Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG DI ANTARA DUA DUA DUNIA
Ketegangan di ambang pintu rumah menyengat bagaikan arus listrik. Poci perak berisi gulai domba di tangan Syarifah Zahra tergenggam erat, sementara matanya yang jernih tak lepas menatapku. Di sisinya, Ammar berdiri mematung. Pria itu tampak begitu panik, rahangnya merapat ketat dengan pelipis yang dibasahi bulir keringat dingin.
"Habib..." suara Zahra kembali memecah hening, mengalun lembut namun menyimpan tanya yang besar. "Wanita itu... siapa?"
Ammar berdeham keras, mencoba menguasai suaranya yang mendadak tercekat. Ia melirikku sekilas sebuah tatapan penuh peringatan dan permohonan tersirat sebelum kembali menatap Zahra dengan raut setenang mungkin.
"Dia... Aisyah," ucap Ammar, suaranya sedikit bergetar sebelum akhirnya terdengar lebih mantap. "Aisyah ini... sepupu jauh saya dari pihak keluarga ibu di luar kota."
Sepupu jauh.
Aku yang berdiri di lorong hampir saja tertawa sinis mendengar kebohongan spontan yang keluar dari mulut seorang Habib terhormat. Pria yang semalam begitu menjunjung tinggi kejujuran dan norma agama, kini dengan sangat lancar merangkai skenario palsu demi menjaga perasaan wanita suci di hadapannya.
Zahra tampak terkejut. Keningnya yang mulus berkerut tipis, matanya mengamati penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada kilatan cemburu yang sangat halus di balik binar matanya yang lembut—sebuah kecemburuan khas wanita yang menyadari kehadiran perempuan lain di dekat pria pilihan keluarganya. Namun, sebagai sosok berpendidikan tinggi dan santun, Zahra menahannya dengan sangat rapi.
"Sepupu jauh Habib?" ulang Zahra, mencoba memastikan. "Zahra baru pernah melihatnya."
"Iya, hubungan keluarga kami memang agak jauh," lanjut Ammar cepat, seolah takut Zahra mendalami kebohongan itu lebih jauh. "Keluarganya sedang tertimpa musibah, jadi Abah meminta saya menampung Aisyah dan ibunya di rumah ini untuk sementara waktu."
Zahra mengangguk-angguk paham. Binar ragu di matanya perlahan luntur, berganti dengan rasa simpati yang tulus. Gadis itu melangkah maju melintasi ambang pintu, menghampiriku dengan senyuman yang begitu ramah dan menyejukkan hati.
"Assalamu'alaikum, Aisyah," sapa Zahra hangat. Suaranya sungguh merdu.
Aku tertegun sejenak. Berada dekat dengan gadis seperti Zahra membuatku merasa seperti jelata di hadapan putri raja. Ia memancarkan aura kebaikan murni.
"Wa'alaikumussalam," jawabku datar namun tetap menjaga kesopanan.
"Saya Zahra," ia mengulurkan tangannya yang halus berhias cincin perak berukir sederhana.
Aku menyambut uluran tangan itu. "Aisyah."
"Parasmu manis sekali, Aisyah. Kalau boleh tahu, berapa umurnya?" tanya Zahra penuh kehangatan.
"Sembilan belas tahun," jawabku jujur.
Mata bulat Zahra membelalak pelan, diiringi tawa kecil yang sangat renyah. "Masya Allah... ternyata kamu jauh lebih muda dari aku! Umurku sudah dua puluh dua tahun. Wah, kalau begitu panggil aku Mbak atau Kak Zahra saja biar lebih akrab."
Ramahnya Kak Zahra benar-benar melumpuhkan benteng pertahanan diriku. Aku yang terbiasa menghadapi makian dan godaan pria hidung belang di kelab malam, mendadak kehilangan kata-kata menghadapi kebaikan yang tanpa cela ini.
"I-iya... Kak Zahra," balasku agak canggung.
"Nah, begitu dong," senyum Zahra kian mekar. Ia menyerahkan rantang perak di tangannya padaku. "Ini ada gulai domba buatan Umi. Tolong dipindahkan ke mangkuk ya, Aisyah. Kita makan sama-sama dengan ibumu."
Satu jam kemudian, Kak Zahra pamit pulang setelah sempat menyapa Ibuku di kamar bawah.
Melihat interaksi Ammar dan Kak Zahra dari balik celah dapur tadi, dadaku mendadak terasa berdenyut aneh. Ada rasa bersalah yang menyengat. Ammar dan Zahra tampak sangat serasi bagaikan sepasang merpati suci dari langit yang sama. Sedangkan aku? Aku hanyalah racun yang menyusup ke dalam hidup mereka karena satu kesalahan konyol di kamar hotel.
Setelah mobil yang membawa Kak Zahra pergi dan dokter pribadi pamit, Ammar berdiri di ruang tamu merapikan beberapa dokumen. Aku melangkah mendekatinya. Tangan dan kakiku terasa dingin. Ada sebuah keputusan besar yang harus kuambil.
"Ammar," panggilku pelan.
Ammar mendongak, menatapku dengan kening berkerut. "Ada apa?"
