Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Mobil melaju membelah jalanan pagi yang kian ramai, namun di dalam kabin, udara terasa begitu berat dan penuh keheningan yang canggung.
Raka sesekali melirik Gladys dari sudut matanya. Melihat istrinya hanya diam memaku pandangan ke luar jendela, Raka memegang kemudi sedikit lebih erat, berusaha mencari keberanian untuk membuka percakapan.
"Gladys, bagaimana persiapan kafe untuk hari ini? Stok bahan atau menu baru, apa ada yang perlu dibantu?" tanya Raka dengan nada suara seramah mungkin, mencoba mencairkan suasana yang membeku di antara mereka.
Gladys tidak langsung menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Raka, lalu menjawab singkat dengan nada suara yang teramat datar dan formal.
"Semua sudah diatur oleh Kirana, Mas. Tidak ada yang perlu dibantu."
Jawaban itu begitu dingin dan ringkas, seperti dinding tak kasat mata yang sengaja Gladys bangun untuk membatasi ruang gerak Raka.
Tidak ada lagi binar kehangatan atau antusiasme dalam suaranya saat berbicara tentang kafe kesayangannya—hal yang dulu selalu ingin ia bagikan dengan Raka.
Raka menelan saliva yang terasa mengganjal di tenggorokannya.
Hatinya mencelos. Ia menyadari betapa tembok pertahanan Gladys kini sudah begitu tebal dan kokoh.
Tatapan dingin dan sikap formal istrinya menjadi penanda nyata bahwa luka yang ia tanamkan selama ini sudah terlanjur membatu, membuatnya makin dihinggapi rasa bersalah yang membakar dada.
Mobil Raka akhirnya berhenti tepat di area parkir depan DeGla Cafe.
Gladys segera melepas sabuk pengamannya dan melangkah keluar, diikuti oleh Raka yang turun dari pintu kemudi.
Saat berjalan mendekati pintu masuk, Kirana yang sedang menyapu area teras mendadak terhenti. Matanya membelalak kaget saat mengenali pria tinggi berjas rapi di samping bosnya.
Bukannya itu Pak Raka? batin Kirana heran.
Kirana mengingat betul bagaimana pria itu sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya saat acara grand opening kafe kemarin, meninggalkan Gladys sendirian menghadapi tamu dan kesibukan acara.
Kini melihat Raka yang terkenal dingin dan tak pernah peduli itu datang menemani Gladys di pagi hari, Kirana hanya bisa berdiri mematung penuh tanda tanya.
"Selamat pagi, Bu Gladys," sapa Kirana memecah kecanggungan, melirik ragu ke arah Raka.
"Pagi, Kirana," balas Gladys singkat dengan senyum tipis.
Sebelum Gladys sempat meraih kotak tumpukan serbet dan buku menu baru di bagasi mobil untuk dibawa masuk, Raka dengan cepat mendahuluinya. Pria itu mengambil alih kotak berat tersebut tanpa ragu.
"Biarkan aku yang bawa, Gladys," ucap Raka lembut.
Tak berhenti di situ, melihat papan tulisan OPEN di dekat pintu yang letaknya sedikit miring, Raka secara sukarela melangkah mendekat dan membetulkan posisinya hingga berdiri presisi.
Pria yang kemarin memandang sebelah mata kafe ini, kini tanpa gengsi melakukan hal-hal kecil demi menunjukkan perubahan dirinya dan membuktikan bahwa ia bisa belajar menjadi suami yang perhatian.
Gladys hanya menatap pergerakan Raka dengan raut wajah datar tanpa kata, sementara Kirana yang melihat interaksi itu makin dibuat terperangah di tempatnya.
"Taruh di meja kasir saja, Mas," ucap Gladys singkat
tanpa menunjukkan ekspresi tersentuh sedikit pun.
Ia langsung melangkah masuk melintasi Raka, berfokus menyalakan lampu ruangan dan menyiapkan mesin kopi.
Kirana menyusul dari belakang, menyenggol pelan bahu staf lain yang baru datang untuk ikut menyaksikan pemandangan tak biasa itu.
Seluruh karyawan kafe saling berbisik heran melihat sang pemilik kediaman Devandra yang agung kini mau repot-repot mengangkat barang-barang kafe.
Raka yang menyadari tatapan heran para karyawan memilih abaikan rasa canggungnya.
Ia meletakkan kotak tersebut di samping kasir, lalu berjalan menghampiri Gladys yang sedang mengelap meja bar.
"Gladys, kalau ada hal lain yang perlu dibantu, katakan saja," tutur Raka pelan, mencoba mencari celah untuk meluluhkan hati istrinya.
"Aku bisa berada di sini sebentar sebelum berangkat ke kantor."
Gladys menghentikan usapannya di atas meja, lalu mendongak menatap Raka.
Sorot matanya tetap dingin dan menyiratkan kelelahan batin.
"Tidak perlu, Mas. Kamu punya pekerjaan di kantor, dan aku punya pekerjaanku di sini. Sebaiknya kamu berangkat sekarang," balas Gladys bernada formal dan tenang, namun secara tak langsung mengusir keberadaan Raka secara halus.
Raka tersentak kecil, merasakan tamparan ketegasan dari suara istrinya.
Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya, menyadari bahwa aksi perhatian kecilnya pagi ini sama sekali belum cukup untuk mengikis gunung es di antara mereka.
Raka tidak langsung pergi mengikuti penolakan halus Gladys.
Sebaliknya, pria itu melangkah menuju meja di sudut ruangan yang menghadap langsung ke arah meja bar.
