NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Mabuk

Bel sekolah menyuarakan kepulangan, disambut keriuhan murid-murid yang mengemas tas mereka. Bellona bergerak lambat, memasukkan buku-bukunya satu per satu dengan gerakan mekanis.

"Bell, beneran gak mau aku antar pulang?" tanya Viola ragu saat mereka berjalan bersama menyusuri koridor yang mulai sepi. "Kamu dari tadi diam terus, mukanya lesu banget."

Bellona menggeleng kaku, mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Gak usah, Vi. Gue bisa naik angkot kok."

"Yaudah deh... Hati-hati ya, Bell. Kalau ada apa-apa chat aku," pesan Viola sebelum melangkah menuju mobil jemputannya di tepi jalan.

Bellona mengangguk pelan. Langkah kakinya membawa tubuhnya keluar melewati gerbang sekolah. Tatapan matanya refleks tertuju ke tempat yang biasanya diisi oleh motor tua cempreng Devan.

Kosong.

Tidak ada pria berjaket kulit kusam yang bersandar di stang motor, tidak ada kacamata hitam longgar, dan tidak ada cengiran tengil yang biasa menyambutnya dengan ocehan menyebalkan. Hanya ada aspal jalanan yang kering diterpa angin sore.

Bellona berdiri mematung di pinggir jalan. Logikanya berteriak bahwa ini hal yang memang ia inginkan—bebas dari kehadiran Devan yang membuatnya muak. Namun, di sudut dadanya yang paling dalam, ada rasa hampa yang mendadak mencengkeram erat.

Ia menarik napas panjang, merapatkan tali ranselnya, lalu melangkah menuju perhentian angkot dengan hati yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Sementara itu, di studio musik yang remang, Devan duduk bersandar di sofa kusam dengan gitar akustik di pangkuannya. Pria itu tidak menyentuh senar gitarnya sama sekali. Tatapannya lurus menatap lantai semen, kosong dan meredup.

Raka yang baru saja menyelesaikan urusan perlengkapan drum menghampirinya, melempar satu kaleng kopi dingin tepat ke pangkuan Devan.

"Ngapain lo melamun kayak orang kehilangan nyawa gitu, Van?" tegur Raka santai sambil duduk di seberangnya. "Bukannya ini jamnya lo jemput si Bellona?"

Devan tidak menyentuh kaleng kopi itu. Pria itu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menghembuskan napas pendek yang berat.

"Gue kagak jemput dia," bisik Devan pelan, suaranya serak.

Raka menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Berantem lagi lo berdua?"

"Gue bentak dia tadi pagi, Ka," aku Devan kaku, menyapu wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. "Gue lepas kendali. Gue ngeluarin amarah gue ke anak yang udah hancur gara-gara kelakuan gue sendiri di masa lalu."

Raka terdiam sejenak, mengamati sahabatnya yang biasanya bising itu kini tampak begitu patah.

"Gue emang beneran pria gagal, Ka," lanjut Devan dengan tawa pahit yang bergetar. "Gue kagak pantes ada di dekat dia. Muka gue cuma nambah luka di hidupnya. Mau sampai kapan pun... dia kagak bakal pernah bisa nerima gue."

Di sudut studio, Teo yang sedang membersihkan kabel mikrofon menghentikan gerakannya sejenak. Cowok itu melirik ke arah Devan yang tertunduk lesu, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dalam diam—membiarkan rasa penyesalan yang tebal menyelimuti Devan di tengah ruangan yang dingin.

Pintu studio mendadak terdorong kasar. Miko melangkah masuk sambil celingukan, lalu meletakkan sebuah bungkus plastik kecil berisi serbuk putih di atas meja pereda kebisingan.

Raka yang sedang memegang kaleng kopi seketika berdiri tegak. Matanya membelalak lebar, memancarkan amarah yang luar biasa.

"Miko! Gila lo ya?!" bentak Raka keras, menyambar plastik itu lalu melemparnya tepat ke dada Miko. "Bawa-bawa barang haram kayak gini ke studio! Lo mau bikin kita semua membusuk di penjara, Hah?!"

"Yee... santai kali, Ka!" Miko membela diri sambil memungut plastik itu kaget. "Gue cuma tawarin temen! Katanya bisa bikin pikiran tenang kalau lagi pusing!"

