasih banyak, Bil. Kamu sudah bekerja sangat keras hari ini dan beberapa hari belakangan ini. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah kehilangan arah menghadapi kekacauan ini."
Bila tersenyum tulus, merasa terharu atas apresiasi dari atasannya sekaligus sahabat setianya itu. "Sudah kewajiban saya, Bu. Kita berdua sudah berjuang mati-matian mempertahankan NesAura. Oh ya, ada satu hal lagi laporan penting yang masuk siang tadi."
Nesa mengangkat sebelah alisnya, menegakkan punggungnya. "Laporan apa lagi, Bil?"
"Terkait proyek kolaborasi kita dengan Aethel & Co," papar Bila serius sambil membuka layar tabletnya. "Setelah kemarin Pak Arsen dan tim hukumnya melaporkan upaya sabotase distributor logistik wilayah timur yang didanai oleh jaringan lama Dika, pihak kepolisian bergerak cepat. Hari ini, distributor pembangkang itu resmi mencabut gugatan dan membatalkan pemutusan kontrak sepihak. Mereka ketakutan setelah tahu kalau Arsenio Vance turun tangan langsung menekan mereka lewat jalur hukum tingkat tinggi."
Mendengar nama Arsenio Vance disebut, bayangan pemuda tengil namun sangat diandalkan itu seketika berkelebat di benak Nesa. Sudut bibir Nesa tanpa sadar terangkat membentuk senyuman tipis yang hangat. Di tengah badai pengkhianatan keluarga yang menghancurkan hatinya, kehadiran Arsen selalu menjadi benteng kokoh yang menenangkan.
"Arsen memang selalu tahu cara membuat orang lain kewalahan dengan caranya sendiri," gumam Nesa pelan, ada nada kelembutan yang terselip di balik suaranya yang biasanya dingin.
Bila yang mendengar gumaman itu sempat melirik sekilas ke arah atasan mudanya dengan senyuman penuh arti, namun ia memilih tidak berkomentar lebih jauh. Sebagai asisten yang paling peka, Bila tahu betul bagaimana kedekatan antara Nesa dan Arsen perlahan-lahan mulai mengubah warna hari-hari sang CEO yang tadinya selalu dipenuhi oleh beban berat kepedihan rumah tangga.
"Ngomong-ngomong, Pak Arsen tadi sempat mengirim pesan singkat ke ponsel saya, Bu," lanjut Bila melanjutkan laporannya. "Beliau bilang, beliau akan mampir ke kantor sore ini setelah urusan hukum di Aethel & Co selesai. Katanya, beliau ingin mengajak Ibu makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan kita menumpas para pengkhianat."
Nesa melirik jam dinding di ruang kerjanya yang menunjukkan pukul lima sore lewat sepuluh menit. Jantungnya berdesir halus merasakan undangan makan malam tersebut. Setelah apa yang ia lewati hari ini,mulai dari menghadapi histerian Sasya di ruang interogasi hingga menyelesaikan sisa kemelut perusahaan menghabiskan waktu tenang bersama Arsen adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini.
"Baiklah, katakan padanya aku akan menunggunya di lantai bawah setelah urusan meja kerjaku selesai," jawab Nesa dengan sorot mata yang jauh lebih santai dan berbinar.
"Siap, Bu CEO!" balas Bila ceria, lalu pamit mengundurkan diri dan meninggalkan ruangan kerja tersebut.
Kesunyian kembali menyelimuti ruang kerja Nesa. Namun kali ini, kesunyian itu tidak lagi terasa menyesakkan atau menakutkan. Badai terhebat dalam hidupnya telah berhasil ia lewati dengan kepala tegak. Di atas abu sisa pengkhianatan Dika dan Sasya, Nesa bangkit sebagai Ratu sejati yang tidak hanya melindungi kerajaannya, but juga membuka lembaran baru dalam hidupnya lembaran di mana ia memegang kendali penuh atas takdir, kebahagiaan, dan masa depannya sendiri.