NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Malam hari di luar Griya Harta Emas, suasana terasa kian sepi. Bella melirik arloji dari balik kegelapan dinding, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku. Pakaian lusuh dan topi yang menyamarkan identitasnya masih melekat erat. Tatapannya terpaku pada Gilang yang baru saja melangkah keluar gedung, tampil necis dengan setelan jas putih rapi.

​Mata-mata yang mengawasi sejak siang masih bertahan di dalam Jeep hitam. Pria berpakaian serta bertopi hitam itu berpura-pura membaca koran untuk menutupi wajahnya ketika Gilang melintas di dekat mobil.

​Gilang terus berjalan lurus. Begitu sang mata-mata menurunkan koran dan menyapu pandangan, ia kebingungan karena kehilangan jejak targetnya. Namun secara mengejutkan, wajah Gilang mendadak muncul tepat di kaca mobil.

​"Cilukba!" seru Gilang keras-keras, menempelkan wajah dan telapak tangannya di kaca.

​Mata-mata itu tersentak kaget hingga melemparkan korannya ke samping.

​Tok! Tok! Tok!

​Gilang mengetuk kaca, memberi isyarat agar pria di balik kemudi menurunkan jendela.

​"Ada apa?" tanya mata-mata itu gagap.

​"Aku ada janji bertemu orang. Bisa antar aku ke Bogor?" tanya Gilang santai. Meski tahu pria itu adalah mata-mata musuh, ia menyapanya seolah-olah mengobrol dengan seorang sopir pribadi.

​Mata-mata itu mengedipkan mata, bingung. "A-apa?"

​"Kau bisa bahasa Nusantara, kan? Kau pasti bosan memata-matai tempat ini seharian. Sambil melepas lelah, bukankah lebih baik mengantarku?" Gilang mengangguk yakin. "Lagi pula, tugasmu membuntutiku. Daripada repot mengekor, lebih baik jalan bersama, bukan?"

​Tanpa menunggu jawaban, Gilang langsung membuka pintu penumpang dan duduk di kursi belakang.

​"Hei... tunggu..." bisik mata-mata itu menahan, tetapi Gilang sudah terlanjur mapan di belakang.

​Gilang menepuk bahunya dua kali. Pria itu terpaku sejenak; tugas utamanya adalah mengintai, bukan menjadi sopir jalanan.

​"Ada apa? Kenapa diam?" tegur Gilang dari belakang.

​Mata-mata itu akhirnya menginjak pedal gas, menuruti kemauan Gilang yang memperlakukannya bak sopir pribadi.

​Di balik dinding, Bella memperhatikan Jeep hitam itu bergerak menjauh. Pandangannya mengikuti arah kendaraan sampai menghilang di belokan malam, sebelum akhirnya ia ikut melangkah pergi.

​Bella memacu sepeda motornya melintasi jalur trem. Ia mengenakan topi biru, syal, kacamata pelindung, serta mantel rapat untuk membuntuti Jeep hitam tersebut.

​Di dalam mobil, Gilang menatap jalanan di depannya tanpa menyadari kehadiran Bella yang membuntut di belakang. Jeep itu berbelok ke kanan, dan Bella terus menempel dari jarak aman.

​Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah restoran tua. Gilang memperhatikan area sekitar, lalu merogoh dompet dari balik jas putihnya.

​"Terima kasih, aku sampai dengan aman," ujar Gilang seraya tersenyum.

​Ia menghela napas, menarik beberapa lembar uang kertas dari dompet, lalu menyelipkannya langsung ke dalam saku baju sang mata-mata.

​"Hah? Hei! Tunggu, tunggu!" Mata-mata itu mencoba menolak, namun Gilang memaksa uang itu tetap berada di sakunya.

​"Ambil saja! Pakai untuk beli makan. Aku tidak akan bilang apa-apa pada Ichikawa. Sudah, terima saja," kata Gilang seraya menepuk bahu pria itu, mengedipkan sebelah mata, lalu melangkah keluar mobil dengan senyum tipis.

​"T-tapi..." Mata-mata itu melongo, tatapannya terpaku pada Gilang dengan benak yang penuh tanda tanya. "Apa-apaan ini?"

​Dengan kedua tangan menyusup ke saku jas, Gilang menaiki anak tangga restoran. Raut santainya berangsur mengeras begitu ia melewati gapura pintu masuk.

​Dari kejauhan, Bella menghentikan motornya dan melepas kacamata pelindung, memperhatikan pergerakan Gilang dari jauh.

​"Wah, selamat datang, Pak. Untuk berapa orang?" menyapa manajer restoran yang langsung membungkuk ramah dengan senyuman hangat.

​"Aku tidak berniat makan. Aku ke sini cuma mau menumpang pintu belakangmu," sahut Gilang dengan tatapan tajam mendalam.

​"Lewat sini, Mas Gilang," balas sang manajer penuh pengertian, mengisyaratkan jalan dengan tangannya sambil membungkuk saat Gilang melintas.

​Gilang menyusuri area samping bangunan tua itu sendirian. Di belakangnya, Bella bergerak dalam diam, menjaga jarak rapat.

​Sementara itu di dalam Jeep hitam, sang mata-mata menghitung lembaran uang pemberian Gilang. Namun pada lembaran terakhir, tercetak tulisan tangan tebal: "BODOH". Wajahnya seketika merah padam, menahan kekesalan yang membakar dada.

​Gilang melangkah di sepanjang lorong berdinding batu yang hanya diterangi sebuah lampu temaram di ujung gang. Suasana begitu gelap dan mencekam. Sesekali, pandangannya melirik ke belakang.

