Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.Tuntutan di pagi hari
Keesokan harinya, alarm di ponsel Aruna berdering nyaring pada pukul empat tiga puluh subuh. Aruna terbangun dengan kepala yang terasa seberat batu. Ketika ia mencoba mendudukkan dirinya di tepi ranjang, kesadaran dan pandangannya sempat berputar hebat selama beberapa detik.
Tubuhnya terasa begitu lemas dan pegal akibat akumulasi rasa lelah fisik setelah seharian berdiri di kafe, dilanjutkan dengan mengurus seluruh rumah tangga Kaivan hingga larut malam.
Aruna memegangi keningnya yang agak hangat. Jangan sekarang... kamu nggak boleh sakit, Na, bisiknya menyemangati diri sendiri dalam hati. Ia menepuk-nepuk pelan kedua pipinya yang agak tirus, mencoba memompa kesadaran. Ia harus tetap berdiri tegak; ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Kaivan, dan yang terpenting, ia tidak boleh melewatkan shift kerjanya di kafe.
Setelah meminum segelas air putih hangat di dalam kamar untuk meredakan rasa pusingnya, Aruna melangkah keluar kamar menuju lantai bawah. Rumah megah itu masih diselimuti remang-remang subuh dan keheningan yang mencekam.
Namun, begitu Aruna sampai di area tangga lantai satu, ia terkejut melihat Kaivan sudah berdiri di dekat meja makan.
Pria itu sudah mengenakan celana bahan hitam, namun kemejanya masih terbuka di bagian dada, dan rambutnya yang sedikit basah beracak-acakan secara alami. Kaivan menoleh, menatap Aruna yang melangkah pelan dengan wajah agak pucat.
"Kamu sudah bangun," kata Kaivan datar, tanpa ada ucapan 'selamat pagi' atau nada ramah dalam suaranya.
"Iya, Pak Kaivan. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Aruna, suaranya terdengar sedikit serak namun tetap diusahakan tenang.
Kaivan melipat tangannya di dada. Sebenarnya, alasan Kaivan bangun lebih awal pagi ini adalah karena lidahnya secara aneh merindukan masakan Aruna. Tumis sayur dan ayam panggang buatan Aruna semalam terasa begitu pas di lidahnya—sesuatu yang jujur saja membuat perutnya yang terbiasa bermasalah dengan asam lambung merasa sangat nyaman. Namun tentu saja, ego tingginya memantang pria Adikara itu untuk mengakui hal tersebut secara terbuka.
"Saya ada rapat penting dengan investor jam delapan pagi ini," alibi Kaivan dengan nada dingin yang penuh kepastian.
"Mulai hari ini, tugasmu bertambah. Sebelum saya berangkat, kamu harus menyajikan sarapan hangat di atas meja. Saya tidak mau makanan instan atau katering luar."
Aruna mengangguk pelan. "Baik, Pak Kaivan."
"Dan satu hal lagi," lanjut Kaivan sembari berjalan menuju deretan lemari pakaian di area lorong utama.
"Kemeja kerja saya, jas, dan dasi harus sudah siap rapi di atas tempat tidur sebelum saya selesai mandi. Air hangat untuk mandi juga harus kamu siapkan di bathtub kamar mandi utama."
Aruna menahan napas sejenak. Matanya melirik jam dinding di area ruang tengah—pukul lima lewat lima belas menit. Jika ia harus menyiapkan sarapan rumit, merapikan baju kerja, dan menyiapkan air mandi hangat di kamar pribadi Kaivan, ia berpotensi besar akan terlambat sampai di kafe untuk membuka shift pagi bersama Rian dan Bagas.
"Pak Kaivan... apakah untuk baju dan air mandi tidak bisa—"
"Ada masalah?" potong Kaivan cepat. Matanya menyipit tajam, memancar ketegasan yang tak membual.
"Saya rasa fasilitas tempat tinggal gratis yang kamu dapatkan di rumah ini jauh lebih mahal dibanding sedikit tenaga yang kamu keluarkan di pagi hari. Kalau kamu merasa tidak sanggup, kamu boleh pergi sekarang dan kembalikan uang tiga puluh miliar yang diterima keluargamu."
Kata-kata itu bagaikan cambukan yang membungkam mulut Aruna seketika. Mengembalikan uang tiga puluh miliar adalah hal yang mustahil baginya.
Aruna menundukkan kepalanya dalam-dalam, menelan bulat-bulat rasa sesak di dadanya.
"Tidak, Pak Kaivan. Saya akan siapkan semuanya sekarang."
