Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 PELINDUNG DALAM GELAP
"Seorang gadis yang cantik dan pandai menari..." ucapan Rizky Syah yang menggantung di udara itu membuat napas Kamilah mendadak sesak. Suara beratnya seolah memotong riuhnya dentuman musik di dalam ruangan VIP tersebut.
Sekalian saja sebut nomor KTP-ku di depan semua orang! jerit Kamilah frustrasi di dalam hatinya. Ia meremas gaunnya dengan erat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merona merah akibat panik dan malu.
Sahril yang sangat penasaran mendengarkan jawaban itu langsung memajukan tubuhnya, menyenggol bahu Rizky dengan cengiran lebar. "Jangan-jangan gadis pandai menari yang kamu maksud itu artis papan atas yang sering wara-wiri di televisi?"
"Sudahlah! Jangan terus mencecar Rizky! Ini pertanyaan selanjutnya, ayo putar lagi botolnya!" potong salah satu teman yang duduk di sudut sofa, menghentikan spekulasi Sahril yang makin melebar.
"Lanjut! Lanjut! Putar botolnya lagi!" seru teman-teman yang lain secara kompak sambil menepuk meja kaca.
Botol kaca kosong di atas meja kembali diputar dengan kencang. Saat pusarannya perlahan melambat dan ketegangan kembali mengisi ruangan, ujung botol itu meluncur pelan dan berhenti tepat menunjuk ke arah tempat duduk Kamilah. Seketika itu juga, semua mata di ruangan VIP melirik tajam dan tertuju penuh ke arah gadis itu.
Kamilah menghela napas pasrah, menundukkan kepalanya saat menyadari kesialannya. "Aku kalah..."
Seorang pria bernama Cheps—salah satu teman di lingkaran itu yang sejak awal kedatangan Kamilah sudah menatapnya dengan pandangan liar—langsung memajukan tubuhnya. Dengan senyuman nakal di wajahnya, ia menatap Kamilah dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Adik manis... bagaimana kalau kamu menari saja untuk kami semua di sini?" ujar Cheps dengan nada meremehkan yang amat kentara. "Tarian yang agak menggoda ya. Soal buka baju atau tidak, itu terserah kamu... yang penting kita semua di sini puas melihat bentuk tubuh dan keindahan gerakanmu!"
Sontak, beberapa pria di ruangan itu menyahut kompak, terbawa oleh atmosfer alkohol yang mulai menguasai kepala mereka. "Iya! Benar itu! Menari! Menari! Menari!"
Raut wajah Kamilah berubah dingin seketika. Ia menegakkan punggungnya dan menatap Cheps dengan pandangan tajam tanpa rasa takut. "Aku tidak mau."
Mendengar penolakan tegas itu, Cheps justru berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati meja tempat Kamilah duduk. Dengan nada percaya diri yang memuakkan, ia menunjuk wajah Kamilah dengan jari telunjuknya. "Adik, di sini kan tidak ada orang luar, untuk apa berlagak sombong? Lagipula, waktu kecil dulu aku pernah melihat fotomu tanpa pakaian di rumah keluargamu!"
Mendengar ucapan yang sangat melecehkan itu, dada Kamilah bergemuruh kencang oleh rasa marah dan malu yang meluap. Untuk menenangkan emosinya yang hampir meledak di depan publik, Kamilah berniat meraih gelas wine di atas meja untuk langsung diminumnya. Namun, baru saja jemarinya hendak menyentuh gelas kristal tersebut, sebuah tangan kekar dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya.
Rizky Syah menarik tangan Kamilah menjauh dari gelas itu. Tanpa ragu sedikit pun, Rizky mengambil gelas wine tersebut dan meneguk isinya hingga kandas dalam satu tarikan napas.
Cheps melotot kaget melihat aksi protektif itu. "Eh, Kak Rizky! Dia itu kan adiknya Roya Ye! Kenapa kamu malah pasang badan dan melindunginya?"
Cheps mengambil langkah maju lagi, semakin merapatkan jaraknya ke tempat duduk Kamilah. "Mungkin saja nanti dia bakal menikah dengan salah satu dari kita di sini, kan? Dengan bentuk tubuh seindah ini... biarkan aku mencoba dan mencicipinya dulu! Memangnya kenapa, sih?"
PRANG!
Suara benturan keras menggema mendadak di seluruh penjuru ruangan VIP. Tanpa peringatan dan tanpa ragu sedikit pun, Rizky Syah melayangkan botol minuman kaca berukuran besar tepat ke arah kepala Cheps!