"Buang kagak!" amuk Raka, urat lehernya sampai menonjol. "Sekali lagi lo bawa barang setan itu ke sini, gue tendang lo keluar dari band!"

Saat suasana di studio mendadak tegang dan panas, pintu kembali terbuka. Dion masuk sambil menenteng dua kantong plastik hitam berisi beberapa botol minuman keras beralkohol tinggi.

Dion melangkah santai, meletakkan botol-botol kaca itu di atas meja tengah, tidak memedulikan Miko yang sedang diomeli Raka.

"Udah, udah... kagak usah pake barang gituan," kata Dion tenang, membuka satu tutup botol dengan pembuka besi hingga terdengar suara denting nyaring. "Nih, minum ini aja sampai mabok. Seenggaknya yang satu ini masih umum dipakai kalau pikiran lagi kusut parah."

Dion menyodorkan satu botol terbuka ke arah Devan yang masih terduduk kaku di sofa.

Devan menatap cairan pekat di dalam botol kaca itu. Pikiran tentang bentakan kasarnya pada Bellona tadi pagi, raut wajah gadis itu yang menangis terisak, dan rasa gagal yang menggerogoti dadanya bertumpuk jadi satu menekan kesadarannya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Devan menyambar botol itu.

Pria itu meneguknya langsung dari mulut botol—seteguk, dua teguk, hingga cairan panas itu membakar tenggorokan dan dadanya. Devan terus meminumnya, berharap rasa pahit alkohol itu bisa membunuh rasa bersalah yang teramat sangat di dalam hatinya.

"Van, pelan-pelan..." tahan Raka kaku, tapi Devan sudah tak memedulikan apa pun lagi.

Dalam hitungan jam, rasa pusing yang berat menyapu pandangannya. Devan bersandar di sofa dengan kepala terkulai, matanya merah sayu, dan kesadarannya perlahan menghilang ditelan rasa mabuk yang teramat dalam.

Efek alkohol yang keras merayap cepat, membakar tenggorokan hingga membalikkan kesadaran Devan sepenuhnya. Kepala Devan terkulai ke belakang, bersandar pada busa sofa yang kusam. Mata merahnya menatap kosong ke arah plafon studio yang remang dan berdebu.

Pria itu mulai meracau. Suaranya serak, berat, dan bergetar parah di selang batuk tipisnya.

"Gue... gue beneran bangsat, Ka..." racau Devan kaku. Tangannya yang terkepal lunglai mencoba menggapai udara kosong di atasnya. "Dia... dia nangis gara-gara gue lagi..."

Raka mendesah berat, duduk di samping sofa sambil menarik botol sisa dari genggaman Devan agar tak tumpah ke lantai. "Udah, Van. Lo mabok parah. Diem dulu."

"Kagak! Gue kagak mabok!" bentak Devan pelan, suaranya mendadak pecah oleh tawa pahit yang memilukan. "Muka dia... mirip banget sama gue, Ka. Tapi tiap kali dia ngeliat gue... matanya cuma benci. Dia benci sama gue..."

Devan menutup matanya rapat-rapat memakai lengan jaket kulitnya yang kasar. Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis menahan rasa sesak yang tak sanggup lagi ia sembunyikan.

"Salah gue apa coba dulu? Gue kagak tahu Sarah hamil... Gue kagak tahu dia ada..." celoteh Devan lagi, racaunnya makin tak berarah, bercampur aduk antara amarah dan rasa iba pada nasibnya sendiri. "Tapi bener kata dia... gue cuma pria gagal. Bikin hidup orang lain hancur..."

Miko yang berdiri tak jauh dari sana cuma bisa diam membisu, merasa bersalah karena telah memicu ketegangan sebelumnya. Sementara Dion menghembuskan asap rokoknya pelan, menatap Devan yang terus bergumam sendiri dalam ketidakberdayaannya.

Di sudut studio yang redup, Teo berdiri tenang. Cowok itu menatap Devan yang meracau tanpa henti—melihat sosok pria yang selama ini selalu bersikap sok tangguh dan menjadi pelindungnya, kini hancur berkeping-keping hanya karena derita seorang gadis SMA.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!