"Bagus. Waktumu sampai jam enam tiga puluh," ucap Kaivan dingin, lalu berbalik melangkah menuju area kamarnya di lantai dua sebelah timur.
Aruna langsung bergerak secepat yang ia bisa, menekan rasa lemas yang makin menggerogoti daya tahan tubuhnya.
Langkah pertamanya adalah berlari kecil ke kamar mandi utama milik Kaivan—ruangan mewah berlantai marmer yang luasnya bahkan hampir sama dengan kontrakan petaknya dulu. Dengan jemarinya yang agak bergetar, Aruna menyalakan kran air hangat, mengatur suhu agar tidak terlalu panas, dan memasukkan racikan garam mandi beraroma eucalyptus yang ada di rak kaca.
Setelah memastikan air bathtub terisi dengan pas, Aruna melangkah ke lemari pakaian Kaivan yang berderet rapi. Ia memilih sebuah kemeja putih bersih tanpa kerutan, jas abu-abu gelap buatan penjahit ternama, serta dasi sutra bernuansa senada.
Semua perlengkapan itu ia tata dengan sangat rapi dan presisi di atas tempat tidur besar milik Kaivan—berhati-hati agar tidak menyentuh sprei tempat tidur pria itu secara berlebihan.
Begitu urusan pakaian selesai, Aruna bergegas turun kembali ke dapur. Peluh dingin mulai menetes dari pelipisnya. Pandangannya sesekali agak kabur ditimpa rasa pusing yang berdenyut-denyut di belakang kepalanya, namun Aruna memaksakan tangannya untuk tetap memotong bahan makanan.
Ia membuatkan sup ayam bening dengan irisan wortel, daun seledri, dan rempah-rempah hangat, dipadukan dengan nasi hangat dan secangkir teh herbal tanpa gula sesuai preferensi Kaivan. Rasa lelah yang terakumulasi membuat pergerakannya tidak selincah biasanya, namun Aruna terus memacu dirinya sendiri.
Pukul 06.40 WIB—sepuluh menit meleset dari target yang diminta Kaivan—Aruna baru selesai menata mangkuk sup panas di atas meja makan.
Kaivan keluar dari lorong dengan pakaian yang sudah terpasang sempurna. Kemeja putih yang disiapkan Aruna terasa sangat pas dan wangi, sementara air mandi hangat yang disiapkan gadis itu sebelumnya berhasil meredakan ketegangan otot-otot tubuhnya setelah bermalam-malam kurang tidur akibat urusan pekerjaan.
Kaivan duduk di meja makan, matanya melirik jam tangan Rolex miliknya.
"Kamu terlambat sepuluh menit," tegurnya tajam.
"Maaf, Pak Kaivan... supnya tadi butuh waktu agak lama agar kaldunya meresap," bisik Aruna dengan napas yang sedikit terengah.
Tangannya memegang pinggiran kursi meja makan untuk menopang berat tubuhnya yang terasa kian melayang.
Kaivan tidak menjawab lagi. Ia menyendok sup ayam hangat buatan Aruna dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa gurih alami dari kaldu ayam dan kehangatan rempahnya seketika menjalar di kerongkongannya, memanjakan lidahnya yang amat pemilih. Kaivan ketagihan. Dalam diam, pria angkuh itu memakan sarapannya hingga habis tanpa tersisa sedikit pun.
Namun, begitu ia selesai menyapu mulutnya dengan serbet, Kaivan bangkit berdiri tanpa memberikan pujian apa pun.
"Besok jangan terlambat lagi," kata Kaivan singkat sembari meraih tas dokumennya. Tanpa menanyakan apakah Aruna sudah makan atau bagaimana gadis itu akan berangkat kerja, Kaivan melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobil mewahnya yang sudah dipanaskan oleh sopir pribadi.
Begitu deru mesin mobil Kaivan menjauh dari pelataran rumah, Aruna jatuh terduduk di atas kursi meja makan. Ia memegangi dadanya yang berombak cepat. Rasa lemas memeluk seluruh persendiannya, membuat kedua kakinya gemetar hebat.
Aruna melihat jam dinding di ruangan itu. Pukul 07.10 WIB.
"Aplikasi ojek... aku bakal terlambat banget," desah Aruna panik. Jadwal shift paginya di kafe dimulai pukul 07.00 WIB, dan biasanya jam tujuh lewat tiga puluh menit kafe sudah harus dibuka untuk pelanggan sarapan.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Aruna merapikan mangkuk kotor bekas Kaivan, mencucinya terburu-buru, lalu meraih tas kainnya. Ia berlari keluar dari kompleks perumahan elite itu menuju jalan raya untuk mencari angkutan atau ojek terdekat.
