Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. JANJI TERLUPAKAN
Sesampainya di kediaman utama keluarga Theodore, malam telah larut. Leo melangkah gontai menyusuri lorong rumah itu. Lampu-lampu kristal di dinding sengaja diredupkan, memancarkan cahaya kuning temaram yang seolah ikut menanggung beban kelelahan di pundak pemuda berusia 18 tahun itu. Bau asap mesiu dan sisa pembakaran dari pabrik tua masih samar-samar menempel di kerah kemejanya yang berantakan.
Langkahnya terhenti. Di ujung lorong, siluet seseorang tampak duduk bersandar pada pilar besar. Titik merah menyala dari sebatang rokok berpendar di tengah kegelapan, diiringi kepulan asap putih yang mengudara.
"Dari mana saja kau selama dua hari ini, Tuan Muda yang sibuk? Apa kau sudah melupakan janjimu pada anak kecil yang baru berumur lima tahun?"
Suara berat dan serak itu memecah kesunyian. Itu Liam, kakeknya.
Leo, yang awalnya nyaris melewati pria tua itu tanpa sadar, perlahan berbalik. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna ucapan sang kakek di tengah otaknya yang masih dipenuhi rencana pembunuhan dan balas dendam.
"Janji? Janji apa yang Kakek maksud? Aku tidak merasa menjanjikan apa-apa pada Vellora," sahut Leo dingin, suaranya terdengar datar.
"Tidak, katamu?" Liam mendengus sinis, menghela napas panjang hingga asap rokok keluar dari hidungnya. Mata tuanya menatap tajam menembus remang-remang lorong ke arah cucunya.
"Memangnya apa yang aku janjikan padanya?" desak Leo, benar-benar lupa.
"Coba kau gali sendiri ingatanmu yang tertutup dendam itu! Sudah dua hari sejak kau pergi menghilang. Gadis kecil itu duduk termenung setiap sore di dekat jendela, menatap ke arah pintu gerbang, berharap kau pulang membawakannya sesuatu yang kau janjikan," pekik Liam, nada suaranya naik satu oktaf.
Tanpa menunggu balasan Leo, pria tua itu berdiri dari duduknya, menepuk sisa abu rokok di celananya. "Pikirkan sendiri," sungut Liam seraya melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Leo yang mematung kebingungan di lorong senyap.
"Janji apa yang kuucapkan padanya?" gumam Leo memijat pelipisnya.
Tiba-tiba, langkah Liam terhenti di kejauhan. Pria tua itu menoleh sedikit. "Oh, ya... satu lagi. Berhentilah mengejar hantu masa lalu hanya demi balas dendam. Jika darah terus dibalas darah, siklus ini tidak akan pernah selesai, Leo. Kau hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."
Liam benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya. Leo terdiam, menelan ludah yang terasa pahit. Mungkin maksudmu benar, Pak Tua. Tapi aku harus tahu... aku butuh alasan kenapa bajingan bertopeng itu membantai keluargaku, batin Leo keras kepala.
Ia kembali melangkah menuju kamarnya, namun langkahnya otomatis melambat saat melewati pintu kamar Vellora yang sedikit terbuka.
Apa dia sudah tidur? batinnya. Terdorong rasa penasaran—dan sedikit rasa bersalah—Leo mendorong pintu itu dan melangkah masuk tanpa suara.
Di bawah temaram lampu tidur berbentuk kelinci, Vellora kecil tampak tertidur pulas. Tangan mungilnya memeluk erat boneka kelinci pemberian Leo beberapa waktu lalu. Wajah polosnya terlihat begitu damai, kontras dengan dunia gelap yang selama ini mengelilingi Leo. Hati Leo yang sekeras batu dan sedingin es perlahan menghangat.
"Eungh... Kak Leo bohong... katanya mau beli kolam balon... tapi belum pulang-pulang..."
Suara igauan pelan itu tiba-tiba meluncur dari bibir mungil Vellora.
