Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 31. DEMAM
“Tuan… Nyonya Alessia ditemukan pingsan di depan pintu mansion.”
Suara penjaga itu membuat tubuh Vellano seketika menegang.
“Apa?” suaranya terdengar berat.
“Beliau masih mengenakan pakaian balap. Pakaiannya basah kuyup dan bibirnya pucat. Sepertinya beliau demam karena terlalu lama kehujanan.”
Vellano langsung berdiri. Wajahnya yang semula lelah berubah menjadi penuh kepanikan.
“Sudah panggil dokter?”
“Sudah, Tuan. Dokter sedang menuju mansion.”
Tanpa membuang waktu, Vellano mengambil jasnya.
“Batalkan semua agenda saya.”
“Tapi, Tuan, pertemuan besok—”
“Batalkan semuanya!” potong Vellano tegas. “Aku harus pulang.”
Ia langsung menghubungi Maxime.
“Maxime, siapkan jet pribadi sekarang. Kita pulang hari ini juga.”
Maxime yang mendengar nada suara atasannya segera memahami bahwa sesuatu yang serius telah terjadi.
“Tuan Vellano, apakah Nyonya Alessia—”
“Dia pingsan.”
Hanya dua kata itu yang membuat Maxime terdiam sesaat.
“Baik, Tuan. Saya segera mengurus semuanya.”
Vellano berjalan cepat menuju kendaraan yang sudah menunggunya. Sepanjang perjalanan menuju bandara, pikirannya hanya dipenuhi satu hal.
Alessia.
Ia teringat suara istrinya semalam, sikap diamnya, bahkan ucapan sederhana agar dirinya menjaga kesehatan.
Kini justru Alessia yang terbaring sakit.
Vellano mengepalkan tangannya dengan rasa bersalah.
“Bertahanlah, Alessia…”
Tak lama kemudian, jet pribadi telah siap.
Vellano menaikinya tanpa memedulikan jadwal yang berantakan.
Kali ini, tidak ada pekerjaan, pertemuan, ataupun bisnis yang lebih penting.
Ia hanya ingin pulang dan memastikan istrinya baik-baik saja.
Jet itu akhirnya lepas landas menuju rumah mereka, membawa Vellano pulang dengan kecemasan yang semakin besar.
................
Sementara itu, di mansion, suasana terasa begitu tegang. Dokter Gustavo baru saja selesai memeriksa kondisi Alessia. Ia menghela napas pelan setelah melihat hasil pemeriksaan.
“Demamnya cukup tinggi. Suhunya mencapai tiga puluh sembilan derajat,” ujarnya serius.
Seorang maid berdiri di samping ranjang, siap berjaga selama dokter pergi. Kompres penurun panas telah ditempelkan di dahi Alessia, sementara infus terpasang di tangannya untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya.
Namun hingga saat itu, Alessia belum juga membuka mata.
Dokter Gustavo merapikan peralatannya lalu menatap maid tersebut.
“Jaga dia baik-baik. Kalau kondisinya memburuk atau demamnya semakin tinggi, segera hubungi saya.”
“Baik, Dokter.”
Setelah berpamitan, dokter Gustavo meninggalkan kamar.
Mansion kembali sunyi.
Maid itu duduk di kursi dekat ranjang, sesekali mengganti kompres di dahi Alessia. Wajah gadis itu tampak pucat, rambutnya masih sedikit lembap setelah kehujanan.
Tiba-tiba bibir Alessia bergerak.
“Vellano…”
Maid itu langsung menoleh.
Alessia kembali mengigau, suaranya lemah dan nyaris tidak terdengar.
“Vellano…”
Nama itu terus keluar dari bibirnya, seolah hanya nama suaminya yang mampu ia ingat dalam keadaan setengah sadar.
Maid tersebut tersenyum tipis, lalu merasa iba.
“Dia pasti sangat merindukan Tuan Vellano…”
Namun tidak ada yang tahu, Vellano saat itu sedang dalam perjalanan pulang secepat mungkin demi dirinya.
................
Pukul dua malam, suara kendaraan memasuki halaman mansion. Vellano bahkan belum sempat benar-benar turun dari mobil ketika pikirannya sudah tertuju pada satu hal—Alessia.
Ia berjalan cepat melewati pintu utama, menaiki tangga tanpa memedulikan sapaan para pelayan. Begitu sampai di depan kamar, ia langsung membuka pintu.
Pemandangan di hadapannya membuat langkahnya terhenti.
Alessia masih terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan, infus masih terpasang di tangannya dan kompres menempel di dahinya.
“Alessia…”
Suara Vellano bergetar.
Ia segera menghampiri ranjang dan duduk di sisi istrinya. Tatapannya dipenuhi kepanikan dan rasa bersalah.
“Kondisinya bagaimana?” tanyanya kepada maid.
“Dokter bilang demamnya tinggi, Tuan. Tadi suhunya mencapai tiga puluh sembilan derajat.”
Vellano menelan ludah.
“Baik. Kamu istirahat saja di kamar bawah. Aku yang akan menjaganya.”
“Tapi, Tuan—”
“Aku di sini.”
Maid itu akhirnya mengangguk dan meninggalkan kamar.
Kini hanya tersisa mereka berdua.
Vellano perlahan menyentuh kening Alessia.
Panas.
Sangat panas.
Wajah Vellano langsung berubah cemas.
“Kenapa kamu bisa sampai seperti ini…” gumamnya lirih.
Seolah merasakan sentuhan yang begitu familiar, Alessia perlahan menggerakkan kelopak matanya. Pandangannya masih kabur, tetapi sosok pertama yang ia lihat adalah Vellano.