"Aku harus bicara soal Ibu... dan rahasia pernikahan kita."
Seketika itu juga, raut wajah Ammar berubah drastis. Matanya membelalak tajam. "Maksudmu apa, Aisyah?! Syarat kedua yang kamu ajukan sendiri adalah merahasiakan pernikahan ini dari publik!"
"Aku tahu!" tegasku, menahan dadaku yang sesak. "Tapi Ibu terus-terusan menanyakan dari mana datangnya rumah mewah, dokter, dan mobil ini! Ibu berpikir aku melakukan hal haram atau menjual diriku! Jantung Ibu hampir kumat lagi karena kecurigaan itu, Ammar!"
Ammar membeku. Kemarahan di wajahnya sedikit mereda, digantikan oleh keraguan yang dalam. "Lalu... apa yang mau kamu katakan pada ibumu?"
"Aku akan memberitahu Ibu bahwa kita sudah menikah sah secara siri," bisikku parau. "Tapi aku tidak akan menceritakan insiden hotel atau pekerjaan kelab malamku. Aku akan bilang kita sudah kenal lama dan kamu berniat menolong keluargaku. Dengan begitu, Ibu tenang karena tahu rumah dan fasilitas ini adalah nafkah sah dari suamiku."
Ruang tamu itu mendadak sunyi senyap. Ammar memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas berat.
"Lakukan," bisik Ammar singkat saat membuka mata. "Biar bagaimanapun, kesehatan ibumu adalah yang utama. Tapi pastikan ibumu tidak membocorkan pernikahan ini pada siapa pun di luar rumah ini."
"Aku janji," balasku lega.
Malam harinya, aku melangkah masuk ke dalam kamar tidur Ibu di lantai bawah. Ibu sedang duduk bersandarkan bantal, memangku Awan yang sudah tertidur lelap.
"Aisyah..." panggil Ibu pelan, matanya berkaca-kaca. "Tolong jujur sama Ibu... rumah dan semua fasilitas ini... kamu dapat dari mana? Ibu takut kamu terjerumus ke jalan yang salah demi ngobatin Ibu..."
Aku melangkah mendekati ranjang, menggenggam tangan Ibu yang keriput.
"Ibu... Aisyah sebenarnya sudah menikah, Bu," bisikku pelan namun mantap. "Sama Habib Ammarullah... pria yang tadi ada di sini. Kami menikah siri semalam."
Ibu membelalak kaget. Aku segera meluncurkan kebohongan rapi yang sudah kususun bahwa Ammar adalah pria taat agama yang membantuku dari utang Ayah, dan kami menikah secara siri lebih dulu untuk menghindari kerumitan status sosial di mata publik.
Ibu menatapku tak percaya sebelum akhirnya air mata haru meledak dari matanya.
"Alhamdulillah ya Allah..." tangis Ibu tersedu-sedu, memelukku erat-erat. "Terima kasih Gusti... Engkau telah mengirimkan malaikat penolong untuk anakku..."
Melihat kebahagiaan dan ketenangan yang akhirnya kembali ke raut wajah Ibu, rasa bersalah atas kebohongan ini mendadak menguap dari dadaku. Biarlah dosa kebohongan ini menjadi tanggung jawabku, asalkan Ibu bisa tersenyum dan sembuh.
Tiga puluh menit kemudian, aku melangkah naik ke kamar utama di lantai dua.
Ammar sedang duduk di meja kerjanya di sudut ruangan, mengenakan kacamata berbingkai tipis seraya membaca kitab tebal berartikulasi bahasa Arab.
"Bagaimana?" tanya Ammar singkat tanpa beralih dari kitabnya.
"Sudah selesai. Ibu percaya semuanya dan bisa tidur tenang sekarang," jawabku seraya mendudukkan diri di tepi ranjang.
Ammar menghembuskan napas pelan dan mengangguk kecil. Aku menatapnya dari atas ranjang. Pendar lampu temaram yang menerangi garis wajah tegasnya membuat dadaku berdesir aneh.
"Ammar," panggilku pelan. "Soal Kak Zahra... dia calon istrimu yang sebenarnya, kan? Pilihan keluargamu?"
Gerakan tangan Ammar yang hendak membalik halaman kitab mendadak terhenti seketika.
Ammar menutup kitabnya perlahan, melepaskan kacamatanya, lalu berbalik penuh menghadapku. Mata cokelat mewahnya menatapku lurus sebuah tatapan dingin yang menyimpan kepedihan mendalam.
"Itu bukan urusanmu, Aisyah," jawab Ammar dengan suara berat dan menusuk. "Tugasmu di rumah ini hanya menjadi rahasia yang tersembunyi. Jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya atau Zahra."
Ammar berdiri, mematikan lampu meja, lalu berjalan merebahkan tubuhnya di atas sofa kulit membelakangiku dalam kegelapan.
Aku bersandar pada bantal, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jawaban dingin Ammar sudah cukup mengonfirmasi semuanya. Syarifah Zahra memang wanita yang seharusnya ada di posisi ini. Dan aku... hanyalah penghalang takdir yang menyusup tanpa diundang.