Pukul 07.50 WIB.
Pintu kaca Cahaya Kopi terdorong dengan denting lonceng yang agak keras. Aruna melangkah masuk dengan napas memburu, bajunya sedikit kusut dan kebasahan oleh keringat dingin, sementara wajahnya benar-benar pucat pasi.
Di dalam kafe, area bar sudah rapi. Papan nama "OPEN" sudah digantung di pintu depan. Rian sedang berdiri melayani seorang pelanggan di kasir, sementara Bagas baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi roti panggang.
Langkah Bagas terhenti seketika. Pandangan matanya mengunci sosok Aruna yang berdiri kaku di dekat pintu masuk.
Ini adalah pertama kalinya selama dua tahun Aruna terlambat hampir satu jam tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Namun, bukan keterlambatan itu yang menarik perhatian Bagas, melainkan kondisi Aruna yang tampak sangat buruk—matanya sayu, bibirnya kehilangan rona merah, dan tubuhnya terlihat berguncang pelan seolah bisa rubuh kapan saja jika tersenggol angin.
"Aruna?" Mbak Maya yang sedang menata serbet di meja tengah langsung berlari menghampiri Aruna dengan raut khawatir luar biasa.
"Kamu nggak apa-apa, Na?! Astaga, muka kamu pucat banget!"
"Mbak Maya... Rian... Mas Bagas..." suara Aruna terdengar sangat lirih dan gemetar. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Maaf... maaf banget Aruna terlambat. Tadi... tadi di jalan ada urusan mendadak yang nggak bisa ditinggal."
Bagas meletakkan nampan roti di atas meja bar dengan suara ketukan yang cukup keras. Tanpa memedulikan piring roti itu, langkah lebarnya bergerak cepat mendekati Aruna.
Pria berbadan tegap itu berdiri tepat di hadapan Aruna, menatap gadis itu dari jarak dekat dengan raut wajah yang campur aduk antara cemas, marah pada situasi, dan rasa bersalah karena tak bisa melakukan apa-apa.
"Na, kamu sakit?" tanya Bagas, suaranya yang biasanya berat dan bernada ketus kini terdengar begitu pelan, dalam, dan sarat akan kekhawatiran yang menumpuk.
"Nggak kok, Mas Bagas... Aruna cuma... cuma agak lelah aja," jawab Aruna seraya memaksakan sebuah senyuman tipis—senyuman yang justru terlihat begitu rapuh di mata Bagas.
Bagas mengepalkan kedua tangannya erat-erat di samping paha. Ia ingin sekali mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Aruna, memastikan seberapa tinggi demam gadis ini, atau merangkul bahunya yang tampak bergetar. Namun, Bagas menahan dorongan itu mati-matian. Ia tidak ingin membuat Aruna merasa tidak nyaman atau memicu kecurigaan teman-teman yang lain.
"Kamu duduk dulu di meja belakang," perintah Bagas penuh ketegasan yang tak membual, meski matanya menatap Aruna dengan kelembutan yang sangat tersembunyi.
"Jangan pegang pekerjaan apa pun sebelum muka kamu ada warnanya lagi."
"Tapi Mas, Aruna harus ganti shift—"
"Duduk, Aruna Rasyara," sela Bagas tajam, menatap lurus ke dalam mata Aruna yang sayu. "Ini perintah dari dapur."
Rian dan Mbak Maya menatap Bagas sejenak, lalu kompak mengangguk setuju.
"Bener kata Mas Bagas, Na. Kamu duduk dulu ya. Biar Mbak seduhin teh manis hangat sama bawa sup panas," bujuk Mbak Maya lembut sembari menuntun Aruna ke kursi paling sudut dekat ruang istirahat karyawan.
Aruna akhirnya pasrah.
Ia mendudukkan tubuhnya yang serasa tak bertulang di atas kursi kayu. Sembari memandangi sosok Bagas yang kembali ke dapur dengan langkah tegap namun bahunya tampak tegang, Aruna merasakan kehangatan yang amat dalam menyusup ke dadanya.
Di tempat ini, di antara orang-orang yang tak memiliki ikatan darah dengannya, rasa lelahnya dihargai.
Sementara di rumah megah milik Kaivan, rasa lelahnya hanyalah sebuah kewajiban atas hutang yang tak pernah ia nikmati. Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur napasnya yang tidak teratur, berjanji pada dirinya sendiri untuk terus bertahan demi orang-orang yang tulus menyayanginya.
_Bersambung