Untuk sesaat, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Vellano…”
“Aku di sini.”
Alessia menatapnya lemah. Ada sedikit kebahagiaan di wajahnya, seolah kehadiran Vellano adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman.
Bibirnya bergerak pelan.
“Maafkan aku…”
Vellano terdiam.
“Aku ternyata… sangat membutuhkanmu.”
Kalimat sederhana itu justru menghantam hati Vellano lebih keras daripada kemarahan apa pun.
Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan mata yang mulai memerah.
Alessia, yang masih lemah, mengulurkan tangannya. Vellano segera menggenggamnya.
“Jangan minta maaf,” katanya lirih. “Seharusnya aku yang minta maaf kepadamu.”
Alessia hanya menatapnya dalam diam.
Vellano mengusap rambutnya perlahan.
“Aku sudah pulang. Jadi sekarang kamu tidak perlu takut. Istirahatlah.”
Alessia akhirnya memejamkan mata lagi.
Namun kali ini, tangannya tetap menggenggam tangan Vellano erat.
Dan Vellano tidak melepaskannya sedikit pun.
................
Keesokan harinya, Vellano benar-benar menepati ucapannya. Seluruh jadwalnya dikosongkan. Tidak ada rapat, panggilan bisnis, ataupun urusan perusahaan yang boleh mengganggunya. Untuk sementara, satu-satunya prioritasnya adalah Alessia.
Sejak pagi, ia telaten merawat istrinya. Ia menyuapi bubur sedikit demi sedikit, memastikan Alessia minum obat, mengelap tubuhnya dengan handuk hangat, bahkan membantu mengganti pakaiannya.(Wkwkwk,di gantiin baju sekalian nggak tuh🤣)
Namun ketika Vellano mencoba memasangkan pakaian tidur Alessia, ia justru dibuat kebingungan.
“Kenapa bajunya seperti ini?” gumamnya.
Alessia yang masih lemah menatapnya datar.
“Itu bagian belakang.”
Vellano terdiam.
Ia membalik pakaian tersebut dengan wajah serius seolah sedang menyelesaikan masalah perusahaan bernilai miliaran.
Alessia akhirnya tertawa kecil.
“CEO hebat ternyata tidak bisa membedakan bagian depan dan belakang piyama.”
“Jangan tertawa. Aku sedang serius.”
Tawa kecil itu menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi Vellano. Setelah berhari-hari melihat Alessia diam, akhirnya ia kembali mendengar suara tawanya.
Beberapa jam kemudian, mereka duduk berdua di tepi ranjang. Suasana kembali tenang.
Alessia menunduk.
“Vellano…”
“Hm?”
“Maaf karena aku mendiamkan mu selama beberapa hari.”
Vellano menatapnya lama.
“Aku mengerti. Kamu terluka. Aku memang pantas menerima kemarahan mu.”
Ia kemudian menjelaskan kembali tentang kejadian di kafe, berusaha membuat Alessia memahami apa yang sebenarnya terjadi tanpa menyembunyikan apa pun.
“Aku tidak ingin ada rahasia lagi di antara kita,” katanya tegas. “Mulai sekarang, apa pun yang terjadi, aku akan memberitahumu. Bahkan hal kecil sekalipun.”
Alessia terdiam.
“Janji?”
Vellano mengulurkan tangannya.
“Janji.”
Alessia akhirnya menyambut tangan itu.
Namun sebelum suasana menjadi terlalu haru, perut Vellano tiba-tiba berbunyi cukup keras.
Alessia menatapnya.
“Kamu belum makan?”
Vellano tersenyum malu.
“Lupa.”
Alessia menggeleng sambil tersenyum.
Di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh, untuk pertama kalinya mereka kembali tertawa bersama. Dan pagi itu, tanpa perlu kata-kata besar, mereka memilih untuk saling memaafkan dan mencoba memulai kembali..
Akhirnya, suasana di antara Alessia dan Vellano kembali hangat. Setelah berhari-hari dipenuhi keheningan, kamar itu kini kembali diisi percakapan kecil dan senyum yang sempat hilang.
Vellano masih duduk di samping Alessia, sesekali memastikan suhu tubuh istrinya mulai turun. Alessia pun tidak lagi menghindari tatapannya.
Meski luka akibat kejadian sebelumnya belum sepenuhnya hilang, setidaknya kali ini mereka memilih untuk saling mendengarkan.
Vellano menggenggam tangan Alessia dengan lembut.
“Aku tidak akan mengulangi kesalahanku,” katanya.
Alessia menatapnya dan tersenyum tipis.
“Aku juga akan berusaha tidak langsung menghakimi mu.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keduanya merasa seperti suami istri kembali.
......................
Dua hari telah berlalu dan kondisi Alessia akhirnya jauh lebih baik. Demamnya sudah turun, wajahnya pun kembali cerah. Namun Vellano masih belum mau meninggalkan istrinya. Ia bahkan tetap mengambil libur beberapa hari demi memastikan Alessia benar-benar pulih.
Siang itu, mereka duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi. Alessia bersandar di sofa dengan selimut tipis, sementara Vellano duduk di sampingnya.
“Aku sudah sehat, Vellano.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau masih mengawasi ku?”
“Karena aku belum percaya.”
Alessia mendengus geli.
Tiba-tiba—
TING TONG!
Bel mansion berbunyi.
Seorang maid segera membuka pintu...
...****************...
Siapa lagi yang datang?kayaknya banyak sekali tamu mereka.Semoga bukan AXEL!🤣