​Bella masih membuntutinya. Di balik kegelapan, Gilang berbelok tajam ke kiri. Bella bergegas menyusul berbelok ke arah yang sama, namun sosok Gilang mendadak lenyap, hanya ada sebuah sepeda tua terparkir di sana. Bella memindai sekeliling dengan waspada. Ia melirik ke gang sebelah kanan, tetapi area itu pun kosong melompong.

​Tiba-tiba, moncong dingin sebuah pistol tertodong tepat di belakang topi Bella. Meski hawa keberadaan Gilang muncul tanpa peringatan di punggungnya, Bella tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

​"Siapa kau? Kenapa mengikutiku?" tanya Gilang dengan nada dingin membekukan.

​Bella memilih bungkam. Suasana di lorong sempit itu seketika menjadi sangat tegang. Peluru bisa saja menembus kepalanya dalam sekejap jika Gilang menarik pelatuk. Aura ketegangan di antara mereka terasapi begitu pekat, seolah Gilang adalah seorang pembunuh bayaran berbahaya yang siap menghabisi nyawa targetnya.

​"Kau tidak kelihatan seperti anak buah Ichikawa. Kau bekerja untuk siapa? Jawab, siapa yang mengirimmu!" bentak Gilang, menaikkan intonasi suaranya dengan raut wajah sangat serius.

​Bella melirik tipis ke samping. "Apa benar kau ini Mas Gilang?"

​"Tidak sopan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan," tegas Gilang dingin.

​Gilang membuka paksa mantel luar Bella. Di balik pakaian itu, terikat sebuah tas kulit hitam khusus tempat menyimpan pisau.

​"Selain itu, kau membawa barang berbahaya seperti ini secara terbuka," gumam Gilang seraya menyingkap mantelnya lebih lebar.

​Bugh!!

​Tanpa peringatan, Bella berbalik dengan kecepatan luar biasa, menangkis tangan Gilang yang memegang pistol. Pertarungan sengit pun pecah di lorong sempit itu.

​Bella menyikut keras dan melayangkan pukulan bertubi-tubi hingga tubuh Gilang terhempas menabrak dinding gang. Tanpa memberi jeda, Bella melayangkan tendangan sudut menggunakan kaki kirinya. Brak! Debu berhamburan saat tendangan itu menghantam tembok semen; Gilang berhasil berkelit tepat pada waktunya.

​Gilang merangkak cepat di tanah untuk menggapai pistolnya yang terlempar. Namun, Bella bergerak lebih sigap, ia menginjak pergelangan tangan Gilang dan menendang senjata itu semakin jauh. Gilang mendongak cepat dari bawah, menatap tajam ke arah Bella.

​Brukk!!

​Bella melayangkan tendangan balasan ke arah wajahnya. Gilang menangkis dengan kedua lengan, namun kuatnya dorongan itu membuat tubuhnya terlempar dan jatuh menimpa tumpukan bambu di sudut gang.

​Gilang langsung bangkit bertumpu pada kakinya. "Hya!"

​Pisau yang tadinya tersembunyi di dalam sepatu Bella telah berpindah tangan, Gilang berhasil merebutnya dalam sekejap.

​Gilang mengayunkan pisau itu berkali-kali ke arah vital Bella, memaksa wanita itu mundur beberapa langkah. Bella memanfaatkan momentum itu untuk mengambil sebatang bambu dari tumpukan menggunakan kakinya, lalu mengayunkannya deras ke depan.

​Bugh!

​Ujung bambu menghantam keras perut Gilang, mendorongnya hingga hampir menabrak dinding. Bella menyusul dengan pukulan cepat ke tangan Gilang yang menggenggam pisau. Senjata tajam itu terlempar ke udara dan menancap kuat di batang pohon terdekat.

​Bella kemudian menghantamkan bambu ke arah kaki Gilang, membuat pria itu meringis kesakitan sejenak. Bella memanfaatkan celah itu untuk melompat ke dinding gang dan melayangkan tendangan melayang yang sangat cepat, namun Gilang kembali berhasil mengelak.

​Dengan sigap, Gilang mengunci gerak Bella menggunakan batang bambu, mengunci tubuh wanita itu selama beberapa detik. Namun Bella bertindak necis, ia melayangkan dua pukulan mentah tepat ke wajah Gilang hingga cengkeraman itu terlepas.

​Setelah saling bertukar serangan dan aksi menghindar yang sengit, Gilang berhasil merebut bambu dari tangan Bella. Ia mengayunkan bambu itu sekuat tenaga ke arah kepala Bella. Bella merunduk cepat menghindari sabetan keras tersebut, membuat topinya terlepas dan melayang di udara.

​Wusss!

​Rambut hitam panjang milik Bella terurai bebas. Di bawah cahaya rembulan yang temaram, Gilang tertegun menyadari bahwa lawan tangguhnya adalah seorang wanita berparas cantik, memiliki alis tegas, mata sipit yang tajam, dan bibir mungil yang menawan.

​Gerakan seolah melambat saat angin malam berkibar memainkan helai rambut hitam Bella.

​Melihat Gilang yang sempat lengah, Bella melaju cepat melancarkan serangan balasan. Gilang mencoba menghantamkan bambu, namun Bella menangkisnya dengan tendangan presisi hingga batang bambu itu terjatuh ke tanah.

​Wuss!

​Dalam sepersekian detik yang sangat krusial, Bella bergerak secepat kilat menyambar pisau yang masih menancap di batang pohon. Di saat yang bersamaan, Gilang menyapu tanah dan berhasil meraih kembali pistolnya.

​Satu menggenggam pisau, satu memegang pistol, keduanya kini saling menodongkan senjata dari jarak dekat. Pandangan mereka mengunci satu sama lain, dengan napas yang memburu berat dan raut wajah penuh keseriusan.

​"Kau berniat membunuhku?" ucap Gilang dingin, menatap lurus ke dalam manik mata Bella.

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!