Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Malam semakin larut, keheningan menyelimuti setiap sudut rumah besar itu, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang berjalan pelan dan teratur.
Dua tahun lalu Alina menikah dengan Rafael karena perjodohan keluarga. Keduanya sama‑sama menerima ikatan itu dengan harapan semoga bisa tumbuh cinta seiring waktu. Namun sejak hari pertama, sikap Rafael selalu dingin dan tertutup, pria itu jarang berbagi pikiran, bahkan selalu memasang batas tegas di antara mereka.
Enam bulan lalu, Rafael membawa masuk Revan, pria yang tiga tahun lebih tua darinya untuk menjadi asisten pribadi suaminya. Sejak pertemuan pertama itu, Alina sudah merasa tidak nyaman. Entah apa alasan suaminya begitu percaya pada pria itu, padahal setiap kali mata mereka bertemu, tatapan Revan terasa terlalu tajam, seolah ingin membaca seluruh isi pikirannya. Alina selalu berusaha menjaga jarak, bahkan sering membenci keberadaan pria itu yang selalu ada di mana‑mana.
Alina membuka matanya perlahan. Kesadarannya kembali menyusup dalam hening. Tangannya meraba sisi sebelahnya di atas permadani sutra yang empuk itu. Kosong. Dingin. Seperti biasa. Rafael belum pulang.
Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap ke arah jendela balkon yang pintunya sedikit terbuka, membiarkan angin malam yang sejuk menyelinap masuk menerpa tirai tipis. Bulan purnama bersinar terang di langit, memancarkan cahaya keperakan yang samar menerangi ruangan yang remang itu.
Pikirannya tanpa sadar melayang pada sosok pria lain, yaitu Revan. Apakah pria itu masih di rumah ini? Atau sudah pergi tanpa ia ketahui? Sejak pulang tadi ia langsung mengurung diri di kamar dan tidak pernah turun lagi, sehingga ia sama sekali tidak tahu keberadaan asisten suaminya itu.
Pandangannya jatuh ke gelas kosong di atas meja nakas sebelah tempat tidur. Tenggorokannya terasa kering dan sedikit perih. Ia menghela napas pelan, lalu bangkit dari ranjang, mengambil gelas itu dan melangkah keluar kamar menuju lantai bawah untuk mengambil air minum.
Langkah kakinya terdengar samar di atas karpet tebal lorong yang remang. Saat melewati pintu kamar tamu di sayap bawah, langkahnya terhenti sejenak.
Dari balik pintu kayu itu, terdengar samar-samar suara air yang mengalir.
Alina mengerutkan kening. Rasa penasaran mengalahkan rasa malasnya. Ia meletakkan gelas kosong yang dibawanya di atas meja panjang di lorong, lalu melangkah mendekat ke pintu itu dengan hati-hati. Telinganya sedikit menempel ke permukaan pintu kayu yang dingin itu.
Suara itu semakin jelas. Air jatuh ke lantai dengan bunyi yang berirama.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena penasaran dan ragu, Alina perlahan memutar gagang pintu. Ternyata tidak terkunci. Pintu terbuka pelan tanpa bunyi berderit yang keras.
Lampu di dalam kamar itu mati, namun cahaya rembulan dari jendela kamar tamu itu cukup menerangi sebagian ruangan. Di ujung kamar, pintu kamar mandi yang kaca buramnya sedikit terbuka menyemburkan uap hangat ke luar, dan dari baliknya suara air shower terdengar jelas.
Jantung Alina tiba-tiba berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. Ia tahu seharusnya ia tidak berada di sini. Seharusnya ia berbalik dan pergi secepatnya. Tapi kakinya seakan terpaku di tempat, matanya menatap pintu yang berkabut itu dengan campuran rasa ingin tahu dan rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan.
Gerakannya tanpa sengaja mendorong pintu kaca itu sedikit lebih lebar. Bunyi gesekan kaca terdengar nyaring di keheningan malam, dan suara air shower seketika terhenti.
Pintu itu terbuka sedikit lagi dari dalam.
Alina menahan napas, tubuhnya menegang kaku di tempatnya. Kakinya terasa lemas seketika.
Dan saat itu juga, pintu terbuka lebar.
Revan berdiri di sana. Rambutnya masih basah meneteskan air, dan selembar handuk putih melilit rapi di pinggangnya. Uap hangat masih menyelimuti tubuhnya, membuatnya tampak samar namun terlihat semakin tegap di bawah pantulan cahaya bulan yang masuk dari jendela.
Mata mereka bertemu seketika.
Wajah Alina seketika memerah padam, panasnya menjalar hingga ke telinga dan lehernya. Ia buru-buru memalingkan wajah, menatap lantai keramik yang dingin, napasnya tercekat gemetar.
"Kau..." suaranya terdengar bergetar pelan, kakinya melangkah mundur perlahan. "Ba—bagaimana kau masih bisa ada di sini?"
Belum sempat Alina berbalik badan, gerakannya terhenti karena pergelangan tangannya tiba-tiba tergenggam erat namun lembut. Revan menariknya perlahan namun pasti, hingga tubuh Alina terdorong ke belakang dan punggungnya menabrak tembok dingin di sampingnya.