Mata Leo seketika terbelalak. Bagaikan disambar petir, ingatannya kembali! Sial! Kolam renang balon! Leo merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa seorang Tuan Muda pembunuh bayaran yang ditakuti musuh, lupa membelikan mainan bocah?
Dengan panik—namun tetap berusaha menjaga citra kerennya meski tak ada yang melihat—Leo merogoh saku, mengeluarkan ponsel pintar miliknya. Ia segera mencari kontak pemilik toko mainan langganan keluarga Theodore. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, tapi masa bodoh.
Tuut... tuut...
"Ha-halo? Siapa ini malam-malam..." suara mengantuk terdengar dari seberang.
"Ini aku. Leo Theodore."
Hening sejenak. "T-t-tuan Muda?! M-maafkan saya! Ada yang bisa saya bantu, Tuan?!" Suara di seberang seketika berubah panik dan tegak.
"Besok pagi, kirimkan satu kolam renang balon ke kediamanku. Cari yang ukurannya paling besar dan paling bagus! Kalau sampai mengecewakan, aku akan memastikan tokomu tutup permanen. Paham?" ancam Leo dengan nada rendah, padahal hanya memesan mainan anak-anak.
"S-siap, Tuan Muda! Segera saya kirim besok pagi!"
Klik. Leo mematikan panggilan dengan puas.
Ia lalu duduk di lantai bersila di samping ranjang Vellora. Ditatapnya wajah polos itu lekat-lekat. "Maafkan aku, Vellora," bisiknya lirih, suaranya bergetar menahan pedih setiap kali mengingat bahwa keluarga gadis kecil ini mati karena tangannya sendiri. Tanpa sadar, tangan besar Leo meraih tangan mungil Vellora yang menggantung di tepi ranjang. Ia menggenggamnya erat, mencari ketenangan, hingga akhirnya tertidur pulas di lantai yang dingin.
Pagi hari yang cerah menyapa. Hari ini adalah hari kedua Vellora masuk taman kanak-kanak.
"Emmmm..." Vellora menggeliat, membuka kelopak matanya yang masih lengket. Ia duduk di kasur sambil menggaruk pelan lehernya. Pemandangan rambutnya benar-benar kacau balau, mekar tak karuan seperti baru saja tersetrum gardu listrik bertenaga tinggi.
Masih dengan nyawa yang belum sepenuhnya berkumpul, Vellora menyingkap selimutnya. "Hoamm... aku harus berangkat sekolah," gumamnya polos.
Ia memutar tubuhnya dan menurunkan kaki dari ranjang.
BUGH!
Sebuah pijakan keras mendarat tepat di sesuatu yang empuk namun berotot.
"AWWWWW! SIALAN!"
Teriakan jantan menyedihkan meledak di dalam kamar itu. Mata Vellora seketika melotot, nyawanya terkumpul seratus persen. Ia menunduk dan melihat Leo sedang meringkuk kesakitan memegangi perutnya di lantai.
"Kak Leo?! Kenapa Kak Leo tidur di lantai di bawah kakiku?! Aku 'kan tidak tahu kalau ada orang nyempil di situ!" pekik Vellora dengan mata membulat lebar, sementara rambut 'kesetrum'-nya bergoyang-goyang lucu.
Leo mengusap matanya sambil meringis, berusaha bangkit. "Aw... perutku... kau sudah bangun, kurcaci?" tanyanya dengan suara serak, mencoba menjaga wibawa meski perutnya baru saja diinjak anak lima tahun.
"Iya, aku sudah bangun!" Vellora bersedekap dada, mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa sentimeter. "Sudahlah, aku mau mandi! Oh ya, Kakak baru saja pulang, ya? Entah dari mana, aku tidak peduli!" ketusnya, jelas sekali sedang mode merajuk tingkat dewa menagih janji.
Leo salah tingkah, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ehem... Kakak... Kakak ada urusan bisnis keluarga. Maaf, Kakak lupa..."
"Terserah! Aku mau sekolah. Ini hari keduaku, tahu!" dengus Vellora sok dewasa, lalu membalikkan badan, berjalan menghentak-hentakkan kaki menuju kamar mandi. Brak! Pintu kamar mandi ditutup dengan sedikit tenaga ekstra.