Botol tebal itu hancur berkeping-keping di udara. Cheps menjerit kesakitan yang luar biasa sambil memegangi kepalanya yang mulai mengucurkan darah segar. Suara riuh di ruangan VIP seketika mati total. Teman-teman yang lain panik luar biasa melihat luapan emosi Rizky yang mengerikan, lalu berhamburan berlari keluar ruangan untuk menyelamatkan diri dari amukan sang penguasa Kota Jakarta itu.
"Mimpi saja kamu!" bentak Rizky dengan suara rendah yang sangat dingin, sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Rizky melangkah maju, mencengkeram kerah baju Cheps lalu mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur keras ke lantai yang kotor oleh tumpahan alkohol. "Kamu sama sekali tidak pantas menyebut namanya!"
Tanpa memedulikan Cheps yang meringis dan mengerang kesakitan di lantai, Rizky langsung menarik tangan Kamilah dengan tegas, membawanya melangkah keluar meninggalkan ruangan VIP yang kacau balau tersebut.
Napas Kamilah masih tersengal-sengal saat mereka berdua tiba di area parkiran mobil yang sepi dan remang-remang. Angin malam yang berembus kencang merengkuh tubuhnya yang dingin. Kamilah memandangi punggung tegap pria di hadapannya yang masih memancarkan aura intimidasi.
"Terima kasih ya..." bisik Kamilah tulus atas bantuan pria itu dari marabahaya tadi.
Rizky membalikkan badannya perlahan, menatap Kamilah lekat-lekat sebelum merogoh saku celananya dan melemparkan kunci mobil mewah ke dalam genggaman Kamilah.
"Karena kamu berterima kasih kepadaku, maka antar aku pulang sekarang," perintah Rizky datar.
Kamilah membelalakkan matanya, memandangi kunci mobil di tangannya dengan bingung. "A-aku dan Elisa tadi sempat minum cocktail di luar. Aku tidak bisa menyetir dalam kondisi begini!"
Mendengar alasan penolakan itu, Rizky bukannya mengambil kembali kuncinya. Ia justru mengambil satu langkah besar maju dan langsung merengkuh tubuh kecil Kamilah ke dalam pelukannya yang hangat dan posesif.
"Aku yang menggantikanmu minum wine tadi, aku juga yang memukul orang demi kamu..." bisik Rizky rendah tepat di samping telinga Kamilah. "Masa kamu tidak peduli padaku sama sekali? Atau... kamu memang tidak bisa menahan diri setelah minum sedikit?"
Jantung Kamilah serasa mau melompat keluar dari dadanya. Bau maskulin bercampur aroma alkohol yang kental dari tubuh Rizky begitu mengikis pertahanan dirinya. Kamilah mencoba mendorong dada keras pria itu demi memberikan jarak.
"Rizky Syah, lepaskanlah aku!" seru Kamilah cemas.
Rizky menundukkan kepala, menatap langsung ke dalam manik mata Kamilah dengan kilatan berbahaya yang membara. "Kamu panggil aku apa?"
Kamilah menarik napas panjang, mencoba menggertak pria dominan ini agar mundur. "Kamu tahu sendiri aku ini adiknya Kak Roya Ye! Kalau Kak Roya tahu kamu mengganggu dan menindasku seperti ini, dia pasti tidak akan pernah melepaskanmu!"
Bukannya takut, sudut bibir Rizky justru terangkat menyunggingkan senyum remeh yang penuh kepastian. "Aku tidak takut padanya."
Sebelum Kamilah sempat membalas gertakan tersebut, Rizky sudah lebih dulu menundukkan kepalanya secara mendadak. Ia membungkam bibir Kamilah dengan ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh kepemilikan mutlak. Kamilah yang panik refleks menggigit bibir bawahnya sendiri sangat keras sampai rasa amis darah menyebar di dalam mulutnya—sebuah kebiasaan buruk Kamilah sejak kecil setiap kali berusaha menahan emosi yang meluap-luap.
Merasakan gigitan dan rasa amis darah tersebut, Rizky perlahan menghentikan pergerakan bibirnya. Ia menyandarkan dahi mereka, menatap wajah Kamilah yang berkaca-kaca di bawah temaram lampu parkiran.
"Bukankah aku pernah bilang... kalau gigimu gatal, gigit saja bibirku?" bisik Rizky penuh kelembutan yang menyayat hati.
Ibu jari Rizky terangkat pelan, mengusap lembut sudut bibir Kamilah yang terluka akibat ulahnya sendiri. Tatapan mata Rizky mendadak berubah rumit, dipenuhi rasa bersalah dan kepedihan yang mendalam.
Masih sama seperti waktu kecil dulu... selalu suka menyakiti diri sendiri setiap kali menekan emosi, batin Rizky penuh rasa bersalah sambil menatap gadis di dekapannya. Semua ini... gara-gara ayahnya, Ye Toyalis, pria brengsek tak berguna itu!