Alina mendongak kaget, dan baru menyadari betapa dekatnya jarak mereka saat napas hangat pria itu menyapu lembut ubun-ubunnya. Napasnya sendiri tercekat.
"Jangan pergi dulu, Nyonya..." bisiknya rendah, suaranya sedikit serak. "Anda tidak seharusnya ada di sini di jam seperti ini."
Alina menelan ludah dengan susah payah mendengar pertanyaannya, matanya berusaha menatap ke mana pun asal bukan ke arahnya.
"Le... lepaskan..." suaranya terdengar lemah, jauh dari ketegasan yang tadi ia miliki. "Kau... apa yang mau kau lakukan?! Aku istri Rafael. Kau adalah asistennya..."
"Saya tahu," potong Revan pelan namun tegas. Tangan lainnya terulur, menyentuh lembut dagu Alina dan mengangkatnya perlahan hingga mata mereka bertemu langsung. "Saya tahu betul siapa Nyonya. Dan saya tahu betul siapa saya. Tapi malam ini... biarkan saya melupakan peran itu sebentar saja."
Tetesan air terakhir jatuh dari ujung rambut Revan, meluncur turun melewati rahangnya, lalu jatuh tepat ke pipi Alina yang terasa panas. Sentuhan itu begitu halus, namun membuat seluruh tubuh wanita itu seakan tersengat listrik.
"Apa maksudmu?" bisik Alina, matanya berkaca-kaca, bingung antara ingin mendorongnya pergi atau justru merangkulnya erat. "Jika kau melakukan sesuatu... Rafael... dia tidak akan membiarkannya."
"Rafael tidak pernah benar-benar ada di sini, bukan?" Revan menyela lembut, jempolnya mengusap pelan sudut bibir Alina yang terkatup rapat. "Dia punya Nyonya di atas kertas, tapi tidak di hati. Dan setiap malam... dia membiarkan Nyonya tidur dalam sepi dan kedinginan. Maka malam ini biarkan saya yang menemani Nyonya, agar tidak merasa sendirian lagi."
Revan menunduk perlahan, wajahnya semakin mendekat hingga napas mereka saling bertautan hangat. Jarak bibir mereka kini tinggal sejengkal, begitu dekat hingga Alina bisa merasakan panas tubuh pria itu. Matanya terpejam dengan sendirinya, seakan tubuhnya punya kehendak sendiri.
Namun tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan...
📱 TRING! TRING!
Ponsel di meja samping tempat tidur Revan berdering nyaring, memecah keheningan malam yang mendebarkan itu. Keduanya terlonjak kaget dan kembali menjaga sedikit jarak.
Alina buru-buru menunduk, menarik napas panjang yang gemetar, wajahnya kembali merah padam. Revan pun mengerjap pelan, seakan tersadar dari momen yang hampir melanggar batas itu. Ia berbalik sebentar meraih ponselnya, dan saat melihat nama di layar, rahangnya langsung mengeras.
Nama itu tertulis jelas: Tuan Rafael.
Tanpa ragu Revan menggeser tombol hijau. Ia menyalakan pengeras suara kecil, namun suaranya tetap tenang dan terkendali, seakan tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Selamat malam, Tuan."
"Revan. Alina ada di dekatmu?" tanya Rafael, suaranya terdengar dingin dan tajam dari seberang sana, terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
Revan melirik sekilas ke arah Alina yang menatapnya dengan mata membelalak panik, lalu menjawab tenang.
"Tidak, Tuan. Nyonya Alina sepertinya sudah tidur di lantai atas. Ada yang bisa saya sampaikan?"
"Hmm..." Rafael terdengar berpikir sejenak. "Aku hanya ingin memastikan saja kalau dia sudah tidur dan tidak berulah lagi. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya."
Panggilan terputus. Suara nada sibuk terdengar samar dari pengeras suara sebelum akhirnya hening kembali menyelimuti ruangan itu.
Revan berdiri diam sejenak, menatap layar ponsel yang kini gelap di tangannya. Napasnya yang tadinya teratur kini mulai memburu, seakan setiap kata yang baru saja diucapkannya kepada Rafael telah menguras kendali yang selama ini ia bangun begitu kokoh.
Dengan satu gerakan cepat dan kasar, ia melempar ponselnya ke atas kasur. Benda itu memantul pelan di atas seprai empuk lalu tergeletak tak berdaya, sama seperti aturan-aturan yang selama ini mereka patuhi.
Tanpa memberi aba-aba, tanpa memberi kesempatan bagi Alina untuk menarik napas atau membuka mulutnya demi protes, Revan melangkah cepat mendekat. Kedua tangannya terulur, satu menopang pinggang Alina dan yang lain menyangga tengkuknya, menarik tubuh wanita itu menempel erat ke dadanya sendiri.
Dan dalam sekejap, bibirnya menimpa bibir Alina. Bukan lagi sentuhan yang ragu-ragu atau hampir saja. Kali ini nyata. Dalam, penuh gairah yang tertahan selama enam bulan, dan tak lagi mau berpura-pura sopan.
Alina terperangah, tubuhnya sempat menegang kaku sejenak sebelum akhirnya keluhnya luruh perlahan
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