Leo menghela napas panjang. Tuan muda yang tak kenal takut itu baru saja dibuat mati kutu oleh anak TK. Dengan langkah gontai, ia keluar dari kamar.
Baru saja ia menutup pintu, sebuah benda perak melayang ke arah wajahnya. Hap! Refleks membunuhnya bekerja, tangannya menangkap benda itu dengan cepat. Kunci mobil.
"Untuk apa ini?" tanya Leo bingung menatap Liam yang baru saja melewatinya dengan secangkir kopi hitam.
"Sudah bangun kau? Sana, mandi. Mandikan dirimu dari bau darah, lalu antar Vellora ke sekolah," perintah Liam santai tanpa menoleh.
Mata Leo nyaris keluar dari sarangnya. "A-aku?! Kenapa harus aku yang mengantarnya?!"
Liam menghentikan langkahnya, menatap Leo dari atas ke bawah. "Lalu siapa? Supir sedang mengurus mobil yang lain. Anggap saja ini latihan. Bertingkahlah seperti seorang ayah muda yang mengantarkan putri kecilnya ke sekolah."
"Kakek gila ya?! Mana mungkin aku punya anak! Umurku baru 18 tahun!" protes Leo tak terima, harga dirinya sebagai remaja lajang merasa ternoda.
"Berisik. Tidak usah banyak protes. Antar saja dia," potong Liam mutlak, lalu melangkah santai menuju ruang makan, meninggalkan Leo yang mendengus frustrasi.
Beberapa puluh menit kemudian, di ruang makan yang mewah, ketegangan terasa begitu pekat—bukan karena ancaman musuh, melainkan karena aura permusuhan dari seorang gadis kecil.
Vellora sudah rapi dengan seragam TK-nya, menggendong tas ransel kecil berbentuk beruang. "Selamat pagi, Kakek!" sapanya ceria saat duduk di kursi kebesarannya.
"Pagi, Tuan Putri. Ayo sarapan dulu. Kakek sudah menyiapkan bekal roti lapis di tas ini," ujar Liam lembut seraya menyodorkan kotak bekal warna merah muda.
"Terima kasih, Kakek!" Vellora tersenyum lebar hingga gigi-gigi susunya terlihat. Ia mulai menyantap sarapannya dengan tenang.
Tiba-tiba, kursi di sebelahnya ditarik dengan kasar. Leo datang, duduk dengan wajah datar yang dipaksakan keren, lalu mulai menyergap makanannya sendiri tanpa banyak bicara.
Begitu Leo duduk, atmosfer meja makan berubah seketika. Vellora melirik Leo dari sudut matanya dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus tengkorak. Leo menyadarinya, tapi pura-pura tidak melihat sambil mengunyah roti dengan gerakan kaku.
Ada apa dengan dua bocah ini? Kenapa anak sekecil ini bisa melotot seperti preman menagih utang? batin Liam geli melihat tingkah laku kedua cucu beda usianya itu.
"Ehem. Vellora," Liam berdeham, memecah kecanggungan. "Hari ini Kakek ada urusan mendadak. Jadi, biar Leo yang mengantarmu ke sekolah, ya?"
Vellora seketika berhenti mengunyah. Wajah cerianya luntur, digantikan ekspresi memelas tingkat tinggi. "Tapi, Kakek... Vellora mau sama Kakek saja..." rengeknya merana.
Sebelum Liam menjawab, Leo menyela dengan suara dingin khas pemeran utama arogan. "Tidak apa-apa, Kek. Biar aku saja yang mengantarnya," ucap Leo sok cool, melirik Vellora sekilas sambil terus mengunyah sosisnya.
Vellora mendengus kasar. Pipinya menggembung seperti ikan buntal. Hatinya masih dongkol luar biasa karena janji kolam balonnya belum terealisasi. Namun apalah daya, seorang anak TK tak punya banyak pilihan transportasi.
Dengan sangat terpaksa dan hati yang menggerutu, Vellora akhirnya setuju pergi bersama Leo kesekolah.