Ia mendudukkan dirinya di sana, melepas jas hitamnya, dan melipat lengan kemejanya hingga siku.
Dari sudut itu, Raka mengamati setiap pergerakan Gladys.
Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Raka melihat istrinya dengan kacamata yang benar-benar berbeda.
Gladys bergerak begitu gesit, terampil meracik espresso, memeriksa daftar inventaris, hingga memberikan arahan singkat nan tegas kepada Kirana dengan senyuman hangat yang mengayomi.
Ada binar dedikasi dan kegigihan luar biasa pada diri Gladys—hal yang selama ini luput dari perhatian Raka karena ia terlalu sibuk dibutakan oleh ingatan masa lalu dan egonya sendiri.
Rasa penyesalan Raka kian membakar dada. Ia baru menyadari betapa hebatnya wanita yang selama ini ia remehkan dan sia-siakan.
Saat suasana kafe sedikit lengang, Raka bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati meja bar tempat Gladys sedang mencatat rekap bahan baku.
"Gladys, boleh aku pesan satu cangkir americano?" tanya Raka pelan, suaranya sarat akan kehati-hatian.
Gladys mendongak sejenak, mengangguk formal, lalu menyiapkan pesanan tersebut tanpa banyak bicara.
Ketika ia menyodorkan cangkir kopi hangat itu ke hadapan Raka, Raka tidak langsung meraih cangkirnya. Jemarinya justru tertahan di tepi meja, menatap Gladys dengan tatapan penuh penyesalan.
"Gladys, aku minta maaf," ucap Raka lirih, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.
"Soal perkataanku kemarin, soal bagaimana aku meremehkan kafe ini dan kerja kerasmu. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku baru sadar betapa gigih dan hebatnya kamu mengelola tempat ini sendirian tanpa bantuanku sedikit pun."
Gladys terdiam, jemarinya yang memegang pena sempat menegang sejenak.
Namun, ia tidak membalas tatapan hangat Raka. Ia hanya menghela napas pendek dan merapikan catatan di mejanya.
"Kopi kamu, Mas.Tolong diminum sebelum dingin," balas Gladys dingin dan lugas, mengabaikan pengakuan penyesalan itu seolah tak berbekas di hatinya.
Saat suasana di kafe mulai agak tenang, pintu depan kafe terdorong terbuka menyebarkan denting lonceng kecil di atasnya.
Praduta melangkah masuk dengan senyum santai—berpura-pura menjadi pelanggan biasa yang kebetulan sedang melintas di area tersebut.
Mata Gladys seketika membelalak. Tubuhnya mendadak tegang dan panik; bayangan ciuman lembut namun tegas serta momen intim di apartemen Praduta tadi pagi langsung terngiang jelas di pikirannya.
Pipinya merona cemas, dan tangannya yang memegang kain lap gemetar hebat saat menyadari Praduta kini berdiri hanya beberapa meter darinya.
"Selamat pagi, Gladys," sapa Praduta dengan nada yang sangat ramah dan akrab, matanya menatap lurus ke arah Gladys dengan binar hangat yang menghipnosis.
"S-selamat pagi, Pra," balas Gladys terbata, suaranya nyaris seperti bisikan.
Jantungnya berdegup kencang, separuh karena rasa canggung setelah apa yang terjadi di apartemen pria itu tadi pagi, dan separuh lagi karena ketakutan setengah mati jika Raka sampai menyadari kedekatan mereka.
Praduta tidak langsung mendekat ke meja bar. Langkah kakinya yang santai justru berbelok arah, menghampiri Kirana yang sedang berdiri merapikan etalase kue di dekat pintu masuk.
Dengan senyum menawannya yang terukir alami, Praduta melirik sekilas ke arah meja bar tempat Raka duduk mengawasi, lalu menatap Kirana.
"Permisi, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Praduta dengan suara yang cukup jelas terdengar ke seluruh penjuru kafe yang mulai lengang.
"Siapa lelaki berjas rapi yang duduk di dekat meja bar itu? Sepertinya baru kali ini aku melihatnya di sini."
Kirana, yang tidak tahu apa-apa mengenai ketegangan rumit di antara mereka, menjawab dengan polos dan penuh antusiasme.
"Oh, itu? Itu Pak Raka, suami Bu Gladys," jawab Kirana setengah berbisik bangga, mengira Praduta adalah pelanggan baru yang penasaran.
"Tadi pagi beliau bahkan datang mengantar Bu Gladys dan membawakan barang-barang ke dalam. Langka banget kan, Mas? Padahal biasanya tidak pernah peduli sama kafe ini."
Deg!
Seketika itu juga, senyum santai di wajah Praduta membeku.
Seluruh otot di tubuhnya mendadak menegang. Praduta langsung terdiam kaku di tempatnya, matanya menatap tajam ke arah pria yang sedang duduk memegang cangkir americano di sudut ruangan—sosok yang selama ini paling ia benci di muka bumi ini.
Saudara tirinya. Orang yang menikmati seluruh limpahan harta dan kasih sayang yang seharusnya menjadi haknya.
Pria yang telah merebut segalanya, dan kini, pria yang berstatus sebagai suami sah dari wanita yang mulai ia jadikan bidak dalam permainan balas dendamnya.
Atmosfer di dalam DeGla Cafe mendadak terasa begitu dingin dan mencekam dalam hitungan detik.
Gladys yang melihat perubahan ekspresi di wajah Praduta langsung dilanda kepanikan luar biasa.